KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Jumat, 17 Juni 2011

CERITA RAKYAT KERATON LIYA ; "YINDO-INDO DIYU"

 OLEH : DR. ALIFUDDIN NUR *)



Synopsis :

Inilah kisah rakyat keraton Liya Kepulauan Wangi-Wangi
Kabupaten Wakatobi-Sulawesi Tenggara.
Kisah ini sering di ceritakan oleh orang-orang tua
kepada anaknya ketika menjelang tidur malam
atau pada hari-hari libur baik persorangan maupun kelompok.
Tujuan kisah ini disamping sebagai pengantar
tidur malam bagi sang anak, juga sebagai pesan moral
bagi anak-anak Keraton Liya begitu besarnya
nilai kejujuran yang harus mampu ditanamkan dalam setiap diri manusia.
Anak-anakpun yang mendengarkan kisah ini
berlinangkan air mata, begitu harunya kisah ini
Sampai-sampai terbawa larut dalam tidurnya dan jiwanya.
Jika manusia tidak lagi memiliki kejujuran dalam dirinya, maka
apa saja bisa terjadi yang bisa memilukan perjalanan kehidupannya
 seperti halnya dikisahkan dalam cerita rakyat ini berjudul :
“Yindo-Indo Diyu”
Kisah ini di sadur kembali oleh DR. Alifuddin Nur, seorang
Sosiologi Budaya dan Kordinator Seni Budaya
Lembaga KabaLI Indonesia yang selajutnya di teliti manfaatnya.
Saat ini Kisah ini sudah dijadikan Muatan lokal
di semua sekolah-sekolah Di Kabupaten Wakatobi



Kai i-molengo mo ai ane  na tula-tula Wa Indo-indo Diyu.Wa Indo-indo Diyu aneke ana-no do dua, te samia aneho no ki-i-ki-I, dari aro no aka-aka ke kakano no tonda-tonda-e, kene anedo no awi-awi-E te Ina-no, sawakutu te a ma-no he motowila-a dari mina mbeado no wila no ala te rengka te rengka u-ika maka o puai-E.

Konon pada zaman dahulu kala  ada cerita tentang Wa Indo-Indo Diyu (selanjutnya di singkat WID).WID memiliki dua orang anak, yang seorang masih kecil (balita), anak ini jika bermain selalu dituntun dan dijaga oleh kakaknya  dan ditimang-timang oleh WID. Pada suatu hari, ayahnya akan bepergian, namun sebelum Ia pergi, terlebih dahulu Ia mengambil seekor ikan yang kemudian ia keringkan.

 Minanggala no wila O sama, O sama, Wa ina Indo-indo Diyu, kua kana-E ku moto wila-a, ara o wande wolu-E na rengka Iso sa bara I-manga-manga E bisa no melu-E te mia, te E-mai-mai mo ara no ako a-manga-E baro I hu-uke, taba wande maka I wolu-E. Maka hoto wila-a, hoto wila-a

Sebelum ia berangkat Ia berpesan kepada WD, bahwa kini saya akan bepergian, jika hari mendung dan hujan maka ikan yang sama jemur tersebut di angkat, tetapi jangan sekali-kali dimakan, sekalipun siapa yang memintanya jangan diberi, kecuali jika hujan maka amankan. Lalu sang suami berangkatlah menuju tempat tujuannya

 O mai mina hoto wila-a po-oli no hepunda te keleu-no, O ita kua rengka italano iso  bai. O itamo tea so koho-a, O wilamo ema te Wa Indo-Indo Diyu, kua te Emai na koho-E na rengka Iso, no elo Wa Indo-Indo Diyu kua, ku koho bai  te iyaku na iso parantai no doito na ananto atu  sa kumuhuke te manga hele sambeyaka O hadda taba no manga la-a te rengka atu, dari ku wila ku koho ako-E bahuli maka ku-hu-uke, Dari no bisara mo kua kamba beaka I roddongo ku sama ! ara O melu mia bara I hu-uke, ke bara i-ala-alaE, taba I wande maka I wolu-E, ara eaka kudahaniE, kutandai na sama miyu, sa parantai sauri na heddoito na ana miu atu mu kuhu-uke te hela mbeaka no hadda, mo awie…mo ha-ake heddoito la-a, karomo kuhu-uke te rengka mako O loo-lio. Opobisara measo-ai te Wa Indo-indo Diyu  i-aneho O kedde I homoru-ano.

Sepulang dari bepergian, setelah ia meletakkan keranjangnya (tasnya) Ia menuju ke tempat pengeringan ikan, dan Ia mendapatkan ikan tersebut telah dipotong/terpotong. Melihat hal tersebut, lalu Ia bertanya kepada WD, siapa gerangan yang memotong ikan ini, WD menjawab bahwa, ikan tersebut saya yang memotongnya, karena anak kita tadi menangis, saya memberinya sesuatu tetapi anak tersebut menolak, yang ia inginkan hanya ikan tersebut, karena tangisnya tak henti-henti dan aku iba melihatnya maka aku (WD) mengiriskan  ikan tersebut sepotong. Sang suami kemudian balik bertanya, apakah kamu lupa dengan pesan saya tadi, bahwa siapapun orang yang meminta ikan tersebut jangan diberi kecuali jika hujan turun baru diangkat, WD mengatakan tida, aku tidak lupa, dan aku masih ingat pesan tersebut. Namun, karena anak kita yang kecil menangis-nagis memintanya, dan telah ku coba untuk memberikan sesuatu yang lain, bahkan ku gendong dan kua ajak bermain tetapi anak kita tidak henti menangis dan tetap mengingankan ikan tersebut. Ia baru berhenti menangis tatkala saya memotongkan ikan tersebut, demikian jawab WD yang pada saat itu sedang menenun sarung.

 Dhari te amano o-winii  te tenda U-homoru-a, maka o-simbi tekapalano, sa-simbi akono otewengka kapala/orunguno,  sawengka o-tombo kua mawi, sawengka kua lange.

Lantaran marah karena “amanah”nya diabaikan oleh WID, suami WID kemudian menarik kayu/balok penjepit sarung yang terdapat pada alat tenun (tenda), kemudian ia memukulkannya di atas kepala WID, konon…….sekali tebas tubuh WD   terbelah menjadi dua bagian, yang satu ke laut dan yang satu lagi ke langit.

Pasi awanatu,  te amano-ana, m-beakamo no tiliki-E  ana no-ana,  mou no doito m-beakamo no tiliki-E. (Syahdan…tatkala tubuh WD telah terbagi dua, sang ayah tidak lagi memperhatikan kedua anaknya, bahkan sekalipun anak tersebut menangis, Ia sama sekali tidak menyentuhnya), 

Dhari no horo-iya-E tei kaka-no, no-tonda-E no-awi-E maka te ana-no ana no-heddoiton toruusu, no elo-elo te wa ina.Dari no bingumo na kakano-ana, O-wilamo no aka-aka kua wawo u-mawi, Oo..wila-wila no henuntu te wiwi  u-mawi iso. Oo- poawa  te bata, I-wiwi mawi iso, I wiwi u-watu an eke bata lu-manto  I-iso, dari  O kedde  i-bata maka- O, awi-e na yaino maka O lagu-lagu, laguno iso tehempono  nggala no elo-elo te ina-no, te yaino iso no heddoitomo-heddoitomo la-a  no elo te ina-no ako namoawa ke ina no.

(Karena anak tersebut terus-terus menangis, maka sang kakak mencoba untuk merayunya, dengan digendong, tetapi anak tersebut terus dan terus menangis. Dalam kebingungan, sang kakak terus berjalan dan menggendong  adiknya yang menangis tersebut, hingga sampailah mereka di tepi pantai lalu ia duduk di atas batu dan bersandar pada sebatang kayu besar (bata). Sementara itu adiknya terus sambil memanggil-manggil ibunya. Sambil menggendong adiknya yang menangis, sang kakak bernyanyi: 

Wa Indo……indo…… indo Dhiyu   : Ibu wa indo….indo… Dhiyu
            Maaa….yiii suuuu..su te iyandiku   : Datanglah susui adikku               
            Dhi…. Watu….meka torun-toruu    : Pada batu yang bentuknya seperti payung
            Dhi …bata…. Meka Lonto-lonto     :  Pada kayu hanyut yang ter apung-apung

            Te lagu-laguno, hendua, hentolu toru-torusu O lagu  domu/piamo no ita te mina-I maawi iso te gunsa-gunsa, eaka lengo umpa Oo ita-mo te awana  mia nangu-nangu, maka O tadde kambedda te ina  nomo, dari no ala emo a-yaino ana, maka no awi-E, O sale-E maka O-awi-E.

Lagu tersebut berisi syair yang memanggil-manggil Ibunya (Anak ini berharap dengan lagu tersebut ibunya mendengar dan datang), sementara itu adiknya terus saja menangis, tidak lama kemudian dari kejauhan laut terlihat gelombang air yang berbusa-busa lalu dari sisi air  tersebut terlihat sesok manusia berenang mengarah ke tepi pantai, setelah ia memperhatikan dengan seksama ternyata manusia itu adalah ibunya. Setelah mereka bertemu, maka bayi tersebut di ambil oleh ibunya, digendong, ditimang-timang kemudian disusui 

 Sapo-olino O waEmo ai kakano kua ara I lange bara u-mai-mai parantai te iyaku-ana ku dari ikamo, maka O wila O tadda ako-E na ana-no-ana  maka Ombule ke kakano-ana, no tonda-E, no Awi-E 

Setelah anak tersebut selesai disusu  dan perasaan rindunya telah terobati, lalu ibunya berpesan kepada sang kakak, bahwa esok hari kalian berdua tidak usah lagi dating sebab sisik yang menempel ditubuh saya semakin banyak dan sedikit hari lagi saya sudah berubah menjadi ikan.kemudian ibunya pamitan dan kembali ke laut, setelah ibu tersebut sudah tidak tampak, maka kedua anak tadi bergegas pulang, sang kakak menenteng dan sesekali menggendong adiknya.

sainlangeno no heddoito mbula ku hu-uke te-pai-paira no heddoito a-la-a taba na mo awa ke ina no, no bawa emo, no awi emo maka no bawa-E no wila-wila O-rato I bata I wiwi i mawi-yai O keddemo I atu mako lagu-lagu

Namun keesokan harinya, anak tersebut kembali menangis, sekalipun sudah diberi sesuatu dan dirayu  anak tersebut tetap menangis lantaran ingin bertemu dengan anaknya. Lalu sang kakak kembali membawa adiknya pergi ketepi laut, Ia menggendong dan sesekali mereka berjalan beiringan. Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di tepi pantai mereka kemudian duduk dibatu besar tempat mereka menanti sang bunda   kemarin. Di tempat tersebut kemudian sang kakak mendendangkan lagu:

            Wa Indo……indo…… indo Dhiyu   : Ibu wa indo….indo… Dhiyu
            Maaa….yiii suuuu..su te iyandiku   : Datanglah susui adikku               
            Dhi…. Watu….meka torun-toruu    : Pada batu yang bentuknya seperti payung
            Dhi …bata…. Meka Lonto-lonto     :  Pada kayu hanyut yang ter apung-apung

O lagu ako te yatu hendua-hentolu sampe  ke O-mai. Sapaira-sapaira O itamo uka te gunsa-gunsa I mawi iso awa inggawi kambeda uka te ina-no mo-atu O mai. 

Ia menyanyikan adiknya, setelah dua hingga tiga kali lagu tersebut diulang, tidak lama kemudian dari arah laut tampak terlihat oleh mereka busa air yang disertai oleh sedikit gelombang seperti yang mereka saksikan kemarin, ternyata yang datang  adalah ibunya. 

O rokamo na-anano-ana parantai te  ae-no O sai kurumo  awana ikuno. Dari samai-no O sale emo na yai-no ana, po-oliyatu O sama-mo I kakano kua baramo I mai I lange parantai te iyaku ana kumembali ikamo. Po-oli awana Iso te Ina-no ana O wilamo kua mawi mendaro iso, tee amai nom bulemo

(Tatkala ibunya menampakkan tubuhnya) kedua anak tersebut kaget, karena sisik yang menempel di tubuh sang ibu telah semakin banyak. Lalu kemudian anak tersebut digendong, ditimang, dan dicium oleh bundany, setelah selesai ia member susu, sang ibu kemudian memanggil kakaknya dan berpesang, anak-ku besok sebaiknya kalian tidak usah lagi datang  sebab tubuh saya sudah akan menjadi ikan. Kemudian ibunya tadi kembali ke laut dalam sedangkan kedua anak tadi kembali pulang ke kediamannya

I-lange uka O doito mo uka, no elo-elo torusu te Ina-no.   dari no wilamo, no wilangka kua mawi, maka O-kede-n-kedde di bata, maka no lagu-lagu. 

Keesokan harinya, sang adik kembali menangis memanggil-manggil ibunya, karena tak kuasa melihat adiknya yang terus menangis, kemudian ia memutuskan untuk mengantar kembali adiknya ke tepi pantai, setelah tiba dibatu besar sambil membelai rambut adiknya kemudian sang kakak kembali menyanyi: 

            Wa Indo……indo…… indo Dhiyu   : Ibu wa indo….indo… Dhiyu
            Maaa….yiii suuuu..su te iyandiku   : Datanglah susui adikku               
            Dhi…. Watu….meka torun-toruu    : Pada batu yang bentuknya seperti payung
            Dhi …bata…. Meka Lonto-lonto     :  Pada kayu hanyut yang ter apung-apung

O…maina Ina no itamo te gusa-gunsa, kambedda te ina nomo, maka O mai mo uka te kuruno apamo kompono, dari O wa-Emo kua sale-Emo yai-u ana, no awi-E maka O wa-aE kua, ara I lange bara-mo I mai-mai, paranatai te iyaku ana ku-membali ikamo,  maka nombule, te Ina-no O wila mo O nangu kua mawi, om-bule. 

Setelah menunggu beberapa lama, kembali terlihat busa air dan riak gelombang, ternyata adalah ibunya, (kemudian anak tersebut digendong, ditimang, dan dicium oleh bundanya, dan disuse) sang ibu kemudian memanggil kakaknya dan berpesan, anak-ku besok sebaiknya kalian tidak usah lagi datang  sebab seluruh tubuh saya bersisik (menjadi ikan). Kemudian ibunya tadi kembali ke laut dalam sedangkan kedua anak tadi kembali pulang ke kediamannya

Sailange-no  no doitomo uka na yaino maka no awi Emo uka maka no wila, O wila mo uka kua bata maka O lagu-lagu, O kalumo I lagu-a hengkoruompumo o lagu mbeayaka o mai-mai parantai te yaino he doiton torusu maka no awi-E, maka O wila, sam-beyakamo nombule O wilan torus-torusu. O kalu I wila-a O ita te  ko-O u-ahu baa-baa bale.  Dari po wikiri-mo kua ku wilamo kua iso,  O Alamo te wikiri kua, ka wilamo kua ahu iso, parantai ara I iso bara aneke mia, ako ka-mepetulu di-iso.

Keesokan harinya, sang adik kembali menangis memanggil-manggil ibunya, karena tak kuasa melihat adiknya yang terus menangis, kemudian ia memutuskan untuk mengantar kembali adiknya ke tepi pantai, setelah tiba dibatu besar sambil membelai rambut adiknya kemudian sang kakak kembali menyanyi. Namun hingga sekian kali ia bernyanyi ibu yang dinanti tak kunjung dating. Karena adiknya tersebut menangis terus, maka digendonglah  anak tersebut lalu ia berjalan meninggalkan tepi pantai tetapi mereka tidak kembali pulang ke rumah, mereka berjalan terus. Setelah lama berjalan dan lelah mereka kemudian beristirahat, dari kejauhan tempak oleh mereka kepulan asap api sebesar mayang kelapa. Kemudian dia berpikir untuk menuju ke tempat tersebut, mudah-mudahan di tempat tersebut ada seseorang yang dapat menolong mereka.  

 O wila mo…..owila-owila kambedda te ko-o iso sa eyaka te mia,  kambedda te ahu wa kinamboro. Dari la-amo no rato sa no hepago-Emo te Wa Kinamboro atu, maka no ala ako-E te-imanga. Maka no Ema te-I kakano , aro te komiu no ema te ia kaka ane basa umpa ate miu, no balo kua aro te iyaku ate su basa ate wembe. Aro te iyai-u, aro te iyaisu sa basa ate manu. Ara wanatu mangamo-ka, Ako ku wila iyaku kua Iiso  

Lalu berjalan menuju arah asap api, setelah lama berjalan, ternyata tempat (sumber) asap tersebut bukan manusia, tetapi Wa Kina-kinam-Boro (Raksasa). Setibanya di tempat tersebut, kedua anak tersebut disambut oleh Wa Kina-kinam-Boro, kepada  mereka kemudian disajikan makanan. (setelah mereka disajikan makanan, lalu) WKB bertanya kepada kakaknya, kalau kamu sekarang kira-kira sebesar apa atimu, I (kakak) menjawab atiku sebesar ati kambing. Kalau ati adikmu kira sebesar apa, kakaknya menjawab kalau ati adikku mungkin sebesar ati ayam. Baik lah kata WKB, silahkan kalian makan aku akan bepergian keluar beberapa saat.   

Sa talikuno, O mai-si-E te Dago, no gau kua ara ki humadda hopo ako te iyaku ai manga-atu ako ku manga-E te iyakute. Wa Kinamboro iso  a wila a kumansi te koni-no, ako a-manga te ate miyu, suru no emanako te ate miyu. O hadda mo  I kaka-no ana, maka O wa-E yai no, helawe mo I manga-a no hopo akomo te dago, ako la-A  ku lola Ako komiu.Pasi O manga a dago  O sampe-mo I kapeno, maka O lola akoE  kua umbu kaluku gaddi, maka tuhu a manu. 

Setelah WKB pergi, kedua anak tersebut ditemui oleh seekor Jago. Jago tersebut menyampaikan, jika kalian mau (tidak keberatan) sudikah kamu memberikan makanan itu untuk saya. WKB tadi itu sebenarnya ia pergi mengasah giginya untuk memakan kalian berdua, itulah sebabnya ia menanyakan seberapa besar ati kalian berdua. Lalu mereka memberikan makanan tersebut kepada Jago, dan sebagai imbalannya, aku akan terbangkan kalian (menyelamatkan kalian). Setelah Jago tersebut makan, maka kedua anek tersebut naik ke sayap Jago lalu mereka berdua di terbangkan dan hinggap di atas pohon kelapa. 

Sabantara O umba na Wa Kinamboro, O Umba ke moho busano (dalam ke adaan capek), ke to maEka-no, te rounu no hawasomo la-a, maka orangamo, no ita-E na ana bou iso I umbu kaluku iso, parantai no hempisi no hei-no I manga-a  O kaha-E la-a kaluku, sa kaha-a O guntiE  a-la-a kaluku dari no tobata, hua leama  O-tobata O-raho te soha u-lange.

Beberapa saat kemudian datanglah WKB, dia muncul dalam keadaan yang tampak lelah, wajahnya tampak sangat menakutkan, dari raut mukanya tergambar bahwa ia lagi marah. Tatkala ia melihat/menolek ke atas  pohon kelapa tampaklah kedua anak tersebut sedang bersembunyi. Karena ia sangat ingin memangsa anak tersebut, maka dengan marah Ia menggigit batang pohon kelapa tersebut, dengan sekejap batang kelapa tersebut rebah, beruntung ketika rebah kedua anak tersebut terayun dan terlempar ke atas pintu langit. 
   
Dhari olinda na amai kua lange. Kamba I soha iso (lange) aneke daga. Dari no Ema-E, te daga iso, te komiu ana mina I umpa?  Maka no tula-tula ako emo, sabba ane.  Maka no wae te daga tain-tai, ako ku-laporo ako komiu kua Raja, mako no laporo akoE, kua ka-iso-E aneke  ana bou do dua a wana iso rupano, no waE te Raja kua, maike kua ana, dari O maiki emo, O kombiti Emo te raja ana. Te ama Iyana O melemo, O rodda mo te Wa Kinamboro karamanoho O mange-E. 

Jadi anak tersebut telah berpindah tempat yaitu di langit. Ternyata di pintu tersebut terdapat seorang penjaga. Oleh penjaga anak tersebut ditanya, sebenarnya kalian berdua ini berasal dari mana? Mereka kemudian menceritakan seluruh kisah hidup mereka. Sang penjaga kemudian mengatakan, kalian tunggu sebentar di sini, saya akan melaporkan keberadaan kalian kepada Raja. Kepada Raja jaga menyampaikan bahwa di luar ada dua orang anak, wajahnya seperti ini. Mendengar laporan penjaga, Raja mengatakan; bawa kedua anak tersebut ke sini, lalu kedua anak tersebut dibawa (beruntung) mereka kemudian dipelihara oleh Raja. Kedua anak tadi merasa gembira, mereka menbayangkan jika mereka masih berada dibawa cengkraman WKB, mungkin saat ini mereka telah dimangsa. 
 
Sa wakutu te Raja-ana Ombale-mbale, maka O wae ai kakano kua kuddumahani I-laha-a u-kutu, kudumahani, dari ombalemo, ama O laha-E kutunu, maka no sengka-sengka-E    a hutonu iso no itamo te aso u-mobela I kapalano, O bubuti na Lu-uno, te Lu-uno ana no raho te kapala na Raja ana, dari O namisimo te monoha a Raja ana, O Topelemo, tara u heddoito m beaka no balo parantai  O-moboha no bisara, dari no Ema  O ha-a nu doito ai, karomo hempia  mako O balo Kobbe ku heddoito parantai ku rodda-rodda te ina su, Te ina su yaku ana O simbi-I te aamasu I kapalano te tenda parantai O hawasoako te rengka ko-mangaE tei kami, O koho akoE te yai su, O doito parantai te rengka iso mbeyaka no hadda akoE parantai O sama kua bara I manga-manga-E dari no simbi a kapala ina su sawengka O tombo I-lange  sawengka I mawi.  

Hari berganti hari, satu waktu sang Raja sedang santai berbaring,  anak tersebut kemudian dipanggil oleh Raja, lalu ditanya, apakah kamu bisa menyisir dan mencari kutu. Anak tersebut menjawab Ia, saya bisa. Kalau begitu coba kamu sisir rambut saya dan cari kutunya. Setelah anak tersebut menyisir rambut Raja, setiap kali ia menyisir bagian tengah kepala, tampak oleh anak tersebut bekas luka, melihat hal tersebut, teringatlah anak tadi kepada ibunya, sambil meneteskan air mata dan air mata tersebut jatuh membasahi pundak Raja. Karena merasa ada air yang menetes di atas pundaknya, maka sang Raja menolek, ternyata air tersebut adalah air mata si anak. Lalu Ia ditanya, mengapa kamu menangis, semula anak tersebut tidak menjawab pertanyaan Raja, namun setelah beberapa kali ditanya, maka anak tersebut kemudian menjawab.
Aku menangis, teringat ibuku, sewaktu di dunia kami hidup berempat dengan ayah, ibu dan seorang adik saya yang masih kecil. Suatu saat, ayah saya mejemur ikan, dan berpesan kepada ibu agar ikan tersebut jangan diberi kepada siapapun. Tetapi karena adik saya menangis terus, maka ibu saya memotong ikan tersebut untuk diberi kepada adikku, nahas, ayah saya marah, lalu ia menebas tubuh ibuku, yang satu bagian terlempar ke laut dan yang satunya lagi terlempar ke langit. Mendengar cerita tersebut, sang Raja kemudian menangis, dan mengatakan ternyata kalian berdua  adalah anakku.  ****    

*). Kordinator Bidang Seni Budaya dan Pernaskahan Sejarah
     Pada Lembaga Forkom KabaLi Indonesia.
     

Minggu, 12 Juni 2011

CATATAN MANUSKRIP RENCANA PEMBUATAN FILM KLOSAL "GAJAH MADA"

OLEH : ALI HABIU



Alhamdulillah pada hari sabtu pagi tanggal 11 Juni 2011 tepatnya pukul 09.30 pagi bertempat di ruang tamu Hotel Estate Kendari, Pengurus pusat Lembaga Foruk Komunikasi KabaLi Indonesia bertemu dengan Direktur Produksi "Semut Putih Indonesia" bapak Lucky valentino yang bergerak dibidang pembuatan film klosal di Indonesia. Rencana mereka ingin membuat sejarah Gajah Mada yang diangkat dari sebuah entri dalam Devisi Pernaskahan dan Pengembangan Sejarah Keraton Liya Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dengan judul Film : "KESATRIA DARI PULAU WANGIWANGI : Film Efik Sejarah tentang MAHA PATIH GAJAH MADA, Sang satria Wangi-Wangi, yang Menjadi Pemersatu Nusantara". Kedatangan Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Lembaga ini menghadap mereka dalam rangka konfirmasi data sehubungan dengan pemuatan sejarah Gajah Mada di http://www.budaya-liya.blogspot.com yang diperkuat dengan budayawan kompasiana bapak Mahaji Noesa yang sangat optimis bahwa Gajah Mada Moksa di Kepulauan Wangi-Wangi, Wakatobi.  Hal ini juga di perkuat dengan salah satu opini tanggal 12 April 2011 diweb blog Studi Masyarakat Indonesia yang bisa di baca di:


 Manuskrif Film Gajah Mada

Dalam hubungan ini, pada Sabtu Sore tanggal 11 April 2011 bertempat di Swiss Belt Hotel Kendari kami menemui Gubernur Sulawesi Tenggara bapak Drs.H. Nur Alam untuk meminta dukungan dan beliau menyatakan sementara mempertimbangkan pembuatan film tersebut. Adapun alasan beliau adalah Naskah Cerita Foklour (dimensi fungsional) yang diangkat dari masyarakat Buton dan Wangi-Wangi belum memiliki dokumen dari hasil sebuah penelitian ilmiah, sehingga dia kuatir jangan sampai dengan di filimkannya Gajah Mada Moksa di Wangi-Wangi menjadikan kontroversial para sejarawan asal pulau Jawa.

Sementara berdasarkan penjelasan terpisah oleh kandidat doktoral bidang Antopologi Budaya dari Universitas Gajah Mada yakni Bapak Suminan Udu mengatakan bahwa kisah folklour masyarakat sebagai konteksi data dimensi fungsional sebuah masyarakat sudah cukup kuat untuk di jadikan obyek publikasi atau pencitraan walaupun belum memiliki data akademis. 

Sehubungan dengan rencana tersebut, Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia rencana dalam waktu dekat ini akan segera ke pulau Buton dan Wangi-Wangi untuk menyisir jejak artifak dan situs sehubungan dengan perjalanan Gajah Mada sampai dengan Moksanya di pulau Wangi-Wangi.  Disamping itu sesuai dengan pertemuan dengan Tim Direktur Produksi "Semut Putih Indonesia" pada malam senen tanggal 11 Juni 2011 di Hotel Estate Kendari disimpulkan bahwa dalam waktu singkat setelah mereka berkonsultasi dengan para pakar sejarah dan budaya di Jakarta yang tergabung dalam Tim pernaskahan film-film kolosal di Indonesia akan segera datang kembali ke Sulawesi tenggara untuk menemui Bupati Buton, Bupati Wakatobi dan Wali Kota Bau-Bau guna mendapat dukungan, disamping penjejakan beberapa lokasi situs dan artifak perjalanan Gajah Mada di pulau Buton dan Wangi-Wangi. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor : 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, memang selaayaknya yang menjadi tanggungjawab publikasi film ini adalah Bupati Buton, Bupati Wakatobi dan Wali Kota Bau-bau, bukan Gubernur Sulawesi Tenggara.

Mudah-mudahan Tuhan YME senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuknya serta dukungan ghaib dari para orang-orang sakti pulau Buton dan Liya sehingga atas izin Allah SWT dalam waktu dekat ini bisa  didapatkan sebuah Prasasti yang menggambarkan eksistensi Gajah Mada pada zamannya.

Rencana para pemain film ini diambil dari bintang-bintang film layar lebar nasional dan pendampingannya sebesar 30 % dan sisanya 70 % diambil dari masyarakat lokal yang direkrut oleh Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia. Perkiraan jumlah pemain sekitar 100 personal gabungan dan para pemain watak nasional terdiri dari : Toro Margen, Dian Sastro, Nicholas Saputra, Bondan Prakoso, Lindung Simatupang dan Tio Pakusadewo 





Adapun konsep Film ini yang dikutif dari manuskrip naskah film, adalah :
  • Efik sejarah yang megah tentang jejak sejarah hidup Gajah Mada yang lahir di pulau Buton dan Moksa di Wangi-Wangi,
  • Mengangkat keindahan alam Wakatobi sebagai latar film ini,
  • Membuat sejarah menjadi menarik dan menemukan konteksnya di masa kini, sehingga para penontonpun akan terarik untuk membaca baca lagi sejarah bangsa ini, terutama Sang Maha Patih gajah Mada yang ternyata adalah kesatrian dari pulau wangi-wangi,
  • Mengangkat masalah aktual yakni tentang identitas bangsa dan nasionalisme. Pada gilirannya, para penonton akan lebih menghargai warisan sejarah nusantara.
  •  
    Sedangkan Target Penonton meliputi :
    1. Umur 15 tahun ke atas,
    2. Festival Film lokal di Indonesia (Balilane, Jiffest, FFI),
    3. Festival Film Indonesia di Luar Negeri (Australia, Vancouver),
    4. Pembeli DVD/VCD lokal.****
     

Jumat, 10 Juni 2011

PADEPOKAN PUSAT PELATIHAN SANGGAR SENI BUDAYA KABALI INDONESIA PUSAT LIYA SUDAH MULAI DIBANGUN

OLEH : ALI HABIU



Alhamdulillah Puji dan Syukur tak lupa diucakan kehadirat Tuhan YME, Allah SWT akhirnya perjuangan panjang selama ini yang dilakukan oleh Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dalam mengupayakan adanya pusat pelatihan seni budaya Kabali Indonesia sudah dapat terwujud. Dalam Proyek Revitalisasi Kawasan Benteng Keraton Liya Tahun Anggaran 2011, Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan melalui Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis Nasional Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum telah membantu Lembaga ini berupa sebuah bangunan ukuran 8,00 x 15,00 M2 dengan konstruksi model Kamali (dinding terbuka) yang terdiri dari konstruksi  beton kombinasi ramuan kayu yang mana saat ini sudah mulai dibangun tepatnya di lokasi akses jalan ke Wisata Alam Kohondao dengan jarak lebih kurang 130 meter samping kanan arah jalan tersebut dari perempatan jalan dusun Seru. Perletakan batu pertama pembangunan Padepokan  Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia tersebut telah dilakukan pada akhir bulan Mei 2011 oleh Kepala Desa Liya togo beserta seluruh perangkatnya dan di syarati oleh Modhi Mesjid Agung Keraton Liya beserta Bapak La Ode Abu mewakili tokoh masyarakat Liya Togo.













Diharapkan pembangunan Padepokan Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia ini akan selesai dikerjakan pada akhir Agustus 2011, sehingga dapat dimanfaatkan sebaik-baiuknya oleh semua pengurus sanggar untuk dijadikan sarana pelatihan seni budaya tradisional asli Liya dalam mempersiapakan Keraton Liya dan sekitarnya sebagai Desa Wisata Budaya Nasional. Salah satu ikon yang dapat digunakan sebagai sarana promosi wisata budaya adalah iven Gelar Budaya Sail Wakatobi tanggal 23/24 Agustus 2011 di Liya dan Pestival Keraton Liya 2011 yang akan berlangsung pada lebaran Haji bulan November 2011 ini.
Pada kesempatan ini dihimbau kepada seluruh Keluarga Besar Liya khususnya yang domisili di desa Liya Besar untuk secara bersama-sama bahu membahu  mendukung pembangunan ini dengan tetap menjaga stabilitas keamanan lingkungan masing-masing sehingga Kawasan Keraton Liya bisa menjadi jaminan keamanan dalam kunjungan para wisata baik nasional maupun internasional khsusnya dalam kegiatan Sail Wakatobi 2011 mendatang.****

Jumat, 03 Juni 2011

MASYARAKAT LIYA JANGAN MAU DIPROVOKASI DALAM REVITALISASI KAWASAN BENTENG KERATON LIYA

OLEH : ALI HABIU


Pekerjaan Revitalisasi Kawasan Benteng Keraton Liya dilaksanakan dalam rangka upaya peningkatan ekonomi masyarakat Liya yang kajiannnya didasarkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yakni pada Pragraf 3 Revitalisasi, Pasal 80 Ayat (1).Revitalisasi potensi Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya memperhatikan tata ruang, tata letak, fungsi sosial dan/atau lanskap budaya asli berdasarkan kajian, (2). Revitalisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menata kembali fugsi ruang, nilai budaya dan penguatan informasi tentang Cagar Budaya.  

Pada Pasal 82 disebutkan bahwa Revitalisasi Cagar Budaya harus memberi manfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mempertahankan ciri budaya lokal dan Pasal 83 disebutkan pada Ayat (1). Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini tetap mempertahankan : a. ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya; dan/atau b. ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah situs Cagar Budaya atau kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi. Pada Ayat (2) disebutkan bahwa  Adaptasi dilakukan dengan  : a. mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya, b. menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan, c. mengubah susunan tata ruang secara terbatas. 

Baik Unsur Perencana, Unsur Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis Direktorat Penataan Bangunan da Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Unsur Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara, Unsur Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi dan Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dalam penentuan final design semua melalui pertimbangan yang matang sesuai amanah Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 dan sesuai kebutuhan dan permintaan masyarakat lokal.


 
Timbunan Perataan Lapangan 
Belakang Mesjid Al Mubaraq
Keraton Liya
Material Timbunan dari Gamping Dolomit.


 Pondasi Pagar Tepi setinggi 80 Cm


 Freem Work Pagar tepi Lapangan


Khusus untuk Pekerjaan Revitalisasi Perataan Lapangan Alun-Alun belakang Mesjid Agung Al Mubaraq Benteng Keraton Liya   yang sementara berlangsung saat ini baru dalam tahap pelaksaan timbunan dasar yang terdiri dari material batu gamping dolomit (kapur lunak) belum diratakan dan dipadatkan. Dalam rangka perataan dan pemadatannya perlu menggunakan peralatan Bull Dozer D-40 yang akan di sewa di Mandati oleh pemilik lain kemudian dipadatkan dengan menggunakan peralatan Stamper. Timbunan dasar ini tidak boleh terlalu padat karena material akan massif namun dipadatkan sampai mencapai kepadatan tertentu. Setelah dipadatkan maka pada bagian lapis atas akan diberi tanah humus atau Top Soil sebagai lapisan akhir sebelum jenis rumput tertentu dibei di atasnya sebagai lapisan utama. 

Dalam kaitan dengan pekerjaan ini, Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia sejak hari Sabtu Tanggal   04 Juni 2011 telah mengadakan koordinasi dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata yakni Bapak Drs. Andi Tawakkal diminta untuk segera memerintahkan unsur staf Dinas yang dipimpinnya serta segera meminta unsur pengawas Revitalisasi Benteng Keraton Liya dari Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Kabupaten Wakatobi dalam hal ini yang ditunjuk adalah saudara Radiun,ST untuk segera turun ke lapangan dan memberikan pengawasan dan pengaturan pekerjaan agar pekerjaan senantiasa sesuai dengan spesifikasi kontrak. Demikian pula pada hari yang sama Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia mendatangi rumah kediaman Kepala Satuan Kerja PBL Revitalisasi Benteng Keraton Liya di Kendari dan meminta untuk segera turunkan pengawas teknik dari Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara dan ternyata tim pengawas sudah berangkat hari sabtu pagi tanggal 04 Juni 2011 lewat kapal K.M.Agil langsung ke Wanci.



 Pembangunan Akses Jalan Menuju Kohondao












Pekerjaan lain yang juga sementara berlangsung adalah pembuatan akses jalan (collector  road) menuju Wisata Alam Kohondao dengan konstruksi Pavement dari Floor Semen dilengkapi dengan Fasilitas Publik.   Kemudian pembangunan gedung Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia lokasinya di tepi jalan akses jalan Wisata Alam Kohondao berjarak sekitar 100 meter dari simpangan jalan utama. Sedangkan untuk bangunan Baruga 1 buah dan 13 buah Pintu Lawa sementara baru ramuannya yang ada di lapangan, sedangkan pekerjaan fisik belum dilaksanakan mengingat bahwa Shoft Drawing  saat ini masih dikonsultasikan dengan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar. Diperkirakan mulai pertengahan Minggu ke dua Juni 2011 pekerjaan ini sudah dapat di mulai.  Kontrak paket ini akan berakhir akhir Agustus 2011 dan khusus untuk pekerjaan perataan lapangan Alun-Alun belakang mesjid Agung Keraton Liya akan dipercepat penyelesaiaannya mengingat pada tanggal 24 Agustus 2011 akan dipakai sebagai sarana pentas seni budaya dalam rangka agenda Sail Wakatobi 2011, disamping akan digunakan sebagai tempat peribadatan shalat Idul Fitri 1432 Hijriah yang jatuh tanggal 30/31 Agustus  2011.

Dalam kaitan itu, dihimbau kepada semua Masyarakat Liya untuk tidak mudah terprovokasi atau mau di hasut oleh oknum-oknum tertentu atau elemen-elemen Lembaga tertentu untuk secara bersama-sama dan/atau sendiri-sendiri melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum dengan sengaja menghalang-halangi semua kegiatan tersebut  di atas,  mengingat seluruh rangkaian kegiatan Penyedia Jasa memiliki kekuatan hukum tetap yang tertuang dalam dokumen kontrak Penataan Bangunan dan Lingkungan dalam kawasan Benteng Keraton Liya tahun Anggaran 2011 yang diketahui oleh Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia dibawah pengawasan Direktorat Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Parwisata Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar. Semoga negeriku Keraton Liya, jaya masa datang. ****.



Sabtu, 28 Mei 2011

PENGEMBANGAN OBYEK WISATA DALAM DESTINASI PARAWISATA DI WAKATOBI SEMAKIN DITINGKATKAN


OLEH : HYZY HA-RIS ONECHEE
\


Objek-objek wisata yang masuk dalam rancangan untuk pengembangan destinasi periwisata di Wakatobi, akan semakin ditingkatkan kualitasnya. Makanya, tahun 2011 ini, pengembang kepariwisataan Wakatobi, dititik beratkan pada revitalisasi destinasi wisata dan penerapan regulasi, sehingga para wisatawan merasakan kenyamanan saat berada di Wakatobi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi, Drs H Hasirun Ady M.Si, kepada Ozzonradio.com (24-5) mengatakan, selama empat tahun sebelumnya, Wakatobi menggunakan waktu itu sebagai waktu promosi. Alhasil, semua kalangan baik dalam maupun luar negeri sudah mengetahui adanya potensi pariwisata Wakatobi.

Jadi saat ini, yang diperbaiki tinggal regulasi dan pelayanan terhadap publik, sehingga ketika orang datang di Wakatobi, pencitraan daerah ini semakin lebih baik. “Tahun ini juga, kita akan melakukan perbaikan-perbaikan tempat-tempat wisata, agar semakin enak dipandang mata. Tempat-tempat itu, seperti gapura pemukiman lompok-kelompok masyarakat, benteng-benteng di Wakatobi yang diantaranya terletak di Tomia, seperti Benteng Patua, di Kaledupa ada Benteng Pajam, di Wangiwangi ada Benteng Liya dan sebagainya,” ungkapnya.

Upaya-upaya Wakatobi mengembangkan pariwisatanya, sudah membuahkan hasil, terbukti adanya penghargaan dari pemerintah pusat beberapa waktu lalu, karena Wakatobi mampu menyumbang peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. “Dari tujuh juta kunjungan wisatawan di Indonesia tahun 2010, sekitar lima ribuan berasal dari kunjungan wisatawan ke Wakatobi, sehingga Wakatobi kemudian ditetapkan sebagai pusat destinasi wisata bahari nasional,” jelasnya.

Tindak lanjut penetapan itu, Wakatobi mendapat dana perbantuan dari pusat, untuk pembangunan Dive Center dan pusat informasi pariwisata. “Hasil yang diraih itu, merupakan buah dari upaya maksimal yang selamaini dilakukan pemkab wakatobi. Sehingga, yang harus dimantapkan saat ini yakni tinggal regulasi dan pelayanan yang diberikan kepada tamu-tamu ketika berada di wakatobi,” tandasnya. (ian)***

Minggu, 22 Mei 2011

GAJAH MADA LAHIR DI BUTON DAN MOKSA DI LIYA WAKATOBI


 OLEH : MAHAJI NOESA

               (DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka)
               OPINI | 01 April 2011 | 09:15 330 15  


Kompasianer menilai menarik. Pulau Buton di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam catatan sejarah, pernah menjadi tempat pilihan perlindungan yang aman dari sejumlah bangsawan kerajaan ternama di Nusantara. Bahkan dalam penelusuran terakhir, ditemukan petunjuk dari sejumlah catatan dan bukti arkeolog, Pulau Wangiwangi yang dulunya masuk wilayah Buton dan kini menjadi Kabupaten Wakatobi justru tempat lahir dan moksanya Gajah Mada, Mahapatih Kerjaaan Majapahit yang terkenal dengan ‘Sumpah Palapa’ - Pemersatu Nusantara.




 GAJAH MADA/Ft:budaya-liya.blogspot.com Lembaga adat Forum Komunikasi (Forkom) Kabali yang dibentuk sejak 6 Desember 2009 di Kabupaten Kepulauan Wakatobi, kini begitu konsen mengumpulkan data dari berbagai sumber, bukti arkeolog, dan berupaya keras menjalin kerjasama dengan semua pihak terkait untuk membuka tabir emas adanya petunjuk perjalanan hidup Gajah Mada di Pulau Wangiwangi. Sejarah nasional mencatat bagaimana Mahapatih Kerajaan Majapahit yang diperkirakan lahir pada tahun 1290 (Encarta Encylopedia) itu memiliki kemampuan strategi di medan perang serta kecerdasan berpikir untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat yang luas di masanya. Tapi, dimana tempat wafat dan makamnya, hingga saat ini belum ada keterangan yang pasti. Dari sejumlah catatan yang telah dihimpun Forkom Kabali, sekitar bulan Sya’ban 634 Hijriyah atau akhir tahun 1236 Masehi sebuah kapal layar Popanguna menggunakan simbol bendera Buncaha strep-strep warna Kuning Hitam merapat di Kamaru, wilayah pesisir arah utara timur laut Pulau Buton. Kapal tersebut memuat bangsawan bernama Simalaui dan Sibaana (bersaudara) dikawal seorang sakti mandraguna bernama Sijawangkati bersama puluhan pengawalnya, yang diperkirakan berasal dari Bumbu, negeri melayu Pariaman. Kedatangan mereka ke Pulau Buton diperkirakan lantaran terjadi pergolakan yang memaksa untuk meninggalkan tempat asalnya. Terbukti, setelah mereka membuat pemukiman di Kamaru, juga membangun sebuah perlindungan yang hingga kini dikenal dengan sebutan Benteng Wonco. Sijawangkati pun kemudian memohon diri untuk membuat pemukiman tersendiri di Wasuembu serta membuat Benteng Koncu di Wabula.



Masjid Al-Mubaroq Keraton Liya/Ft:budaya-liya.blogspot.com Syahdan, beberapa waktu kemudian datang lagi dua buah kapal yang diburitannya ditandai dengan kibaran bendera Davialo berwarna Merah Putih di Teluk Kalumpa, tak jauh dari tempat pendaratan Simalaui, Sibaana, dan Sijawangkati dan rombongannya. Sijawangkati dan Sitamanajo menyambut kedatangan mereka. Ternyata, kedua kapal tersebut membawa Raden Sibahtera, Raden Jatubun dan Lailan Mangrani yang kesemuanya merupakan anak dari Raja Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Setiap kapal memuat sekitar 40 orang pengikut. Singkat cerita, kehadiran para pendatang tersebut, selain berupaya menjalin keakraban dengan warga di sekitar Pulau Buton, juga di antara pendatang saling menguatkan persahabatan. Raden Sibahtera yang diangkat menjadi Raja Buton mempermaisurikan Wa Kaa Kaa (Mussarafatul Izzati Al Fahriy). Sedangkan Sijawangkati menyunting Lailan Mangrani (Putri Raden Wijaya). Dari perkawinan Sijawangkati dengan Lailan Mangrani membuahkan keturunan 2 anak laki-laki dan 1 perempuan. Anak tertua lelaki itulah yang kemudian diberi nama Gajah Mada. Sejak kecil Gajah Mada telah memperlihatkan kecerdasan dan kesaktian. Ayahnya, Sijawangkati yang disebut-sebut keturunan wali di negeri Melayu terkenal memiliki ilmu-ilmu kesaktian sudah berupaya menurunkan ilmunya kepada Gajah Mada sejak berusia 7 tahun. Ketika berumur sekitar 15 tahun, Gajah Mada lalu dibawa oleh ibunya (Lailan Mangrani) menemui kakeknya Raden Wijaya di Pulau Jawa. Tatkala Kerajaan Majapahit dipimpin Jayanegara (1309 - 1328 M) — anak Raden Wijaya dari perkawinan dengan Dara Petak dari Jambi, Sumatera, Gajah Mada pun tampil berperan membantu melawan pemberontakan yang muncul dari lingkungan kerajaan sendiri. Dia memimpin pasukan Bhayangkara bertugas menjaga keamanan raja dan keluarganya. Dahsyatnya Pemberontakan Kuti (1319 M) yang dipelopori salah seorang pejabat Kerajaan Majapahit, sampai memaksa Raja Jayanagara, berikut istri Raden Wijaya dan putrinya Tribhuwanattunggadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita mengungsi ke Bedander. Akan tetapi berkat kecerdikan dan kepiawaian Gajah Mada, pemberontakan dapat diredam. Raja dan keluarganya pun aman untuk kembali bertahta ke istana. Tarian adat Liya di alun-alun masjid Keraton Liya/Ft:budaya-liya.blogspot.com Pascaperistiwa tersebut Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Menteri Wilayah (Patih) Majapahit, membawahi Daha dan Jenggala. Kepercayaan kepada Gajah Mada yang diberi gelar Pu Mada diperluas dengan kewenangan hingga Jenggala - Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Setelah Mahapatih Kerajaan Majapahit Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, kedudukannya digantikan oleh Gajah Mada. Dari catatan yang dihimpun Forkom Kabali (www.budaya-liya.blogspot.com), ada yang menyebut Gajah Mada wafat 1364 akibat penghianatan Hayam Wuruk. Namun data lain yang dihimpun dengan sejumlah fakta pendukung, setelah Gajah Mada membaca gelagat pihak berkuasa di Kerajaan Majapahit tak lagi memberikan kepercayaan kepadanya, ia bersama sejumlah pengikut setianya melakukan pelayaran kembali ke tempat kelahirannya di wilayah kepulauan Wangiwangi, Buton. Perjalanan pulang bersama rombongannya tersebut diperkirakan terjadi sekitar abad XIV, mendarat kembali di wilayah kepulauan Wangiwangi. Di pesisir pantai antara pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora terdapat Batu Parasasti yang dinamakan Batu Mada.

Mahapatih Gajah Mada yang terkenal sebagai manusia memiliki banyak kesaktian tersebut kemudian memilih sebuah goa di wilayah Togo Mo’ori sebagai tempat Tapa Brata. Di dalam gowa di daratan Pulau Karang Wangiwangi yang bersambung ke laut lepas inilah diperkirakan Gajah Mada yang mengenggam cakram senjata andalannya lantas moksa (menghilang) dalam semedi. Sedangkan puluhan pengikutnya memilih sebuah gua di Batauga, Pulau Buton sebagai tempat semedi. Goa itu sampai sekarang masih dinamai sebagai Goa Mada di Kampung Mada Desa Masiri, Batauga. Himpunan informasi berkaitan dengan perjalanan hidup Gajah Mada yang kini mendapat perhatian dari Forkom Kabali tersebut, tentu saja, perlu mendapatkan apresiasi dari pemerintah, dan terutama dari para sejarawan dan antropolog dalam rangka penyempurnaan catatan Sejarah Nasional kita. Selain mengenai perjalanan hidup Gajah Mada, kini Forkom Kabali yang memokuskan diri di bidang pelestarian nilai-nilai tradisi, sejarah dan budaya Keraton Liya di Kabupaten Wakatobi, juga telah menghimpun data jika Mahisa Cempaka (cucu dari pasangan Ken Arok dan Ken Dedes) merupakan Raja Liya (1259 - 1260). Gundukan batu yang ditinggikan (Ditondoi) yang ada di depan Masjid ‘Al Mubaraq’ Keraton Liya adalah makam Mahisa Cempaka yang pernah bersama Rangga Wuni memimipin pemerintahan di Kerajaan Singosari di Pulau Jawa. Di bawah gundukan batu Ditindoi yang di sekelilingnya ditumbuhi banyak Pohon Cempaka (Kemboja) yang telah berusia sekitar 800 tahun, diperkirakan terdapat sekitar 5 anggota dinasti Ken Arok, selain Mahisa Cempaka yang dimakamkan disitu. Model penguburan satu liang terdiri atas beberapa anggota keluarga, hingga saat ini masih terus terjadi di wilayah Liya, Wangiwangi. Fakta ini, tentu saja, kebenarannya akan memberikan nuansa baru terhadap gambaran hubungan dan dinamika pergerakan masyarakat kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lalu. Batapa masyarakat dari Pulau Jawa sejak masa silam dengan sarana transportasi tradisional sudah dapat menjalin hubungan dengan warga di Kepulauan Wakatobi yang terhampar di Laut Banda, di arah tenggara Pulau Sulawesi.



Dibandingkan saat ini, Presiden RI, SBY belum juga pernah berkunjung mememenuhi hasrat kerinduan banyak warga di kota atau kabupaten yang ada di sekitar Pulau Buton terhadap kehadiran Kepala Negara di wilayahnya. Selain itu, berdasarkan himpunan informasi dan sejumlah bukti arkeolog, jauh sebelum dibangun Masjid ‘Al-Mubaraq’ Keraton Liya (1546 M), sudah ada sebuah masjid di wilayah Liya Togo dikenal dengan nama Masjid Togo Lamantanari. Masjid itu diperkirakan dibangun tahun 1238 M oleh  18 orang Persia dipimpin Haji A.Muhammad yang terhempas gelombang ke Pulau Wangiwangi setelah kapalnya remuk melabrak karang dalam pelayaran menuju Filipina. Tentu saja, ini merupakan masjid tertua di Indonesia, sudah ada sebelum agama Islam masuk ke Aceh pada abad XIII. Walaupun masjid sudah tiada, sampai hari ini, pada saat waktu shalat dhuhur dan masuk waktu shalat ashar setiap hari masih selalu terdengar suara kumandang azan dari sekitar lokasi masjid tua ini. Kumandang azan yang sama sampai saat ini masih selalu terdengar dari sekitar makam H.Muhammad yang terletak di sekitar permandian Kohondao Liya Togo, Desa Woru, sekitar 800-an meter dari lokasi bekas masjid tua Togo Lamantanari. Ada lima desa yang disebut dengan istilah ‘Liya Besar’, yakni Desa Liya Togo, Liya Bahari, Liya Mawi, Woru, dan Mola di Pulau Wangiwangi yang kini menjadi bagian paling penting diperjuangkan oleh Lembaga Forkom Kabali untuk dijadikan sebagai Kawasan Desa Adat. Di dalamnya meliputi pelestarian Benteng Liya dengan perkampungan masyarakat adatnya yang meliputi luas hingga 20 km persegi. Terjalinnya hubungan antara raja-raja yang ada di Pulau Jawa dengan raja-raja khususnya yang ada di Liya dan sekitarnya pada masa lalu, salah satunya juga dapat dilihat dari sejumlah nama tempat yang banyak menggunakan bahasa sangsekerta (Sanskrit). http://sejarah.kompasiana.com/20****

Sumber

http://www.sejarah.kompasiana.com/2011/04/01/gajah-mada-lahir-dan-moksa-di-liya-wakatobi/

Senin, 09 Mei 2011

BENTENG LIYA DI WAKATOBI TERBENGKALAI



OLEH : Mohamad Final Daeng | I Made Asdhiana | 
              Kompas.com, Jumat, 1 April 2011 | 21:51 WIB 




 KENDARI, KOMPAS.com — Kondisi Benteng Liya di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terbengkalai dengan banyak bagian rusak dan termakan usia. Masyarakat sekitar mendesak pemerintah memugar benteng tersebut untuk melestarikan nilai sejarahnya.
"Selain itu, jika dipugar, Benteng Liya bisa menjadi alternatif obyek wisata yang menarik di Wakatobi," kata Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya LM Ali Habiu, Jumat (1/4/2011) di Kendari.

Kondisi fisik benteng yang terbuat dari batu alam itu, ujar Ali, tinggal tersisa kurang dari 10 persen. Selain dimakan usia, benteng itu mengalami kehancuran parah pada masa penjajahan Jepang 1942-1945. "Jepang memerintahkan pembongkaran benteng dan materialnya digunakan untuk fondasi jalan dan dermaga," ujarnya.

Akibatnya, bangunan benteng yang tadinya setinggi 3 meter dengan keliling terluar 16 km kini tinggal menyisakan fondasi setinggi 1 meter. Gerbang-gerbang benteng juga banyak yang sudah rusak. Beberapa bangunan di dalam kompleks, seperti baruga (tempat pertemuan) dan meriam-meriam peninggalan kerajaan, juga sudah lapuk dan berkarat.
Benteng Liya merupakan salah satu dari kompleks benteng pertahanan yang dimiliki Kesultanan Buton, salah satu kerajaan maritim di Sulawesi Tenggara yang berjaya pada abad ke-16 dan 17. Benteng itu terletak di Pulau Wangi-wangi, kini masuk Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi.

Namun, berdasarkan keterangan Ali, ada versi yang meyakini Benteng Liya sudah ada jauh sebelum Kesultanan Buton berdiri. "Beberapa sejarawan Buton mengatakan, Benteng Liya dibangun sekitar abad ke-13 oleh raja pertama Liya yang merupakan keturunan wangsa Rajasa di Kediri," ujarnya.

Tahun ini, Ali menambahkan, ada rencana memugar sebagian Benteng Liya yang merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum. Dana Rp 2,3 miliar itu di antaranya akan dipakai untuk perbaikan 15 pintu benteng, baruga, pendirian gapura, dan pembangunan pusat kegiatan seni dan budaya. "Pemugaran itu sebagai bagian persiapan menjelang Sail Wakatobi bulan Agustus nanti," ujarnya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala BP3 Makassar Andi Muhammad Said, yang juga membawahi wilayah Sultra, mengatakan, bulan ini pihaknya akan menurunkan tim untuk melakukan studi teknis pemugaran Benteng Liya. "Studi itu menghitung apa saja yang harus dilakukan, model pemugarannya seperti apa, dan estimasi biayanya," ujarnya.

Berdasarkan penilaian BP3, Benteng Liya sangat layak untuk dipugar karena selain nilai sejarahnya yang tinggi juga potensi besarnya menjadi obyek wisata budaya dan sejarah di Wakatobi. "Namun, pemugaran tidak seluruhnya dilakukan oleh BP3, tetapi juga diharapkan ada kontribusi dari pemerintah daerah setempat," ujar Said.****


Sumber :
http://nasional.kompas.com/read/2011/04/01/21511459/

Selasa, 03 Mei 2011

BUDAYA WAKATOBI TERANCAM..!?

 OLEH : SUMIMAN UDU





KENDARINEWS - Kendari, Provinsi  Sultra memiliki keragaman budaya. Apabila tidak dikelola dengan baik,  akan berpotensi disintegrasi yang dapat mengganggu kesejukan dan kedamaian hidup masyarakat  masa mendatang.  Di Sultra terdapat beberapa etnis dan budaya yang besar, seperti Buton, Muna, Tolaki, Bugis dan Bajo

''Keragaman etnis ini harus ditangani dengan baik, sebagai  aset daerah yang menjadi sumber pendapatan daerah,''  kata Direktur Eksekutif Pusat Studi Wakatobi, Sumiman Udu, S.Pd., M.Hum, kepada koran ini

Menurut dia,  budaya yang berbeda-beda di Sultra terutama di Wakatobi akan menjadi potensi dalam pengembangan pariwisata daerah. Selain  pariwisata alam Sultra yang juga sangat eskotik, Wakatobi juga kaya dengan potensi budaya koreografi tarian, musik lariangi dan kostum lariangi.


 TARI LARIANGI DALAM PENELITIAN
BANGSA BARAT

"Kalau kita membaca buku berjudul Kearifan Lokal Suku Bangsa-Suku Bangsa di Sulawesi Tenggara, akan terlihat betapa besar potensi budaya, mulai potensi budaya masyarakat Landawe di Konawe Utara, sampai dengan masyarakat Cia-Cia di Selatan Pulau Binongko. Dari masyarakat Runduma di Timur sampai masyarakat Sagori di Barat, semua itu memiliki potensi budaya yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi  akan datang," ujarnya

Ditambahkan, kesuksesan Pemerintah Kabupaten Wakatobi dalam membangun tidak dapat dipungkiri, tetapi keterlibatan masyarakat dalam proyek pariwisata masih sangat minim. Rendahnya partisipasi masyarakat  karena pariwisata masih baru bagi mereka, tidak punya skill mengolah kebudayaan sebagai aset dalam industri pariwisata.
  
 Menurut pandangan penulis Buku "Perempuan Dalam Kabanti" katanya,  merupakan hal baru dalam masyarakat Wakatobi, tetapi pelan-pelan  akan menyesuaikan diri. Terbukti  sudah ada yang terlibat  dalam bisnis pariwisata. Bahkan  mulai tampak keterlibatan  dalam pariwisata budaya, walaupun belum maksimal

Mahasiswa S3 Ilmu Budaya UGM itu  merasa prihatin dengan keadaan budaya Sultra. Saat ini, semua negara mempersiapkan diri menata kebudayaan sendiri. Justru Indonesia  malahan membiarkan tercecer, sehingga  memberi kesempatan kepada bangsa lain untuk meneliti kekayaan budaya

Masalah itu  dikarenakan kontrol yang lemah. Lebih menyedihkan lagi karena kurangnya perhatian dari pemerintah, seperti kasus Korea yang menulis bahasa Cia-Cia dengan aksara Korea (aksara Hangeul), penelitian Lariangi di Kaledupa oleh Malaysia, serta beberapa penelitian naskah-naskah Buton yang dilakukan  perpustakaan Inggris. Semua itu akan berdampak pada masa depan kebudayaan Sultra
  
"Memang kita tidak boleh tertutup di saat keterbukaan media seperti ini, tetapi apakah kita sudah siap ketika ide-ide dalam tradisi kebudayaan kita diambil  orang luar dan dipatenkan? Jangan-jangan koreografi Lariangi, musik lariangi, kostum lariangi belum ada yang dipatenkan, sehingga bernasib  seperti reog ponorogo,'' katanya

Kemungkinan  ancaman bisa diatasi  dengan membangkitkan rasa  mencintai budaya daerah agar  identitas bisa  dipertahankan di era globalisasi.      Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unhalu, menilai  generasi muda di Bumi Anoa kurang mencintai budaya sendiri. Mereka lebih bangga mengenal budaya orang lain di banding mengenal budaya daerahnya
  
Di sisi  lain, memang kebijakan tentang kebudayaan belum menjanjikan untuk digeluti generasi muda. Butuh sentuhan yang dapat mengubah potensi budaya untuk dapat bernilai ekonomis, misalnya penelitian untuk menemukan pola ornament kebudayan Sultra.   (p2)****

SUMBER :
http"//www.pusatstudiwakatobi.blogspot.com



Minggu, 01 Mei 2011

REVITALISASI KAWASAN BENTENG KERATON LIYA AKHIR APRIL 2011 SUDAH MULAI DIKERJAKAN

OLEH : ALI HABIU


Ketua Umum Lembaga KabaLi Indonesia



Baru-baru ini tepatnya pada hari Rabu, tanggal 27 April 2011Tim dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum telah tiba di kepulauan Wangi-Wangi dengan menupangi pesawat jenis focker dari maskapai Express Air langsung dari Makassar setelah semalam sebelumnya mengingap di hotel sahid Makassar dari perjalanan Jakarta. Tim ini diketuai oleh IR. IFIANTARA SEPTRIMAN NASUTION,M.Eng.Sc SEBAGAI KEPALA SATUA KERJA PENGEMBANGAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN STRATEGIS DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM ditemani oleh 5 orang staf ahli dan 3 orang konsultan perencana, 1 orang konsultan supervisi dan 2 orang Kontraktor, 4 orang staf teknik Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara serta Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi-Indonesia.

Seluruh Tim beserta rombongan langsung menuju Resort Patuno untuk mengingap dan mengatur bahan-bahan untuk presentase Seminar PBL dalam mendukung Sail Wakatobi 2011 ini.
Pada hari Kamis tanggal 28 April 2011 Tim mengadakan acara Seminar di Aula Rapat kantor Bupati kabupaten Wakatobi yang di hadiri oleh para kepala SKPD atau yang mewakili dan dipimpin oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi. Pada hari Jumat tanggal 29 April 2011 mulai jam 11.00 WIT, Tim Konsultasn Supervisi bersama Tim Konsultan Pengawas dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan Revitalisasi kawasan benteng Keraton Liya mulai mengadakan investigasi dan pengukuran lapangan dimana letak lokasi pekerjaan yang akan dikerjakan seperti : 13 buah Pintu Lawa, 1 buah Baruga, 1 buah Lapangan belakang Mesjid Agung Keraton Liya, Jalan setapak Kolektor dari bahan paving blok sepanjang 600 meter melingkar mesjid Agung Keraton Liya, jalan penghubung pemandian Kohondao sepanjang 600 meter dari pahan paving blok dengan pariasi pablic  services, 1 buah Pasenggrahan Pusat Pelatihan Seni Budaya KabaLi Indonesia, dan Jalan setapak kolektor dari bahan paving blok desa Timi sepanjang 300 meter.

Jadual pelaksanaan kegiatan proyek ini hanya diberi waktu selama 90 hari kelender harus sudah selesai sekitar awal minggu pertama Agustus 2011 mendatang. Peralatan kontraktor pelaksanan di Liya sudah nampak seperti terdapat 2 buah Dump Truck, 2 buah Mesin Molen, 1 set Genset dan peralatan lain, sedangkan tenaga kerja sudah full di kontrakkan dalam sebuah rumah didusun Ewulaa Keraton Liya. Jadual ini sesuai dengan skedul Sail Wakatobi sebagaimana data ini : *)

Here is a list of some of the events and activities being planned for Sail Wakatobi 2011:

  • APKASI Seminar
  • Coral Triangle Initiative (CTI) Costal Mayors Roundtable Meeting
  • Aeromodelling Event
  • Youth Movement Beach & Sea Clean Up Events
  • Underwater Photography Competition
  • Naval Voluntary Social Event
  • 1000 Bikes Wakatobi Tour
  • Internatioanl Environmental Film Festival
  • Wakatobi Photo Exhibition
  • Sail Wakatobi-Belitong Opening Ceremony
  • Yacht Rally
  • Official Opening Ceremony for the ‘School for Marine Protected Area Management’
  • Local Arts and Cultural Festival
  • 17th August Independance Day underwater ceremony
  • Underwater Wedding
  • Watersports and Activities Competition

Beberapa pekerjaan yang akan direvitalisasi seperti gambar dibawah ini :

Baruga di Rehab Total dan Lapangan di Timbun+Pagar Batu

Lawa Dibangun 13 buah

Lingga di Pagar Besi

Yoni di Pagar Besi (model ini dirombak)


Pesan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata kabupaten Wakatobi kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia bahwa minta di sampaikan kepada seluruh masyarakat Liya khususnya yang bermukim dalam kawasan Benteng Keraton Liya untuk bersama-sama bahu-membahu secara partisipatif untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan ini sehingga waktu pelaksanaan dapat tercapai sebagaimana yang ditetapkan. Jika pekerjaan Revitalisasi Benteng Keraton Liya ini mendapat resfonsibilitas  baik dari masyarakat maka tahun 2012 akan turun lagi kegiatan lebih besar berupa  :kegiatan : perbaikan seluruh inprastruktur obyek parawisata seperti Uwe Mo'ori, Uwe Kohondao, Uwe Tamba'a, Pembungan 1 buah Pusat Informasi Kebudayaan KabaLI Indonesia, 1 buah Pembangunan Kantor sanggar KabaLi, 1 buah Pembangunan Pusat penelitian dan Pengembangan Sejarah Budaya Liya, jalan setapak kolektor dari paving block sepanjang 2.000 meter, dan fasilitas public services dengan accesorisnya.

Melalui media web blog ini dihimbau kepada siapapun yang meng-update atau meng-brouwser supaya dapat menyebarluaskan informasi ini kepada seluruh masyarakat Liya dimanapun untuk dapat diketahui sebagaimana mestinya. Selamat buat masyarakat Liya.... kini negerimu sudah mulai di jamah oleh sentuhan pembangunan dari pemerintah berkat kerja keras segenap pengurus besar Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia. Jangan lupa marilah kita sama berdoa panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas berkah dan hidayahnya, cita-cita kita semua dapat dipenuhi selangkah ini. amin. "Selamat buat kalian semua" !? Salam perjuangan*****

Sumber :  
http://www.patunoresortwakatobi.com/Sail-Wakatobi-2011.html