KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Rabu, 28 Juli 2010

PENGURUS PUSAT KABALI MENOLAK HASIL KESEPAKATAN DENGAN BUPATI WAKATOBI ATAS PELAKSANAAN SEMINAR KEBUDAYAAN 2010

Oleh : Ali Habiu
 
Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya Sulawesi Tenggara telah menolak atas hasil kesepakatan dengan Ir.Hugua selaku Bupati Wakatobi yakni politik adu domba antara sekelompok anti perubahan yang berada dalam batang tubuh pemerintahannya dengan panitia seminar kebudayaan wakatobi. Tak apa, ini merupakan hasil kekecewaan atas tidak dilaksanakannya tepat waktu Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010. Hal ini ditegaskan atas hasil keputusan rapat badan pengurus Forkom Kabali yang berlansung awal bulan Juni 2010 lalu. Penegasan ini bukan tidak beralasan, kerena ternyata terjadi kanalisasi atas adanya 3 (tiga) buah proposal yang diajukan oleh Panitia Seminar dan telah didisposisi setuju oleh Bupati Wakatobi, namun dalam perjalanan proposal tersebut tidak jelas dan menghilang begitu saja oleh sistem birokrasi yang berdiri di belakang Bupati. Semula arahan disposisi proposal seminar kebudayaan ini ditujukan kepada Kepala Bagian keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Wakatobi, namun setelah dikonfirmasi kepada kepala SKPD yang bersangkutan menampik adanya proposal ini. Usut mengusut keberadaan proposal ini ternyata sejak akhir maret 2010 diajukan disposisi oleh Bupati nanti ketahuan pada akhir bulan Mei 2010 jatuhnya ke Bappeda itupun belum teragenda dalam nomenklatur surat masuk Kantor Bappeda Kabupeten Wakatobi. Setelah dianalisis eksistensi perjalanan proposal seminar ini rupanya Hugua sebagai Bupati Wakatobi berada dibalik kejadian ini semua...., dia memainkan politik "devide at impera"ini merupakan pengalaman yang cukup bersejarah dalam menghadapi politisasi yang dimainkan oleh seorang Hugua dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial budaya. Bagi Kabali akan terus berjalan dan berjuang mempertahankan nilai-nila budaya leluhur serta melestarikan dan mengembangkannya, masih ada pemimpin yang mau peduli akan kebudayaan wakatobi dihari-hari mendatang. Dalam tubuh pemerintahan Wakatobi sudah saatnya dilakukan reformasi birokrasi serta perkuatan kelembagaan sebab jika tidak maka siapapun yang akan menjadi pemimpin nomor satu di daerah ini pada tahun 2011 mendatang maka akan selalu mengalami degradasi dan selalu akan tidak peduli dengan kemapanan sosial budaya.  
Sehubungan dengan hal tersebut segenap jajaran pengurus Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (Kabali) di seluruh Indonesia sangat merasa kecewa dan menunggu permintaan maaf Hugua selaku Bupati Wakatobi dengan harapan tidak lagi mengulangi kejadian yang serupa itu.
Dibawah ini akan di berikan salinan model surat yang telah dilayangkan kepada Ketua Panitia Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010 dan tindasannya telah diterima oleh Bupati Wakatobi sebagai berikut :

Kendari, 4 Mei 2010
Nomor       : 03/B/P.KABALI/V/2010
Lampiran    :              ---

Kepada Yth,
Bapak BUPATI WAKATOBI
Di.
Wangi-Wangi.
Perihal         :Menyoal Tindaklanjut Surat Panitia Seminar Kebudayaan Wakatobi Nomor : 01/Pan.Seminar/III/2010, tertanggal  04 Maret 2010  Tentang Proposal Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010.
         Menindaklanjuti hasil rapat pertemuan Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tengggara yang berlangsung pada tanggal 2 Mei 2010 di Kendari, yang mana hasil rapat telah merekomendasikan beberapa hal penting sehubungan dengan konstelasi tindaklanjut Surat Panitia Seminar Kebudayaan Wakatobi Nomor : 01/Pan. Seminar/III/2010 tertanggal 04 Maret 2010 tentang Penyampaian Proposal Kegiatan Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010 yang ditujukan kepada Bupati Wakatobi, sebagai berikut :
1.  Berhubung sejak telah didisposisinya Proposal Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010 oleh Bupati Wakatobi pada tanggal 19 Maret 2010 hingga saat ini (2 Mei 2010) belum jelas keberadaan Proposal tersebut jatuh pada instansional mana dan apakah tersedia alokasi sumber dana atau tidak, maka diminta kepada Bapak Bupati Wakatobi untuk mengusut secara tuntas keberadaan Proposal dimaksud dan bagaimana tindaklanjut sumber pendanaannya;   
2.  Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) mempertanyakan kembali kepada Bupati Wakatobi tindaklanjut atas komitmen yang telah dibangun secara bersama ; Apakah Pelaksanaan Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010 benar-benar Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi memberikan responsif atau tidak?. Dengan demikian kami dapat menentukan sikap lebihlanjut;
3.  Hasil pengusutan secara tuntas keberadaan Proposal Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010 berikut alokasi sumber dananya serta Responsifibilitas pemerintah daerah atas pelaksanaan Seminar Kebudayaan tersebut harap dapat diberikan jawaban secara tertulis untuk menjadi bahan evaluasi dan tindaklanjut Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara dalam waktu sesingkat mungkin.
Demikian penyampaian kami, atas perhatian dan kerja samanya tak lupa diucapkan terima kasih.

BADAN PENGURUS PUSAT
FORKOM KABALI
KENDARI- SULAWESI TENGGARA

                        K E T U A,                                      SEKRETARIS,
                             ttd                                                  ttd
 Ir. LA ODE MUH. ALI HABIU, AMts, M.Si       UMAR ODE HASANI, SP, M.Si

Tembusan:
1.  Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari,
2.  Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
3.  Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
4.  Pengurus Cabang FORKOM KABALI se-Indonesia,
5.  Badan Pendiri Pusat Forkom KABALI Sultra (sebagai laporan) di Kendari,
6. Pertinggal.
 
 -----------------------------------------------------------

Kendari, 11 Mei 2010
Nomor       : 06/B/P.KABALI/V/2010
Lampiran    :              ---

Kepada Yth,
Bapak BUPATI WAKATOBI
Di.
Wangi-Wangi.

Perihal           : Tindaklanjut Surat Panitia Pelaksana Seminar Pembangunan Kebudayaan Wakatobi Nomor : 01/Pan.Seminar/III/2010, tertanggal  04 Maret 2010  Tentang Proposal Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010.
         Menindaklanjuti hasil rapat Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara pada tanggal 02 Mei 2010 di Kendari, merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :
1.    Hasil pertemuan Ketua Umum Forkom KABALI dengan Bupati Wakatobi pada tanggal 19 Maret 2010 bertempat di Pantai Matahora mengenai tindak lanjut pelaksanaan seminar yang dimaksud, dengan ini kami sampaikan bahwa keberadaan Proposal Seminar yang telah didisposisi oleh Bupati Wakatobi yang ditujukan kepada Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Wakatobi dan setelah kami telusuri ternyata disposisi tersebut tidak sampai pada yang bersangkutan.    
2.    Forkom KABALI meminta penjelasan Bapak Bupati Wakatobi tentang keberlanjutan pelaksanaan seminar yang dimaksud agar pihak kami dapat mempersiapkan segala hal yang diperlukan sehubungan dengan amanah yang dititipkan   kepada    kami   untuk    membentuk   Panitia     Pelaksana   Seminar Pembangunan Kebudayaan Wakatobi sesuai hasil pertemuan Pengurus Forkom KABALI dengan Bupati Wakatobi tanggal 21 Pebruari 2010 di Kendari.
Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya tak lupa diucapkan terima kasih.

BADAN PENGURUS PUSAT
FORKOM KABALI
KENDARI- SULAWESI TENGGARA

                        K E T U A,                                       SEKRETARIS,
                            ttd                                                   ttd
 Ir. LA ODE MUH. ALI HABIU, AMts, M.Si       UMAR ODE HASANI, SP, M.Si

Tembusan:
1.  Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari,
2.  Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
3.  Sekretaris Daerah Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
4.  Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
5.  Pengurus Cabang FORKOM KABALI se-Indonesia,
6.  Badan Pendiri Pusat Forkom KABALI Sultra (sebagai laporan) di Kendari,
7. Pertinggal.

  ------------------------------------------------------
 
Kendari, 10 Juni 2010
Nomor          : 09/B/P.KABALI/VI/2010
Lampiran      :              ---
Kepada Yth,
KETUA PANITIA SEMINAR KEBUDAYAAN WAKATOBI
Di.
KENDARI.

Perihal          :    Pembatalan Pelaksanaan Seminar Pembangunan Kebudayaan Wakatobi 2010.
            Menindaklanjuti hasil rapat Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara pada tanggal 06 Juni  2010 di Kendari; berpendapat bahwa mengingat konstelasi politik menghadapi PILKADA Wakatobi 2011 membuat pihak Ir.Hugua sebagai Bupati Wakatobi beserta jajarannya sangat merasa kuatir bila FORKOM KABALI menyelenggarakan kegiatan-kegiatan budaya yang mengangkat eksistensi ethnis dilingkungan masyarakat Wakatobi. Dampaknya bahwa Bupati tidak konsisten dengan hasil kesepakatan yang telah dibangun bersama dengan FORKOM KABALI ketika terjadi Audiens di rumah kediamannya di Kendari pada tanggal 21 Februari 2010 lalu, sehingga proposal yang telah diajukan oleh Ketua Panitia Seminar Pembangunan Kebudayaan Wakatobi Tahun 2010 yang ditujukan kepada Bupati Wakatobi sejak tanggal 4 Maret 2010 dengan surat Nomor : 01/Pan.Seminar/III/2010, ternyata hingga saat ini tidak diresfon dengan baik. Demikian pula surat-surat yang telah dilayangkan kepada Bupati Wakatobi oleh Badan Pengurus Pusat FORKOM KABALI atas g  surat Nomor : 03/B/P.KABALI/V/2010 tertanggal 4 Mei 2010 dan surat Nomor : 06/B/ P.KABALI/V/2010 tertanggal 11 Mei 2010 juga tidak mendapat tanggapan secara positif.  Oleh Karena itu, atas perlakuan ini Keluarga Besar Liya (KABALI) sangat kecewa dan diminta kepada ketua panitia agar PELAKSANAAN SEMINAR PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN WAKATOBI TAHUN 2010 dinyatakan dibatalkan, sambil menunggu petunjuk lebih lanjut.
Untuk menjadi bahan periksa bahwa Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 hasil Amandemen ayat (1) menyebutkan bahwa Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah-tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Berkenaan dengan itu, diminta kepada Badan Pengurus Cabang FORKOM KABALI KABUPATEN WAKATOBI mulai saat ini untuk segera mewaspadai adanya gerakan aspirasi yang berkembang ditengah-tengah kehidupan sosial masyarakat akibat dari tidak dilaksanakannya seminar tersebut dan diminta secara aktif memantau konstelasi politik menghadapi PILKADA WAKATOBI 2011 jangan sampai ada pihak-pihak yang memperalat rakyat dan merekayasa sistem sosial kemasyarakatan untuk kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Bila ternyata ditengarai ada dijumpai hal yang mengganjal harap untuk segera dikoordinasikan kepada Badan Pengurus Pusat FORKOM KABALI untuk kemudian akan kami segera difollow up dengan bekerja sama organ-organ pemerintah pusat yang berkompoten.
Kami menyadari bahwa dalam proses pengajuan proposal Seminar Kebudayaan sejak bulan Maret 2010  hingga saat  ini  banyak  pihak  yang telah terlibat secara susah payah dalam menangani proposal tersebut dan pada akhirnya tidak mendapatkan hasil apa-apa, untuk itu semua tak lupa diucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah terbina selama ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, atas perhatian diucapkan terima kasih.

BADAN PENGURUS PUSAT
FORKOM KABALI
KENDARI- SULAWESI TENGGARA

                        K E T U A,                                            SEKRETARIS,
 
                            ttd                                                        ttd
 Ir. LA ODE MUH. ALI HABIU, AMts, M.Si         UMAR ODE HASANI, SP, M.Si

Tembusan:
1.  Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari,
2.  Bupati Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
3.  Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
4.  Sekretaris Daerah Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
5.  Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
6.  Pengurus Cabang FORKOM KABALI se-Indonesia,
7.  Badan Pendiri Pusat FORKOM KABALI Sultra (sebagai laporan) di Kendari,
8.  Pertinggal.

Rabu, 30 Juni 2010

TERM OF REFERENCE "SEMINAR PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN LIYA"

Oleh : Sekretariat KABALI

1. Dasar Pemikiran
Kebudayaan adalah suatu keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan jalan belajar (Koenjaraningrat, 1987 : 181-183). Sedangkan Sir Edwart Taylor dalam (Havilan, 1988 : 332), mendefinisikan Kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan, dan lain-lain dari kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Pengertian Kebudayaan dimaksud merupakan inspirasi dari beragam program kerja Forkom KABALI dan menjadi komitmen serta cita-cita organisasi untuk mewujudkan bermacam kegiatan dan salah satunya adalah terselenggaranya Seminar Kebudayaan Liya di Kabupaten Wakatobi.
Seminar Kebudayaan Liya ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi dan momentum pelestarian Peninggalan Sejarah Kebudayaan Liya di Wakatobi di antaranya adalah tercetusnya kesepakatan bersama dan persepsi yang sama dalam upaya mengembangkan sikap saling berapresiasi, saling peduli, saling menghargai dan bersatu padu dalam suasana harmonis dan bangkit untuk melestarikan keragaman seni, budaya lokal sebagai wujud tanggung jawab bagi kita masyarakat Liya khususnya dan masyarakat Wakatobi pada umumnya, termasuk arah kebijakan pemerintah dalam rangka pembangunan kebudayaan daerah.
Disadari bahwa, Potensi Kebudayaan Liya sendiri dari waktu ke waktu dan generasi ke generasi mengalami degradasi yang disebabkan oleh proses transfer pengetahuan antar generasi yang tidak selalu berjalan baik. Lebih lanjut konteks modernitas kekinian dan globalisasi yang masuk ke setiap relung sosial budaya dan politik praktis, menjadikan kita, masyarakat Liya dan Wakatobi secara umum tidak cukup hanya mengkais-kais kearifan lokal yang dilahirkan oleh masa lalu, tapi pada saat bersamaan penting untuk melestarikan dalam wujud konkrit serta merevitalisasinya dalam konteks kekinian.
Masyarakat dan Pemerintah Daerah Wakatobi memiliki tugas yang cukup besar dalam upaya pengelolaan dan pelestarian dari keragaman seni budaya Wakatobi sebagai salah satu ruang untuk meningkatkan peran di sektor Pariwisata di Kabupaten Wakatobi.
Seminar Kebudayaan Liya 2010 yang akan diselenggarakan merupakan bagian dari pembangkitan Citra Kebudayaan di daerah Wakatobi yang beragam sebab kini terdapat gejala di mana kebudayaan daerah mengalami pergeseran citra di masyarakat. Penghargaan terhadap tradisi lokal mulai meluntur, digantikan dengan konsumsi kebudayaan baru yang seringkali tidak memiliki akar kultural.
Perlu disadari bahwa pembangkitan Citra Kebudayaan Wakatobi merupakan filter dari akulturasi budaya yang berwujud dan cara mewujudkannya adalah dengan tetap mempertahankan kearifan budaya lokalnya, dapat pula dikatakan Seminar Kebudayaan Liya yang akan digelar adalah merupakan bagian dari strategi pembangunan kebudayaan dalam rangka menegaskan kepada kita sebagai pelaku dan sebagai pemilik kebudayaan untuk mengarahkan, mengembangkan, dan menciptakan (kreatif), bukan semata sebagai penerima warisan kebudayaan (normatif). Strategi kebudayaan berarti menegaskan apa yang dapat dilakukan, dan bukannya apa yang harus dilakukan guna menciptakan citra kebudayaan daerah dimaksud guna mendukung Pembangunan Pariwisata Wakatobi yang di inginkan oleh masyarakat Wakatobi. 

2. Tema Seminar
Tema Seminar Kebudayaan Kebudayaan Liya tanggal 20 Juli 2010 ini adalah “Melalui Seminar Kebudayaan Liya, Bersama Kita Membangun Citra Wakatobi Menuju Destinasi Wisata Budaya Dunia” 

3. Tujuan
1. Menyatukan persepsi tentang Sejarah Kebudayaan Liya,
2. Membangkitkan semangat masyarakat Liya khususnya dan Wakatobi umumnya dalam upaya membangun Citra Kebudayaan Daerah,
3. Merumuskan saran kepada Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pelaksanaan program Pembangunan Kebudayaan Liya di Wakatobi.

4. Harapan
Kegiatan Seminar ini diharapkan dapat melahirkan konstribusi positif dan bermanfaat bagi kelangsungan Pembangunan Kebudayaan Liya sehingga dapat mengangkat dan mendukung Citra Wakatobi sebagai Destinasi Wisata budaya di Dunia. 

5. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Seminar Kebudayaan Liya 2010 direncanakan pada bulan Juli 2010, bertempat di Benteng Keraton Liya, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi. 

6. Bentuk Kegiatan
Kegiatan ini akan berlangsung 2 (dua) hari dalam bentuk Seminar dan Atraksi Seni Budaya Liya.

A. Seminar Kebudayaan dibagi dalam 3 (tiga) sesi yakni; Paparan dan Diskusi berupa:
o Mengkaji dan menyatukan perspektif yang sama tentang kerangka Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Liya Wakatobi oleh nara sumber,
o Selanjutnya pemaparan Pemateri dapat menjadi bahan informasi dan kontrak pembangunan dalam rangka membangun Kebudayaan Daerah,
o Tahapan Rekomendasi.

B. Pagelaran Seni Budaya Liya dibagi dalam berbagai Atraksi dan Tari Tradisional berupa:
o Pesta Adat dan Atraksi Liwo dari 18 (delapan belas) Kampung yakni; (Seru, Ewulaa, Balo-Balo I Timi, Timi, Wungka Tonga, Balo Laoni, Larotogo, Sula Mawi, Wote’a, Bisitio, Woru, Padangkuku, Bira, Lagundi, Laengga, One Melangka, Sempo dan One Sipi),
o Honari Mosega Liya
o Lariyangi Liya
o Atraksi Posepaa Liya
o Atraksi Wakenta Liya
o Atraksi Mansaa Liya
o Atraksi Tabuh Gendang Tradisional Liya

7. Pelaksana Kegiatan
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya Kendari (Forkom KABALI): Sekretariat : Jl. Balaikota, Lorong Rembis No. 7 Mandonga Kode Pos 93111 Telp. 0401-3022215/3000051
Email: forkomkabali@gmail.com
Web Blog : http: //www.forkomkabali.blogspot.com
Kendari – Sulawesi Tenggara dan di dukung oleh Komunitas Pelajar Mahasiswa (KOMPI KABALI) Kendari-Sulawesi Tenggara
bekerja sama dengan:
Jadwal Kegiatan (menyusul)

8. Pemateri Seminar
1. Ir. HUGUA (Bupati Wakatobi)
Judul: “Kebijakan Pemkab. Wakatobi Dalam rangka Pembangunan Kebudayaan Daerah”
2. Drs. M. SAID, M.Hum (Kepala BP3 Makassar)
Judul: “Pentingnya Sosialisasi dan Melestarikan Situs dan Benda Cagar Budaya”
3. DR. LM. ALIFUDDIN NUR, M.Ag (Akademisi)
Judul: “Kearifan Budaya Lokal sebagai Penunjang Pembangunan Daerah”
4. KETUA DPRD KAB. WAKATOBI
Judul: “Peran DPRD dalam rangka Pembangunan Kebudayaan Wakatobi”
5. KADIS. KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KAB. WAKATOBI
Judul: “Pengelolaan, Pengembangan dan Pemanfaatan Potensi Kebudayaan Daerah dalam Persfektif Pariwisata”
6. Ir. LM. ALI HABIU, AMts, M.Si (Ketua Forkom KABALI)
Judul: “Peran Aktif LSM dan Masyarakat Lokal dalam rangka mendukung Pembangunan Di Daerah”

Nara Sumber:
Bapak HASIRUN KUDUS (Sejarahwan Buton/Wolio)
Judul: “Keberadaan Kerajaan Liya Pada Masa Kerajaan dan Kesultanan Buton” memaparkan tentang:
• Siapa Talo-Talo?
• Apa Peran dan Kedudukan Kerajaan Liya Di Masa Pemerintahan Kesultanan Buton?
• Bagaimana Asal-Usul Kerajaan Liya?
• Kapan Islam Masuk di Liya?
• Mengapa Benteng Keraton Liya dibangun begitu luas hingga 3 (tiga) lapis dengan luas keseluruhan 36 (tigapuluh enam) Hektar?
• Dst

9. Peserta Kegiatan
Peserta terdiri dari;
1. Unsur Pusat (Kementerian/Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI)
2. Unsur Legislatif (DPRD) Kabupaten Wakatobi;
3. Unsur Eksekutif (Pemkab. Wakatobi);
4. Perguruan Tinggi (Akademisi);
5. LSM (NGO), Kerukunan/Paguyuban, Ormas
6. Tokoh adat dan Tokoh Masyarakat ;
7. Seniman dan Budayawan;
8. Pelajar dan Mahasiswa;
9. Masyarakat Liya - Wakatobi dan Masyarakat Umum yang Peduli Kebudayaan Daerah di Wakatobi. 

10. Anggaran Kegiatan
Biaya dalam pelaksanaan Seminar Kebudayaan Liya tanggal 20 Juli 2010 ini, bersumber dari dana Operasional Forkom KABALI Pusat dan Cabang se Indonesia, Sumbangan dari Tokoh Masyarakat Liya, Pengusaha Liya di Perantauan, serta sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat. (Rincian Anggaran Biaya Terlampir)

11. Penutup
Demikian Term of Reference (TOR) di susun dan untuk di pergunakan sebagaimana mestinya.
Kendari, Juni 2010
BADAN PENGURUS PUSAT
Forkom KABALI – Kendari
Sulawesi Tenggara

              K E T U A,                            SEKRETARIS

Ir. LM. ALI HABIU,AMts.,M.Si      UMAR ODE HASANI,SP.,M.Si


CP:
1. Ir. LM. ALI HABIU, AMts, M.Si
No. Telp/Hp. 0401-3000051/081341669909
2. UMAR ODE HASANI, SP, M.Si
Hp. 081341641330
3. An. LA ODE ALI AHMADI, S.S
No.Telp/Hp.0401-3022215/085241567302

Senin, 31 Mei 2010

POSEPAA, SENI GERAK ASLI MILIK LIYA, DIPERAGAKAN OLEH MAHASISWA ASAL LIYA KENDARI

 Posepaa merupakan tradisi rakyat dalam lingkungan Benteng Keraton Liya yang dilakukan setahun sekali utamanya pada saat bulan suci ramadhan disetiap sore hari mulai jal 16.30 sampai menjelang buka puasa. Tradisi ini diperkirakan mulai dikembangkan oleh Djilabu sebagai pembawa agama islam di Liya pada tahun 1536 Masehi dengan maksud agar masyarakat menjelang buka puasa tidak bermalas-malasan untuk itu dibuatkan kegiatan ini agar masyarakat secara aktif melaksanakan Posepaa ini dan lapar/dahagapun sampai terlupakan oleh asyiknya permainan ini.

Mulai dari situlah acara ini dirutinkan oleh masyarakat kampung Liya bahkan makin berkembang dimana setiap kali permainan Posepaa diwarnai oleh aduh tanding antara dusun dalam lingkungan keraton Liya.











Dalam konteksi seni budaya permainan Posepaa ini masih perlu dikemas sehingga permainannya menjadi asyik ditonton namun pelaksanaan tidak menimbulkan bahaya cedera sebagaimana permainan aslinya.












TARIAN ASLI ASAL LIYA "HONARI MOSEGA" SUDAH DAPAT DITARIKAN OLEH ANAK-ANAK ASLI LIYA DARI KALANGAN MAHASISWA LIYA KENDARI

Alhamdulillahi Rabbil Aalamiin, puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanna Wata'alah atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya yang diberikan kepada Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara dan kepada Komunitas Pemuda Pemudi Keluarga Besar Liya (KOMPI KABALI) Kendari atas dorongan dan petunjuknya sesuai visi dan misi Lembaga ini dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Liya kini sudah mulai terbukti. Hal ini dimulai dari hasil keputusan rapat pertemuan FORKOM KABALI pada tanggal 4 Mei 2010 di Kendari dimana salah satunya adalah segera mengadakan pelatihan seni budaya berupa "HONARI MOSEGA" yang mana tarian ini sudah mulai funah di Liya karena orang-orang yang ahli pada tarian ini sudah kebanyakan meninggal dunia dan sisanya sudah mulai uzur dengan usia di atas 85 tahunan sehingga mereka secara praktis sudah tidak lagi bisa bergerak untuk menari juga sudah agak pikun hilang ingatan sehingga juga mereka praktis sudah tidak bisa lagi mengajarkan dengan baik seluruh konteks gerakan HONARI MOSEGA ini sebagaimana mereka tarikan dimsa silam. Sementara kadernya yang bertahan tinggal 3 orang dimana mereka itu yang selama menerima pendidikan tari HONARI MOSEGA sekitar 4 tahun silam di Liya barulah sempat satu kali mengadakan pentas yang di gagas oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi. Selain itu celakanya desa tetangga seperti Mandati mengkleim HONARI MOSEGA sebagai miliknya padahal mereka sekelompok orang tertentu dipaksa belajar di Liya atas desakan para tokoh asal Mandati yang saat itu duduk dipemerintahan Wakatobi untuk alasan pementasan bersama pada ajang pestival Keraton beberapa waktu lalu yang diadakan di Solo. Akhirnya karena para tokoh asal Liya yang tinggal di Mandati ini berkhianat terhadap leluhur, mereka mendapat kutukan nyata "subhanallah" ada yang meninggal mendadak dan yang lainya turun dari jabatannya diluar dugaan mereka. Memang percaya atau tidak!!, di desa Laro Togo Liya hingga saat ini masih keramat dan masih sakral mengandung daua ghaib luar biasa, jika ada yang coba main-main atau dengan sengaja ingin merusak tatanan budaya leluhur Liya maka mereka akan kena "bala" yakni semacam kutukan dari para wali penghuni dalam Laro Togo Liya tersebut. Memang benar sejak zaman dahulu kala sekitar pertengahan abad XV ada tarian terkenal di Mandati bernama "MAKANDARA" dimana baik alunan gendang dan gerakannya sangat berbeda dengan tarian "HONARI MOSEGA" milik Liya dari dinasti para bajak laut yang berkembang sejak pertengahan abad XI di pulau Oroho yang merupakan gugusan pulau-pulau bagian selatan desa Liya.

Dalam melaksanakan amanah agenda keputusan Rapat Pertemuan Pengurus FORKOM KABALI Pusat Kendari tertanggal 4 Mei 2010 lalu selanjutnya ditindaklanjuti oleh Badan Pendiri FORKOM KABALI Pusat Kendari yang terdiri dari : L.M.Ali Habiu, La Ode Marsidi, Umar Ode Hasani, La Ode Bahrun Sulaiman, Chaeruddin, La Ode Ali Kalau dan La Ode Salagu dan Ketua Devisi Pelestarian Seni Budaya Edy Sunarno dalam   suatu rapat khusus  yang diadakan pada tanggal 7 April 2010 di rumah kediaman Ketua Umum dengan agenda pembicaraan masalah pencarian dana operasional dan pencarian pelatihnya. Pada malam itu akhirnya dibuatkan surat pengantar sumbangan berikut daftar sumbangan dan terkumpul juga sumbangan sebesar Rp.400.000,-- sambil mengedarkan ke beberapa orang tokoh dari kalangan pengurus untuk meminmta dukungan dananya. Selebihnya Ketua Umum FORKOM KABALI akan mencoba mengajukan permintaan sumbangan dana ke teman sejawat para Pimpro di lingkungan Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara dan akhirnya didapatkan dana sumbangan sebesar Rp.2.200.000,-- yang mana sumbangan ini didapat secara bertahap hingga tanggal 27 Mei 2010.
Pada tanggal 20 Mei 2010 Ketua Umum FORKOM KABALI berkoordinasi dengan Pengurus Cabang FORKOM KABALI WAKATOBI yang berkedudukan di desa Liya Wangi-Wangi untuk mencarikan seorang guru HONARI MOSEGA dan Penabur gendangx. Alhamdulillah pada tanggal 21 Mei 2010 Ketua Cabang FORKOM KABALI WAKATOBI mendapatkan seorang yang bisa melatih sekaligus bisa menabur gendang HONARI MOSEGA. Dan pada hari sabtu tanggal 22 Mei 2010 pelatih bernama La Alidu datang menuju Kendari dari Wangi-Wangi dengan menumpang kapal K.M.Aksar dan tiba di Kendari pada pukul 19.00 WIT yang langsung dijemput oleh Ketua Umum FORKOM KABALI Kendari. Keesokan harinya mulai jam 16.00 WIT bertempat dipelataran rumah kediaman La Ode Ali Kalau dilakukanlah pelatihan HONARI MOSEGA dengan diikuti oleh para bapak-bapak dari pengurus FORKOM KABALI juga adik-adik Mahasiswa yang tergabung dalam KOMPI KABALI Kendari. Pelatihan dilanjutkan kemudian pada hari Selasa pada tempat yang sama dan didapatlah dua orang yang sangat berbakat untuk menari HONARI MOSEGA yakni Mahasiswa STIMIK bernama Ady, untuk penari MANU-MANU dibawakan oleh Calon Mahasiswa STAIN bernama Rachman dan Pembawa Bendera seorang Mahasiswa UNHALU bernama La Ode Ba'Bur sedangkan tabur gendang di kuasai oleh wakil sekretaris FORKOM KABALI yakni La Ode Ali Ahmadi,S.Sas. Setelah empat hari lamanya berlatih hingga hari Kamis tanggal 27 Mei 2010 ke empat orang ini antara lain 1 orang Penari HONARI MOSEGA, 1 orang penari MANU-MANU dan 1 orang PENABUR GENDANG dan 1 orang PEMBAWA BENDERA menurut penilaian pelatih la Idu cukup menguasai dan dapat tampil pada peragaan yang akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 30 Mei 2010 di Haeba Dalam Kendari. 
Pada hari Minggu tangal 30 Mei 2010 tepatnya Jam 16.00 acara atraksi HONARI MOSEGA  dumulai dengan acara antara lain pengantar dari Ketua Umum FORKOM KABALI dan selanjutnya di buka oleh Ketua Kekar Liya Kendari yakni Bapak Ir.H.La Ode Ganiru,M.Si sekaligus memberikan sambutan-sambutan nya. Dalam acara atraksi HONARI MOSEGA yang bertempat di halaman rumah kediaman Drs. La Ode Rahim tersebut cukup meriah karena dihadiri oleh sebagian dari para tokoh Liya serta Keluarga Besar Liya dengan memberikan aplaus begitu meriah dan penuh kegembiraan.
Mulai dari hari Rabu hingga Kamis Ketua Umum FORKOM KABALI sibuk mencari donatur untuk menyumbang perlengkapan kostum, tongkat, bendera dan gendang serta aksesoris lainya dan alhamdulillah pada hari Satu tanggal 22 Mei 2010 semua perlengkapan telah selesai diadakan tinggal baju SARA yang akan dipakai oleh penabur gendang dan penari Bendera nanti keesokan harinya yakni Minggu tanggal 23 Mei 2010 pagi baru dapat diterima.

 APA ITU HONARI MOSEGA??
HONARI MOSEGA adalah tarian perang asli asal Liya yang dahulu kala dijadikan sebagai tarian pengintai musuh (baca:Intelijen) yang diperkirakan mulai terjadi sejak pertengahan abad XI di pulau Oroho. Tarian ini dahulu kala dikembangkan oleh para Hulubalang dan Bajak Laut yang bermukim di pulau tersebut dalam rangka mempertahankan wilayah kekuasaan mereka dari para musuh yang akan memasuki daratan. Dan pengintaian ini akan nampak pada pasukan pengawal sejumlah 40 orang yang seluruhnya membawa tombak dengan hulu tajam, yang mana dikomandoi oleh seorang pembawa bendera berwarna kuning dengan memakai topi yang berhiaskan cermin. Antara isyarat yang diberikan oleh gerakan HORANI MOSEGA dengan prajurit pengawal 40 orang ini merupakan suatu kesatuan komando yang dinampakkan pada saat penghormatan para panari tersebut. 

 Dalam lingkungan keraton Liya penari HONARI MOSEGA ini pertama-tama menghadap ke Mesjid Agung Keraton Liya dan memberi hormat, kemudian setelah itu mulai teriak dan menari samnil membuka penghormatan arah Makam Leluhur  sebelah utara dan melanjutkan gerakan tarian arah selatan dan diujung memberi hormat para penduduk dan kemudian melanjutkan kerakan menuju makam leluhur kembali sambil memberi hormat terakhir dilanjutkan bergerak menuju arah Baruga (tempat pertemuan Raja) dan menyerahkan katompide ditamsilkan barat mayat seorang yang sudah ditombak. 

Katompide ditaruh ditanah sambil di beri perhatian 3 kali apakah mayat ini masih bergoyang atau tidak dan terus diawasi dengan  bergerak mundur memutar melingkar dan maju kembali untk menonbak sambil mengambil tangkisan tersebut dan meloncat teriak dan berpaling dan menuju ke arah mesjid menombak sambil memutar dan terakhir memberi hormat. 
Pada masa lalu sering tarian HONARI MOSEGA ini diserta dengan Makandara, yakni setelah penari memberi penghormatan terakhir, lalu masuklah pasulan SARA sebanyak 40 orang yang mengawal HONARI MOSEGA ini lalu mereka Makandara melakukan gerakan-gerakan silat layaknya peperangan melawan musuh lalu dilakukannya penikaman antara sesama pasukan dengan senjata tombak dan keris namun kesemua perlakuan ini tak ada satupun yang cedera dimakan oleh senjata tombak atau keris. Pada kondisi demikian ini seluruh warga Liya yang sedang menonton semuanya lari kocar kacir menyembunyikan diri karena mereka merasa takut melihat ujung-ujung tombak yang dihantamkan pada dada atau perut seseorang dengan diserta bunyi namun orang yang ditombak tersebut tidak dimakan senjata tombak ibarat bunyi gemercingan besi diterima oleh tubuhnya. Namun perlakuan Makandara semacam ini masa kini sudah tidak lagi bisa dipakai mengingat ilmu-ilmu kebal sudah mulai agak funah di Liya dan Sara yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi mara bahaya dari kagiatan ini sudah pada meninggal dunia. 
Dalam tarian aslinya simbol-simbol gerakan diciptakan dengan tujuan dan mksud-maksud tertentu dan ketika itu hanya para perajurit pengawal 40 orang dan para hulubalang dan bajak laut yang mengetahui isyarat-isyarat itu untuk pemberian sebuah komando apakah menyerang atau menyambut lawan dengan baik.

Inilah Tarian HORANI MOSEGA dalam pengertian dalam bahasa Indonesia sebagai TARIAN PERANG atau TARIAN ORANG BERANI yang menjadi kebanggaan leluhur Liya dan memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi saat ini perlu dilestarikan dan dikembangkan. Tari asli HONARI MOSEGA ini penari utamanya memakai topi TALO-TALO dalam pemesanan.









Ali Habiu | Buat Lencana Anda


Selasa, 25 Mei 2010

KOMPI KABALI BESERTA FORKOM KABALI MENGADAKAN PELATIHAN "HONARI MOSEGA"

Sesuai dengan hasil kesepakatan Pertemuan Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (Forkom KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara pada tanggal 4 Mei 2010 bertempat di rumah kediaman Drs. Ahmad Lamani,M.Pd telah disepakati bahwa dalam rangka Pelestarian dan Pengembangan Seni Budaya Liya agar lebih memasyarakat dan mudah dikenal oleh publik, maka pada acara pawai akbar Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Kendari akan diikutkan peragaan Seni Budaya Liya yang akan diikuti oleh Komunitas Pemuda dan Pemudi Keluarga Besar Liya (KOMPI KABALI) Kendari. Untuk bisa menunjang hal tersebut, maka Badan Pengurus Pusat  FORKOM KABALI menyelenggarakan Pelatihan Seni Budaya berupa : HONARI MOSEGA, WEMPA SEHE DAN POSEPAA MODIFIED yang diikuti oleh beberapa orang Mahasiswa asal KOMPI KABALI termasuk beberapa orang Pengurus FORKOM KABALI yang berlangsung selama seminggu  mulai tanggal 24 Mei 2010 sampai 30 Mei 2010. Adapun Pelatih HONARI MOSEGA didatangkan khusus dari Liya yakni saudara LA ALIDU, sedangkan WEMBA SEHE di latih langsung oleh Ketua Umum FORKOM KABALI yakni ALI HABIU dan POSEPAA dilatih langsung oleh Bendahara FORKOM KABALI yaitu LA ODE SALAGU. Adapun lokasi tempat latihan HONARI MOSEGA, POSEPAA DAN WEMBA SEHE bertempat di halaman rumah LA ODE ALI KALAU salah seoranPengurus FORKOM KABALI.

Inilah Salah satu bentul latihan dasar HONARI MOSEGA, nampak pada bagian kiri gambar adalah pelatih HONARI MOSEGA bapak LA ALIDU yang diikuti oleh 2 orang Mahasiswa dari KOMPI KABALI. Begitu serius pelatihan ini dan memang gerakan-gerakan HONARI MOSEGA sebagai tari asli milik Liya ini ternyata tidaklah mudah, mengingat hampir semua gerakan mulai dari kaki sampai dengan tangan memegang tombak dan penangkis adalah gerakan silat asli bernama "balaba". Jadi latihan HONARI MOSEGA lebih mudah difahami dan diikuti hanya pada mereka yang memang telah memiliki dasar-dasar olah kanuragan yakni Silat. Walaupun demikian bukan berarti bahwa bagi mereka yang tidak memiliki dasar olah kanuragan tidak bisa melatih gerakan HONARI MOSEGA ini, semuanya bisa tergantung dari orang yang bersangkutan hanya saja mungkin dalam melatihnya harus serius dan agak memakan waktu relatif lama bisa sampai 1 bulan lamanya baru bisa lancar.


Salah satu keunikan tari HONARI MOSEGA ini adalah terletak pada gerakannya yang betul-betul penuh dengan gerakan silat. Mulai dari melangkahkan kaki, memutar tombak sampai dengan menangkis merupakan gerakan silat balaba. Inilah bentuk tari tradisonal asli milik Liya yang mana tari ini diperkirakan sudah mulai ada sejak pertengahan Abad XI lalu yang dikembangkan oleh para Hulu Balang dan Bajak Laut di pulau Oroho bagian selatan Liya. Tari HONARI MOSEGA ini identik dengan Pemantauan Intelijen pada era saat ini, karena simbol-simbol gerakan merupakan isyarat dalam menyambut para tamu yang masuk di wilayahnya pada waktu itu; apakah tamu bermaksud baik atau bermaksud buruk. Jika tamu bermaksud baik maka akan disambut dengan kode gerakan tertentu sehingga para pasukan hulubalang dan bajak laut yang telah mengintip dari kejauhan tidak akan menyerang tamu tersebut, namun sebaliknya jika bermaksud buruk maka akan diadakan perlawanan dan penyerangan dari pasukan yang telah mengintai dari kejauhan.

Inilah salah satu momen pelatih mendekati La Ode Ali Ahmadi yang sedang memukul Tamburu yang iramanya masih salah. Ternyata belajar memukul Tamburu untuk HONARI MOSEGA cukup juga sulit karena dembuman pukulan dan irama lain dari pada yang lain dia harus meunjukkan bunyi : "kompo latopulu....kompo latopulu...kompo latopulu secara terus menerus. Sehingga sampai hari kedua latihan belum juga ada yang kuasai pemukulan Tamburu tersebut. Namun demikian peserta tidak putua asa sebab setiap malam diadakan latihan sendiri-sendiri memukul Tamburu walaupun dalam sarana hanya stik dengan tembok atau busa kursi supaya betul-betul penguasaan irama Tamburu yang diharapkan dapat segera dikuasai. Dalam latihan HONARI MOSEGA ada juga pasangan tarinya yang bernama MANU-MANU dimana dimainkan oleh salah seorang yang kuasai jurus silat supaya lincah dalam memancing penari HONARI MOSEGA sehingga dia semangat dalam memainkan perannya sebagai penari dengan gerakan kaki yang lincah dan tangan yang lincah memainkan tombak dan penangkis.

Inilah salah seorang penari HONARI MOSEGA asal Mahasiswa dari Liya yang bernama Rachman sedang "sehe" ketika mereka habis memainkan WEMBA SEHE ketika berlangsung latihan HONARI MOSEGA di pelataran halaman La Ode Ali Kalau. Dia memainkan jurus-jurus silat diluar kesadaran reel yang digerakkan oleh suatu kekuatan ghaib sehingga siapa saja yang menonton pada saat itu amat terpesona menyaksikan gerakan-demi gerakan yang dimainkannya. Luar biasa potensi anak-anak negeri asal Liya ini mudah-mudahan kedepan mereka secara bertahap dapat membangkitkan kebudayaan leluhurnya yang pada zamannya amat tersohor itu dan ditakuti oleh lawan maupun kawan dan dihormati dalam lingkungan kepulauan tukang besi. Majulah negeriku...., majulah budayamu.!!??

Rabu, 12 Mei 2010

TINDAKLANJUT SURAT PANITIA PELAKSANA SEMINAR PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN WAKATOBI DITUJUKAN KE BUPATI WAKATOBI

Oleh : Sekretariat

 Salinan :

Kendari, 11 Mei 2010

Nomor : 06/B/P.KABALI/V/2010
Lampiran : ---

Kepada Yth,
Bapak BUPATI WAKATOBI
Di.
Wangi-Wangi.


Perihal : Tindaklanjut Surat Panitia Pelaksana Seminar Pembangunan Kebudayaan Wakatobi Nomor : 01/Pan.Seminar/III/2010, tertanggal 04 Maret 2010 Tentang Proposal Seminar Kebudayaan Wakatobi 2010.

Menindaklanjuti hasil rapat Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara pada tanggal 02 Mei 2010 di Kendari, merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :
1. Hasil pertemuan Ketua Umum Forkom KABALI dengan Bupati Wakatobi pada tanggal 19 Maret 2010 bertempat di Pantai Matahora mengenai tindak lanjut pelaksanaan seminar yang dimaksud, dengan ini kami sampaikan bahwa keberadaan Proposal Seminar yang telah didisposisi oleh Bupati Wakatobi yang ditujukan kepada Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Wakatobi dan setelah kami telusuri ternyata disposisi tersebut tidak sampai pada yang bersangkutan.
2. Forkom KABALI meminta penjelasan Bapak Bupati Wakatobi tentang keberlanjutan pelaksanaan seminar yang dimaksud agar pihak kami dapat mempersiapkan segala hal yang diperlukan sehubungan dengan amanah yang dititipkan kepada kami untuk membentuk Panitia Pelaksana SeminarPembangunan Kebudayaan Wakatobi sesuai hasil pertemuan Pengurus Forkom KABALI dengan Bupati Wakatobi tanggal 21 Pebruari 2010 di Kendari.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya tak lupa diucapkan terima kasih.

BADAN PENGURUS PUSAT
FORKOM KABALI
KENDARI- SULAWESI TENGGARA

                       K E T U A,                                         SEKRETARIS,

                             ttd                                                     ttd

Ir. LA ODE MUH. ALI HABIU, AMts, M.Si          UMAR ODE HASANI, SP, M.Si


Tembusan:
1. Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari,
2. Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
3. Sekretaris Daerah Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
4. Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
5. Pengurus Cabang FORKOM KABALI se-Indonesia,
6. Badan Pendiri Pusat Forkom KABALI Sultra (sebagai laporan) di Kendari,
7. Pertinggal.

TINDAKLANJUT PERMOHONAN MENDAPATKAN BANTUAN RUTIN APBD PEMDA WAKATOBI UNTUK PEMBINAAN SANGGAR SENI BUDAYA KABALI.

Oleh  : Sekretariat

Salinan :

Kendari, 10 Mei 2010

Nomor : 15/BP/FORKOM KABALI/Sultra/V/2010
Lampiran : --

Kepada Yth,
Bapak BUPATI Kabupaten Wakatobi
DI.
WANGI-WANGI.

Perihal : Tindaklanjut Permohonan Mendapatkan Bantuan Rutin APBD Pemda Wakatobi Setiap Tahun Untuk Pembinaan Sanggar Seni Budaya KABALI.

Dengan ini disampaikan kepada Bapak Bupati Kabupaten Wakatobi bahwa menindaklanjuti Surat kami Nomor : 13/BP/FORKOM KABALI/Sultra/III/2010, tertanggal 8 Maret 2010 tentang Permohonan Mendapatkan Bantuan Rutin APBD Pemda Wakatobi Setiap Tahun Untuk Pembinaan Sanggar Seni Budaya KABALI. Dengan ini kembali diingatkan kepada Bapak bahwa dalam rangka pelaksanaan perubahan Anggaran APBD Wakatobi Tahun Anggaran 2010 dan/atau dalam Perancangan Anggaran APBD Wakatobi Tahun Anggaran 2011 serta tahun-tehun akan datang harap dapat diakomodir mata anggaran Pembinaan dan Pelestarian Kebudayaan Liya yang akan dikelolah melalui kegiatan Sanggar KABALI sehingga asset kebudayaan Liya yang selama ini termarginalkan mulai dapat dikembangkan tahap demi tahap dalam kerangka menunjang program Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi di sektor parawisata. Oleh karena itu perkenankan kami atas nama Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara mengajukan permintaan kepada Bapak kiranya dapat kami dibantu anggaran pembinaan Seni Budaya, Adat Istiadat dan Tradisi Keluarga Besar Liya yang akan dikelolah melalui sanggar KABALI berupa :
1. Biaya pengadaan instrumentasi peralatan Seni Budaya, Adat Istiadat dan Tradisi Liya termasuk seragam latihan dan perlengkapan seperangkat elekton dan sound sistemnya untuk ditempatkan pada SANGGAR KABALI PUSAT DI KENDARI sebesar Rp.172.000.000,-- (seratus tujuh puluh dua juta rupiah) sebagaimana perincian dalam proposal biaya yang telah kami ajukan sebelumnya kepada Bapak dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi;
2. Biaya pengadaan instrumentasi peralatan Seni Budaya, Adat Istiadat dan Tradisi Liya termasuk seragam latihan untuk ditempatkan pada SANGGAR KABALI CABANG WAKATOBI DI LIYA – WANGI-WANGI sebesar Rp.99.500.000,-- (sembilan puluh sembilan juta lima ratus ribu rupiah) sebagaimana bagian perincian dalam proposal biaya yang telah kami ajukan pada deskripsi butir satu diatas;
3. Biaya Perawatan Sanggar KABALI dan biaya-biaya Pembinaan, Pelestarian dan Pelatihan Seni Budaya berupa Lariangi Liya, Honari Mosega, Posepaa Modifikasi dan Panji-panjinya kebesaran Liya untuk SANGGAR KABALI PUSAT DI KENDARI, diharapkan dapat dianggarkan setiap tahunnya minimal sebesar Rp.50.000.000,--(lima puluh juta rupiah);
4. Biaya Perawatan Sanggar KABALI dan biaya-biaya Pembinaan, Pelestarian dan Pelatihan Seni Budaya berupa Lariangi Liya, Honari Mosega, Posepaa Modifikasi, atribut dan seragam dan Panji-panjinya kebesaran Liya untuk SANGGAR KABALI CABANG WAKATOBI DI LIYA-WANGI-WANGI diharapkan dapat dianggarkan setiap tahunnya minimal sebesar Rp.40.000.000,--(empat puluh juta rupiah);
5. Biaya pegelaran seni dan bakti sosial budaya dan kesehatan sosial diadakan minimal 2 kali setahun setiap kali liburan mahasiswa yang akan dilaksanakan oleh Komunitas Pemuda Pemudi Keluarga Besar Liya (KOMPI KABALI) pusat Kendari dengan melibatkan para medis 5 orang, dokter 4 orang, sejarawan dan budayawan dan para aktivis KOMPI KABALI dari masing-masing putra daerah asal Liya dengan perkiraan alokasi penggunaan dana selama 2 kali kegiatan dalam setiap tahunnya dan dapat dianggarkan setiap tahunnya sebesar Rp.100.000.000,-- (seratus juta rupiah).

Sangat kami harapkan kepedulian bapak-bapak dengan tidak memandang suku apapun mengingat eksistensi kebudayaan Liya sejak dahulu kala memiliki nilai-nilai sejarah dan peradaban yang tinggi yang kini sudah saatnya untuk dilakukan pembinaan secara intensif dan terus-menerus baik secara internal oleh komunitas masyarakat Liya sendiri dan secara eksternal oleh Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi sehingga pada akhirnya beberapa tahun mendatang akan menjadi asset bagi potensi wisata budaya yang bisa diandalkan sebagai patnership wisata bawah laut “Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segi Tiga Karang Dunia” serta dapat menjadi konstribusi bagi pemasukan pendapatan asli daerah dan peningkatan sektor reel untuk kesejahteraan masyarakat Wakatobi. 

Demikian permohonan yang dapat kami sampaikan untuk mendapat perhatian Bapak dalam pelaksanaan revisi APBD Kabupaten Wakatobi tahun 2010 ini dan penganggaran APBD pada tahun-tahun akan datang sehingga pembagunan sektor sosial budaya dan kebudayaan Liya yang selama ini belum dikelolah dengan baik dapat dijadikan muatan lokal dan senantiasa mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan para pengambil kebijakan untuk dapat ditetapkan menjadi muatan rutin APBD Kabupaten Wakatobi pada setiap tahun anggaran agar masyarakat kita dapat segera maju sosial ekonominya dan pembangunan daerah serta hasil-hasilnya dapat berjalan merata dan dirasakan manfaatnya pada semua lapisan masyarakat tanpa kecuali sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Atas perhatian Bapak tak lupa kami ucapkan terima kasih, semoga Tuhan YME, Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dalam melakukan segala tujuan yang benar, amin

BADAN PENGURUS PUSAT
FORUM KOMUNIKASI KELUARGA BESAR LIYA
(FORKOM KABALI)
SULAWESI TENGGARA,

                      Ketua,                                        Sekretaris,
                        ttd                                                 ttd



IR. LA ODE MUH.HABIU,AMts.,M.Si        UMAR ODE HASANI,SP.,M.Si


Tembusan : Disampaikan Kepada Yth,
1. Presiden Republik Indonesia di Jakarta,
2. Menteri Kebudayaan dan Parawisata di Jakarta,
3. Menteri Dalam Negeri di Jakarta,
4. Kementerian Negara/Ketua BAPPENAS di Jakarta,
5. Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari,
6. Ketua BAPPEDA Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
7. Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sultra di Kendari,
8. Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
9. Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) di Makassar,
10. Kepala Bagian Keuangan Setkab Wakatobi di Wangi-Wangi,
11. Ketua Lembaga Adat Besar KABALI di Liya-Wangi-Wangi,
12. Para Ketua Cabang FORKOM KABALI se-Indonesia,
13. Pertinggal.

TINDAKLANJUT PERMOHONAN MENDAPATKAN BANTUAN APBD UNTUK PEMBANGUNAN PUSAT INFORMASI KEBUDAYAAN LIYA UNTUK SARANA OBYEK PARAWISATA BUDAYA.

Oleh   : Sekretariat

Salinan :

Kendari, 10 Mei 2010

Nomor : 16/BP/FORKOM-KABALI/Sultra/V/2010
Lampiran : --


Kepada Yth,
Bapak BUPATI Kabupaten Wakatobi
DI.
WANGI-WANGI.


Perihal : Tindaklanjut Permohonan Mendapatkan Bantuan APBD Untuk Pembangunan Pusat Informasi Kebudayaan Liya dan Pembangunan Prototipe Rumah Istana Mantan Raja Liya Untuk Sarana Obyek Parawisata Budaya.

Dengan ini disampaikan kepada Bapak Bupati Kabupaten Wakatobi bahwa menindaklanjuti surat kami Nomor : 14/BP/FORKOM-KABALI/Sultra/III/2010 tertanggal 8 Maret 2010 Tentang Permohonan Mendapatkan Bantuan APBD Untuk Biaya Pembangunan Pusat Informasi Kebudayaan Liya Dan Biaya Pembangunan Prototipe Rumah Istana Mantan Raja Liya Untuk Sarana Obyek Parawisata Budaya. Dengan ini kembali diingatkan kepada Bapak Bupati bahwa dalam rangka upaya meningkatkan promosi parawisata di sektor wisata budaya tahun tahun mendatang maka saat ini diperlukan pembenahan dan pembangunan inpra struktur obyek parawisata Liya yang selama ini belum tersentuh oleh kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Wakatobi. Potensi sarana obyek parawisata budaya di daerah Kabupaten Wakatobi berdasarkan artifak peninggalan budaya para leluhur masa lalu memiliki daya tarik tersendiri dan bisa dijual kepada para wisatawan bila mampu kita benahi sarana dan prasaranannya dengan baik sesuai kondisi keasliannya. Berkenaan dengan maksud tersebut dalam rangka ikut partisipasi dalam mensukseskan Program Parawisata Kabupaten Wakatobi yang saat ini lebih dikenal dengan wisata bahari dan penyelaman bawa laut “Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segi Tiga Karang Dunia”, maka kami dari Badan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (FORKOM KABALI) Kendari Sulawesi Tenggara mengajukan permintaan kepada Bapak agar dapat di anggarkan dalam APBD Kabupaten Wakatobi tahun anggaran 2011 sebagai berikut :
1. Biaya pembangunan sarana Pusat Informasi Kebudayaan Liya berupa pembangunan 1 (satu) Unit Bangunan KAMALI ukuran 10x20 m2 lengkap dengan etalase untuk pemajangan benda-benda dan artifak bersejarah termasuk tempat pemajangan hasil-hasil kerajinan rakyat berupa sarung hasil tenung, timbikar, hasil kerajinan perak, tembaga dan emas serta kerajinan lain yang dielaborasi dengan hasil-hasil keterampilan masyarakat Liya yang termodifikasi, termasuk pemajangan pernaskahan sejarah, dan lain sebagainya. Biaya yang diperlukan untuk pembangunan ini ditaksir secara Lump Sum dengan asumsi permeter persegi sebesar Rp.2.000.000,-- sehingga total anggaran Pembangunan KAMALI lengkap dengan etalasenya sebesar Rp.400.000.000,--(empat ratus juta rupiah).
2. Pembangunan prototype Bangunan Istana mantan Raja Liya (Mo’ori Liya, Lakina Liya) sebanyak 14 buah KAMALI dengan ukuran 5x7 m2 dibangun sesuai dengan model keasliannya dan ditempatkan pada lokasi tanah eks KAMALI dari masing-masing Raja yang bersangkutan. Biaya yang diperlukan untuk pembangunan Istana Mantan Raja Liya ini ditaksir Lump Sum dengan asumsi Rp.1.500.000,-/m2 sehingga dalam 1 unit Bangunan KAMALI ukuran 5x7m2 diperlukan dana sebesar Rp. 52.500.000,- Total biaya untuk pembangunan prototype Rumah Istana mantan Raja Liya sebanyak 14 buah Bangunan KAMALI sebesar Rp.735.000.000,- (tujuh ratus tiga puluh lima juta rupiah). Besarnya biaya ini sudah termasuk pembuatan papan tanda dan papan peringatan bagi setiap mantan Raja Liya yang pernah berkuasa pada zamannya.
3. Pengadaan seperangkat alat tenung tradisional, alat pengrajin pandai besi, alat pengrajin emas/perak dan tembaga sebanyak 10 unit termasuk biaya program pendidikan dan pelatihan dari para penenung dan pengrajin yang dimiliki oleh masyarakat Liya dari asal turun temurun dengan perkiraan dana sebesar Rp. 500.000.000,-- (lima ratus juta rupiah).

Sangat kami harapkan kepedulian bapak Bupati dengan tidak memandang suku apapun mengingat eksistensi peninggalan kebudayaan Liya sejak dahulu kala memiliki nilai-nilai sejarah dan peradaban yang tinggi yang kini sudah saatnya untuk dilakukan pembinaan secara intensif dan terus-menerus agar bisa terbentuk suatu komunitas budaya dengan segala atribut yang mengiringinya sehingga suatu kelak dapat menjadi potensi obyek Wisata Budaya dan dapat dijual kepada wisatawan baik lokal maupun manca negara. Pada kondisi demikian diharapkan sektor Wisata Budaya ini dapat menjadi stimulus bagi meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Wakatobi sekaligus dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat melalui peningkatkan sektor reel khususnya Liya dan umumnya Kabupaten Wakatobi. 

Demikian permohonan yang dapat kami sampaikan untuk mendapat perhatian Bapak dalam pelaksanaan revisi APBD Kabupaten Wakatobi tahun 2010 ini dan penganggaran APBD pada Tahun Anggaran 2011 akan datang sehingga pembagunan sektor Wisata Budaya dan kebudayaan Liya yang selama ini termarginalkan dapat dijadikan muatan lokal dan senantiasa mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan para pengambil kebijakan untuk dapat ditetapkan menjadi muatan rutin APBD Kabupaten Wakatobi agar masyarakat kita dapat segera maju sosial ekonominya serta pembangunan daerah dan hasil-hasilnya dapat berjalan merata dan dirasakan manfaatnya pada semua lapisan masyarakat tanpa kecuali diseluruh wilayah Wakatobi sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Atas perhatian Bapak, tak lupa kami ucapkan terima kasih, semoga Tuhan YME, Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dalam melakukan segala tujuan yang benar, amin


BADAN PENGURUS PUSAT
FORUM KOMUNIKASI KELUARGA BESAR LIYA
(FORKOM KABALI)
SULAWESI TENGGARA,

                    Ketua,                                               Sekretaris,

                      ttd                                                         ttd


IR. LA ODE MUH.ALI HABIU,AMts.,M.Si         UMAR ODE HASANI,SP.,M.Si


Tembusan : Disampaikan Kepada Yth,
1. Presiden Republik Indonesia di Jakarta,
2. Menteri Kebudayaan dan Parawisata di Jakarta,
3. Menteri Dalam Negeri di Jakarta,
4. Kementerian Negara/Ketua BAPPENAS di Jakarta,
5. Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari,
6. Ketua BAPPEDA Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
7. Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sultra di Kendari,
8. Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi,
9. Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Kebudayaan (BPPP) di Makassar,
10. Kepala Bagian Keuangan Setkab Wakatobi di Wangi-Wangi,
11. Ketua Lembaga Adat Besar KABALI di Liya-Wangi-Wangi,
12. Para Ketua Cabang FORKOM KABALI se-Indonesia,
13. Pertinggal.