KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Jumat, 29 Juli 2011

DATA HASIL PEMETAAN ZONING TAHAP EMPAT BENTENG KERATON LIYA

OLEH : ALI HABIU.



Tim arkiologi dan perbentengan asal Balai Pelestarian Peninggalan Purbakana (BPPP) Makassar sangat intensif dalam melakukan pemetaan zoning dan pendataan teknis Benteng Keraton Liya. Mereka lirik Benteng Keraton Liya ini bukan tidak berasalan, namun sesuai dengan naluri mereka sebagai Tim ahli perbentengan telah melihat tanda tanda awal di lapangan bahwa ternyata prilaku epistemologis Benteng Keraton Liya sangat unik dan sangat beda dengan benteng-benteng lain yang pernah digarap oleh BPPP Makassar. Oleh kerana itu berkat informasi yang diberikan oleh Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia melalui Menteri Kebudayaan dan Parawisata dan Direktur Sejarah dan Purbakala telah mempercayai lembaga teknis perbentengan yakni BPPP Makassar untuk mengadakan kajian-kajian mendalam. Maka mulai bulan Maret 2010 Tim Arkiologis dari BPPP Makassar sebanyak 7 orang mendatangi Benteng Keraton Liya untuk mengadakan survey awal, dan pendataan arkiologis dan pemetaan dasar Benteng lapis ke-1 (zone-1) dan Benteng lapis ke-2 (zone-2) kemudian dilanjutkan pada bulan Mei 2010 berupa pemantapan data awal hasil survey dengan banyak melakukan pendatan informasi sumber dari masyarakat Liya. Pada bulan Maret 2011 kembali Tim mengunjungi Benteng Keraton Liya untuk mengadakan  pemantapan pemetaan zoning, pendataan teknis, pembuatan model sistem Benteng Liya lapis ke-1 (zone-1) dan lapis ke-2 (zone-2) berikut bangunan Baruga, Lawa, Kamali. Hasil analisis pemetaan dan pendataan teknis termasuk model sistemnya kembali di mantapkan oleh Tim BPPP pada minggu ke-2 Juni 2011. 



Pada akhir Juni 2011 BPPP Makassar memberikan laporan  hasil kajian dan analisis Benteng Liya ke Menteri Kebudayaan dan Parawisata dan pada tanggal 4 Juli 2011, Menteri Kebudayaan dan Parawisata menetapkan bahwa Benteng Liya merupakan "Cagar Budaya Dunia.". Pertimbangan atas penetapan ini memiliki alasan, yakni Benteng Liya struktur pasangannya tidak memiliki mortal (kapur+putih telur), namun dengan ketinggian mencapai 3.00 meter konstruksi awet dan tahan lama sampai ratusan tahun, dan kedua : Benteng Liya di lihat dari udara merupakan benteng yang memiliki artifisial seni perbentengan yang unit da indah tak ada di dunia manapun.

 Gambar Tipikal Lawa


Kejadian ini hedaknya seluruh masyarakat Liya dimanapun hendaknya memberikan aplaus setinggi-tingginya sekaligus mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras Tim BPPP Makassar dalam mengangkat status benteng Liya ke dunia internasional. Mudah-mudahan Tim BPPP Makassar pada tahun 2012 dapat kembali menyelesaikan tugasnya untuk mengukur, memetakan dan membuat studi teknis Benteng Liya lapis ke-3 (zone-3) yang diperkirakan memiliki panjang keliling hampir 16 km.
Perkiraan panjang keliling Benteng Liya lapis ke-2 (zone-2) adalah 3,42 Km sedangkan panjang keliling lapis ke-1 (zone-1) ialah 1,075 Km.
Dihimbau kepada semua warga KabaLi dimanapun di Indonesia, ayo mari kita berdoa bersama memohon keridhaan Tuhan YME..., semoga mulai bulan Februari 2012 mendatang Benteng Liya sudah dapat dipugar oleh Kementerian Kebudayaan dan Parawisata melalui BPPP Makassar.****

Rabu, 27 Juli 2011

RAPAT KONSOLIDASI ANTARA LEMBAGA KABALI, LEMBAGA ADAT LIYA, TOKOH MASYARAKAT, TOKOH PEMUDA, UNSUR BPPP, UNSUR DINAS BUDPAR DI BARUGA LIYA

OLEH : ALI HABIU



Pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 tepat jam 16.00 WIB bertempat di Baruga (Pandopo) Keraton Liya diadakah rapat konsolidasi dalam rangka menyatukan visi tentang Pemugaran Benteng Liya tahun anggaran 2011 yang saat ini tengah berlangsung. Pada rapat konsolidasi tersebut dihadiri oleh Ketua Umum (Ir.La Ode Muh.AliHabiu,AMts,M.Si), Sekretaris Umum (Umar Ode Hasani,SP,M.Si) dan Wakil Sekretaris, (La Ode Ali Ahmadi,SS) Bendahara Umum ( La Ode Salagu,SE) Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia, Ketua Badan Pengurus Cabang Lembaga Forum Komunikasi Kabali Kabupaten Wakatobi (Hasan Ndou)beserta jajarannya (La Alidu, La Ode Biru dll), Kepala Desa Liya Togo,  Kepala Desa Liya Bahari, Ketua LSM TNC (Salih Hanan,SP,M.Si), Tokoh Pemuda (La Ode Agu),   Tokoh Masyarakat, Sekretaris, Kepala Bidang Sejarah dan Budaya, Kepala Seksi Destinasi pada Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi. Rapat konsolidasi dibuka oleh Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia dengan mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran para hadirin memenuhi undangan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata kabupaten Wakatobi. 


Dalam pengantar pembukaan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia menyampaikan latar belakang berdirinya Lembaga ini adalah didadasarkan pertimbangan bahwa hampir semua kota-kota besar di Indonesia terdapat suku Liya yang sudah menrantau sekian lama antara lain di Makassar, Jakarta, Surabaya, Tanjung Uban/Pulau Batam, Samarinbda, Balikpapan, Kendari, Bau-Bau, Pasar Wajo, Ambon, Ternate, Maluku, Taliabo, Marauke, Manado dan Wangi-Wangi saat ini telah memiliki SDM yang sangat memadai. Data sementara menunjukkan bahwa dari sejumlah ethnis Liya di seluruh Indonesia terdapat sekitar 330 Sarjana dari berbagai jurusan dan berbagai tingkat. Diantaranya adalah tingkat Doktoral (S-3) = 3 orang, tingkat Magister of Sciences (S-2) = 38 orang, tingkat Sarjana (S-1) = 180 orang dan lebihnya adalah stratifikasi D-3, D-2 dan D-1. Dari potensi SDM tersebut belum ada satupun wadah atau lembaga yang mampu menyatukan aspirasi mereka untuk secara bersama-sama membangun negeri leluhur Benteng Keraton Liya yang dipandang sudah ratusan tahun belum pernah sedikitpun terjamah oleh pembangunan dari hasil sentuhan pemerintah, utamanya tentang Situs Cagar Budaya Benteng Liya, Lawa, aruga, baluara, Mesjid Agung Al Mubaraq, Benteng Pa'Tua sehingga diperlukan terobosan secara sistematias agar pemerintah mau membangun dan peduli akan pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya di daerah tersebut. Maka pada tangal 24 Desember 2009 setelah melalui 3 tahapan rapat formatur, dibentuklah Lembaga Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (baca : KabaLi) Indonesia di Kendari yang kemudian dikukuhkan dalam bentuk Notaris pada tanggal 29 Desember 200. Akte Notaris diterbitkan oleh Ryan Riyadi,SH,.M.Hum Kendari sekaligus menetapkan Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam akter tersebut.



Setelah berdirinya lembaga ini, pengurus pusat secara intensif mengadakan surat-menyurat kepada Bapak Presiden, Menteri Kebudayaan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Perindustrian, Ketua Bappenas untuk mengajak perhatian mereka agar Benteng Liya dapat di lestarikan peninggalan purbakalanya. Dan alhamdulillah dengan hanya waktu 3 bulan mampu mendatangkan Tim Arkiologis dari BPPP Makassar sebanyak 7 orang untuk turun ke Liya adakan survey dan pemetaan Benteng Liya tahap I berlangsung Maret 2010 dan Tahap ke II Mei 2010, Tahap III Maret 2011 dan Tahap ke IV Juni 2011. Pada tanggal 4 Juli 2011 Menteri Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Benteng Liya sebagai Cagar Budaya Dunia. Ada 2 alasan yang melatarbelakangi keputusan ini yakni Benteng Liya struktur bentengnya tidak memiliki pasangan mortal dan benteng Liya dari segi artifisial perbentengan terindah di dunia.
Pembangunan Penataan Bangunan dan Lingkungan (PPBL) Strategis Benteng Liya adalah Proyek asal Kementerian Pekerjaan Umum dalam rangka mensukseskan Kegiatan Sail Wakatobi Belitung (SWB)  2011 yang dengan sengaja diminta oleh Ketua Umum Lembaga Forum Komun ikasi KabaLi Indonesia agar sisa dana yang tidak terserap di wilayah lain di masukkan ke Liya. Masuknya kegiatan PPBL ke Liya atas usulan Ketua Umum melalui 3 tahapan survei yakni dilakukan pada bulan Februsrai 2011, Maret 2011 dan terakhir April 2011. Adapun sosialisasi kegiatan ini sudah dilakukan langsung ke masyarakat melalui tahapan-tahapan survei tsb. Jadi sangat keliru jika ada komponen masyarakat yang mengklaim bahwa tidak pernah terjadi sosialisasi dan tidak mengetuk pintu masuk rumah. Semua proses pemasukan proyek termasuk kegiatan lapangan dalam rangka pendataan diketahui secara penuh oleh Sekretaris Lembaga Adat Liya (H.La Ode Basir,SE), Tokoh Adat Lokal, Tokoh Masyarakat Lokal, Sara Mesjid Agung Al Mubaraq dan secara umum setelah melalui suatu proses konsultasi dan evaluasi menyetujui  akan adanya kegiatan Perataan Lapangan Belakang Mesjid Al Mubaraq, Pembangunan 12 buah Pintu Lawa, pembangunan 1 buah Baruga dan Pembangunan 1 buah Pasangrahan Pusat pelatihan Seni Budaya Kabali dan berbagai akses road dalam kawasan Benteng Liya.  Hanya saja kami juga mengakui bahwa pada tanggal 18 April 2011 mestinya diadakan sosialisasi pembangunan Revitalisasi Benteng Liya kepada semua elemen/komonen masyarakat Liya, namun berhubung karena kondoso cuaca tidak mengizinkan selama itu hujan turun terus-menerus maka kami dengan sangat menyesal tak dapat melakukan sosialisasi dan 4 hari lamanya keberadaan kami di Liya terpaksa kembali ke Kendari.  Begitu pula H. La Ode Basir selaku sekretaris Lembaga Adat Liya juga sangat sibuk dengan pekerjaan sebagai pengawas penerbangan di Matahora sehingga juga tak sempat lakukan sosialisasi dengan semua perangkat Adat atas adanya rencana Revitalisasi Benteng Liya. Setiap kegiatan bahkan para tamu Tim PPBL dari Kendari dan Jakarta yang mendarat di pelabuhan udara Matahora disambut oleh Beliau dan sekaligus kami perkenalkan Tim tersebut berikut tujuannya ke Liya. Oleh karena itu kiranya tak perlu lagi kita menyalahkan siapapun namun marilah kita semua memandang ke depan dengan kerja sama semua elemen masyarakat untuk bersama-sama kita bangun negeri kita Liya. Siapapun warga Liya adalah anggota Kabali mempunyai hak dan kewaajiban yang sama dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Liya.




Sebagai penutup pengantar, Ketua Umum meminta kepada semua elemen, semua komponen masyarakat, pemuda, tokoh adat untuk bersama-sama dengan Kabali membangun dan melestarikan Situs Cagar Budaya Benteng Keraton Liya. Jika ada diantara kita yang mampu secara sosial ekonomi dan mempunyai pigur yang berpengaruh di masyarakat, kami ajak marilah membangun negeri kita dengan menyumbangkan apapun yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Liya. Semua elemen dan komponen masyarakat akan mendukung kegiatan apapun yang bermanfaat bagi rakyat kita.


Dalam diskusi pada acara konsolidasi tersebut cukup berjalan alot dan khidmat dimulai dari sekretaris Lembaga Adat Liya yang intinya memberikan apresiasi terhadap segala usaha Lembaga KabaLi sehingga bisa memasukkan kegiatan PPBL sekaligus mengkritik bahwa sayang tidak melalui ketuk pintu tiba-tiba kegiatan sudah ada. Dia juga telah melapor resmi ke Polisi untuk meminta Polisi menghentian pekerjaan jika ada tanda-tanda merusak situs cagar budaya. Kami menanggapi kritikan ini dengan senang hati sebab ternyata kita semua sangat peduli terhadap keselamatan situs cagar budaya kita. Hanya saja mungkin maksudnya baik namun prosedur yang di tempu keliru. Mestinya laporan Lembaga Adat Liya di tujukan kepada Bupati Wakatobi sebagai penanggungjawab pakerjaan ini atau langsung ke Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Kabupaten Wakatobi sebagai pemilik kegiatan PPBL ini. Di lapangan memang kita tak temui papan proyek serta direksi keet kontraktor pelaksana. Hal ini disebabkan karena kegiatan PPBL Benteng Liya merupakan salah satu item dari keseluruhan pekerjaan di wilayah Wakatobi sehingga papan nama proyek menurut laporan dari asisten teknik PPK PPBL Benteng Liya yang sempat kami temui mengatakan bahwa papan tsb terdapat di Waha karena di pantai Waha ada juga pekerjaan Public Service di sepanjang pantainya. Lain halnya dengan Salih Hanan,SP.,M.Si mempermasalahkan perubahan lapangan alun-alun belakang mesjid agung keraton Liya dengan memberikan ilustrasi bahwa sejak zaman Yaro Liya La Ode taru tak pernah dirubah model lapangan tsb. Dan sebagai jawabnya telah dijelaskan oleh Umar Ode Hasani,SP,M.Si bahwa menurut pendataan sementara Lembaga Kabali bahwa di Liya terdapat 18 orang Raja dan semua Raja-raja yang pernah berkuasa di Liya bahkan sampai neneknya yang lebih duluan berkuasa dari La Ode Taru tak pernah mempermasalahkan lapangan alun-alun ini. Lembaga Kabali membenahi alun-alun belakang mesjid Al Mubaraq Liya dengan atas pertimbangan kemauan masyarakat dan pertimbangan bagi peningkiatan ekonomi masyarakat. Dasar pertimbangan ini di atur dalam Pragraf Revitalisasi yakni Pasal 80 s/d Pasal 83 Undang-Undang Nomor : 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam rangka pengembangan ekonomi kerakyatan masa akan datang Lembaga KabaLi telah mengatur sedemikian rupa agar alun-alun belakang mesjid tsb dapat digunakan sebagai sarana konteksi Peragaan Seni Budaya Tradisional asli Liya. Kawasan Liya Raya dalam waktu dekat sudah akan menjadi Desa Wisata Budaya Nasional sehingga perlu ada potensi sumber daya yang dimiliki yang bisa kita jual dan menghasilkan ekonomi. Potensi tersebut adalah Seni Budaya Tradisional kita. 




Para Turis baik lokal maupun manca negara yang akan saksikan peragaan seni budaya tsb terlebih dahulu memesan peket-peket yang akan disediakan dengan nilai tertentu yang mendapat persetujuan dari Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi. Pagar pembatas antara jalan dengan lapangan merupakan area penonton yang terdiri dari para turis tsb dan tidak boleh masuk dalam ruang lapangan supaya acara pentas seni budaya bisa berjalan tertib dan lancar. Turis dalam menonton peragaan seni budaya khususnya Posepa'a tentu harus merasa aman dengan demikian pagar batas tersebut merupakan area local saving bagi mereka. Dengan demikian merekapun mengeluarkan kocenya tak hitung-hitung berapa banyak jika mereka merasa aman dan senang terhadap sesuatu yang kita tampilkan. Persoalan tanah top soil yang merupakan lapis terakhir sebelum penanaman rumput adalah sudah cukup baik sebab tanah top soil (tanah hitam) adalah merupakan humus bukan tanah soft clay sehingga tak perlu diragukan plastisitasnya jika terkena hujan.

(bersambung...........................................)

Kamis, 21 Juli 2011

PENGURUS KABALI PUSAT IKUT TIM ORARI SULTRA DALAM TUMPANGAN KRI KE WANGI-WANGI

OLEH : ALI HABIU



Sesuai dengan surat tugas Nomor :  S-47/OD-ST/VII/2011 tanggal 14 Juli 2011 yang ditandatangani oleh Ketua Daerah ORARI sultra DRS. H. Mansyur Masie Abunawas,M.Si memberikan tugas kepada La Ode Ali Ahmadi,SS selaku wakil sekretaris ORARI Daerah Sultra dan anggota rombongan Ir.L.M. Ali Habiu dan Umar Ode Hasani,M.SI menumpang di Kapal Perang KRI Makassar 590 menuju wangi-wangi pada hari Jumat sore jam 16.00 tanggal 15 Juli 2011 dalam rangka Sail Wakatobi 2011. Adapun tujuan ke wangi-wangi disamping turut berpartisipasi mensukseskan Sail Wakatobi-Belitung (SWB) 2011 juga sekaligus menghadiri Rapat Koordinasi antar masyarakat, kepala desa dan tokoh adat, tokoh pemuda dalam mensukseskan pembangunan Revitalusasi benteng Liya 2011 berlangsung di Baruga alun-alun benteng Liya.

Dalam rombongan di KRI Makassar  590 tersebut tedapat Bendahara Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonedia yakni La Ode Salagu,SE yang ikut rombongan para Kepala SKPD Tingkat Sulawesi Tenggara, Para wartawan baik elektronik maupun media cetak naik dari pelabuhan Kendari sekitar 300 personil. Di atas kapal sudah ada sejumlah pemuda.pelajar dan mahasiswa sebanyak hampir 260 orang yang terdiri dari perwakilan-perwakilan sekolah/kampus dan pemuda seluruh Indonesia. Dalam perjalanan KRI Makassar 590 di temani KRI  Dr.Suharso 990 yang membawa personil tempur TNI Angkatan Laut juga personil para dokter ahli sejumlah 80 orang dalam rangka pelaksanaan pengobatan gratis di wangi-wangi, bau-bau dan daerah lainnya.  Baik KRI Makassar 590 dan KRI Dr.Suharso 990 sebelum merapat di pelabuhan Kendari mereka sudah menempuh perjalanan selama 2 minggu mulai dari pangkalan angkatan laut makassar menuju surabaya, jakarta guna mengangkut para pemuda/pelajar dan mahasiswa juga paramedia/dokter. Di dalam perjalanan Kendari menuju Wangi-wangi ditempuh selama 14 Jam lamanya. Hal ini sengaja dilakukan karena di atas Kapal KRI Makassar 590 banyak sekali acara dilakukan khususnya bagi para pemuda/pelajar dan mahasiswa.  Sebelum KRI Makassar 590 merapat di pelabuhan Mandati Wangi wangi terlebih dahulu memutar-mutar diperairan wanci selama hampir sejam sambil di hibur dengan alunan suara musik marching band dan para penarinya.












Pada acara rapat pertemuan yang berlangsung pada hari sabtu tanggal 16 Juli 2011 jam 13.00 WIT tersebut telah dikemukakan beberapa hal penting diantaranya menyangkut pembangunan revitalisasi pintu Lawa diminta semua pasangan dinding penyangga harus dapat dipertahankan keasliannya agar nilai-nilai historikal arkiologis dan situsnya tidak punah akibat kesalahan dalam pembangunan tersebut. Selain itu juga dipersoalkan masalah revitalisasi alun-alun belakang mesjid Al Mubaraq menurut sebagian aspirasi masyarakat bahwa lapangan tersebut semakin sempit khususnya pada acara atraksi posepaa. Ketua Umum Badan Pengurus Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia menjelaskan secara mendetail maksud di revitalisasi alun-alun dan batasan dinding pagar samping jalan aspal yang saat ini dibangun. Dinding pagar pembatas tepi jalan aspal yang dibangun saat ini adalah berfungsi untuk menahan timbunan alun-alun agar tidak luruh/longsonr diwaktu musim penghujan dan dinding pagar tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menutupi badan jalan yang sudah terlanjur dibangun oleh pemerintah. Jika dinding alun-alun dibangun di luar badan jalan aspal maka masyarakat akan marah khususnya bagi pengguna jalan yang selama ini telah marasakan manfaatnya, maka dari itu kepala satuan kerja PPBL strategis nasional juga tidak menyetujui jika dinding alun alun dibangun menutupi jalan yang sudah ada. Namun demikian untuk dinding alun-alun yang saat ini telah dibangun berdampingan dengan dinding/tondo pagar kuburan sepanjang mulai tepi mesjid menuju ke baruga harus dibongkar karena tidak sesuai dengan kesepakatan pembicaraan sebelumnya. Hal ini juga telah diinstruksikan oleh petugas teknik perbentengan dari perwakilan BPPP makassar untuk segera pemborong membongkarnya dengan alasan menutupi situs dinding yang telah ada. Masalah revitalisasi Lawa termasuk dinding penyangganya sepanjang belum ada persetujuan gambar dari BPPP makassar atau sepanjang BPPP Makassar belum memberikan gambar kerja kepada kontraktor maka semua sepakat untuk pembangunan di tolak. 

Pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2011 pagi jam 09.00 Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia didampingi oleh ketua cabang wakatobi dan sekretaris umum serta unsur teknis dari BPPP Makassar sepakat telah menolak revitalisasi dinding Lawa dengan alasan telah ditemukan dilapangan para mandor/pekerja yang telah menangani pembangunan dinding penyangga Lawa tersebut banyak situs lama yang di rusak dan pasangan kurang memenuhi syarat. Hal ini bisa terjadi dikarenakan para pekerja kurang memiliki skill dalam pemasangan benteng disamping gambar kerja belum diterbitkan dari BPPP Makassar. Kecuali pihak kontraktor benar-benar mau bertanggungjawab atas keselamatan situs cagar budaya dinding Lawa dengan mengikuti semua petunjuk teknis pelaksanaan dari unsur BPPP Makassar yang ada di lapangan, maka bisa saja pekerjaan berlanjut sesuai kontrak.

Dalam kesimpulan hasil rapat koordinasi tersebut, Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia meminta kepada semua elemen masyarakat baik kelompok maupun perorangan agar jika memiliki kemampuan finansil atau kemampuan lain harap membawa program kerjanya dan membangun Liya dengan  secara bersama-sama melakukan kerja sama sehingga pembangunannya realistik dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dikemudan hari. Juga disimpulkan bahwa semua masyarakat Liya adalah anggota KabaLi memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mengawal dan mengamankan pelestarian dan pengembangan kebudayaan Liya saat ini dan masa-masa akan datang *****

Selasa, 19 Juli 2011

KETUA UMUM LEMBAGA FORUM KOMUNIKASI KABALI INDONESIA TELAH KUKUHKAN PENGURUS KABALI SEKALIGUS MENGRESMIKAN SEMUA KANTOR KABALI WAKATOBI

OLEH : ALI HABIU



Pada hari minggu malam tanggal 17 Juli 2011 tepat jam 20.00 WIT, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia secara simbolis mengukuhkan masing-masing : Badan Pengurus Cabang Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Kabupaten Wakatobi, Pengurus Pusat Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia dan Pengurus Padepokan Pusat Pelatihan Seni Budaya KabaLi Indonesia serta dirangkaikan pengresmian kantor sekretariat Badan Pengurus Cabang Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia, Kantor Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia dan Padepokan Pusat Pelatihan Seni Budaya KabaLi Indonesia. Dalam acara pengukuhan ini telah dihadiri perwakilan masing-masing unsur yang kompoten dan acara berjalan dengan sederhana dan khidmat.

 Sebelum acara pengukuhan dan pengresmian tersebut sore harinya mulai jam 16.00 telah disajikan 2 buah tarian tradisional asli Liya yakni Lariangi Kareke dan Honari Samba. Kedua tarian ini sebagai tarian penghormatan atas akan dikukuhkannya semua pengurus KabaLi Kabupaten Wakatobi yang dirangkai dengan pengresmian kantor-kantor KabaLi Wakatobi di Liya. Dalam acara persembahan 2 buah tarian ini, sangat menarik simpatisan warga Liya di sekitar lokasi kantor yang terletak sebelah mesjid dusun Bira - Liya Mawi dan secara kebetulan turut di hadiri oleh 2 orang crew anggota kebudayaan nusantara dari TVRI nasional sekaligus mereka mengadakan shooting di acara pentas tarian tersebut. Rencana hasil shooting akan diputar secara nasional oleh stasiun TVRI jakarta pada tanggal 24 Agustus 2011 pada acara budaya nusantara sore harinya.

Diharapkan dengan dikukuhkannya pengurus dan telah diresmikannya kantor-kantor tersebut semua anggota dapat mulai melakukan program kerja dan kegiatan-kegiatan secara rutin dan berkala yang bermanfaat sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pengembangan kebudayaan Liya di masa-masa akan datang.
Pada kesempatan itu Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia juga memesankan kepada para pengurus cabang agar mulai saat ini dapat segera membentuk devisi pernaskahan dan pengembangan sejarah Liya dengan melibatkan stakeholder dari para guru-guru sejarah di tingkat SLTP dan SLTA se Liya besar. Anak-anak sekolah diberi muataan lokal pendalaman sejarah Liya dengan berbagai lokus studi kemudian mendiskusikan secara kelompok dan secara berkala minimal sebulan sekali. 

 Hasil dari pada rumusan diskusi akan dijadikan konsep pernaskahan sejarah budaya Liya, mengingat potensi pernaskahan sejarah budaya Liya saat ini telah musnah akibat dari hangusnya semua naskah sejarah Liya ketika gerombolan bersenjata tahun 1957 mengambil dan membakarnya tanpa kecuali. Naskah-naskah sejarah ini baik sumber dari sekolah atas hasil studi anak-anak sekolah maupun dari berbagai  resfonden akan dibukukan menjadi naskah sejarah Liya untuk selanjutnya di simposiumkan dan diteliti secara ilmiah sebelum dibukukan menjadi sejarah Liya seutuhnya. 

Demikian pula di ruang kantor sekretariat Badan Pengurus  Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia Cabang Wakatobi akan dimanfaatkan sebagai sarana diskusi budaya dan tradisi sehingga semua anggota pengurus dapat mengetahui secara bertahap akan aneka ragam adat istiadat, tradisi dan budaya Liya untuk selanjutnya menjadi perkuatan dalam menyambut desa Liya raya sebagai Desa Wisata Budaya nasional ditahun tahun mendatang.
Untuk itu sangat diharapkan partisipasi seluruh masyarakat Liya untuk dapat mengambil bagian dalam kegiatan Kabali sekaligus dapat memberikan konstribusi naskah berbagai lokus adat istiadat, tradisi dan budaya sehingga semakin mempercepat proses pernaskahan sejarah budaya Liya dalam waktu dekat ini.

Tak lupa disampaikan pula  bahwa seluruh masyarakat liya dimanapun tanpa kecuali adalah warga KabaLi dan memiliki hak yang sama sebagai anggota Kabali dalam pengembangan organisasi Kabali guna menyongsong kemajuan negeri  Liya dimasa masa akan datang ****

Senin, 18 Juli 2011

APRESIASI ATAS KEPEDULIAN MASYARAKAT LIYA DALAM PENGAWASAN PEMBANGUNAN LAWA

OLEH : ALI HABIU



Segenap Pengurus Besar dan Pengurus Cabang Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia memberikan apresiasi yang besar atas adanya dukungan dan kepedulian segenap masyarakat Liya Raya dalam turut serta dalam pengawasan Pembangunan Penataan Bangunan dan Lingkungan (PPBL) dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia yang pembangunannya saat ini sedang berlangsung sesuai Kontrak Nomor : KU.08.08/PPBL-S/V/2011/041, Tanggal 31 Mei 2011 yang dilaksanakan oleh PT. Perisai Tunggal Kendari.

Berdasarkan hasil investigasi dan pemeriksaan langsung di lapangan yang dilakukan langsung oleh Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dalam kapasitas sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan, Mediasi dan Arbitrase Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Provinsi Sulawesi Tenggara pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2011 09.00 WIB telah diketemukan di lapangan adanya kesalahan dalam menyusun struktur batuan benteng Lawa  yang dilakukan oleh pelaksana Kontrak. Kesalahan ini terjadi pada bangunan benteng penyangga Lawa yang masih sebagian utuh mestinya batuan aslinya tidak dirobohkan, namun cukup di beri batuan tambahan disisinya dan dikuatkan dengan perekat sehingga nilai keaslian situs pada bangunan ini tidak musnah atau hilang. Selain itu gambar shop drawing yang menjadi acuan kontraktor dalam pekerjaan bangunan Lawa tersebut juga belum diterbitkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar sehingga pekerjaan tidak legitimat secara hukum perbentengan.







Sehubungan dengan kejadian tersebut Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia yang ditemani oleh Sekretaris Umum dan Ketua Cabang Lembaga Forum Komunikasi Kabali Kabupaten Wakatobi langsung menanyakan kepada petugas khusus pengawasan perbentengan yang sengaja didatangkan dari BPPP Makassar dan BPPP Pembantu Bau-bau yang juga saat itu ada di lokasi pekerjaan tersebut dan ternyata kedua petugas tersebut mengeluh kesah kepada kami atas tidak diindahkannya semua instruksi dan petunjuk yang diarahkan dan diperintahkan kepada pelaksana Kontrak pembangunan PBL benteng Lawa. Hal ini juga disebabkan karena Para Pengawas Pekerjaan baik dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara dari Bidang Cipta Karya sebanyak 2 orang yang telah ditunjuk dan Pengawas dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wakatobi yakni saudara La Ode Radiun,ST (putra asli Liya) yang telah ditunjuk semuanya tidak pernah aktif di lapangan untuk mengawasi pekerjaan Pembangunan PBL Benteng Lawa ini.

Berdasarkan pertimbangan tersebut Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia seketika itu langsung menelpon Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi yang saat itu masih di Jakarta untuk segera menghubungi Kepala BPPP Makassar untuk menghentikan pekerjaan Pembangunan PBL Benteng Lawa karena saat ini struktur pekerjaan telah merusak nilai-nilai situs cagar budaya benteng Liya  sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor : 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Kepala BPPP Makassar diminta untuk segera mengirim surat kepada Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menghentikan pekerjaan tersebut dan mengusulkan agar sisa alokasi dana yang tidak jadi diserap dialihkan ke pekerjaan pembuatan akses road kawasan benteng Liya. Sementara pekerjaan yang sudah ada akan disempurnakan oleh BPPP Makassar mulai bulan Februsri 2011 melalui paket Pemugaran Benteng Liya 2012 oleh Kementerian Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia.
 
Hal demikian ini juga bisa terlaksana berkat adanya kepedulian masyarakat Liya Raya dalam memberikan konstribusi informasi sehubungan dengan kepedulian mereka dalam mempertahankan nilai-nilai keaslian situs cagar budaya Benteng Liya.****

Sabtu, 09 Juli 2011

UNDP SEGERA MEMBANGUN SEKOLAH PERIKANAN INTERNASIONAL DI KAWASAN MATAHORA/LAGIAMPA TANAH MILIK SARA LIYA

OLEH : ALI HABIU




Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya tak lupa kita semua warga Liya ucapkan kehadirat Tuhan YME atas perkenannya maka Badan PBB untuk pembangunan (UNDP) menyediakan dana untuk pembangunan sekolah perikanan pertama di kawasan Asia senilai Rp100 miliar, yakni Sekolah Perikanan Internasional di Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara.

"Pembangunan Sekolah Perikanan Internasional (SPI) di Wakatobi yang peletakan batu pertama akan dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Fadel Mohammad itu sepenuhnya dibiayai oleh "UNDP," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Wakatobi, Hajiu, melalui telepon ke media Kendari Pos dari Wakatobi, Jumat (8/7).

Menurut Hajiu, kewajiban Pemerintah Kabupaten Wakatobi terhadap pendirian sekolah tersebut hanya menyediakan lahan untuk lokasi kampus seluas 100 hektare. 

 Tanah Milik Hak Ulayat Adat Sara Liya
Matahora / Lagiampa

Tahap awal pembangunan gedung sekolah tersebut, kata dia, Pemerintah Wakatobi telah menyediakan lahan seluas 50 hektare di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan. 

"Di dalam kawasan seluas 50 hektare tahap pertama itu, selain dibangun gedung perkuliahan, juga didirikan asrama bagi para mahasiswa yang akan kuliah di sekolah tersebut," katanya.

Selain itu, kata dia, di dalam kawasan itu juga akan dibangun rumah-rumah ibadah seperti masjid dan gereja.

"Fasilitas rumah-rumah ibadah disediakan di dalam kawasan itu karena para mahasiswa dan tenaga pengajar di sekolah itu datang dari berbagai negara, terutama dari enam negara di kawasan Pusat Segi tiga terumbu karang dunia," katanya.

Menurut Hajiu, para mahasiswa yang masuk di sekolah itu akan melalui seleksi yang sangat ketat, terutama menyangkut kemampuan akademik untuk bisa menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut.

Hal itu dilakukan, kata dia, dikarenakan seluruh biaya selama mengikuti pendidikan di sekolah itu, ditanggung oleh negara asal mahasiswa masing-masing.

"Pokoknya, para mahasiswa yang diterima kuliah di sekolah itu, tugasnya hanya belajar dan belajar sehingga mampu menguasai dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki, terutama pengetahuan tentang konservasi terumbu karang"
Mudah-mudahan pemerintah daerah Wakatobi dapat memberikan prioritas bagi pelajar-pelajar asal Liya Raya yang terbaik untuk dapat masuk mengikuti pendidikan di Sekolah Perikanan Internasional tersebut sekaligus memberikan bea siswa sampai menamatkan pendidikannya sebagai imbalan atas dipakainya tanah adat milik Sara Liya tempat Sekolah Perikanan Internasional tersebut didirikan.
Sehubungan dengan pembangunan Sekolah Perikanan Internasional yang akan dibangun di tanah milik ulayat adat Sara Liya maka sebaiknya pemerintah wakatobi segera menghubungi Lembaga Adat Liya untuk membicarakan hal ini supaya sama-sama enak mengingat tanah ulayat adat di lindungi oleh Undang-Undang atas kepemilikannya, sehingga kedepan tidak terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan bersama. ****

 

Senin, 04 Juli 2011

MOHON KEIHLASAN DAN DOA MASYARAKAT LIYA RAYA DAN KELUARGA BESAR DI BUTON UNTUK SEBUAH KEAJAIBAN....

OLEH : ALI HABIU


Sehubungan dengan pelestarian dan pengembangan Kebudayaan Liya yang kini sedang gencar dikumandangkan oleh Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia baik kepada pemerintah pusat maupun kepada dunia internasional, maka sangat diharapkan dan diminta dukungan penuh semua elemen dn komponen masyarakat Liya Raya dan keluarga besar di Buton untuk dapat merapatkan barisan bersatu padu dalam barisan Topoangkatako, Toposaileama, Toponamisi dan Toposaasa untuk kita bangkitkan secara bersama-sama kebudayaan leluhur kita yang sudah ratusan tahun bahkan ribuan tahun terpendam  dalam tanah karamah dalam kawasan benteng keraton Liya. Hal demikian ini didasarkan falsafah perjuangan Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia yakni "Topogau Satotono" yang mana segenap pengurus besar dan pengurus cabang lembaga ini sampai hari ini benar-benar kerja keras memacu waktu tanpa pamrih dan tanpa dukungan dana sepeserpun, namun karena didasari oleh niat yang suci dan hati yang bersih semata-mata ingin negerinya bangkit dan maju maka mereka semua bekerja dan berusaha keras untuk bangkitnya sebuah peradaban baru asal negeri leluhurnya Liya . Peradaban ini  postulat diperkirakan sudah mulai pertengahan abad ke IX  di pulau Oroho dan pada  abad ke XII datanglah rombongan yang dibawah oleh keturunan Wangsa Rajasa dari Kerajaan Singosari dengan  Raja pertamanya bernama Mahisa Cempaka.

Keajaiban-keajaiban  yang tak henti-hentinya kita mensyukuri dan menantikan sambil berusaha untuk meraihnya melalui kerja keras dan  pengharapan DOA dan RESTU Tuhan YME adalah sebagai berikut :
  1. Pemetaan Zoning dan Studi Teknis Benteng Keraton Liya untuk Lapis pertama dan lapis ke dua telah selesai minggu ke dua Juni 2011 dan selanjutnya mulai tahun 2012 Benteng Keraton Liya sudah akan mulai di pugar oleh Kementerian Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia.
  2. Revitalisasi Benteng Keraton Liya tahap pertama sudah dimulai sejak tanggal 30 Mei 2011 dan diperkirakan selesai September 2011 oleh Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia melalui Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktur Jenderal Cipta Karya,
  3. Menteri Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia telah menetapkan bahwa Benteng Liya sebagai "Cagar Budaya Dunia" awal Juli 2011.
  4. Dalam persiapan dimana Desa Liya Raya akan menjadi Desa Wisata Budaya Nasional tahun 2012
  5. Penelitian Ilmiah melibatkan konsultan ahli dari berbagai disiplin dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada tentang "Moksa Gajah Mada" di pulau Simpora/Oroho kawasan Benteng Keraton Liya mulai tahun 2012
  6. Rencana akhir tahun 2012 akan didirikan Radio Amatir "Radio Kabali pro FM" pusat di keraton Liya untuk memberitakan kabar-kabar seputar pengembangan sejarah, budaya dan kebudayaan Liya.
  7. Lain-Lain yang belum disebutkan sehubungan kerjasama internasional khususnya dengan negeri Belanda.
Semoga segala usaha bersama ini disertai doa dan dukungan masyarakat luas Liya Raya dimanapun berada serta keluarga besar di Buton insya allah dapat berjalan lancar tak ada satupun aral melintang. Oleh karena itu marilah kita selalu sisipkan waktu untuk panjatkan doa keharibaan Tuhan YME semoga segala usaha ini bisa berjalan lancar, aman, tertib, bermartabat  dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Liya Raya dan Masyarakat Wakatobi pada umumnya dimasa-masa akan datang. Sekaligus sebagai stumulan bagi terbukanya pintu awal (pintu ghaib) untuk kebangkitan pusat dunia negeri "butuni mautil jam'ah" dalam waktu yang tidak begitu lama. insya allah...!
Bagi saudara-saudara saya warga Liya dimanapun kiranya marilah bergabung bersama KabaLi sebab KabaLi muncul karena milik kita semua tanpa kecuali. Dengan demikian bagi saudara-saudara kita yang saat ini kebetulan lagi baik posisinya, lagi mendapat rezeki yang lebih dari yang lain...., kami himbau marilah tanamkan amal jahiriahnya dengan turut menyumbangkan pemikiran baik material maupun spritual untuk sumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan negeri Liya . Jangan hanya tinggal diam kebingungan sebab anda memiliki kesempatan yang berharga untuk membuat suatu perubahan sosial ekonomi yang bermartabat bagi kebaikan saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Kami sangat bangga dan menaruh rasa hormat yang tinggi jika ada diantara kita yang mampu memberikan nilai lebih bagi suatu perubahan esensial dalam rangka peningkatan ekonomi kerakyatan di kawasan benteng keraton Liya. Janganlah kita menjadi penghalang bagi kemajuan negeri sebagaimana yang disebutkan oleh Jhon Haris dalam bukunya "The Local Politics of Democration (2005)"  mengatakan bahwa setelah paruh dasawarsa demokratisasi dan desentralisasi di Indonesia, muncul kesepakatan para ahli dan sejumlah pengamat bahwa "elite politik" lokal menjadi penghalang utama bagi perbaikan ekonomi, politik dan sosial di Indonesia. Semoga kita semua bukan bagian dari elite politik di maksud.!?****

Sabtu, 02 Juli 2011

BENTENG LIYA TOGO, CAGAR BUDAYA DUNIA



OLEH : Jodhi Yudono | Sabtu, 2 Juli 2011 | 15:35 WIB
Dibaca: 1332



1
KENDARI, KOMPAS.com--Benteng Liya Togo yang terletak di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, akan ditetapkan jadi Cagar Budaya Dunia oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) RI.


"Saat ini Benteng Liya Togo dalam proses pemugaran dengan menggunakan dana dari  Kemenpu senilai Rp1,5 miliar," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi, Tawakal di Kendari, Jumat.

Menurut Tawakal, Kemenbudpar menjadikan Benteng Liya Togo sebagai Cagar Budaya Dunia, karena memiliki keunikan yang sulit dijumpai di belahan dunia mana pun.
Konstruksi benteng yang tersusun atas batu-batu tanpa menggunakan perekat semen, kata dia, merupakan keunikan tersendiri dari benteng peninggalan Kesultanan Buton itu.

"Konstruksi benteng Liya Togo, mirip dengan bangunan Benteng Keraton Buton yang ada di Kota Baubau, karena memang daerah Wakatobi pernah menjadi wilayah admistrasi kekuasaan Kesultanan Buton," katanya.

Menurut Tawakal, Benteng Liya Togo yang tersusun dari batu-batu itu dibangun di atas lahan seluas 30 hektare lebih.

Di dalam benteng itu terdapat masjid tua yang diberi nama Masjid Liya Togo. "Konon, masjid di dalam benteng itu menjadi pusat penyebaran Agama Islam pertama di kepulauan Tukang Besi (sekarang Wakatobi-red) dan sekitarnya," katanya.

Tawakal mengatakan pekerjaan pemugaran benteng tersebut direncanakan selesai sebelum acara puncak pembukaan kegiatan Sail Wakatobi Belitong di Pantai Desa Sombu, Kecamatan Wangi-wangi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Mendahului penetapan itu, akan digelar Seminar Internasional tentang tradisi lisan yang rencananya dipusatkan di Liya Togo," katanya.

Menyambut pembukaan Sail Wakatobi Belitong kata Tawakal pihaknya juga mempersiapkan berbagai atraksi budaya daerah Wakatobi seperti Kabuenga, Karia, Bangka Mbule-mbule dan sejumlah tarian tradisional setempat.

"Tradisi Kabuenga (ajang muda mudi mencari jodoh), Karia (cara mengislamkan perempuan Wakatobi) dan Bangka (Mbule-mbule (melarung sesajen di tengah laut) sudah masuk dalam kalender Pariwisata Nasional yang digelar setiap bulan Agustus," katanya.****

Sumber : ANT Share9
http://www.antaranews.com/berita/265588/benteng-liya-togo-jadi-cagar-budaya-dunia 

CATATAN REDAKSI DARI LEMBAGA FORKOM KABALI INDONESIA
Benteng Keraton Liya Togo sampai saat ini belum bisa ditetapkan sebagai bagian dari Benteng Keraton Buton di Bau-Bau mengingat dari hasil data lapangan ditemui bahwa hampir semua pasangan Benteng Liya Togo tidak memiliki mortal sebagaimana yang terdapat pada Benteng Keraton Buton. Sehingga postulat peradaban struktur Benteng Keraton Liya jauh lebih tua dari peradaban struktur Benteng Keraton Buton. Benteng Keraton Buton dibangun di zaman Portugis masuk ke nusantara sekitar abad ke XV sedangkan Benteng Keraton Liya di perkirakan dibangun pertengahan abad ke XII oleh keturunan Wangsa Rajasa dari Kerajaan Singosari. Oleh kerena itu selama belum dilakukan penelitian secara seksama sebaiknya para pejabat yang berwewenang tidak boleh mengeluarkan statemen yang bertentangan dengan nilai-nilai ilmiah klasik yang kelak semakin mengkaburkan nilai-nilai peradaban yang saat ini sementara diperjuangkan oleh Devisi Pernaskahan dan Pengembangan Sejarah pada Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia.
 

Minggu, 19 Juni 2011

GEDUNG PADEPOKAN PUSAT PELATIHAN SANGGAR SENI BUDAYA KABALI INDONESIA DALAM TAHAP PERAMPUNGAN

OLEH : ALI HABIU


Akhirnya berkat kerja keras semua pihak baik Kontraktor, Konsultan maupun Masyarakat dalam lingkup Benteng Keraton Liya, maka membuahkan hasil gemilang yakni Gedung Padepokan Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia sudah dalam tahap perampunga. Gedung Padepokan ini dibangun diatas lahan seluas 20 x 30 m2 diatas sebuah perbukitan sebelah kanan arah wisata pemandian Kohondao dengan luas bangunan 8 x 14 m2 yang diharapkan setelah selesai dengan baik akan digunakan secara full time sebagai sarana pusat pelatihan Seni Budaya Tradisional Liya dalam rangka memperkuat pelestarian dan pengembangan kebudayaan Liya menyongsong akan ditetapkannya Desa Liya dalam Kawasan benteng keraton Liya sebagai Desa Wisata Budaya Nasional. 



Salah satu potensi Benteng Keraton Liya untuk menjadi lokus Wisata Budaya adalah terdapatnya ragam Seni Tari Tradisional asli yang berasal dari peninggalan para penguasa pada zamannya yang diperkirakan mulai terjadi di pertengahan Abad ke XII. Postulat pada pertengahan Abad ke XII ini yang berkuasa sebagai Raja Liya Pertama adalah dari keturunan Wangsa Rajasa Singosari yakni Mahisa Cempaka yang sengaja meninggalkan Singosari untuk menghindari komflik dengan saudara tirinya dan membuat bandar atau kerajaan di Liya. Kata-kata Liya dalam bahasa sangkrit yang tertuang dalam naskah-naskah kuno pewayangan Jawa dimaknai sebagai "Damai, Sejuk, Indah dan Menyenangkan".
Segenap pengurus Besar Lembaga Forum Komuniasi KabaLi Indonesia mengharapkan agar pemerintah dapat secara aktif mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Sejarah, Adat Istiadat, Budaya dan Kebudayaan Keraton Liya sehingga disuatu saat yang tepat dapat menjadi potensi Wisata Budaya Nasional, yakni menjadi daya dukung dalam kunjungan akhir para wisatawan manca negara yang menjadi aset devisa bagi bangsa dan negara.  



Oleh karena itu masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami rampungkan yakni bagaimana mengemas sebuah tindak konsepsionalitas dalam rangka melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut yang sudah barang tentu harus disikapi dalam bentuk penelitian ilmiah. 

Kedepan perlu disikapi secara intergral perlunya penelitian-penelitian ilmiah menyoal kapan dibangun  benteng keraton Liya yang terdiri dari 3 lapis benteng itu, dan struktur raja-raja di Liya, Lingga dan Youni serta Makam Gajah Mada yang terdapat di wilayah ini. 


SEMOGA Pemerintah pusat melalui Direktorat Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia mau peduli dan serius mendukung kegiatan pelestarian kebudayaan Liya ini sehingga wilayah-wilayah di luar pulau Jawa yang selama ini termarginalkan dari kebijakan pemerintah pusat dapat segera terobati, demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. ****

Sabtu, 18 Juni 2011

IDENTIFIKASI AWAL,, SITUS MAJAPAHIT DI WILAYAH eks KERAJAAN/KESULTANAN BUTON

OLEH : LA ODE ALI AHMADI *)

  • Kampung Majapahit di Desa Masiri Batauga Kab. Buton berupa Makam  yang bertipe berisi 40 orang hulubalang pendamping Patih Gajah Mada, Nisan berbentuk tipe kala-makara merupakan gejala umum dalam kelompok Nisan Tipe Demak Troloyo. Penelitian ini di dukung oleh data penelitian Prof. DR Hasan Muarif Ambary dalam Buku menemukan Peradaban: “Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia
  • Desa Takimpo Kec. Pasarwajo Kab. Buton, berupa Makam  yang berisi 40 orang hulubalang pendamping Patih Gajah Mada, Nisan berbentuk tipe kala-makara merupakan gejala umum dalam kelompok Nisan Tipe Demak Troloyo. Penelitian ini di dukung oleh data penelitian Prof. DR Hasan Muarif Ambary dalam Buku menemukan Peradaban: “Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia selain Makam terdapat pula Menhir di puncak Gunung  Wagumbangga dan sebuah makam yang dikelilingi oleh Pohon Cempaka berbunga Biru.
  • Desa Liya Kab. Wakatobi, terdapat Makam dan Batu Menhir yang di sebut Watu Mada.
  • Desa Kaluku Gadi di Puncak Gunung Labalawa (Bekas Kerajaan Tobe-Tobe) jarak 5 Km dari Benteng Keraton Buton berupa Menhir, dan dipercaya oleh masyarakatnya sebagai Prasasti Majapahit.
  • Dan Tutur (Foklor) di beberapa daerah tentang 4 Nasehat dari Sang Patih Majapahit
  • Dll… sementara di Himpun, Doakan ya, di temukan Prasasti Bertulis berhuruf Pallawa untuk di realisasikan dalam Bentuk Penelitian Nasional, Penelitian Melibatkan Para Ahli di Bidang Kebudayaan  baik Lokal dan Nasional.  Salam