KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Selasa, 03 Mei 2011

BUDAYA WAKATOBI TERANCAM..!?

 OLEH : SUMIMAN UDU





KENDARINEWS - Kendari, Provinsi  Sultra memiliki keragaman budaya. Apabila tidak dikelola dengan baik,  akan berpotensi disintegrasi yang dapat mengganggu kesejukan dan kedamaian hidup masyarakat  masa mendatang.  Di Sultra terdapat beberapa etnis dan budaya yang besar, seperti Buton, Muna, Tolaki, Bugis dan Bajo

''Keragaman etnis ini harus ditangani dengan baik, sebagai  aset daerah yang menjadi sumber pendapatan daerah,''  kata Direktur Eksekutif Pusat Studi Wakatobi, Sumiman Udu, S.Pd., M.Hum, kepada koran ini

Menurut dia,  budaya yang berbeda-beda di Sultra terutama di Wakatobi akan menjadi potensi dalam pengembangan pariwisata daerah. Selain  pariwisata alam Sultra yang juga sangat eskotik, Wakatobi juga kaya dengan potensi budaya koreografi tarian, musik lariangi dan kostum lariangi.


 TARI LARIANGI DALAM PENELITIAN
BANGSA BARAT

"Kalau kita membaca buku berjudul Kearifan Lokal Suku Bangsa-Suku Bangsa di Sulawesi Tenggara, akan terlihat betapa besar potensi budaya, mulai potensi budaya masyarakat Landawe di Konawe Utara, sampai dengan masyarakat Cia-Cia di Selatan Pulau Binongko. Dari masyarakat Runduma di Timur sampai masyarakat Sagori di Barat, semua itu memiliki potensi budaya yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi  akan datang," ujarnya

Ditambahkan, kesuksesan Pemerintah Kabupaten Wakatobi dalam membangun tidak dapat dipungkiri, tetapi keterlibatan masyarakat dalam proyek pariwisata masih sangat minim. Rendahnya partisipasi masyarakat  karena pariwisata masih baru bagi mereka, tidak punya skill mengolah kebudayaan sebagai aset dalam industri pariwisata.
  
 Menurut pandangan penulis Buku "Perempuan Dalam Kabanti" katanya,  merupakan hal baru dalam masyarakat Wakatobi, tetapi pelan-pelan  akan menyesuaikan diri. Terbukti  sudah ada yang terlibat  dalam bisnis pariwisata. Bahkan  mulai tampak keterlibatan  dalam pariwisata budaya, walaupun belum maksimal

Mahasiswa S3 Ilmu Budaya UGM itu  merasa prihatin dengan keadaan budaya Sultra. Saat ini, semua negara mempersiapkan diri menata kebudayaan sendiri. Justru Indonesia  malahan membiarkan tercecer, sehingga  memberi kesempatan kepada bangsa lain untuk meneliti kekayaan budaya

Masalah itu  dikarenakan kontrol yang lemah. Lebih menyedihkan lagi karena kurangnya perhatian dari pemerintah, seperti kasus Korea yang menulis bahasa Cia-Cia dengan aksara Korea (aksara Hangeul), penelitian Lariangi di Kaledupa oleh Malaysia, serta beberapa penelitian naskah-naskah Buton yang dilakukan  perpustakaan Inggris. Semua itu akan berdampak pada masa depan kebudayaan Sultra
  
"Memang kita tidak boleh tertutup di saat keterbukaan media seperti ini, tetapi apakah kita sudah siap ketika ide-ide dalam tradisi kebudayaan kita diambil  orang luar dan dipatenkan? Jangan-jangan koreografi Lariangi, musik lariangi, kostum lariangi belum ada yang dipatenkan, sehingga bernasib  seperti reog ponorogo,'' katanya

Kemungkinan  ancaman bisa diatasi  dengan membangkitkan rasa  mencintai budaya daerah agar  identitas bisa  dipertahankan di era globalisasi.      Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unhalu, menilai  generasi muda di Bumi Anoa kurang mencintai budaya sendiri. Mereka lebih bangga mengenal budaya orang lain di banding mengenal budaya daerahnya
  
Di sisi  lain, memang kebijakan tentang kebudayaan belum menjanjikan untuk digeluti generasi muda. Butuh sentuhan yang dapat mengubah potensi budaya untuk dapat bernilai ekonomis, misalnya penelitian untuk menemukan pola ornament kebudayan Sultra.   (p2)****

SUMBER :
http"//www.pusatstudiwakatobi.blogspot.com



Minggu, 01 Mei 2011

REVITALISASI KAWASAN BENTENG KERATON LIYA AKHIR APRIL 2011 SUDAH MULAI DIKERJAKAN

OLEH : ALI HABIU


Ketua Umum Lembaga KabaLi Indonesia



Baru-baru ini tepatnya pada hari Rabu, tanggal 27 April 2011Tim dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum telah tiba di kepulauan Wangi-Wangi dengan menupangi pesawat jenis focker dari maskapai Express Air langsung dari Makassar setelah semalam sebelumnya mengingap di hotel sahid Makassar dari perjalanan Jakarta. Tim ini diketuai oleh IR. IFIANTARA SEPTRIMAN NASUTION,M.Eng.Sc SEBAGAI KEPALA SATUA KERJA PENGEMBANGAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN STRATEGIS DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM ditemani oleh 5 orang staf ahli dan 3 orang konsultan perencana, 1 orang konsultan supervisi dan 2 orang Kontraktor, 4 orang staf teknik Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara serta Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi-Indonesia.

Seluruh Tim beserta rombongan langsung menuju Resort Patuno untuk mengingap dan mengatur bahan-bahan untuk presentase Seminar PBL dalam mendukung Sail Wakatobi 2011 ini.
Pada hari Kamis tanggal 28 April 2011 Tim mengadakan acara Seminar di Aula Rapat kantor Bupati kabupaten Wakatobi yang di hadiri oleh para kepala SKPD atau yang mewakili dan dipimpin oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi. Pada hari Jumat tanggal 29 April 2011 mulai jam 11.00 WIT, Tim Konsultasn Supervisi bersama Tim Konsultan Pengawas dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan Revitalisasi kawasan benteng Keraton Liya mulai mengadakan investigasi dan pengukuran lapangan dimana letak lokasi pekerjaan yang akan dikerjakan seperti : 13 buah Pintu Lawa, 1 buah Baruga, 1 buah Lapangan belakang Mesjid Agung Keraton Liya, Jalan setapak Kolektor dari bahan paving blok sepanjang 600 meter melingkar mesjid Agung Keraton Liya, jalan penghubung pemandian Kohondao sepanjang 600 meter dari pahan paving blok dengan pariasi pablic  services, 1 buah Pasenggrahan Pusat Pelatihan Seni Budaya KabaLi Indonesia, dan Jalan setapak kolektor dari bahan paving blok desa Timi sepanjang 300 meter.

Jadual pelaksanaan kegiatan proyek ini hanya diberi waktu selama 90 hari kelender harus sudah selesai sekitar awal minggu pertama Agustus 2011 mendatang. Peralatan kontraktor pelaksanan di Liya sudah nampak seperti terdapat 2 buah Dump Truck, 2 buah Mesin Molen, 1 set Genset dan peralatan lain, sedangkan tenaga kerja sudah full di kontrakkan dalam sebuah rumah didusun Ewulaa Keraton Liya. Jadual ini sesuai dengan skedul Sail Wakatobi sebagaimana data ini : *)

Here is a list of some of the events and activities being planned for Sail Wakatobi 2011:

  • APKASI Seminar
  • Coral Triangle Initiative (CTI) Costal Mayors Roundtable Meeting
  • Aeromodelling Event
  • Youth Movement Beach & Sea Clean Up Events
  • Underwater Photography Competition
  • Naval Voluntary Social Event
  • 1000 Bikes Wakatobi Tour
  • Internatioanl Environmental Film Festival
  • Wakatobi Photo Exhibition
  • Sail Wakatobi-Belitong Opening Ceremony
  • Yacht Rally
  • Official Opening Ceremony for the ‘School for Marine Protected Area Management’
  • Local Arts and Cultural Festival
  • 17th August Independance Day underwater ceremony
  • Underwater Wedding
  • Watersports and Activities Competition

Beberapa pekerjaan yang akan direvitalisasi seperti gambar dibawah ini :

Baruga di Rehab Total dan Lapangan di Timbun+Pagar Batu

Lawa Dibangun 13 buah

Lingga di Pagar Besi

Yoni di Pagar Besi (model ini dirombak)


Pesan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata kabupaten Wakatobi kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia bahwa minta di sampaikan kepada seluruh masyarakat Liya khususnya yang bermukim dalam kawasan Benteng Keraton Liya untuk bersama-sama bahu-membahu secara partisipatif untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan ini sehingga waktu pelaksanaan dapat tercapai sebagaimana yang ditetapkan. Jika pekerjaan Revitalisasi Benteng Keraton Liya ini mendapat resfonsibilitas  baik dari masyarakat maka tahun 2012 akan turun lagi kegiatan lebih besar berupa  :kegiatan : perbaikan seluruh inprastruktur obyek parawisata seperti Uwe Mo'ori, Uwe Kohondao, Uwe Tamba'a, Pembungan 1 buah Pusat Informasi Kebudayaan KabaLI Indonesia, 1 buah Pembangunan Kantor sanggar KabaLi, 1 buah Pembangunan Pusat penelitian dan Pengembangan Sejarah Budaya Liya, jalan setapak kolektor dari paving block sepanjang 2.000 meter, dan fasilitas public services dengan accesorisnya.

Melalui media web blog ini dihimbau kepada siapapun yang meng-update atau meng-brouwser supaya dapat menyebarluaskan informasi ini kepada seluruh masyarakat Liya dimanapun untuk dapat diketahui sebagaimana mestinya. Selamat buat masyarakat Liya.... kini negerimu sudah mulai di jamah oleh sentuhan pembangunan dari pemerintah berkat kerja keras segenap pengurus besar Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia. Jangan lupa marilah kita sama berdoa panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas berkah dan hidayahnya, cita-cita kita semua dapat dipenuhi selangkah ini. amin. "Selamat buat kalian semua" !? Salam perjuangan*****

Sumber :  
http://www.patunoresortwakatobi.com/Sail-Wakatobi-2011.html

Sabtu, 30 April 2011

KUBURAN TALO-TALO ASLI MASIH DIRAHASIAKAN

Oleh : Ali Habiu



Kuburan Raja Talo-Talo yang ada saat ini dalam kompleks pekuburan Raja-Raja Liya yang berada dibelakang Mesjid Keraton Liya adalah Imitasi alias bukan asli. Kuburan yang ada saat ini yang dibatu nisan tertulis Raja Liya Talo-Talo dengan gambar seorang yang sedang pegang pedang terhunus adalah merupakan kuburan anak kandung Talo-Talo beserta pengasuhnya yang ditanam hidup-hidup. Anak kandung Talo-Talo tersebut diperkirakan baru berusia 2,5 tahun yang digendong oleh pengasuhnya ketika itu menaiki tangga rumah lantas tanpa disengaja ada sebuah Tombak yang dipasang atau disimpang disamping pintu tangga bagian atas terjatuh lalu terhempas kena batok kepala anak tersebut dan meninggal. Sangkin menyesalnya pengasuh anak seorang Raja yang sakti ini lalu diapun minta kepada Talo-Talo jika anak tersebut di kuburkan hendaknya diapun ditanam hidup-hidup sebagai pertanda kesetiannya kepada sang Raja yang penuh pengabdian karena telah lalai menjaga seorang anak bayi pewaris raja. Kisah ini diungkapkan secara medium supranatural melalui konsultasi metafisis Talo-Talo dengan penulis, ketika penulis sedang memakai topi kebesaran Talo-Talo pada tanggal 20 Maret 2010 lalu.
Adapun kuburan Talo-Talo yang asli sedang dalam perlindungan Rahasia dan sesuai dengan perintah Talo-Talo kepada penulis untuk membuktikan kebenaran informasi media metafisis ini, maka pada Hari Kamis tanggal 21 Maret 2010, penulis sengaja pada pagi hari sekitar jam 07.30 menuju ke kawasan Keraton Liya langsung mencari Kuburan Talo-Talo asli dan alhamdulillah mendapatkannya. Kuburan ini kelihatannya sudah ratusan tahun tidak dijamah oleh manusia sehingga nampak bagian kuburan sudah terbenam kedalam tanah dengan batu nisan yang terbuat dari batuan sakarlik juga sudah sangat tua tanpa ada sentuhan jemari manusia yang menjamahnya. Dalam dialog tersebut Talo-Talo  mengatakan bahwa sengaja dia sembunyikan kuburannya dan hanya orang-orang tertentu saja yang tau sebab dia amat sakti dan takut kuburannya jadi sesembahan atau tempat penyembahan masyarakat Liya  ketika itu sehingga membuat ketidaktenangan dia dialam sana. Dia amat ketahui struktur sosial masyarakat Liya yang masih sangat percaya dan hormat dengan rajanya.
Inilah pesan Talo-Talo dalam beberapa hasil dialog metafisis tersebut :

"HAI ANAK-ANAKKU PEWARIS NEGERI LIYA MULAI SEKARANG BANGKITLAH BANGUN DAN KEMBANGKAN KEBUDAYAAN LELUHURMU"... 
"KINI ZAMAN SUDAH TIBA SAATNYA UNTUK MEMBANGUN NEGERIMU...LIYA !."  
"BANGKITLAH MELALUI WADAH FORKOM KABALI SEBAB DISITU ADA SAYA MELINDUNGIMU, MEJAGAMU bagi SEMUA YANG MAU MEMBANGUN NEGERI LIYA UNTUK MENGENANG HASIL-HASIL PERJUANGAN KAMI DI MASA LALU ITU...." 
"JANGAN KAMU TAKUT UNTUK BANGKIT..., SEBAB AKU ADA BERSAMAMU...."


Namun demikian walaupun kebesaran Raja Talo-Talo pada zamannya sangat diagungkan., namun tidak ada satupun naskah sejarah Liya yang kita jumpai saat ini menkisahkan secara lengkap perjalanan Talo-Talo ini, termasuk di dalamnya kapan mulai dia berkuasa sebagai Raja LIya dan dari mana asal muasal sebenarnya Talo-Talo tersebut. Sebagian para ahli sejarah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Talo-Talo itu adalah Karta Negara sebagai Raja Majapahit yang mengtasingkan diri ke Liya. Masih diperlukan penelitian sejarah lebih lanjut untuk membuktikan hal ini semua. ****

Sabtu, 02 April 2011

PEMUGARAN BENTENG KERATON LIYA MULAI TAHUN 2012 MENDAPAT DUKUNGAN POTENSI SDM LIYA

Oleh : Ali Habiu



Komunitas masyarakat Togo Liya dimanapun berada saat ini perlu berbangga diri mengingat bahwa perjuangan para orang tua kita, para tokoh adat, sesepuh, sarah dan pemerintah Kabupaten Wakatobi telah menuai hasil yang cukup gemilang yakni mulai tahun anggaran 2010 ini pemerintah pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Parawisata akan menurunkan DPA (Daftar Pelaksanaan Anggaran) Desain Teknis Pmugaran Benteng Keraton Liya. Momen inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pihak sejak tahun 1980-an lalu ketika Pemerintah Belanda menguyurkan sejumlah bantuan dana internasional untuk pelestarian nilai-nilai sejarah dan purbakala melalui Inter Governmental Group On Indonesia (IGGI) ternyata pengelolaan dana tersebut banyak dihabiskan di pulau Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara kemudian pulau Buton hanya sepenggal saja. 

Inilah bentuk ketidakadilan pemerintah pusat terhadap perimbangan penangangan pembangunan di tanah air yang kebanyakan dana-dana bantuan Loan maupun Green Internasional untuk pemugaran situs-situs sejarah dan purbakala hanya dinikmati pada umumnya di pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara (Bali ) saja padahal semua daerah memiliki hak da kepentingan yang sama dalam pelestaran nilai-nilai budayanya peninggalan leluhur dan nenek moyang bangsa Indonesia. Oleh karena itu isolasi komunikasi dan isolasi distribusi kue pembangunan ini mulai saat ini sudah harus dihentikan tanpa reserve agar daerah-daerah eks kesultanan dan kerajaan yang berada di luar pulau Jawa, Sumatera dan Nusa tenggara (Bali) dapat juga mengalami kemajuan seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan pembangunan di Indonesia. 

Masalahnya kemudian yang menjadi berat kita dalam memperjuangan kue pembangunan ini adalah belum adanya orang Togo Liya yang menduduki jabatan setingkat Direktur Jenderal di suatu Kementerian di Indonesia bahwa juga hingga saat ini orang Togo Liya belum ada juga yang menduduki jabatan Menteri selama pelaksanaan pembanguan sejak tahun 1970-an hingga saat ini padahal potensi  sumber daya manusia orang Togo Liya khususnya pada dekade mulai tahun 2004-an lalu secara nasional sudah terbilang cukup baik dimana hingga tahun 2010 ini berdasarkan data sementara yang dapat KabaLi himpun mulai dari perkumpulan Komunitas Warga Togo Liya yang ada di Marauke, Seram, Ambon, Kendari, Buton, Makassar, Samarinda dan Jakarta memiliki : Sarjana lebih kurang 300 orang, Magister sekitar 64 orang dan Doktor 3 orang

Potensi ini merupakan suatu kekuatan sosial yang perlu dihimpun dan disatukan dalam suatu wadah komunitas guna dapat setidaknya memberikan promosi identitas mereka kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Selain hal itu juga dipandang sudah saatnya kina berbenah kiri kepada semua komunitas Keluarga Besar Liya di Seluruh Indonesia agar mulai tahun 2010 ini mempersiapkan diri secara mantap terjung ke bidang politik dengan memasuki partai-partai politik apa saja yang dapat menampung dan menyalurkan aspirasi politiknya sehingga dengan demikian kedepan akan banyak lagi saudara-saudara kita yang insya Allah bakal duduk di parlemen baik di DPRD, DPR RI maupun di DPD masing-masing daerah yang ada komunitas orang Togo Liyanya di Indonesia. Dan kini sudah mulai setapak harapan itu ada..., yakni saudara kita, adinda kita putri asal Keraton Liya telah masuk dalam akumulasi perpolitikan nasional dan melalui wadah Partai Amanah Nasional, kini Wa Ode Nurhayati,S.Sos telah mewakili kita menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. 

Selain itu juga saudara kita bernama Syachrudin Buton,SH atau sering dikenal dengan nama Udin Nova seorang pengacara kawakan asal Ambon yang tak lain juga merupakan putra asli asal Keraton Liya kini duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara dari Partai Demokrat priode 2009-2014. 

Ada beberapa anggota Keluarga Besar Liya yang juga pernah menjadi anggota DPRD antara lain : H.La Ode Muhu pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Berau Kalimantan Timur dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) priode 1999-2004, juga La Ode Moane Obi,SP,M.Si pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara asal Partai Persatuan Pembangunan (P-3) priode 2004-2009. Namun sayang seribu sayang kedua anggota warga Liya ini yang telah diberi kesempatan oleh rakyat untuk menduduki jabatan strategis itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk membangun komunitas sosial budaya Liya secara mengakar di daerahnya masing-masing dan tidak membekas tajam dihati nurani rakyat kita, sehingga akibatnya kini mereka dalam konteks sosial komunitas budaya Liya saat ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat.

Hal ini kedepan akan menjadi pelajaran berharga bagi semua komunitas  warga Liya dimanapun mereka berada agar ketika rakyat memilihmu dan ketika kamu punya kesempatan emas menduduki jabatan-jabatan strategis itu maka peliharalah sikapmu, janganlah sombong dan tinggi hati dan dalam kesempatan menjalankan tugas-tugasmu sebagai anggota dewan maka  manfaatkanlah tugas itu untuk berperan secara baik ditengah-tengah masyarakatmu  secara adil dan bijak, dengan prioritas utama tugasmu adalah perhatikanlah masyarakat Liya dimana kamu berada, angkatlah harkat dan martabat mereka, beri mereka sentuhan hati nurani dan kedamaian, beri mereka wadah untuk bisa maju, beri mereka sentuhan modal sosial ekonomi sehingga diharapkan pada akhirnya masyarakat kita sedikit demi sedikit dapat kita majukan peradabannya, kualitasnya dan sosial ekonominya yang merupakan embrio perjuangan KabaLi.

 Inilah salah satu propotipe Benteng Keraton Liya Yang Sudah
Mulai Ambruk Dan Sudah Tidak Terawat Lagi
Termasuk Lawa atau Bangunan Pintu Masuk Keraton Ini.

Informasi yang KabaLi dapatkan secara jelas dan bisa dipertanggungjawabkan akan adanya Desain Teknis Pemugaran Benteng Keraton Liya mulai tahun ini (2011) adalah dari salah seorang ahli arkiologis asal Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar yakni saudara  Rustam,SS yang tak lain dia merupakan satu angkatan pada jurusan Arkiologi Fakultas Sastra Universitas Hanasuddin dengan wakil Sekretaris Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang pada beberapa hari lalu bertandan di rumah Ketua Umum Forkom-KabaLdi Kompleks BTN Kendari Indah Jalan Wulele, Kendari.

 
Rustam,SS seorang Ahli Arkiologis yang Bekerja Pada
Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar

Berdasarkan surat Kepala BPPP makassar yang dikirim via facsi mile ke Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasananya antara lain ke Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang diterima pada hari Jumat tanggal 1 April 2011, menyampaikan bahwa pada hari senin tanggal 4 April 2011 akan berangkat 7 orang ahli arkiologi dan perbentengan dari balai Arkiologi Makassar menuju ke Wang-wangi dalam rangka tugas pemetaan zoning Benteng Keraton Liya Lapis ke-3. Lamanya pemetaan dan studi teknis sampai dengan tanggal 15 April 2011. Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa dipanjatkan doa ke hadirat Tuhan YME, karena berkah dan hidayahnya semua program kerja Lembaga KabaLI Indonesia berjalan sesuai rencana. amin ****

TIM BALAI ARKIOLOGI MAKASSAR AKAN TURUN PEMETAAN ZONING BENTENG KERATON LIYA LAPIS TIGA AWAL APRIL 2011

SAMPING BALUARA  TALO-TALO


 DEPAN BALUARA TALU-TALU


OLEH : ALI HABIU


Sesuai dengan Surat BPPP makassar yang dikirim via facsimile kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasannya kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang baru kami terima pada hari jumat tanggal 1 April 2011, dikemukakan bahwa mulai tanggal 4 April 2011 s/d 15 April 2011 Tim Balai Arkiologi (Tim Balar) dari BPPP Makassar akan turun sebanya 7 orang tenaga ahli perbentengan ke Keraton Liya  untuk mengadakan survei dan pendataan teknis dan pemetaan zoning benteng lapisan tiga yang diperkirakan memiliki lngkaran sepanjang 16 Km. Benteng lapis tiga dari keraton Liya dahulu kala dinamakan benteng Patua yang sudah ada sejak Abad VIII masehi yang dibangun oleh orang orang sakti asal Melayu dan orang-orang tua Liya menamakan benteng Pa'tua. Benteng ini keberadaan di lapangan masih di jumpai utamanya pada sisi sebelah utara umumnya masih utuh dengan ketinggian rata-rata 3 meter. Namun demikian untuk sisi barat, timur dan selatan saat ini tinggal dijumpai bekas-bekas bangunannya dari kepunahan.

 Lapis ketiga benteng Keraton Liya diperkirakan sudah mulai punah sejak masuknya Belabda di Indonesia dimana sebagian batunya di pakai untuk pembuatan Break Water dan Dermaga di Laut juga sebagian untuk pondasi bantgunan-bangunan Belanda yang ada di wilayah Wakatobi dan sekitarnya. Dan kehancuran penuh terjadi setelah masuknya Jepang ke Indonesia dengan melalui kerja paksa tentara romusa memerintahkan semua rakyat Liya untuk mengambil batu lapisbenteng ke tiga ini untuk bahan pondasi jalan seluruh wilayah wangi-wangi.





 Harapan seluruh masyarakat Liya agar survei pendataan teknis dan pemetaan zoning Benteng Keraton Liya lapis ke-3 ini bisa berjalan lancar dan sukses dan juga hasil pelaporannya benar-benar di dukung oleh data yang valid dari berbagai sumber sehingga pada laporan hasil penelitian dapat menghasilkan kejutan-kejutan baru dibidang justifikasi perbentengan yang di duga benteng Keraton Liya menjadi Benteng Terbesar di Dunia bukan benteng Wolio (.melayuonline.com )

Lembaga Forum Komunikasi KabalI Indonesia akan berada di garda terdepan dalam mengamankan seluruh aset dan potensi sejarah dan budaya milik keraton Liya untuk secxara bersama-sama dengan pemerintah membangun dan mengembangkan Benteng Keraton Liya yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi pada zamannya ****


Jumat, 25 Maret 2011

LOKASI PONTA AKAN MENJADI KAWASAN WISATA "FISHING"

 Kawasan Pantai Ponta



OLEH : ALI HABIU



Kawasan Lokasi tepian pantai Ponta yang terletak diperbatasan tanah ulayat Sdat Sara Liya dengan Sara Mandati di atas wilayah Lagiampa adalah sangat potensil dapat dijadikan satu-satunya sebagai sarana Wisata Fishing di Kabupaten Wakatobi. Luas kolam alam (storage natural sea) diperkirakan total 3,5 Ha dengan kedalaman rata-rata ketika air laut surut sedalam 3,00 meter. Kolam ini secara alamiah disepanjang habitatnya disepanjang tepinya ditumbuhi oleh tanaman hutan bakau. Kolam ini dari bagian luar laut kedalaman di batasi oleh sebuah pintu masuk dengan lebar kira-kira sepanjang 200 meter dengan kedalaman rata-rata waktu air surut sedalam 2.00 meter. 

Kolam ini bila sudah dekembangkan menjadi sarana wisata fishing, maka mulut atau pintu masuk tersebut harus dapat ditutup dengan memberikan tanggul dari pasangan batu kosong ukuran lebar atas 1,50 meter dan lebar bawa 3,00 meter dengan tinggi rata-rata 4,50 meter dan panjang 200 meter. Pada bagian pesisir pantai sepanjang kolam ini dapat didirikan cottega dan resort untuk tempat peristirahatan para turis sekaligus tempat membakar ikan hasil tangkapan di kolam itu.

 Mudah-mudahan usulan lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia dapat dipenuhi oleh bapak Menteri Pekerjaan Umum, sehingga mulai tahun anggaran 2012 kegiatan pembangunannya akan di tangani oleh Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan total biaya awal sebesar Rp.700 juta. 
Pengelolaan lokasi Kawasan Wisata Fishing ini akan ditangani bersama antara lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia, Masyarakat Adat pemilik Lahan bersama Lembaga Adat Liya. ****

Senin, 14 Maret 2011

TARI HONARI TAMBURU HANYA BOLEH TAMPIL PADA ACARA RITUAL ADAT ATAU SAMBUT PEJABAT


Pasukan Tari Tamburu Keraton Liya


Oleh : Humas Kabali Indonesia




Tarian Honari Tamburu  yang terdiri dari 15 orang pasukan Sara dengan membaw tombak asli dilengkapi dengan 1 orang pemukul tambur (gendang) dan 1 orang pembawa bendera kebesaran Kerajaan Liya hanya boleh ditampilkan pada acara-acara ritual adat Liya dan penyambutan para pejabat (dahulu penyambutan para sultan atau raja) dalam lingkungan keraton Liya. Jika pelaksanaanya di luar ketentuan tersebut maka tarian tersebut sudah melanggar aturan  adat dan tradisi leluhur keraton Liya yang mesti disadari dan dikembalikan posisi sesuai dengan keasliannya. 

 Berhubung karena zaman sudah moderen bisa saja Tarian Tamburu ini di panggil  kewilayah-wilayah lain diluar Keraton Liya asal saja tujuannya untuk menyambut para pejabat atau ada pentas seni budaya lain yang terlebih dahulu melalui  izin Lembaga Adat Liya agar keaslian tujuan dari eksistensi terian Honari Tamburu ini  bisa dipertahankan keaslian kesakralannya dan kemurniannya di lingkungan sosial kemasyarakatan.  



Tari Honari Mosega Keraton Liya

 
Tarian Honari Tamburu ini berpasangan dengan Tarian Honari Mosega dimana pada zaman dahulu kala acara ini digelar setiap ada ritual adat dan penyambutan para petinggi daerah lain seperti sultan maupun raja-raja. Setelah pelaksanaan Tarian Honari Mosega, maka dilakukanlah atraksi serang menyerang dengan Tombak satu dengan lainnya dan ini dinamakan makandara tamburu. 

 Pada saat penyerangan semua penonton sudah berlari menepi keluar arena sebab pelaksanaan atraksi tombak menombak dilaksanakan dengan sunguh-sungguh dan tak ada yang satupun terluka ketika mengenai badan orang-orang dalam pasukan tombak tersebut, bahka hanya bunyi lentingan besi dan baja yang terdengar ketika menyambar badan orang-orang tersebut. Tarian ini merupakan satu tarian tradisional kebanggaan milik Keraton Liya yang mestinya saat ini dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan baik dan benar****

Sabtu, 12 Maret 2011

MAKAM LAKINA AJABANAR HAL WALIU





OLEH : ALI HABIU


Makam keramat seorang wali allah yang terdapat di antara Mandati Tonga dengan Desa Lagiampa bernama Lakina Ajabanar Hal Waliu adalah merupakan makam yang sebagian orang-orang asal Mandati mempercayainya bisa membawa berkah tersendiri. Oleh karena itu Makam ini dibetulkan kembali oleh Wakil Bupati Wakatobi yakni saudara Hendiarto mengingat beberapa waktu lalu ketika poros jalan wanci-air port Matahora dibuka di dekatnya pernah batu hitam ini digusur oleh Bull Dozer namun sedikitpun batu hitam ini tak bergeming atau goyang dari tempatnya. Makam Lakina Ajabanar Hal Waliu ditandai oleh sebuah batu karang hitam yang di atasnya ditumbuhi oleh pohon bunga cempaka dan akibat dari kejadian itu Hendiarto membetulkan makam ini dengan membuat dinding dibagian kepalanya dan diberi nama wali tersebut.



Konon kabarnya Lakina Ajabar Hal Waliu adalah berasal dari Batauga sekitar abad XVII lalu dimana dia sebagai Raja disana namun karena kekuasaannya sangat kejam dengan rakyatnya dan telah banyak yang dihukum penggal maka dia diasingkan oleh Sara Batauga ke kepulauan Wangi-Wangi. Setelah dia tiba di kepulauan ini diapun mencari tempat aman dan tenang dan dipilihnya daerah padangkuku ini sebagai tempat huniannya. 




Semasa dia mengasingkan diri di tempat ini, dia sering berkunjung ke Keraton Liya yang mana pada saat itu yang menjadi Raja Liya adalah La Ode Ali anak kandung dari Sultan Langkariri atau Sultan ke XIX buton dan dia merupakan kerabat dekat raja Liya ini****


Kamis, 03 Maret 2011

PEMERINTAH PROVINSI SULTRA MEMBANTU 2 BUAH GENDANG KE SANGGAR SENI BUDAYA KABALI INDONESIA




OLEH : ALI HABIU



Alhamdulillah puji dan syukur tak hentinya dipanjatkan kehadirat Tuhan YME, Allah SWT, atas keridhoannya, maka pemerintah provinsi sulawesi tenggara melalui Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu telah membantu pengembangan seni budaya Liya dengan memberikan 2 buah gendang tradisional yang terdiri dari 1 buah gong besar dan 1 buah gendang kecil untuk dipakai sebagai peralatan latihan pada Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia yang berpusat di dusun Woru Kawasan benteng Keraton Liya kepulauan Wagi-wangi Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara. Hal ini bisa terlaksana atas kerja sama Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara.

Satu lagi kebanggaan kita bahwa di sulawesi tenggara masih ada kepedulian terhadap pengembangan seni budaya tradisional Liya bila dibandingkan dengan pemerintahan kabupaten Wakatobi hingga saat ini belum ada perhatian serius terhadap pengembangan dan pelestarian kebudayaan Liya. Cukup kita maklum bahwa orientasi pemerintahan Kabupaten Wakatobi dalam pembinaan budayanya masih ber fokus sektarian hanya lingkungan ethnis Tomia saja yang menjadi prioritas padahal kalau kita mau bersaing tentang klasifikasi peradaban budaya ethnis Tomia tak ada apa-apanya jika dibanding dengan peradaban budaya ethnis Liya yang di latar dengan kebesaran Benteng Keratonnya.  Tapi bagi warga KabaLi tak usah putus asah dan berkecil hati Tuhan YME, Allah SWT maha mendengan dan maha mengetahui segala sesuatunya, insya allah dalam waktu dekat ini desa Liya dalam kawasan benteng Keraton Liya akan dikunjungi oleh deputy parawisata internasional dari Amerika Serikat dan dari pengembangan kerja sama kebudayaan dengan negeri Belanda. Mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar sesuai dengan skedul yang ditetapkan.

Saat ini di Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia pusat Liya telah digarap sekitar 15 buah Seni Budaya Tradisional berupa seni tari 11 buah dan atraksi tradisional 4 buah, terdiri dari :
  1. Tari lariangi Kareke
  2. Tari lariangi Liya
  3. Honari Samba
  4. Tari Maraim Tombo
  5. Tari Kenta-Kenta
  6. Tari Balumpa Liya
  7. Tari Keden-Kede
  8. Tari Ngifi
  9. Tari Ande-Ande
  10. Tari Honari Mosega
  11. Tari Kabali (Tari Talo-Talo)
  12. Atraksi Posemba Wemba
  13. Atraksi Posemba Aae
  14. Atraksi Posepa'a
  15. Atraksi Pomansa'a 

Semua Seni tari Tradisional dan Atraksi Tradisional tersebut akan di gelar pada acara SEAL Wakatobi 2011 bulan Agustus 2011 dan pada acara Gelar Budaya Festival Keraton Liya 2011 bertempat di lapangan belakang mesjid Agung Keraton Liya dalam kompleks Benteng Keraton Liya****

MULAI AKHIR BULAN MARET 2011, KAWASAN BENTENG KERATON LIYA DIREVITALISASI

 Tim Pusat Direktorat Jenderal Penataan Bangunan dan Lingkungan
Bersama Ketua Umum Lembaga Forkom Kabali Indonesia
Lokasi Resort Hugua, Patuno.


OLEH : ALI HABIU





Berturut-turut selama selang 2 minggu mulai sejak tanggal 17 Februari 2011 dan 23 Februari 2011 Tim Investigasi para sarjana arsitektur dari Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara kerja sama dengan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia datang ke kawasan Benteng Keraton Liya untuk mengukur beberapa segmentasi kawasan dimana fisiknya ditingkatkan statusnya menjadi daya dukung desa wisata budaya kawasan Benteng Keraton Liya. Untuk mendukung rencana tersebut pada tanggal 23 Februari 2011 Tim dari Direktur Pebataan  Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya sebanyak 3 orang ahli tata ruang turut serta mengikuti rombongan ke Liya untuk menyaksikan langsung terhadap beberapa obyek vital yang telah di usulkan untuk dapat disetujui dan alhamdulillah semua usulan dapat diterima oleh Tim tersebut. Adapun revitalisasi kawasan Benteng Keraton Liya yang akan diusulkan menjadi proyek kegiatan tahun 2011 adalah :
  1. Penimbunan Lapangan dibelakang mesjid agung Keraton Liya dilengkapi dengan pemagaran keliling setinggi 80 cm dengan sistem pasangan batu kosong model benteng,
  2. Pembangunan 1 unit Padepokan Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia bertempat di Seru, dengan model bangunan Kamali terbuka setinggi 5 meter dengan lantai dan ukuran bangunan 12 x 8 m2,
  3. Pembangunan 2 unit Pintu Gapura dilengkapi dengan pos jaga dibangun di dua lokasi yakni depan SD Bira dan di pertemuan depan SD Keraton Liya, dengan lebar gapura 6 meter, konstruksi model Kamali. Gapura ini bertemakan : "Selamat Datang..., Anda Memasuki Kawasan Benteng Keraton Liya",
  4. Pembangunan 1 unit gedung "Pusat Informasi Kebudayaan KabaLi Indonesia" model Kamali dari Konstruksi beton termodifikasi ukuran 10 x 20 m2 di lokasi tanah ex. SMA-Negeri IV Liya,
  5. Pembangunan 1 unit gedung Kantor Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia model Kamali, ukuran 5 x 7 m2 dibangun di lokasi ex. SMA Negeri IV Liya,
  6. Pengadaan 6 buah kios permanent ukuran 1,5 x 3 m2 untuk tempat jualan hasil-hasil pengrajin tradisional dan makanan tradisional yang akan di pasang di sekitar lapangan belakang mesjid agung keraton Liya,
  7. Pembangunan 2 unit lapangan parkir dengan ukuran 80x 70 m2 dan 100 x 100 m2 yang akan dibangun di lokasi ex. SMA Negeri IV Liya dan di depan SD Keraton Liya,
  8. Pembangunan 13 buah pintu Lawa, dibangun sesuai keasliannya,
  9. Pembangunan 1 unit Baruga dibangun sesuai keasliannya,
  10. Pemagaran prasasti "Noomi" atau Liyang dengan pagar besi, seluar 2 x 2 m2, tinggi 1,50 m
  11. Pemagaran prasasti 'Lingga" atau watu sahu'u dengan pagar besi ukuran 2 x 2 m2, tinggi 1,50 m
  12. Perbaikan jalan setapak di dusun Timi sepanjang 3,00 m dan lebar 3,50 m.
  13. Pengadaan sekitar 10 set lampu mercury 5000 waat untuk penerangan lapangan dan jalan dalam kawasan Benteng Keraton Liya.

Rencana paket ini akan ditenderkan di Direktorat Jenderal Cipta karya pada minggu pertama Maret 2011 dan mulai akan di kontrakkan pada minggu kedua Maret 2011 dan rencana pelaksanaan dimulai akhir Maret 2011. Mudah-mudahan semua data diharapkan tidak lagi berubah, kecuali mungkin Pembangunan Pusat Informasi Kebudayaan KabaLi Indonesia akan  tertunda mengingat ruang waktu kontrak hanya selama 4 bulan atau 120 hari lamanya tidak akan menyelesaikan secara tuntas pembangunan tersebut dan akan di pending menjadi kegiatan tahun 2012 mendatang bersamaan dengan penambahan kegiatan lainnya.
Pada kesempatan ini di himbau kepada semua keluarga Besar Liya di seluruh Indonesia atau dimanapun yang sempat membaca berita ini diharapkan marilah merundukkan kepala sejenak sambil bertawadduh memohon keridhoan Allah SWT (sambil membaca surat Al fatiha), kiranya pembangunan ini dapat berjalan lancar dan selamat serta Negeri Liya dapat bangkit budayanya menjadi salah satu daya dukung prospek Parawisata Budaya Internasional dikemudian hari.

Selain itu, dalam rangka SEAL Wakatobi 2011 yang berpusat di kepulauan wangi-wangi, maka pemerintah daerah kabupaten Wakatobi pada tahun anggaran 2011 ini telah menerbitkan DIPA APBD berupa pembamgunan 2 buah Pintu Gerbang perbatasan Wilayah yang akan di bangun di Numana_Liya dan di Lagiampa-One Melai. Pintu gerbang ini dilengkapi dengan thema : "Selamat Datang..., Anda Memasuki Kawasan Wisata Budaya Benteng Keraton Liya". Disamping itu juga akan dibangun jalan aspal lebar 6 meter mulai dari perbatasan Benteng Keraton Liya sampai ke Wanci. Mudah-mudahan tidak lagi berubah dan pemerintah kabupaten wakatobi sudah secara intensif mau memperhatikan kawasan Benteng Keraton Liya sebagai lokus wisata budaya andalan di wilayah Wakatobi. ****