KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Selasa, 20 Maret 2012

SINOPSIS TARI HONARI MOSEGA, TARI ASLI MILIK KERATON LIYA

OLEH : HUMAS KABALI-INDONESIA




















Tari Honari Mosega berasal dari Keraton Liya, yang kemudian pelestariannya berkembang ke daerah-daerah sekitarnya. Honari Mosega merupakan Tari Tradisonal kebanggaan masyarakat Liya yang mengkisahkan tarian berani. Dahulu kala awal mula tarian ini di atraksikan sebelum dan sesudah perang, merupakan pengungkapan dan motivasi dari semangat prajurit Liya ketika akan berperang mengusir musuh dan kegembiraan mereka karena pulang dengan kemenangan keberhasilan menaklukan musuh. 
Tari ini dimainkan oleh beberapa laki-laki, terdiri dari 1 (satu) penari inti disebut tompidhe dengan memegang tombak atau parang, dan dilengkapi dengan 1 (satu) atau 4 (empat) orang sebagai hulubalang yang disebut manu-manu moane dengan memegang tombak dan janur kuning sebagai penghalau bisa atau sihir. Kadang terdapat pula hulubalang wanita yang disebut manu-manu wowine serta 1 (satu) orang pemukul gendang atau tamburu.
  
Penari Tompidhe dan Manu-manu Moane dilengkapi dengan untaian gemerincing dan dalam gerakannya akan selalu menimbulkan bunyi. Terdapat gerakan meloncat dan maju lalu mundur secara beraturan sebagai gerakan silat Liya yang disebut Makanjara, yang dilakukan karena kegembiraan atas kemenangan mereka dalam berperang. 

Tari Honari Mosega secara lengkap disamping dimainkan oleh penari Tomphide dan Manu-Manu, juga dilengkapi dengan tari pembawa bendera kuning bergaris-garis hitam selang seling sebagai panji-panji asli kerajaan Liya pada zamannya dipasangkan dengan pembawa tombak sebagai pengawal bendera. Bendera panji-panji kerajaan Liya ini mirip dengan bendera manusia sakti Si Malui berasal dari daerah Bumbu negeri Melayu Pariaman yang bernama “Buncaha”.   Si Malui dan rombongannya mendarat di Kamaru pulau Buton pada tahun 1236 Masehi. Tari pembawa bendera ini sebagai tarian pembuka penghormatan kepada Raja atas kemenangan mereka dalam berperang. 

Tari Honari Mosega ini secara lengkap dikawal oleh sejumlah 12 (dua belas orang) prajurit perang yang berpakaian hitam bergaris-garis tipis putih selang seling dengan membawa tombak. Dahulu kala setelah Tari Honari Mosega selesai diperagakan, maka akan disusul oleh ke 12 (dua belas orang) prajurit perang Liya untuk saling menombak satu dengan lainnya mengikuti lantuman irama gendang atau tamburu sebagai penguji kemampuan mereka. Peragaan saling baku tombak satu dengan lainnya menyerang  tiba-tiba secara bergantian dalam suasana Makanjara dan tak ada satupun yang terluka. Para prajurit perang Liya telah menunjukkan kesetiaannya dalam membela negerinya sehingga suasana saling baku tombak satu dengan lainnya itu dilakukan sebagai motivasi dalam menghadapi musuh dan karena rasa kegembiraan mereka setelah pulang memenangkan perang.

Tari Honari Mosega selama masa kesultanan buton sering ditampilkan pada acara-acara penyambutan tamu agung, sultan maupun perangkatnya serta acara-acara adat yang berlaku hanya dalam lingkup keturunan para bangsawan Liya.



Jumat, 16 Maret 2012

JUMLAH TAMBURU (GENDANG) DALAM KEDUDUKAN SARA LIYA

 Oleh : Ali Habiu






Dalam pembagian 13 buah jumlah Tamburu atau Gendang yang dipakai oleh para Sara dalam lingkup pemerintahan Raja Liya atau Lakina Liya secara umum dapat dibagi menjadi :
  • Togo Ewulaa dan Togo Seru= 1 buah Tamburu
  • Togo Timi dan Togo Wotea= 1 buah  Tamburu
  • Togo Bisitio dan Togo Kareke= 1 buah  Tamburu
  • Togo Woru =  1 buah Tamburu
  • Meantuu Solodadhu=  5 buah Tamburu
  • Kontabitara=  3 buah   Tamburu
  • Meantuu Agama= 1 buah  Tamburu
Kemudian Sara Adat terdiri dari 9 orang dari masing-masing wilayah Togo yang terdiri dari :
  • Togo Ewulaa dan Togo Seru= 9 orang pemuka adat
  • Togo Timi dan Togo Wotea= 9 orang pemuka adat
  • Togo Bisitio dan Kareke= 9 orang pemuka adat
  • Togo Woru= 9  orang pemuka adat
Sara Adat tersebut sangat erat hubungannya dengan Meantuu Agama yang terdiri dari :
  • Khatibi
  • Imam
  • Modhi
  • Tamburu
  • Mokimu yang terdiri dari Mokimu Woru, Mokimu Wawo dan Mokimu Kareke
 Sedangkan kedudukan masing-masing Sara terdiri dari :
  • Meantuu Solodadhu sebagai Panglima Perang dan yang mengatur Tamburu dimana ada acara ada. Meantuu Solodadhu mempunyai pasukan tombak sebanyak 40 orang dengan jumlah Tamburu yang mengawal pasukan sebanyak 5 buah Tamburu satu diantaranya Tamburu utama warna hitam yang memiliki daya megik atau daya ghaibmengingat Tamburu ini memiliki simbol-simbol bunyi apabila akan ada malapetaka, musibah, wabah penyakit atau serangan musuh. Berdasarkan simbol-simbol ini Meantuu Solodadhu melapor kepada Lakina Liya untuk mendengarkan perintah lebih lanjut.
  • Meantuu Nunu yang mengatur bagian-bagian kesejahteraan tanaman rakyat termasuk pengamanannya
  • Meantuu Tiworo yang mengatur pembagian dari masing-masing hasil produkasi tanaman termasuk pengamanannya
  • Meantuu Sampalu juga mengatur bagian-bagian tanaman termasuk pengamanannya
  • Meantuu Salah Mawi juga mengatur pembagian tanaman termasuk pengamanannya
  • Meantuu Sabandara mengatur pembagian hasil-hasil yang diperoleh dari laut termasuk pengamanannya
  • Meantuu Fapuru juga mengatur pembagian tanaman dan pengamannya
  • Meantuu Agama yang mengatur tentang syareat islam 
  • Meantuu Tonga-Tonga mengatur pertanian
  • Bonto Wawo
  • Bonto Woru
Yang mengatur tentang kedudukan para Sara dalam acara adat terdiri dari :
  • Bonto Wawu
  • Bonto Woru
Adapun pesanan Tamburu sejumlah 13 buah pada acara adat tergantung siapa yang memesang dan apa kedudukannya atau derajatnya yang terdiri dari acara adat sebagai berikut
  • Sombooa
  • Karia'a
  • Tekawi'a
  • Temate'a
Sedangkan jumlahnya uang yang menjadi sumbangan kepada Sara tidak ditentukan besarnya tergantung dari kemampuan dari masing-masing pemesan****