KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Sabtu, 02 April 2011

PEMUGARAN BENTENG KERATON LIYA MULAI TAHUN 2012 MENDAPAT DUKUNGAN POTENSI SDM LIYA

Oleh : Ali Habiu



Komunitas masyarakat Togo Liya dimanapun berada saat ini perlu berbangga diri mengingat bahwa perjuangan para orang tua kita, para tokoh adat, sesepuh, sarah dan pemerintah Kabupaten Wakatobi telah menuai hasil yang cukup gemilang yakni mulai tahun anggaran 2010 ini pemerintah pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Parawisata akan menurunkan DPA (Daftar Pelaksanaan Anggaran) Desain Teknis Pmugaran Benteng Keraton Liya. Momen inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pihak sejak tahun 1980-an lalu ketika Pemerintah Belanda menguyurkan sejumlah bantuan dana internasional untuk pelestarian nilai-nilai sejarah dan purbakala melalui Inter Governmental Group On Indonesia (IGGI) ternyata pengelolaan dana tersebut banyak dihabiskan di pulau Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara kemudian pulau Buton hanya sepenggal saja. 

Inilah bentuk ketidakadilan pemerintah pusat terhadap perimbangan penangangan pembangunan di tanah air yang kebanyakan dana-dana bantuan Loan maupun Green Internasional untuk pemugaran situs-situs sejarah dan purbakala hanya dinikmati pada umumnya di pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara (Bali ) saja padahal semua daerah memiliki hak da kepentingan yang sama dalam pelestaran nilai-nilai budayanya peninggalan leluhur dan nenek moyang bangsa Indonesia. Oleh karena itu isolasi komunikasi dan isolasi distribusi kue pembangunan ini mulai saat ini sudah harus dihentikan tanpa reserve agar daerah-daerah eks kesultanan dan kerajaan yang berada di luar pulau Jawa, Sumatera dan Nusa tenggara (Bali) dapat juga mengalami kemajuan seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan pembangunan di Indonesia. 

Masalahnya kemudian yang menjadi berat kita dalam memperjuangan kue pembangunan ini adalah belum adanya orang Togo Liya yang menduduki jabatan setingkat Direktur Jenderal di suatu Kementerian di Indonesia bahwa juga hingga saat ini orang Togo Liya belum ada juga yang menduduki jabatan Menteri selama pelaksanaan pembanguan sejak tahun 1970-an hingga saat ini padahal potensi  sumber daya manusia orang Togo Liya khususnya pada dekade mulai tahun 2004-an lalu secara nasional sudah terbilang cukup baik dimana hingga tahun 2010 ini berdasarkan data sementara yang dapat KabaLi himpun mulai dari perkumpulan Komunitas Warga Togo Liya yang ada di Marauke, Seram, Ambon, Kendari, Buton, Makassar, Samarinda dan Jakarta memiliki : Sarjana lebih kurang 300 orang, Magister sekitar 64 orang dan Doktor 3 orang

Potensi ini merupakan suatu kekuatan sosial yang perlu dihimpun dan disatukan dalam suatu wadah komunitas guna dapat setidaknya memberikan promosi identitas mereka kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Selain hal itu juga dipandang sudah saatnya kina berbenah kiri kepada semua komunitas Keluarga Besar Liya di Seluruh Indonesia agar mulai tahun 2010 ini mempersiapkan diri secara mantap terjung ke bidang politik dengan memasuki partai-partai politik apa saja yang dapat menampung dan menyalurkan aspirasi politiknya sehingga dengan demikian kedepan akan banyak lagi saudara-saudara kita yang insya Allah bakal duduk di parlemen baik di DPRD, DPR RI maupun di DPD masing-masing daerah yang ada komunitas orang Togo Liyanya di Indonesia. Dan kini sudah mulai setapak harapan itu ada..., yakni saudara kita, adinda kita putri asal Keraton Liya telah masuk dalam akumulasi perpolitikan nasional dan melalui wadah Partai Amanah Nasional, kini Wa Ode Nurhayati,S.Sos telah mewakili kita menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. 

Selain itu juga saudara kita bernama Syachrudin Buton,SH atau sering dikenal dengan nama Udin Nova seorang pengacara kawakan asal Ambon yang tak lain juga merupakan putra asli asal Keraton Liya kini duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara dari Partai Demokrat priode 2009-2014. 

Ada beberapa anggota Keluarga Besar Liya yang juga pernah menjadi anggota DPRD antara lain : H.La Ode Muhu pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Berau Kalimantan Timur dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) priode 1999-2004, juga La Ode Moane Obi,SP,M.Si pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara asal Partai Persatuan Pembangunan (P-3) priode 2004-2009. Namun sayang seribu sayang kedua anggota warga Liya ini yang telah diberi kesempatan oleh rakyat untuk menduduki jabatan strategis itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk membangun komunitas sosial budaya Liya secara mengakar di daerahnya masing-masing dan tidak membekas tajam dihati nurani rakyat kita, sehingga akibatnya kini mereka dalam konteks sosial komunitas budaya Liya saat ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat.

Hal ini kedepan akan menjadi pelajaran berharga bagi semua komunitas  warga Liya dimanapun mereka berada agar ketika rakyat memilihmu dan ketika kamu punya kesempatan emas menduduki jabatan-jabatan strategis itu maka peliharalah sikapmu, janganlah sombong dan tinggi hati dan dalam kesempatan menjalankan tugas-tugasmu sebagai anggota dewan maka  manfaatkanlah tugas itu untuk berperan secara baik ditengah-tengah masyarakatmu  secara adil dan bijak, dengan prioritas utama tugasmu adalah perhatikanlah masyarakat Liya dimana kamu berada, angkatlah harkat dan martabat mereka, beri mereka sentuhan hati nurani dan kedamaian, beri mereka wadah untuk bisa maju, beri mereka sentuhan modal sosial ekonomi sehingga diharapkan pada akhirnya masyarakat kita sedikit demi sedikit dapat kita majukan peradabannya, kualitasnya dan sosial ekonominya yang merupakan embrio perjuangan KabaLi.

 Inilah salah satu propotipe Benteng Keraton Liya Yang Sudah
Mulai Ambruk Dan Sudah Tidak Terawat Lagi
Termasuk Lawa atau Bangunan Pintu Masuk Keraton Ini.

Informasi yang KabaLi dapatkan secara jelas dan bisa dipertanggungjawabkan akan adanya Desain Teknis Pemugaran Benteng Keraton Liya mulai tahun ini (2011) adalah dari salah seorang ahli arkiologis asal Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar yakni saudara  Rustam,SS yang tak lain dia merupakan satu angkatan pada jurusan Arkiologi Fakultas Sastra Universitas Hanasuddin dengan wakil Sekretaris Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang pada beberapa hari lalu bertandan di rumah Ketua Umum Forkom-KabaLdi Kompleks BTN Kendari Indah Jalan Wulele, Kendari.

 
Rustam,SS seorang Ahli Arkiologis yang Bekerja Pada
Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar

Berdasarkan surat Kepala BPPP makassar yang dikirim via facsi mile ke Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasananya antara lain ke Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang diterima pada hari Jumat tanggal 1 April 2011, menyampaikan bahwa pada hari senin tanggal 4 April 2011 akan berangkat 7 orang ahli arkiologi dan perbentengan dari balai Arkiologi Makassar menuju ke Wang-wangi dalam rangka tugas pemetaan zoning Benteng Keraton Liya Lapis ke-3. Lamanya pemetaan dan studi teknis sampai dengan tanggal 15 April 2011. Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa dipanjatkan doa ke hadirat Tuhan YME, karena berkah dan hidayahnya semua program kerja Lembaga KabaLI Indonesia berjalan sesuai rencana. amin ****

TIM BALAI ARKIOLOGI MAKASSAR AKAN TURUN PEMETAAN ZONING BENTENG KERATON LIYA LAPIS TIGA AWAL APRIL 2011

SAMPING BALUARA  TALO-TALO


 DEPAN BALUARA TALU-TALU


OLEH : ALI HABIU


Sesuai dengan Surat BPPP makassar yang dikirim via facsimile kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasannya kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang baru kami terima pada hari jumat tanggal 1 April 2011, dikemukakan bahwa mulai tanggal 4 April 2011 s/d 15 April 2011 Tim Balai Arkiologi (Tim Balar) dari BPPP Makassar akan turun sebanya 7 orang tenaga ahli perbentengan ke Keraton Liya  untuk mengadakan survei dan pendataan teknis dan pemetaan zoning benteng lapisan tiga yang diperkirakan memiliki lngkaran sepanjang 16 Km. Benteng lapis tiga dari keraton Liya dahulu kala dinamakan benteng Patua yang sudah ada sejak Abad VIII masehi yang dibangun oleh orang orang sakti asal Melayu dan orang-orang tua Liya menamakan benteng Pa'tua. Benteng ini keberadaan di lapangan masih di jumpai utamanya pada sisi sebelah utara umumnya masih utuh dengan ketinggian rata-rata 3 meter. Namun demikian untuk sisi barat, timur dan selatan saat ini tinggal dijumpai bekas-bekas bangunannya dari kepunahan.

 Lapis ketiga benteng Keraton Liya diperkirakan sudah mulai punah sejak masuknya Belabda di Indonesia dimana sebagian batunya di pakai untuk pembuatan Break Water dan Dermaga di Laut juga sebagian untuk pondasi bantgunan-bangunan Belanda yang ada di wilayah Wakatobi dan sekitarnya. Dan kehancuran penuh terjadi setelah masuknya Jepang ke Indonesia dengan melalui kerja paksa tentara romusa memerintahkan semua rakyat Liya untuk mengambil batu lapisbenteng ke tiga ini untuk bahan pondasi jalan seluruh wilayah wangi-wangi.





 Harapan seluruh masyarakat Liya agar survei pendataan teknis dan pemetaan zoning Benteng Keraton Liya lapis ke-3 ini bisa berjalan lancar dan sukses dan juga hasil pelaporannya benar-benar di dukung oleh data yang valid dari berbagai sumber sehingga pada laporan hasil penelitian dapat menghasilkan kejutan-kejutan baru dibidang justifikasi perbentengan yang di duga benteng Keraton Liya menjadi Benteng Terbesar di Dunia bukan benteng Wolio (.melayuonline.com )

Lembaga Forum Komunikasi KabalI Indonesia akan berada di garda terdepan dalam mengamankan seluruh aset dan potensi sejarah dan budaya milik keraton Liya untuk secxara bersama-sama dengan pemerintah membangun dan mengembangkan Benteng Keraton Liya yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi pada zamannya ****