KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Kamis, 10 Februari 2011

KERAJAAN MAJAPAHIT ADALAH KERAJAAN ISLAM

OLEH : ALI AHMADI



 Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara. Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat. Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut: 1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid. 2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam. 3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam. 4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. 5. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. 6. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. 7. Pada nisan yang di curigai sementara sebagai makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim. 8. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaanNusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit. Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.Wallahu A’lam Bishshawab. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. ****


Sumber: source:http://danish56.blogspot.com/2010/11/fakta-fakta-tersembunyi-dari-kerajaan.h

Sabtu, 05 Februari 2011

PENJELASAN RAHMAD HARDIANTO MASALAH LAKILA PONTO, SI PANJONGA, BETOAMBARI DAN WA KAA KAA


 OLEH : RAHMAD HARDIANTO (LA HARDI)




Pak Ali Habiu (di: http://opinionpublikator.blogspot.com/2010/05/provinsi-buton-raya-dalam-perspektif.html), terkait Raja Luwuk ke-1. Itu benar bahwa ada pengaruh Kerajaan Buton di Kerajaan Luwu. Cuman Pak Ali Habiu agak sedikit salah dengan menulis: “Sawerigading sebagai Raja Luwu ke-1 merupakan anak Raja Buton ke-1 dari Kerajaan Lasalimu”. Yang, insya ALLAH, benar adalah BULAWAMBONA sang Raja Buton ke-2 (anak dari Raja Buton ke-1, yakni WA KAA KAA, dengan suaminya SIBATARA) menikah dengan LA BALUWU (Raja Luwu ke-1). Ini benar-benar fakta sejarah, bukan saya mengarang-ngarang dengan penuh subyektifitas saya. Nantilah, insya ALLAH, semoga kita panjang umur untuk sampai mengetahui rahasia-rahasia yang menjadi kebesarannya Buton.

Oya, bahkan itu benar sekali apa yang ditulis oleh Kepala Pusat Penelitian Budaya dan Seni Etnik Sulawesi Lembaga Penelitian UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR, yakni: Dr.A. Halilintar Lathief, di Tribun Timur dalam edisi terbitan 6 April 2010 lalu. Sang doktor Halilintar menulis bahwa: “Pattimura sebenarnya adalah seorang Muslim keturunan orang Wanci, Kabupaten Wakatobi (dulu Buton), Provinsi Sulawesi Tenggara”. “Adalah Abd. Rahman Hamid (http://www.facebook.com/profile.php?id=1690528556) yang juga mengaku peneliti Wakatobi, lalu tampil mengkritik wacana sebelumnya dengan cukup pedas. Bahkan penulis buku “Spirit Bahari Orang Buton ini”, mencap bahwa Halilintar Lathief tak paham sejarah daerah itu.” Dua kalimat terakhir di atas saya kutip dari: Tribunnews.com (artikel ditulis pada Selasa, 6 Juli 2010 17:05 WIB). … Saya ketawa saja membaca tanggapannya saudaraku (secara umur dia adalah junior saya) Abdul Rahman Hamid yang kalau tidak salah adalah salah seorang dosen sejarah dalam membantah seorang doktor yang (lagi-lagi kalau tidak salah..) merupakan salah seorang dosen di tempat kuliahnya dulu, hahaha… Kalau benar-benar kita mengaku sebagai peneliti (eh, di pernyataan itu dimaksudkan mengaku sebagai peneliti sejarah to..?), kesimpulan pak doktor Halilintar itu akan malah belum terlalu hebat kalau menurut penilaian saya. Ingin baca contoh lain, contoh fakta sejarah yang lebih “gila”(dimana itu merupakan bukti KEBESARAN-nya leluhur-leluhur) kah..? Sekali lagi, apa yang akan saya tulis ini bukan klaim saya yang dilandasi unsur subyektifitas dari seorang geologist yang berasal dari etnis Liya – Buton – Muna. Ini benar-benar fakta sejarah. Silahkan membaca & “membaca” sejarah Indonesia & dunia untuk membuktikannya... Ok, sejauh mana kita mengetahui bahwa ternyata: “ LAKILAPONTO (etnis Tolaki menyebutnya sebagai Haluoleo) adalah juga RAJA di KERAJAAN TERNATE selama tahun 1466-1486..? ” … Setelah meletakkan jabatan & digantikan keturunannya (anaknya) di Kerajaan / Kesultanan Ternate, yakni: Zainal Abidin (menjabat tahun 1486-1500), LAKILAPONTO sang leluhur kita itu MENJELAJAH (BER-EKSPLORASI; he is an explorationist, like me, hehehe…) dulu ke sekeliling Nusantara, termasuk ke tanah suci untuk berhaji & menyambangi makam leluhurnya (sudah tentu adalah leluhurnya orang Buton juga to..?) yang merupakan seorang ULAMA YANG SANGAT MULIA. Jadi, adalah KEBOHONGAN BESAR & MERUPAKAN PEMBELOKKAN SEJARAH (FAKTA) ketika disebut bahwa beliau (LAKILAPONTO) di-Islam-kan oleh Syaikh Abdul Wahid pada tahun 1540. Hal itu kemudian diyakini secara LATAH pada beberapa bulan lalu oleh para pengambil keputusan di Kota Bau-Bau, dengan menetapkan angka 469 tahun sebagai umur Kota Bau-Bau (di tahun 2010) yang berarti bahwa LAKILAPONTO diduga (perhatikan: HANYA DIDUGA; termasuk oleh salah seorang profesor di bidang sejarah & didukung oleh beberapa profesor lainnya..) dilantik menjadi Sultan Buton ke-1 pada tahun 1541, hiks… Memang SANGAT KURANG AJAR benar “MEREKA-MEREKA” yang jadi PENGHIANAT-PENGHIANAT-nya SEJARAH BUTON di “masa itu”. KASAR SEKALI PERMAINAN “mereka”. Akibatnya sangat-sangat fatal & benar-benar MEMPERMALUKAN BEBERAPA PROFESOR di bidang sejarah, termasuk para pengambil kebijakan di Kota Baubau (malas-ku mengetikkan kata “Baubau” ee..) pada masa sekarang.
Hiks… … Bagaimana bisa dinyatakan LAKILAPONTO memeluk Islam pada 1540, kalau turunannya sendiri (anaknya di Kerajaan Ternate), yakni Sultan Ternate ke-1 jelas-jelas sudah menjadi SULTAN sejak tahun 1486..? Selisih tahunnya lama juga boo.., yakni: 54 tahun. … Namun, ALHAMDULILLAH.., leluhur-leluhur kita bukanlah orang-orang yang salaho & kabongo-bohongo. Mereka-mereka itu adalah para “wali ALLAH” yang diberikan banyak kemampuan hebat, salah satunya karunia layaknya “FUTURIST” (orang dengan kemampuan membayangkan masa depan; hati-hati & bedakan dengan istilah peramal), sehingga meninggalkan JEJAK-JEJAK atau KODE untuk kita “baca” di hari-hari sekarang. JEJAK-JEJAK yang mana menjadi KUNCI YANG MEMBUKA AIB dari PARA PENGHIANAT sejarah Buton hehehe… (jujur saya nyatakan bahwa saya sangat bangga & sangat bersyukur menjadi bagian dari turunan leluhur-leluhur seperti: MIA PATAMIANA - LAKILAPONTO). … Coba kita urai, bagaimana yang sebenarnya terjadi diantara tahun 1530 – 1540 M..? … Dalam salah satu dokumentasi yang dibuat oleh seorang pejabat Belanda (dokumentasi ini yang kemudian menjadi landasan klaim mengenai masuknya Islam di Buton oleh para ahli sejarah terdahulu sampai hari ini; bahkan sampai tingkatan & kelas profesor sejarah, hiks..), disebutkan bahwa diantara tahun 940 – 948 H, pada masa Raja Buton yang ke-6, bernama Lakina LA PONTO, datang seorang guru bernama ABDUL WAHID bersama istrinya bernama WA ODE SOLO & seorang anak laki-laki bernama LEDI PENGHULU. Cukup saya berikan contoh sampai di situ saja. Malas juga saya mau mengetik banyak-banyak (INI SAJA SUDAH TERLALU BANYAK UNTUK UKURAN SEBUAH KOMENTAR TO..?, hiks..). Coba kita “baca”, bukan sebatas di-baca. Namun, sekali lagi, mari kita “baca”. Siap..?, hehehe… \ … 1). Tahun 940-948 H sama dengan tahun 1532-1540 M & disebutkan bahwa saat itu Lakina LA PONTO yang jadi raja ke-6 di Buton. --> Pada semua sumber-sumber lisan yang berkembang di daerah-daerah di Sultra, semuanya sependapat menyatakan bahwa LAKILAPONTO menjadi raja (di Kerajaan Buton & Kerajaan Muna) & panglima perang di kerajaan-kerajaan “kecil” seperti: Konawe, Mekongga, & Mornene (KALAU MAU JUJUR: yang sebenarnya LAKILAPONTO harusnya disebut RAJA, mengingat bahwa kerajaan-kerajaan itu sendiri tidak memiliki raja, hanya dipimpin oleh para tetua-tetua adat) setelah membunuh bajak laut Tobelo. Sehubungan dengan aktifitas bajak laut, sumber-sumber Portugis & Spanyol hanya mencatat 2 peristiwa diantara tahun 1500 – 1600 M. Yang pertama adalah “gosip” (tidak melihat langsung, hanya mendengar berita) dinyatakan terjadi pada tahun 1512 (catatan Tomé Pires, seorang Portugis). Yang kedua adalah perjumpaan armada Spanyol dengan bajak laut, dimana dialami pada pelayaran Ekspedisi Saavedra (tahun 1527-1529) yang mana bertemu bajak laut pada 23 Februari 1528. Ekspedisi Saavedra sendiri dimaksudkan untuk menindaklanjuti hasil Ekspedisi Magalhães (ejaan Portugis asli; dia sejatinya tetap seorang Portugis), Magelhaens (ejaan Belanda), Magellanes (ejaan Spanyol; ekspedisi dibiayai raja Spanyol), Magellan (ejaan Inggris) yang telah lalu (dimulai: 20 September 1519, berakhir: 6 September 1522). Menurut sumber-sumber lisan di Buton & Muna, Lakilaponto menjadi Raja Buton setelah membunuh bajak laut Tobelo. Bahkan, khususnya oleh masyarakat di pesisir Lasalimu, berkembang kisah adanya “Parabela Magele” yang dikaitkan-kaitkan masyarakat di sana dengan Ekspedisi Magellan. Parahnya.., oleh salah seorang PROFESOR di bidang SEJARAH, bersama tim peneliti yang dipimpinnya, BEGITU CEROBOH dengan membenarkan kisah itu & berani menulis, semisal: “Pada tahun 1541 dalam perjalanan pulang Magelhaens dari Ternate ke Eropa singgah di Buton (Pantai Lasalimu)”. Masih ada beberapa kecerobohan lainnya. Sampai 3 kali diseminar regional-kan dihadapan banyak pihak (bahkan tercatat total dihadiri 4 orang PROFESOR di bidang sejarah), tetap saja tidak sadar bahwa Ekspedisi Magellan berlangsung antara tahun 1519-1522, bukannya tahun 1541. … TERBUKTI MI KESALAHAN PENETAPAN UMUR KOTA BAU-BAU, akibat asal mencontek sumber atau hasil penelitian yang ceroboh to..? Jadi, embel-embel PROFESOR itu bukan jaminan kasian. Semoga cepat direvisi itu kesalahan-kesalahan yang ada, amin… … --> Kita kembali pada pembahasan dokumentasi dari seorang pejabat Belanda yang kemudian menjadi landasan klaim mengenai masuknya Islam di Buton adalah tahun 1540 bersamaan kedatangan sang syaikh. Oya, kita jangan lupa dengan fakta sejarah yang mencatat era Portugis di Indonesia adalah tahun 1509-1602, era VOC adalah tahun 1602-1800, & era Belanda adalah tahun 1800-1942. JADI.., pertanyaan sederhana & PALING PRINSIPIL untuk mengetahui BENAR atau SALAH (BOHONG)-nya laporan sang pejabat Belanda (catat: bukan VOC kasian..) adalah dari mana dia mengetahui bahwa di tahun 1532-1540 datang seorang Syaikh Abdul Wahid, sementara tidak ada catatan atau sumber tertulis lain, selain yang dia tulis di atas tahun 1800-an..? E-e-e-eh…, ternyata dokumentasinya dia buat berdasarkan sumber-sumber lisan saja (“GOSIP”), padahal di mana-mana semua tradisi lisan (KISAH atau MITOS) tidak ada yang sampai begitu hebatnya dilengkapi dengan keterangan bilangan tahun. Artinya..? Benar sekali, dia itu melakukan KEBOHONGAN dengan mencantumkan angka tahun 940-948 H. Kenapa dia harus melakukan itu..? Tentu saja untuk mengubur fakta sejarah yang sebenarnya mengenai kapan persisnya Islam masuk di Buton (itu cuman salah 1 jawaban, hehehe…). … 2). Dalam laporannya, sang pejabat Belanda menyebut bahwa ABDUL WAHID disertai istrinya (WA ODE SOLO) & seorang anak laki-laki bernama LEDI PENGHULU. --> Masuk akal-kah pada tahun 1532-1540 sudah ada gelar WA ODE..? Kapan mulai eksisnya gelar WA ODE & LA ODE..? Lagi-lagi KEBOHONGANNYA terlihat di nama sang anak laki-laki, yang disebut sebagai LEDI. Mana ada sumber lisan Buton yang menyatakan ada nama “berbau” Buton atau “berbau” Islam seperti LEDI..? Mungkin maksudnya LA ODE di’..? Hahaha.., sama saja, jika maksudnya adalah LA ODE, karena saat era Lakilaponto belum dikenal gelar ODE di Buton, adapun di Muna saat itu hanya dikenal gelar SUGI. Kalau kita lanjutkan “membaca” dokumentasinya, banyak sekali KEBOHONGAN yang dia buat (hampir bisa dikatakan PENUH KEBOHONGAN), hiks… KESIMPULANNYA adalah pendapat yang menyatakan Kerajaan Buton “di-Islam-kan” oleh Syaikh Abdul Wahid pada tahun 1540 (atau terserah mau dibilang tahun 1532) adalah SUATU KEBOHONGAN YANG NYATA. Sumber-sumber yang kuat & dilengkapi dengan angka tahun adalah sumber atau berita Cina. Yang juga berisi angka-angka tahun adalah peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit, dll. Namun, untuk dapat mengetahui kaitannya dengan Kerajaan Buton, tentu saja, tidak bisa hanya sekedar membaca biasa, tetapi perlu “pembacaan” yang mendalam. Secara tidak langsung, sumber-sumber itu menyatakan bahwa Kerajaan Buton sejak awalnya didirikan atas dasar Islam. Hampir lupa, Kerajaan Buton didirikan pada tahun 1295 M. Nanti mi saya, insya ALLAH, tunjukkan secara jelas di silsilah raja-raja Buton di masa MIA PATAMIANA – MURHUM. Oya, dengan “pembacaan” mendalam terhadap berbagai sumber yang ada di Nusantara, sebagai mana yang saya nyatakan di bagian awal, dapat diketahui bahwa LAKILAPONTO adalah pernah juga menjadi RAJA di KERAJAAN TERNATE. … 2 jam yang lalu • SukaTidak Suka • Rahmad Hardianto … Dari semua pemaparan saya di atas, apa yang paling menjadi inti yang saya ingin sampaikan..? Yah itu tadi.., yang sejalan dengan makna dalam hadits: “Everything happens for a reason.” Bahwa bukanlah hanya sekedar kebetulan kalau dulunya wilayah Afdeling (“afdeling” adalah kata Belanda yang artinya bagian atau unit) BUTON, LAIWOI, & sekitarnya pada awalnya dimasukkan dalam 1 provinsi, yakni PROVINSI SULAWESI SELATAN – TENGGARA. Padahal, kalau tidak aneh karena terlalu luas sendiri & bakal menimbulkan kecemburuan (ATAU-kah SEJAK AWAL SKENARIO-NYA MEMANG HENDAK MEMBUAT NAMA BESAR BUTON TENGGELAM, ditambah “luka sejarah” plus juga DENDAM YANG BEGITU BESAR TERHADAP BUTON..???) mungkin namanya adalah PROVINSI BAGIAN TIMUR JAWA. Khusus untuk eks wilayah KERAJAAN BUTON, harus diakui bahwa BELANDA memang benar-benar jago & sangat-sangat berhasil dalam menerapkan politik Devide et impera. Wilayah KERAJAAN BUTON yang pada awalnya (ketika dimasa MIA PATAMIANA) hanya mencakup sekitar hampir keseluruhan daerah-daerah Provinsi Sultra sekarang ini, oleh penerusnya makin diperluas lagi wilayah pengaruhnya hingga hampir mencapai keseluruhan wilayah Indonesia timur. Saya tanya kepada kita semua yang mengaku sebagai ORANG-ORANG BUTON pada hari-hari sekarang (bukan hanya yang tergabung dalam grup “Mia Patamiana” ini) : Sejauh mana kita sadar bahwa BULAWAMBONA (putri sulung WA KAA KAA - SIBATARA), sebelum pulang untuk menjadi Raja ke-2 di Buton, awalnya adalah RAJA (penguasa) di BULA – AMBON..? Oya, BULA adalah nama daerah di timur laut Pulau Seram; kaya akan minyak & pernah saya teliti ketika nongkrong selama hampir 3 tahun di perusahaan minyak Kuwait, yakni Kufpec Ltd. Hari-hari ini, Kufpec bersama-sama dengan perusahaan minyak Jepang (Japex), & perusahaan minyak Inggris (Premier) sedang bersiap untuk mem-bor (ngebor boo, hehehe..) 1 sumur eksplorasi dalam blok minyak yang diberi nama BUTON BLOCK. Alhamdulillah saya yang menjadi wakilnya orang Buton untuk meneliti potensi minyak di daerah kita & saya yang kebenaran membawa mereka masuk ke Buton pada tahun 2006 lalu. Demikian juga, sejauh mana kita sadar bahwa LAKILAPONTO, sebelum pulang untuk menjadi Raja ke-6 di Buton, awalnya adalah RAJA (penguasa) di TERNATE..? Saya yakin banyak dari kita yang pernah berkunjung ke Ternate..? Namun, berapa banyak dari kita yang sempat meneliti & merenungkan akan apa hebatnya Kerajaan Ternate, sehingga sultan-sultan setelah Sultan Murhum begitu “takut” untuk diserang oleh “sepupu-sepupu”-nya yang berasal dari sana..? Tau-kan kalau Pulau Ternate itu begitu kecil (lingkaran keliling wilayahnya hanya sepanjang sekitar 40 km saja)..? Benteng pertahanannya..? Aduuhhh kasian inaeee.., ukuran benteng-benteng di sana (hanya setempat-setempat) mungkin hanya sebesar 10 kali ukuran gode-gode-nya anak-anak deker kasian… Saya yang pernah bolak-balik & total hampir 3 bulan di Ternate, mempelajari bahwa orang-orang Ternate yang sejatinya adalah sepupu-sepupu kita merupakan orang-orang yang ramah. Ketika saya diketahui sebagai orang Buton, mereka benar-benar menganggap saya layaknya saudara atau “adik” & mereka begitu senang (kata lain supaya saya tidak tulis bangga) mengetahui bahwa saya adalah orang Buton yang berteman dengan mereka. Oya, di sana ada ujar-ujar-an & keyakinan bahwa orang-orang Buton itu adalah adiknya orang-orang Ternate (ini yang saya suka, soalnya bikin saya selama di sana dimanja jadi “bos” bo.., hahaha…). Terus.., kenapa bisa sampai Kerajaan Buton, eh salah.., kenapa bisa sampai Kesultanan Buton takut akan serangan dari “sepupu-sepupu”-nya dari Kesultanan Ternate..? Sebenarnya pertanyaan ini sama juga untuk ke kondisi di Kerajaan Gowa (tentu kita sadar to.., kalau dulu ada saudara kita yang namanya ARU PALAKA, tetapi riwayatnya begitu dikaburkan atau “dihapus” dari ingatan kolektif-nya “saudara-saudara” kita di kerajaan asal beliau..). Apa jawabannya..? Ya itu tadi, politik Devide et impera… HEHEHE…, saudara-saudara kita yang jadi sejarawan atau antropolog dari Buton pada masa-masa atau hari-hari sekarang ini mungkin jadi begitu bangganya jika sudah melihat & mengkoleksi tulisan-tulisan terkait Kerajaan Buton (eh.., lagi-lagi salah ketik, harusnya Kesultanan buton di’..?) yang sebagian besar dikoleksi di negeri Holand atau Londo atau Walanda hahaha…. Mungkin saking terlenanya, sampai-sampai melupakan logika sederhana & rasionalitas untuk mempertanyakan dahulu (sebelum membaca & “menelan bulat-bulat”) kebenaran isi tulisan-tulisan yang sengaja dibuat oleh para pejabat Belanda. Kondisi itu sangat-sangat berbeda 180 derajat dengan kami yang mempelajari bumi (geologist), yakni diminta untuk selalu mempertanyakan dahulu (secara objektif) kebenaran isi & kesimpulan dari suatu tulisan (terserah mau disertasi orang yang KONON pintarnya sejagat sekalipun, kami diberi pesan moral untuk membangun anggapan dasar bahwa kesimpulannya itu salah, sampai kami membuktikan bahwa kesimpulan di disertasi yang dibaca itu memang benar..). … Kembali ke masalah politik Devide et impera & KASUS provinsi idaman sebagian orang Buton hari ini… Akan-kah kita yang sekarang mau jadi “Belanda”-nya dengan “mengobok-obok” & makin “merobek-robek” wilayah yang sudah setengah mati dibangun oleh MIA PATAMIANA – LAKINAPONTO..? Semoga kita tidak sampai menjadi “Belanda-Belanda hitam” & “PENGHIANAT-PENGHIANAT” yang menghianati hasil kerja keras & kreasi para leluhur kita, utamanya: MIA PATAMIANA - LAKILAPONTO, amin… … 2 jam yang lalu • SukaTidak Suka • 1 orang Rahmad Hardianto … “Everything happens for a reason.” – Prophet Muhammad SAW (Peace be Upon Him) – Kalimat di atas merupakan hadits shahih, namun jangan tanya saya mengenai riwayat perawinya. Yang ingin tau, coba cari tau mi. Nanti kalau sudah dapat riwayat p...erawinya yang benar jangan lupa untuk berbaik hati menginformasikannya di “topik” ini nah..?, hehehe… Jika saja kita dibenarkan untuk berandai-andai (larangan berandai-andai ini juga hadits-nya shahih kasian..), kemungkinan besar hari ini justru Kabupaten Buton-lah yang mengelola potensi tambang emas di Bombana sana, termasuk semua potensi nikel laterit di seluruh Pulau Kabaena, to..? Demikian pula, kemungkinan (kalau dulu tidak dipecah) hari ini Kabupaten Buton-lah yang mengelola potensi pariwisata bawah laut Wakatobi yang sudah terbukti “kebesaran” nilainya to..? Padahal, “besar”-nya value (nilai) potensi bawah laut Wakatobi itu adalah SANGAT-SANGAT KECIL NILAINYA di banding potensi yang ada di daratan Wakatobi. Cuman, mungkin.., yang jadi kepala daerahnya Wakatobi hari ini masih kurang berpikir lagi untuk bisa “membaca” potensi yang ada di daratannya di’..?, hiks… Namun, sebagai mana hadits yang saya kutip di atas, segala hal itu sudah dijamin oleh ALLAH bahwa PASTI ADA HIKMAH & MANFAATNYA. Terus.., kira-kira apa-apa saja hikmah dari memecah-mecah Kabupaten Buton pada tahun-tahun lalu..? Ya itu tadi, selain fakta-fakta yang sudah coba saya terangkan di atas, hikmah lainnya dari kebijakan untuk memecah-mecah Kabupaten Buton pada hari-hari kemarin adalah AGAR KITA JANGAN SAMPAI BODOH LAGI UNTUK MELAKUKAN KESALAHAN SEPERTI ITU (kesalahan yang sama). Bukan-kah kata pepatah: “hanya keledai yang mau jatuh pada lubang yang sama..?”. Jadi.., biar tidak sampai dinilai sebagai KELEDAI, sudah-sudah mi & jangan pernah lagi untuk bermimpi membentuk “Provinsi Buton Raya” kasian... Kalau misal sesorang (ini misal saja lho.., saya tidak bilang ada kenyataan seperti yang akan saya tulis berikut ini), sekali lagi, kalau misal seseorang hanya ingin menjadi gubernur, kenapa harus dengan jalan memecah-mecah daerah pemerintahan yang dikepalai..? Tidak Pe-De kah.. untuk “BERTARUNG” SECARA FAIR (JUJUR)"..? Nah.., kalau itu baru MAU BERMIMPI maju saja sudah tidak Pe-De, terus kenapa punya mimpi ingin maju jadi kepala daerah..?

Saya terangkan:

Dari garis ibu, silsilah saya jelas adalah dari Sipanjonga. Walau saya tau nama aslinya, tetapi hanya nama julukannya-lah yang akan saya pasang di silsilah. Itu demi untuk tidak dikultuskannya diri beliau sang pendiri Kerajaan Liya, Kerajaan Buton, Kerajaan Muna, Kerajaan Moronene, Kerajaan Mekongga, Kerajaan Konawe, & kalau tidak salah (soalnya saya belum terlalu yakin untuk yang terakhir ini, mengingat datanya untuk Kerajaan Ternate masih tidak terlalu kuat) beliau juga adalah pendiri Kerajaan Ternate.


Saya ulangi, silsilah saya dari garis ibu adalah dari Sipanjonga, sang leluhur orang-orang Liya & kemudian diakui jadi leluhurnya juga orang-orang di kerajaan-kerajaan lainnya di atas (ada yang benar, ada juga yang hanya mengaku-ngaku). Dari Sipanjonga, menurun sampai ke Sultan Murhum yang berasal dari campuran "darah" Liya-Buton-Muna. Dari Sultan Murhum, silsilah saya berlanjut ke garis keturunan Tanailandu, namun ada juga selipan garis keturunan Kumbewaha, tetapi kembali lagi ke Tanailandu (Abdul Ganiyu, sang Kenepulu Bula) sampai ke kakek saya (Lakina Batauga), yang akhirnya menikahi wanita Muna (mungkin demi memperkuat kembali kekerabatan dgn orang-orang Muna).

Adapun, silsilah saya dari garis bapak (ayah saya) adalah benar-benar senantiasa murni (turun-temurun) dari Liya (Sipanjonga). Tidak ada campuran dari suku lainnya. Walaupun misalnya ada pernikahan dgn suku lain, namun para buyut saya dari Liya, alhamdulillah sang LAKI-LAKI-nya selalu adalah orang Liya.

Begitu murni terjaga garis keturunan saya dari garis bapak saya, hingga ke kakek saya yang hanya jadi imam di masjid Keraton Liya.

Oya, etika kakek saya jadi imam di masjid Keraton Liya, saat itu yang jadi Lakina Liya dalah Laode Taru (bapaknya Ali Bosa kalau tidak salah..) yang berasal dari Wolio, bukan murni dari Liya.

Dulu-dulu-nya jujur saya sangat kecewa karena di nama saya, di nama bapak saya, & terus ke atas di nama-nama buyut saya tidak ada kata "ODE" (LA ODE) -nya. Padahal kalau dari garis mama (ibu), begitu jelas ODE-nya. Oya, hanya untuk informasi saja, ibu Wa Ode Maasra Manarfa adalah tante saya.

Saya dulu benar-benar kecewa karena tidak ada ODE dari garis bapak saya. Bukannya saya gila akan gelar ODE, cuman saya heran saja, kenapa sifat-sifat luhur dari leluhur di garis bapak saya (saya ketahui dari cerita-cerita para tetua di Liya) tidak diperjelas dgn kata ODE. Padahal, menurut saya, sifat-sifat luhur yang ada pada buyut-buyut saya itu adalah seharusnya dimiliki para bangsawan.

Itu semua akhirnya terjawab (walau belum terjawab FULL) ketika saya menginjakkan kaki kembali di Liya (pada tahun 2008 lalu) setelah belasan tahun meninggalkan Liya.

Saat itu, saya sebagai anak bungsu, menjadi wakil dari bapak saya untuk mengurus pertikaian yang tengah terjadi dalam keluarga besar, yakni mengenai masalah tanah-tanah warisan kakek saya (imam masjid Keraton Liya). Kakak-kakak saya saat itu sedang sibuk semua, baik ada yang menjadi kepala bank, ada yang tengah menemani suaminya yang sedang kuliah S3 di Australia, & ada yang lagi sibuk dgn proyek-proyeknya. Oya, saya adalah bungsu dari 4 bersaudara (3 orang kakak kandung saya).

Kejelasan alasan kenapa buyut-buyut saya tidak ada yang dipasangi ODE di depan namanya akhirnya saya ketahui dari salah seorang sepupu bapak saya, yakni seorang nenek yang sudah berusia lanjut. Saat itu usianya sudah 120 tahun lebih (padahal bapak saya baru sekitar 70 tahunan saat itu), namun kekuatan badan & daya ingatnya layaknya seperti masih umur 60 tahunan. Hebatnya lagi, shalatnya tetap terjaga di usianya yang sudah sangat lanjut itu.

Sang nenek (sepupu bapak saya) itu pada akhirnya mengisahkan ke saya tentang leluhur orang-orang Liya. Memang tidak sepenuhnya jelas, karena ada bagian-bagian peristiwa yang "terpotong" atau tidak diingatnya. Alhamdulillahnya, masih di sekitar Liya, saya bertemu nenek lain yang saya yakin sama sekali tidak ada kaitan darahnya dgn saya. Dia meyakinkan saya bahwa pertemuan saya dgn dia itu ada maknanya. Kata sang nenek, banyak orang yang bercita-cita besar (semisal untuk menjadi presiden atau jabatan-jabatan tinggi lainnya) berusaha mencarinya, tetapi mereka ada yang tidak bisa menemuinya karena si nenek itu juga senang bepergian keluar pulau.

Si nenek benar-benar meyakinkan saya bahwa peristiwa dipertemukannya saya dgn dia sebenarnya sudah "diatur". Saat itu saya (demi alasan bersopan santun) hanya diam saja mendengar semua ucapan si nenek. Mungkin karena si nenek itu merasa bahwa saya tidak yakin, jadinya si nenek mengajak saya ke suatu tempat & menunjukkan suatu makam yang katanya adalah orang besarnya negeri "ini" (berulang kali dia katakan tentang hal itu).

Di sana saya dimintanya untuk beberapa waktu diam merenungkan diri saja (sambil dia berzikir), terus (setelah dia selesai berzikir) si nenek meminta saya mendoakan arwah "orang" di makam itu, akhirnya meminta saya mengikuti kata-katanya yang saya nilai adalah suatu BATATA berupa permohonan kepada ALLAH (melalui para wali ALLAH di dunia) akan semua cita-cita besar & luhur yang ingin saya capai & tuju.

Sepulang dari Liya, sekitar hampir sebulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa sepupu bapak saya (sang nenek berusia 120 tahun lebih) meninggal dunia. Saya saat itu jadi berpikir, apa mungkin sepupu ayah saya itu dipanjangkan umurnya sampai saya bertemu dgn dia..? Itu cuma jadi pikiran saya...

Meskipun sudah mulai jelas, siapa-siapa leluhur saya dari garis bapak, namun ada bagian-bagian penting yang masih agak kurang jelas. Alhamdulillah, di facebook saya dipertemukan ALLAH untuk mengenal & bisa bertanya pada Pak Ali Habiu & abang Ali Ahmadi yang merupakan saudara-saudara saya sesama orang Liya.

Memang saya juga sudah bertanya pada orang-orang yang saya pikir mengetahui benar akan "rahasia" Buton. Terbantu juga memang dengan info-info mereka. Namun, saya akui, bagian terbesar yang membuat semuanya menjadi terang adalah info dari sebagian tulisan di blog Pak Ali Habiu yang meminta kita semua yang mengaku orang Buton agar memikirkan sejarah Liya (sambil membeberkan fakta-fakta yang ada tetapi mungkin masih kurang jelas oleh Pak Ali Habiu). Jujur, saya benar-benar berterima kasih dgn ajakan untuk merenungkan itu, Pak Ali Habiu.

Karena itu, ketika beberapa hari lalu ada orang-orang yang terang-terangan mengejek & mentertawai isi tulisan-tulisan Pak Ali Habiu (mungkin di pikiran mereka Pak Ali Habiu tidak lebih adalah seorang yang stress atau mungkin mau hampir gila, tabe..) saya langsung mengirim pesan agar Pak Ali Habiu meresponnya sambil saya berjanji akan tampil membela Pak Ali Habiu andai ada yang kembali "menyerang" lagi Pak Ali Habiu.


Sayang sekali.., mungkin karena kematangan emosi Pak Ali Habiu (MOSEGA-nya orang Liya kan tidak selamanya harus ditunjukkan langsung di', Pak Ali Habiu..?), beberapa hari lalu Pak Ali Habiu hanya merespon seadanya di grup Mia Patamiana. Namun, alhamdulillah.., tampil juga abang Ali Ahmadi yang menyindir keras orang-orang yang sudah terang-terangan menghina Pak Ali Habiu. Saya saat itu belum melihat kesempatan untuk tampil membela Pak Ali habiu, karena mereka tidak merespon sindiran abang Ali Ahmadi.

Kesempatan saya membalikkan mereka adalah kemarin. Moment-nya benar-benar pas untuk saya menunjukkan bukti-bukti terkait info dari pak Ali Habiu (lewat opini & silsilah yang sedang saya buat). Sekaligus saya benar-benar menyerang mereka-mereka yang hanya berani (PENGECUT) mengkritik bahkan menghina orang lain dgn TIDAK BERANI menunjukkan diri asli mereka. Hanya lewat "topeng" saja, sesuatu yang sangat2 berbeda dgn kita-kita orang Liya.


DEMI ALLAH.., BENAR-BENAR DEMI ALLAH.., BETOAMBARI ITU ADALAH LELUHUR ORANG LIYA.

Saya tidak akan pernah ikhlas melihat kenyataan di sekitar makam leluhur saya diwarnai kemaksiatan seperti itu...

Mohon.., sangat-sangat saya memohon agar Pak Ali Habiu & abang Ali Ahmadi juga menentang kondisi itu...

Demikian dulu dari saya. Maaf saya menulis begini banyak. Tabe jika sekiranya ada kata-kata saya yang terlihat sombong atau tidak sopan. Insya ALLAH tidak ada maksud saya seperti itu (misal dinilai sombong..) & mohon maaf jika terlihat seperti itu. Tabe...

Sebagai isyarat dari saya tentang apa yang saya nyatakan di atas adalah: benar kalimat-kalimat yang diucapkan almarhum ayahnya Pak Ali Habiu yang menyatakan akan datang bangsa-bangsa dari segala penjuru (Belanda, Jepang, Turki, dll..) ke Buton. Saya sudah "melihat" itu, Pak Ali Habiu. Sebagai bukti, insya ALLAH saya-lah yang "membawa" masuk perusahaan-perusahaan minyak dari kuwait, Jepang, & Inggris waktu tahun 2006. Sekarang pun mereka masih punya kepentingan di Buton. Oya, saya "membawa" masuk 3 negara di atas ke Buton waktu saya masih nongkrong di salah 1 perusahaan itu (Kufpec, perusahaan milik Kuwait).
Tinggal tunggu saja saatnya & saya berdoa semoga saya bisa secepatnya jadi pemimpin di Buton, amin...
Tabe.., satu lagi, saya insya ALLAH mengetahui sebagian besar "rahasia" di tanah Liya, Buton, & sekitarnya (termasuk Ternate - bahkan sampai ke tanah Arab).
Saya Insya ALLAH sudh mengetahui siapa itu SIPANJONGA, siapa sebenarnya itu istrinya, & siapa sebenarnya itu anak-anak mereka (WA KAA KAA & BETOAMBARI),


Salam,
La Hardi- ASLI ORANG LIYA

Jumat, 04 Februari 2011

PERSON DARI BADAN INTELIJEN NEGARA SUDAH MENJAJAKI KERATON LIYA

OLEH : ALI HABIU



Alhamdulillah puji dan syukur tak lupa senantiasa selalu diucapkan kehadirat sang halik Tuhan Tang Maha Esa, Allah Subhana wata'alah atas segala petunjuk yang baik diberikan kepada masyarakat Keraton Liya sehingga pada akhir bulan Januari 2011 lalu telah berkunjung seorang petugas dari Badan Intelijen Negara untuk menjajaki segala persoalan informasi yang telah dipublisher di alam maya lewat media internet tentang keberadaan Raja Liya beserta Patih Gajah Mada dan benda cagar budaya lainnya. Orang ini bernama Eka Garlita pangkat Kapten dari kesatuan ABRI dan tugas operasional di Maluku. Dalam penjejakannya di Keraton Liya ditemani oleh salah seorang pelatih seni budaya Liya bernama La Alidu untuk  menemani dalam mengamati leliling benteng keraton Liya; mengamati Lawang, Lingga dan Miomi juga mengamati Kuburan Haji A.Muhammad di Kohondao dan terakhir diantar ke Kapal Tosoro di Mandati. Dalam penjejakannya sambil mengamati sekaligus dia bercerita kepada La Alidu bahwa Kapal Toroso ini kalau di pulau jawa dinamakan Tordau dan dia memastikan usia Kapal Tosoro yang berada di Mandati Tonga ini telah berusia ribuan tahun lamanya. Hal ini dengan membuktikan secara fisikal - arkiologis langsung di lapangan yakni dengan meremas-remas jenis batuan tertentu yang terdapat di lereng Kapal Tosoro dan langsung dapat diketahui usianya. Demikian pula dia katakan bahwa Kerajaan Liya secara linier ada hubungan dengan Kerajaan Jogya/Solo Jawa Tengah dengan pembuktian dengan memberikan contoh pohon Sirikaya yang banyak terdapat dalam lingkup benteng Keraton Liya. Katanya Sirikaya ini merupakan buah persembahan buat Raja Jogya/Solo dan ditanam khusus di kawasan keraton disana, bahkan pohon induknya yang samapi saat ini masih dikeramatkan  saat ini masih terdapat di Jawa Tengah. Selanjutnya dia menanyakan sesuatu yang penting ke pengantarnya yakni La Alidu bahwa "apakah kamu tahu dimana kuburan Patih...."?! Dan Alidu menjawabnya : "saya belum tahu nanti saya tanyakan kembali" !! Dia bilang bahwa dengan mempelajari eksistensi lingkup Keraton Liya dan Kapala Tosoro ini serta benda-benda cagar budaya lainnya kemudian diapun pastikan bahwa kuburan Patih Gajah Mada terdapat di pulau ini. Masyaallah.... maha suci engkau yaa Allah, tuhan yang tak dapat dipersekutukan dengan apapun.  Mudah-mudahan tak memakan waktu lama lagi engkau sudah buka rahasia kekuasaan Kerajaan Liya pada zamannya yang  amat tersohor itu. Saat ini sedang berkembang sebagian peneliti sejarah asal wolio sudah berani menyebutkan bahwa Si Panjonga adalah merupakan Raja LIya Pertama berkuasa sekitar Abad XII, dan merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan-kerajaan lain di Kawasan Timur Indonesia. Tak salah lagi kata La Ode Unga Wathullah dan La Ode Ware bahwa di Liya ini merupakan negeri penuh rahasia yang akan memunculkan dirinya sendiri di saat waktu yang tepat. ****

Kamis, 03 Februari 2011

SURAT KE MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARAWISATA UNTUK PENINGKATAN STATUS DESA LIYA BESAR MENJADI DESA WISATA BUDAYA NASIONAL TAHUN 2012.

Kendari, 23 Desember 2010 


Nomor : 23/P.KABALI/XII/2010 
Lampiran : ----- 

Kepada Yth, Menteri Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia

Di. Jakarta. 

Perihal : Minta Fasilitasi Desa-Desa Lingkup Kawasan Benteng Keraton Liya Kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Menjadi Desa Wisata Budaya Nasional Tahun 2012. 


Dengan ini disampaikan kepada Bapak bahwa dalam rangka mendukung ditetapkannya pulau Hoga Kabupaten Wakatobi sebagai Destinasi Parawisata Nasional dan Internasional dengan keunggulan Wisata Bawah Laut di Segi Tiga Karang Dunia, maka kami dari Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia sejak tahun 2010 lalu telah bergegas menyiapkan berbagai potensi nilai-nilai Seni Budaya tradisional peninggalan leluhur Keraton Liya yang sudah ada sejak pertengahan abad XV lalu berupa sejumlah tarian tradisional dan atraksi tradisional untuk menjadi Obyek Wisata Budaya lingkup Liya Besar meliputi Desa Liya Togo, Liya Bahari, Liya mawi, One Melangka dan Wisata Kolo Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Berbagai potensi seni budaya dimaksud saat ini secara bertahap sudah dikelolah melslui Sanggar Seni Budaya KabaLI Liya dan sudah bisa ditampilkan di publik walaupun tentu sangat kami sadari masih banyak kekurangan utamanya menyangkut fasilitas aksesoris dan pakaian kelengkapan penari, instrumentasi alat-alat penunjang seperti gendang, gong serta honorarium pelatih tari dan lain sebagainya. Dilain pihak Desa Liya besar dalam kawasan Benteng Keraton Liya pada zamannya hingga tahun 1970-an masih terdapat potensi berbagai pengrajin lokal; berupa pengrajin tenung kain dan/atau tenung sarung tradisional, tembikar, besi, tembaga, perak dan emas bermotif tradisional, namun sayang sekali potensi ini sudah mulai memudar bahkan musnah sama sekali akibat kurangnya pembinaan yang mesti dilakukan secara berkala oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Buton (kabupaten induk) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi. 

Pembinaan itu bisa berupa : peningkatan keterampilan para generasi pengrajin maupun permodalan bergilir. Dampak kurangnya pembinaan pemerintah mengakibatkan komunitas kelompok keluarga yang tadinya bergelut dalam bidang profesi ini kini telah berubah fungsi menjadi nelayan, pedagang dan pekebun sekalipun hampir sebagian besar peralatan mereka masih terdapat utuh disimpan di rumah-rumah kediaman mereka di Liya. 

Selain hal tersebut pada zamannya di desa Liya ini terdapat Pasar Tradisional bertradisi leluhur yakni mulai dari menghampar jualan sampai dengan menjual kepada konsumen disertai sejumlah nyanyian-nyanyian tradisi tutur tertentu sebagai penariknya dan kemudian Pasar Tradisional tersebut mulai bubar Tahun 1972-an karena sudah tidak lagi didukung oleh program pemerintah pemerintah pusat sekalipun kini lokasi Pasar Tradisional tersebut masih ada bekas-bekasnya dan utuh keasliannya. 

Berkenaan dengan dimaksud di atas, mohon bantuan Bapak Menteri kiranya dapat kami di fasilitasi sekaligus diberikan proritas dukungan kebijakan sesuai arah kebijakan dan strategi nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 Kementerian Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia dalam kaitannya untuk segera meningkatkan status desa Liya besar (meliputi : desa Liya Togo, desa Liya bahari, Liya Mawi, desa One Melangka, desa Wisata Kolo) dalam kawasan Benteng Keraton Liya Kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara dapat diangkat statusnya menjadi Desa Wisata Budaya Nasional Tahun 2012 dalam kaitannya dengan sinkronisasi program kegiatan Wisata Bawah Laut di pulau Hoga Kabupaten Wakatobi dimana Kebupaten Wakatobi sudah menjadi Destinasi Parawisata Nasional dan Internasional agar komunitas masyarakat budaya di desa ini dapat meningkat perekonomiannya sekaligus kedepan dapat memberikan konstribusi bagi pendapatan Negara disektor wisata budaya. Dalam kaitan ini kami sangat mengharapkan kiranya Lembaga kebudayaan yang kami kelolah bisa bekerja sama dengan jajaran instansional Kementerian Kebudayaan Dan Parawisata khususnya dibidang pengembangan dan pelestarian adat istiadat, tradisi dan seni budaya tradisional dalam rangka mempertahankan jati diri dan tradisi leluhur, identitas bangsa Indonesia yang amat tersohor pada zamannya. 

Sehubungan hal itu, kami menunggu resfonsibilitas Bapak Menteri dan kiranya dapat segera menurunkan Tim investigasi dan pengembangan (Research and Development) untuk segera ke lapangan mengunjungi desa Liya besar dalam kawasan Benteng Keraton Liya Kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi untuk dapat menilai segala sesuatunya memungkinkan desa Liya besar menjadi Desa Wisata Budaya Nasional Tahun 2012 mendatang. 

Demikian yang dapat kami sampaikan, atas perhatian Bapak tak lupa diucapkan terima kasih.

BADAN PENGURUS PUSAT 
LEMBAGA FORUM KOMUNIKASI KABALI 


                K e t u a,                                                   Sekretaris, 


  Ir. L.M.ALI HABIU,AMts.,M.Si                          UMAR ODE HASANI,SP.,M.Si 


Tembusan: 
  1. Presiden Republik Indonesia di Jakarta; 
  2. Ketua DPD Republik Indonesia di Jakarta;
  3. Ketua DPR Republik Indonesia di Jakarta; 
  4. Kementerian Dalam Negeri dan Otonomi Daerah di Jakarta; 
  5. Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari;, 
  6. Bupati Wakatobi di Wangi-Wangi; 
  7. Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Kementerian Budpar Republik Indonesia di Jakarta; 
  8. Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari; 
  9. Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi di Wangi-Wangi; 
  10. Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara di kendari; 
  11. Kepala Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala di Makassar; 
  12. Badan Pendiri Forkom KABALI pusat (sebagai laporan) di Kendari; 
  13. A r s I p.--.

SURAT PENGAKUAN RAHMAD HARDIANTO BAHWA SIPANJONGA ADALAH RAJA LIYA PERTAMA DAN BETOAMBARI ADALAH LELUHURNYA ORANG LIYA.

Rahmad Hardianto 04 Februari jam 11:24 Balas 
• Laporkan Ass.wr.wb. Pak Ali Habiu, 


Terima kasih sudah mengingatkan untuk saya nantinya mengirimkan silsilah yang sementara saya buat. Insya ALLAH akan saya kirim kalau sudah FIX, dimana nantinya mungkin ada bagian-bagian yang untuk saat ini harus saya sembunyikan. Berikut akan saya jelaskan kenapa ada yang harus saya tidak tampilkan nantinya (untuk saat ini). Pak Ali Habiu, dini hari (menjelang subuh) tadi saya alhamdulillah kembali dikasih petunjuk dari ALLAH tentang siapa leluhur saya. Seorang yang sangat-sangat besar di Indonesia, bahkan mungkin juga dunia. Yang pasti, untuk saat ini, saya tidak akan mengungkapkan mengenai siapa beliau yang saya maksud. Padahal, sampai kemarin sore & semalam, saya masih ingin memasukkan nama beliau dalam silsilah yang sementara saya gambar di komputer. Namun, selesai shalat subuh di masjid tadi, saya merenung, yakni jika saya memasukkan namanya dalam silsilah & silsilah itu pada akhirnya jatuh (garis finish-nya) di saya, maka peluang yang terjadi adalah saat ini orang-orang akan berubah menjadi mentertawai saya & mungkin akan menganggap saya sudah gila (atau lagi stress). Karena itu, sambil mendengarkan kuliah agama subuh tadi, saya berpikir keras, bagaimana supaya secara halus, saya bisa menyembunyikan mengenai nama & kebesaran leluhur saya yang satu itu. Saya terangkan: Dari garis ibu, silsilah saya jelas adalah dari Sipanjonga. Walau saya tau nama aslinya, tetapi hanya nama julukannya-lah yang akan saya pasang di silsilah. Itu demi untuk tidak dikultuskannya diri beliau sang pendiri Kerajaan Liya, Kerajaan Buton, Kerajaan Muna, Kerajaan Moronene, Kerajaan Mekongga, Kerajaan Konawe, & kalau tidak salah (soalnya saya belum terlalu yakin untuk yang terakhir ini, mengingat datanya untuk Kerajaan Ternate masih tidak terlalu kuat) beliau juga adalah pendiri Kerajaan Ternate. Saya ulangi, silsilah saya dari garis ibu adalah dari Sipanjonga, sang leluhur orang-orang Liya & kemudian diakui jadi leluhurnya juga orang-orang di kerajaan-kerajaan lainnya di atas (ada yang benar, ada juga yang hanya mengaku-ngaku). Dari Sipanjonga, menurun sampai ke Sultan Murhum yang berasal dari campuran "darah" Liya-Buton-Muna. Dari Sultan Murhum, silsilah saya berlanjut ke garis keturunan Tanailandu, namun ada juga selipan garis keturunan Kumbewaha, tetapi kembali lagi ke Tanailandu (Abdul Ganiyu, sang Kenepulu Bula) sampai ke kakek saya (Lakina Batauga), yang akhirnya menikahi wanita Muna (mungkin demi memperkuat kembali kekerabatan dgn orang-orang Muna). Adapun, silsilah saya dari garis bapak (ayah saya) adalah benar-benar senantiasa murni (turun-temurun) dari Liya (Sipanjonga). Tidak ada campuran dari suku lainnya. Walaupun misalnya ada pernikahan dgn suku lain, namun para buyut saya dari Liya, alhamdulillah sang LAKI-LAKI-nya selalu adalah orang Liya. Begitu murni terjaga garis keturunan saya dari garis bapak saya, hingga ke kakek saya yang hanya jadi imam di masjid Keraton Liya. Oya, etika kakek saya jadi imam di masjid Keraton Liya, saat itu yang jadi Lakina Liya dalah Laode Taru (bapaknya Ali Bosa kalau tidak salah..) yang berasal dari Wolio, bukan murni dari Liya. Dulu-dulu-nya jujur saya sangat kecewa karena di nama saya, di nama bapak saya, & terus ke atas di nama-nama buyut saya tidak ada kata "ODE" (LA ODE) -nya. Padahal kalau dari garis mama (ibu), begitu jelas ODE-nya. Oya, hanya untuk informasi saja, ibu Wa Ode Maasra Manarfa adalah tante saya. Saya dulu benar-benar kecewa karena tidak ada ODE dari garis bapak saya. Bukannya saya gila akan gelar ODE, cuman saya heran saja, kenapa sifat-sifat luhur dari leluhur di garis bapak saya (saya ketahui dari cerita-cerita para tetua di Liya) tidak diperjelas dgn kata ODE. Padahal, menurut saya, sifat-sifat luhur yang ada pada buyut-buyut saya itu adalah seharusnya dimiliki para bangsawan. Itu semua akhirnya terjawab (walau belum terjawab FULL) ketika saya menginjakkan kaki kembali di Liya (pada tahun 2008 lalu) setelah belasan tahun meninggalkan Liya. Saat itu, saya sebagai anak bungsu, menjadi wakil dari bapak saya untuk mengurus pertikaian yang tengah terjadi dalam keluarga besar, yakni mengenai masalah tanah-tanah warisan kakek saya (imam masjid Keraton Liya). Kakak-kakak saya saat itu sedang sibuk semua, baik ada yang menjadi kepala bank, ada yang tengah menemani suaminya yang sedang kuliah S-3 di Australia, & ada yang lagi sibuk dgn proyek-proyeknya. Oya, saya adalah bungsu dari 4 bersaudara (3 orang kakak kandung saya). Kejelasan alasan kenapa buyut-buyut saya tidak ada yang dipasangi ODE di depan namanya akhirnya saya ketahui dari salah seorang sepupu bapak saya, yakni seorang nenek yang sudah berusia lanjut. Saat itu usianya sudah 120 tahun lebih (padahal bapak saya baru sekitar 70 tahunan saat itu), namun kekuatan badan & daya ingatnya layaknya seperti masih umur 60 tahunan. Hebatnya lagi, shalatnya tetap terjaga di usianya yang sudah sangat lanjut itu. Sang nenek (sepupu bapak saya) itu pada akhirnya mengisahkan ke saya tentang leluhur orang-orang Liya. Memang tidak sepenuhnya jelas, karena ada bagian-bagian peristiwa yang "terpotong" atau tidak diingatnya. Alhamdulillahnya, masih di sekitar Liya, saya bertemu nenek lain yang saya yakin sama sekali tidak ada kaitan darahnya dgn saya. Dia meyakinkan saya bahwa pertemuan saya dgn dia itu ada maknanya. Kata sang nenek, banyak orang yang bercita-cita besar (semisal untuk menjadi presiden atau jabatan-jabatan tinggi lainnya) berusaha mencarinya, tetapi mereka ada yang tidak bisa menemuinya karena si nenek itu juga senang bepergian keluar pulau. Si nenek benar-benar meyakinkan saya bahwa peristiwa dipertemukannya saya dgn dia sebenarnya sudah "diatur". Saat itu saya (demi alasan bersopan santun) hanya diam saja mendengar semua ucapan si nenek. Mungkin karena si nenek itu merasa bahwa saya tidak yakin, jadinya si nenek mengajak saya ke suatu tempat & menunjukkan suatu makam yang katanya adalah orang besarnya negeri "ini" (berulang kali dia katakan tentang hal itu). Di sana saya dimintanya untuk beberapa waktu diam merenungkan diri saja (sambil dia berzikir), terus (setelah dia selesai berzikir) si nenek meminta saya mendoakan arwah "orang" di makam itu, akhirnya meminta saya mengikuti kata-katanya yang saya nilai adalah suatu BATATA berupa permohonan kepada ALLAH (melalui para wali ALLAH di dunia) akan semua cita-cita besar & luhur yang ingin saya capai & tuju. Sepulang dari Liya, sekitar hampir sebulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa sepupu bapak saya (sang nenek berusia 120 tahun lebih) meninggal dunia. Saya saat itu jadi berpikir, apa mungkin sepupu ayah saya itu dipanjangkan umurnya sampai saya bertemu dgn dia..? Itu cuma jadi pikiran saya... Meskipun sudah mulai jelas, siapa-siapa leluhur saya dari garis bapak, namun ada bagian-bagian penting yang masih agak kurang jelas. Alhamdulillah, di facebook saya dipertemukan ALLAH untuk mengenal & bisa bertanya pada Pak Ali Habiu & abang Ali Ahmadi yang merupakan saudara-saudara saya sesama orang Liya. Memang saya juga sudah bertanya pada orang-orang yang saya pikir mengetahui benar akan "rahasia" Buton. Terbantu juga memang dengan info-info mereka. Namun, saya akui, bagian terbesar yang membuat semuanya menjadi terang adalah info dari sebagian tulisan di blog Pak Ali Habiu yang meminta kita semua yang mengaku orang Buton agar memikirkan sejarah Liya (sambil membeberkan fakta-fakta yang ada tetapi mungkin masih kurang jelas oleh Pak Ali Habiu). Jujur, saya benar-benar berterima kasih dgn ajakan untuk merenungkan itu, Pak Ali Habiu. Karena itu, ketika beberapa hari lalu ada orang-orang yang terang-terangan mengejek & mentertawai isi tulisan-tulisan Pak Ali Habiu (mungkin di pikiran mereka Pak Ali Habiu tidak lebih adalah seorang yang stress atau mungkin mau hampir gila, tabe..) saya langsung mengirim pesan agar Pak Ali Habiu meresponnya sambil saya berjanji akan tampil membela Pak Ali Habiu andai ada yang kembali "menyerang" lagi Pak Ali Habiu. Sayang sekali.., mungkin karena kematangan emosi Pak Ali Habiu (MOSEGA-nya orang Liya kan tidak selamanya harus ditunjukkan langsung di', Pak Ali Habiu..?), beberapa hari lalu Pak Ali Habiu hanya merespon seadanya di grup Mia Patamiana. Namun, alhamdulillah.., tampil juga abang Ali Ahmadi yang menyindir keras orang-orang yang sudah terang-terangan menghina Pak Ali Habiu. Saya saat itu belum melihat kesempatan untuk tampil membela Pak Ali habiu, karena mereka tidak merespon sindiran abang Ali Ahmadi. Kesempatan saya membalikkan mereka adalah kemarin. Moment-nya benar-benar pas untuk saya menunjukkan bukti-bukti terkait info dari pak Ali Habiu (lewat opini & silsilah yang sedang saya buat). Sekaligus saya benar-benar menyerang mereka-mereka yang hanya berani (PENGECUT) mengkritik bahkan menghina orang lain dgn TIDAK BERANI menunjukkan diri asli mereka. Hanya lewat "topeng" saja, sesuatu yang sangat2 berbeda dgn kita-kita orang Liya. Saya misalnya, beberapa waktu lalu sangat terang-terangan menyatakan bahwa WALIKOTA BAU-BAU HARI INI ADALAH SEORANG YANG "BODOH" & MELAKUKAN KESALAHAN-KESALAHAN FATAL". Saya melakukan itu diawali dgn BISMILLAH saja. Tentu saja saya insya ALLAH siap menghadapi resikonya. Dalam minggu ini, saya masih akan "MENYERANG" walikota Bau-Bau, terkait kebijakan atau diamnya dia mengenai kondisi di sekitar makam Betoambari. 

DEMI ALLAH.., BENAR-BENAR DEMI ALLAH.., BETOAMBARI ITU ADALAH LELUHUR ORANG LIYA. Saya tidak akan pernah ikhlas melihat kenyataan di sekitar makam leluhur saya diwarnai kemaksiatan seperti itu... Mohon.., sangat-sangat saya memohon agar Pak Ali Habiu & abang Ali Ahmadi juga menentang kondisi itu... ... 

Demikian dulu dari saya. Maaf saya menulis begini banyak. Tabe jika sekiranya ada kata-kata saya yang terlihat sombong atau tidak sopan. Insya ALLAH tidak ada maksud saya seperti itu (misal dinilai sombong..) & mohon maaf jika terlihat seperti itu. Tabe... Salam, La Hardi****

Sumber :http://www.facebook.com/home.php?sk=group_151044274944488&notif_t=group_activity#!/?sk=messages&tid=1531044756860

Sabtu, 29 Januari 2011

MENGENANG KUTIPAN TERAKHIR DALAM BUKU BUNGA RAMPAI BUDAYA BUTUNI OLEH MENDIANG AYAHANDA DR.(HC) LA ODE UNGA WATHULLAH

OLEH : ALI HABIU


BAGI RENUNGAN BERFIKIRNYA ANAK-ANAK GENERASI ZAMAN KINI AKAN KEADAAN BUTUNI DAHULU-SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG 


Aku Putri Butuni, tujuh bersaudara. Mula-mula Inggeris –Belanda yang menggaliku di bukit Walompo alias Kabongka. Kemudian menyusul pemuda kesatria asal Jepang menyelamiku di selat Butuni yang dinamai “Palabusa”. Lalu sekarang ini menyusul lagi Goolf Oil, dan Conoco, adalah campuran bangsa-bangsa yang akan menggaliku dan berpusat di Wakalambe dan di laut Umala Oge...., maka akan berjalan kakilah orang-orang dari tanjung Bandara hingga sampai tanjung Wangi-Wangi. Sesudah itu akan datanglah adikku dari Nederland yang akan bermukim di bukit Sorawolio dan kemudian akan disusul oleh datangnya saudaraku dari Mekkah dan Turki yang akan menerima Maharku berupa bingkisan “Kebudayaan” yang akan diantarkan oleh arak-arakan tiga rumpun Armada mulai dari Laut, Udara dan Selam yang sama jumlahnya. Dengan demikian berarti perkawinanku telah direstui oleh Internasional bangsa-bangsa di dunia..., sesuai dengan perjanjian pada tahun 1947 di atas kapal Karel Dourman di perairan pulau Liwuto bahwa : Keratuan Butuni adalah “Manusia Cahaya”. Semoga Allah jauhkan akan daku dan jauhkan akan anak cucuku dari pada menyembah berhala (QS: Ibrahim :35)*****

Rabu, 19 Januari 2011

MAKNA SIMBOLIS PADA ISTANA MALIGE BUTON


Oleh :  La Ode Ali Ahmadi *)


Potensi Situs dan Benda Cagar Budaya (BCB) di wilayah Buton sebagai karya nyata peradaban manusia pendukungnya di masa lalu sungguh memukau dan beraneka ragam. Tidak mengherankan jika banyak orang berkeinginan untuk mengenal Buton lebih dekat, baik secara harfiah, ilmu pengetahuan, pemerintahan, politik dan lainnya, hingga pada kebutuhan bathin seseorang dalam rangka menjalani proses kehidupannya. Mereka yang berkunjung ke Negeri Butun (berita di berbagai ekspedisi purba dan kitab Negara Kertagama; Butun = jenis pohon pantai = Baringtonia Asiatica), ingin mendalami dan mempelajari ilmu tauhid dan agama Islam Tarekat di Buton yang terkenal itu. Dan sebaliknya banyak pula orang, kelompok, bangsa dalam sindrom tertentu, sengaja ingin menghancurkan dan memfitnah Buton sekaligus membunuh karakter manusianya. Daerah seribu pulau, seribu benteng dan istilah seribu lainnya, adalah julukan Pulau Buton, secara geografis terletak pada garis lintang dari utara ke selatan antara 20⁰30’ - 125⁰ Bujur Timur, merupakan kawasan timur jazirah tenggara Celebes Island = Pulau Sulawesi Indonesia. Menurut referensi serta pengakuan sejarah dari berbagai sumber, Kerajaan/Kesultanan Buton merupakan wilayah otonom dan merupakan kawasan mandiri yang memiliki keistimewaan. Karakter budaya dan pola pikir dari masyarakatnya yang cerdas, inovatif serta mampu bertahan adalah dasar mengapa mereka pandai berdiplomasi, berwatak keras, dan cerdik sehingga jangan diherankan apalagi sampai dipolemikkan bahwa; “Di masa lalu, Kerajaan/Kesultanan Buton, tidak pernah tunduk dan dikuasai, apalagi terjajah oleh bangsa manapun di dunia dan kerajaan lain di nusantara”. Jika dikatakan kerjasama/hegemoni dengan bangsa atau kerajaan lain, Buton melakukannya, karena memang tipe kerajaan ini terbuka pada siapapun dan kebersahajaannya yang selalu ingin bersahabat, menolong dan bermitra dalam berbagai bidang adalah keutamaan dan kewajiban kerajaan, demi menciptakan kesejahteraan dan keamanan masyarakatnya masa itu. Penamaan Buton telah diperjelas dari beberapa informasi diantaranya: 1. Nama Buton telah dikenal di Jawa tepatnya pada masa Gajah Mada menjadi Patih Kerajaan Majapahit. Berita ini diketahui dari Kitab Nagarakertagama (1365), pupuh 14 karangan prapanca. Dalam kitab ini berbunyi, “muwah tanah I Bantayan pramuka Bantayan le Luwuk tentang Udamaktrayadhi nikanang sanusaspupul Ikangsakasanusa nusa Makasar Butun (Buton) Banggawi Kuni Craliyao mwangi (ng) Selaya (Selayar) Sumba […..]” (Pigeaud, 1962). 2. Berita dari Tome Pires yang menceritakan pelayarannya di perairan nusantara pada tahun 1512-1515 Masehi. Ia berangkat dari Tumasik (Singapura) ke Maluku melalui Borneo (Kalimantan), Makassar dan Buton. Informasi ini menunjukan bahwa Buton ketika itu telah dikenal oleh pelaut yang melintasi perairan nusantara termasuk orang asing. 3. Lembar Naskah Kuna, diantaranya berita tentang, seorang Belanda bernama Apollonius Schot diutus oleh VOC untuk mengadakan perjanjian kerjasama dengan Sultan Buton pada bulan Desember 1612. Perjanjian ini terjadi pada tanggal 5 Januari 1613. Kedua belah pihak menyetujui suatu perjanjian yang berisi antara lain; kebebasan Buton melaksanakan agama dan sistim pemerintahannya (Yunus, 1995:11-14). 4. Penulisan nama Buton yang dijumpai pada sketsa peta yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Pieter Both tahun 1613, menyebut Straat Van Boeton untuk selat Buton (Nusriat, 1988:70) Sebenarnya nama Buton hanya lazim digunakan oleh orang luar untuk sebutan Kesultanan Buton. Penduduk setempat terbiasa menggunakan sebutan Wolio. Pernyataan ini didukung pula oleh A. Ligtvoet yang bertugas di negeri ini. Ia menulis buku yang berjudul, “Bescrijving en Geschiedenis Van Boeton Sigra Venhoge” (1877), yang menyebutkan bahwa; “He rijk Boeton, dat in de Landstaal Bolio (Wolio), in het Malaeisch Boeton, en in het Makassarch en Boeginesch Boetoeng heet” (Abubakar, 1999:25) Ibarat prasasti dan goresan profil pada candi-candi di Jawa, yang mengkisahkan berbagai hal dan peristiwa, seperti halnya kisah babad tanah jawi, Buton pun memiliki kisah yang tak kalah menariknya. Eksistensi dari nilai-nilai serta kearifan budaya dan peradaban Buton masa lalu, masih dapat disaksikan pada persebaran lambang/simbol maupun rangkaian ragam hias di berbagai pelosok kadie/kerajaan-kerajaan kecil yang mengakui keberadaan Kerajaan/Kesultanan Buton. Wilayah 72 (tujuhpuluh dua) kadie terletak dan tersebar di seluruh kepulauan dan daratan Buton. Kini kadie menjadi referensi dan oleh parah ahli humaniora khususnya arkeolog; wilayah kadie dikategorikan sebagai situs pemukiman sekaligus sebagai bukti konkrit bahwa Buton masa lalu memang Raya dan Jaya. Pada kesempatan di kolom ilmiah ini, penulisan hanya dibatasi pada kekayaan dan keragaman dari makna simbolis pada Istana Malige di Buton. Dalam kamus besar Wikipedia, menyebutkan bahwa Istana Sultan Buton disebut Kamali atau Malige. Bangunannya didirikan hanya dengan saling mengait, tanpa tali pengikat ataupun paku, dapat berdiri dengan dengan kokoh dan megah di atas sandi yang menjadi landasan dasarnya. Rumah adat Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan seluruhnya dari bahan kayu. Bangunannya terdiri dari empat tingkat atau empat lantai. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin ke atas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar. Seluruh bangunan tanpa memakai paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang-tiang depan terdiri dari 5 (lima) buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 (empatpuluh) buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu wala dan semuanya bersegi empat. Untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 (empat) buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 (tiga) petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 (enam) buah akan mempunyai 5 (lima) petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 (delapan) buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 (tujuh) ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton. Keterangan yang lebih umum dan luas lagi menjelaskan bahwa Kamali/Istana Malige (Kamali = Istana = rumah raja/sultan/pejabat kesultanan; Malige = Mahligai) sebagai istana Sultan di analogikan dengan tubuh manusia. Hal ini berkaitan dengan perwujudan Sultan sebagai pusat dari segala kekuatan. Kepercayaan yang menyangkut kekuatan yang berpusat pada raja berakar dari konsep dewa yang dikenal sejak jaman pra-Islam (Moertono, 1985, dalam Musadad dkk, 1998:21). Hal senada diungkapkan pula oleh Soejono yang mengatakan bahwa Sultan dianggap sebagai seorang tokoh yang menguasai masyarakat dan dapat menghubungkannya dengan dunia ghaib (Soejono, 1993:217). Istana Malige merupakan salah satu dari peninggalan arsitektur tradisional Buton, dapatlah dikatakan sebagai hasil dan kekayaan dari proses budaya (cultural process). Dalam hal ini Kamali/Istana Malige merupakan cagar budaya yang keberadaannya dapat mengungkap berbagai sistem kehidupan masyarakat pendukungnya, baik itu mengenai sistim sosial, teknologi tradisional (profan) maupun kepercayaan (religi) yang masih bertahan hingga sekarang. Seluruh lambang atau simbol yang dimaksud, melekat cantik di berbagai benda/artefak peninggalan Kerajaan/Kesultanan Buton. Salah satu peninggalan arsitektur tradisional Buton yang kaya akan makna simbolis baik konstruktif maupun dekoratif dapat disaksikan di Istana Malige. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, fungsi dan makna simbolis pada bangunan tersebut dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat secara keseluruhan tentang konsep tasawuf, yang menganggap bahwa pemilik kamali/istana Malige, dalam hal ini Sultan Buton adalah replikasi dari wajah Tuhan (Allah) yang wujudnya dianalogikan dalam bentuk arsitektur rumahnya (istananya) baik yang bersifat konstruktif maupun dekoratif. Bentuk lantai dan atapnya yang bersusun menunjukkan kebesaran dan keagungan Sultan. Bentuk tersebut juga menggambarkan fungsi Sultan sebagai pimpinan agama, pimpinan kesultanan serta pengayom dan pelindung rakyat. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh beberapa ahli tafsir/hadist yang mengarah pada sabda Nabi Muhammad, SAW, termuat dalam tafsir Kanzil-Umal (Andjo, 199:53). Hadist tersebut mempertegas tentang fungsi dan tanggung jawab Sultan sebagai amiril mu’minin. Pemahaman dasar simbol kosmologis dari Istana Malige, Kamali dan atau rumah masyarakat biasa di Buton pada dasarnya adalah sama sebab berasal dari satu konstruksi yang sama yang disebut banuwa tada (rumah ber-penyangga). Di katakan Istana/Kamali jika bangunan tersebut di huni oleh pejabat kerajaan/kesultanan, dengan menambahkan tiang penyangga di setiap sisi bangunan, berfungsi konstruksi semacam mata kipas, yang disebut kambero, lengkaplah di sebut kamali karena di sebut banua tada kambero, inilah yang membedakannya dengan rumah masyarakat biasa yang cukup disebut dengan satu mata penyangga/banua tada. Satu hal yang menarik tentang pemaknaan sama pada rumah pejabat kerajaan/kesultanan dengan masyarakat biasa adalah peninggian lantai/ruangan dalam rumah yang berbeda-beda. Peninggian lantai setiap ruangan ini merupakan pola awal konstruksi yang sudah menjadi aturan pokok jika ingin membangun sebuah rumah di Buton. Ruangan semakin kebelakang semakin tinggi sama dengan badan perahu antara haluan ke buritan atau posisi sujud dalam shalatnya seorang Islam. Sedangkan pembagiannya tergantung luas dan besar bangunan. Sumintardja (1978), dalam hal ini beranggapan bahwa, secara simbolis ruangan yang terpenting diberi lantai yang lebih tinggi daripada ruangan-ruangan lainnya. Penerapan tata ruang seperti ini terlihat pula pada rumah tradisional di Aceh, Minangkabau, Palembang dan lainnya di daerah yang mayoritas beragama Islam. Untuk Istana Malige pembagian tata ruangan tersebut mengandung unsur pemaknaan sebagai berikut: 1. Disebut Sasambiri disimbolkan sebagai penggambaran pribadi Sultan yang selalu terbuka kepada rakyatnya. Hal ini terlihat pada penempatan pintu utama dan pintu belakang yang fungsi umumnya untuk keluar-masuknya orang kedalam istana. 2. Disebut Bamba dan Tanga disimbolkan sebagai rongga perut, berfungsi sebagai tempat berkumpulnya tamu dan menampung segala pesoalan yang ditujukan kepada Sultan maupun keluarganya. Bamba biasanya digunakan untuk tamu yang bukan kerabat dekat Sultan sedangkan tanga digunakan untuk kerabat dekat Sultan. 3. Disebut Suo disimbolkan sebagai rongga dada dan kepala. Hal ini dihubungkan dengan penempatan kamar utama yang berfungsi sebagai tempat peraduan Sultan. Selain itu Suo berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat yang disebut po’suo. Tradisi ini berbentuk acara ritual yang ditujukan kepada gadis-gadis untuk dipingit karena dianggap sudah dewasa (aqil baligh) dan pantas untuk berkeluarga. 4. Penghuni istana disimbolkan sebagai nyawa atau ruh pada manusia. Hubungan antara tubuh atau jasad dengan ruh manusia mengandung pemahaman saling menjaga dan saling merawat dan memelihara. Pembagian ruangan yang telah disebutkan dibatasi oleh tetengkala (papan pisah). Hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Buton (Alm. La Ode Saidi-adalah Anak kandung Sultan Buton 37, pewaris Istana Malige), bahwa Tetengkala berfungsi sebagai pembatas dan tanda kejelasan fungsi ruangan dalam istana Malige. Fungsi pemisahan dimaksud dimisalkan tentang tamu laki-laki ditempatkan diruangan bamba sedangkan tamu wanita diruangan tanga. Untuk fungsi dapur dan kakus (wc), harus terpisah dengan induk bangunan, dan susunan lantainya lebih rendah dari lantai bangunan utama. Pada Kamali/Istana Malige bangunan untuk dapur dan kakus tersebut di bangun terpisah dan hanya di hubungkan oleh satu tangga. Bangunan dapur dan kakus secara simbolis dimaknai sebagai dunia luar yang keberadaannya jika dianalogikan pada tubuh manusia adalah pembuangan. Tampak bangunan terbagi 3 (tiga) sebagai ciri 3 (tiga) alam kosmologi yakni; alam atas (atap), alam tengah atau badan rumah dan alam bawah atau kaki/kolong. Masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan sendiri-sendiri tetapi satu sama lain dapat membentuk suatu struktur yang kompak dan kuat dimana keseluruhan elemennya saling kait-mengkait dan berdiri diatas tiang-tiang yang menumpu pada pondasi batu alam (Maryono, dkk, 1985:61). Pondasi batu alam ini dalam bahasa Buton di sebut Sandi. Sandi tersebut tidak di tanam, hanya di letakkan begitu saja tanpa perekat dan berfungsi meletakkan tiang bangunan. Antara sandi dan tiang bangunan di antarai oleh satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi. Fungsinya untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan. Penggunaan batu alam tersebut bermakna simbol prasejarah dan pemisahan alam (alam dunia dan alam akherat), adalah konsep dualisme, walaupun sebenarnya jika ditinjau dari fungsinya lebih bersifat profan. Makna simbolis pada konstruksi lain Kamali/Istana Malige diantaranya adalah: 1. Atap yang disusun sebagai analogi susunan atau letaknya posisi kedua tangan dalam shalat, tangan kanan berada di atas tangan kiri. Pada sisi kanan kiri atap terdapat kotak memanjang berfungsi bilik atau gudang. Bentuk kotak tersebut menunjukkan adanya tanggungjawab Sultan terhadap kemaslahatan rakyat. 2. Balok penghubung yang harus diketam halus adalah penggambaran budi pekertinya orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana, 3. Tiang Istana di bagi menjadi 3 (tiga) yang pertama disebut Kabelai/Tutumbu (tiang tengah = tumbuh terus), disimbolkan sebagai ke-Esa-an Tuhan yang pencerminannya diwujudkan dalam pribadi Sultan. Kabelai ditandai dengan adanya kain putih pada ujung bagian atas tiang. Penempatan kain putih harus melalui upacara adat (ritual) karena berfungsi sakral. Berikutnya adalah Tiang Utama sebagai tempat meletakkan tada (penyangga). Bentuk tada melambangkan stratifikasi sosial atau kedudukan pemilik rumah dalam Kerajaan/Kesultanan. Tiang lainnya adalah tiang pembantu, bermakna pelindung, gotong royong dan keterbukaan kepada rakyatnya. Ketiga tiang ini di analogikan pula sebagai simbol kamboru-mboru talu palena, yang maksudnya ditujukan kepada tiga keturunan (Kaomu/kaum) pewaris jabatan penting yakni Tanailandu, Tapi-Tapi dan Kumbewaha. 4. Tangga dan Pintu mempunyai makna saling melengkapi. Tangga depan berkaitan dengan posisi pintu depan, sebagai arah hadap bangunan yang berorientasi timur-barat bermakna posisi manusia yang sedang shalat. Pemaknaan ini berkaitan dengan perwujudan Sultan sebagai pencerminan Tuhan yang harus di hormati, dan secara simbolis mengingatkan pada perjalanan manusia dari lahir, berkembang dan meninggal dunia. Berbeda dengan tangga dan pintu belakang yang menghadap utara disimbolkan sebagai penghargaan kepada arwah leluhur (nenek moyang/asal-usul). 5. Lantai yang terbuat dari kayu jati melambangkan status sosial bahwa sultan adalah bangsawan dan melambangkan pribadi sultan yang selalu tenang dalam menghadapi persoalan. 6. Dinding sebagai penutup atau batas visual maupun akuistis melambangkan kerahasian ibarat alam kehidupan dan alam kematian. Dinding dipasang rapat sebagai upaya untuk mengokohkan dan prinsip Islam pada diri Sultan sebagai khalifah. 7. Jendela (bhalo-bhalo bamba) berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara. Pada bagian atasnya terdapat bentuk hiasan balok melintang member kesan adanya pengaruh Islam yang mendalam. Begitu pula pada bagian jendela lain yang menyerupai kubah. dll Makna simbolis pada Dekorasi Kamali/Istana Malige terbagi dua yakni yang berbentuk hiasan flora dan fauna, diantaranya adalah: 1. Nenas merupakan simbol kesejahteraan yang ditumbuhkan dari rakyat. Secara umum simbol ini menyiratkan bahwa masyarakat Buton agar mempunyai sifat seperti nenas, yang walaupun penuh duri dan berkulit tebal tetapi rasanya manis. 2. Bosu-bosu adalah buah dari pohon Butun (baringtonia asiatica) merupakan simbol keselamatan, keteguhan dan kebahagiaan yang telah mengakar sejak masa pra-Islam. Pada pemaknaan yang lain sesuai arti bahasa daerahnya bosu-bosu adalah tempat air menuju pada perlambangan kesucian mengingat sifat air yang bening dan suci. Upacara ritual tertentu bagi masyarakat Buton tidak dianggap sah apabila tidak diadakan sejenis makanan tradisional yang disebut katupa butu, yang berarti ketupat butun, yakni ketupat sebesar buah butun (Yunus, 1995:11) 3. Ake merupakan hiasan pinggir atap yang bentuknya seperti patra (daun). Pada Istana Malige, Ake dimaksudkan sebagai wujud kesempurnaan dan lambang bersatunya antara Sultan (manusia) dengan Khalik (Tuhan). Konsepsi ini banyak dikenal pada ajaran tasawuf, khususnya Wahdatul Wujud (Saptono, 1996:18) 4. Kamba/kembang yang berbentuk kelopak teratai melambangkan kesucian. Karena bentuknya yang mirip pula matahari, orang Buton biasa pula menyebutnya lambang Suryanullah (surya=matahari, nullah=Allah). Bentuk ini adalah tempat digambarkannya Kala pada masa klasik, dan merupakan pengembangan Sinar Majapahit pada masa Pra Islam di Buton, mengingatkan hubungan persaudaraan dan persahabatan Kerajaan Buton dan Kerajaan Majapahit masa lalu berdasarkan penyebutan dan keberadaan Kerajaan Butun/Buton di beberapa pupuh/pasal dalam kitab Negara Kertagama. Adapun kedudukan simbol matahari yang biasa digambarkan, sekarang hanya berupa volute (Subarna, 1987:100). Simbol kamba ini terdapat pula pada beberapa Nisan Kuna bangsawan Buton masa lalu. 5. Terdapatnya Naga pada bumbungan atap, melambangkan kekuasaan, dan pemerintahan. Pada masa Hindu-Budha hiasan Naga dihubungkan dengan ceriteraSamodramanthana. Cerita ini berisi tentang usaha para dewa mengacau laut untuk mendapatkan air amerta (Soekmono dalam Saptono, 1996:19). Naga adalah Binatang Mitos yang berada di Langit,. Naga juga merupakan lambang alam bawah (bumi) sebagai kesuburan, juga merupakan lambang alam kematianyang menjamin dan dijadikan kendaraan dari dunia ke alam baka. Motif naga menjadi hiasan yang terdapat diseluruh Asia hingga Australia (Bintarti, 1987:292). Keberadaan Naga di khasanah simbolisasi Buton, mengisahkan pula asal-usul bangsa Wolio yang di yakini datang dari daratan Cina.-Mongol. 6. Terdapatnya Tempayan berlambangkan kesucian. Tempayan ini mutlak harus ada di setiap bangunan kamali, mesjid, tempat atau makam suci, maupun rumah rakyat biasa. dll Kamali/Istana Malige dalam penataan struktur bangunannya, didasari oleh konsep kosmologis sebagai wujud keseimbangan alam dan manusia kepada tuhannya (Allah SWT). Disisi lain keberadaannya merupakan media penyampaian untuk memahami kehidupan masyarakat pada jamannya (kesultanan) dan sebagai alat komunikasi dalam memahami bentuk struktur masyarakat, status sosial, ideologi dan gambaran struktur pemerintahan yang dapat dipelajari melalui pemaknaan lambang-lambang, simbol maupun ragam hiasnya secara detail. Secara umum dapat digambarkan bahwa susunan ruangan dalam istana Malige adalah sebagai berikut: 1. Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan, ruangan pertama dan kedua berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebagai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebagai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan dipergunakan sebagai makar anak perempuan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa. 2. Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula. 3. Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi. 4. Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran. Di samping kamar bangunan Malige terdapat sebuah bangunan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Di anjungan bangunan ini dipergunakan sebagai kantor anjungan. Pada bangunan Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukiran naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan di bawah kamar-kamar sisi depan. Adapun kedua hiasan tersebut mengandung makna yang sangat dalam, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton. Sedangkan ukiran buah nenas, dalam tangkai nenas itu hanya tumbuh sebuah nenas saja, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunya timbul tunas baru. Ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas ini dilambangkan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia. Sangat disayangkan jika keberadaan bangunan maupun pemaknaan simbol tersebut cenderung di abaikan, contoh kasus adalah banyaknya bangunan rumah/gedung permanen (batu dan semen) di lokasi Situs Benteng Keraton Buton dan situs benteng lainnya di daerah ini yang jelas menyalahi konsep pelestarian. Kasus lain adalah keberadaan dari replika rumah adat Malige di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, menyalahi citra/image, karena bangunan tersebut telah di padukan dengan rumah etnis lain selain Buton, yang seharusnya di bangun secara terpisah agar Identitas dan keragaman khasanah rumah adat tradisional Sulawesi Tenggara khususnya dan Indonesia umumnya itu semakin jelas bukan malah samar-samar. Kasus lain yang lebih aneh adalah peng-karakter-an simbol Naga di Pantai Kamali Kota Bau-Bau, yang seharusnya Naga merupakan simbol binatang langit, bukan simbol binatang bumi. Mari kita semua membuka jendela hati, dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai dan kearifan budaya lokal, terutama dalam pemaknaan simbolis, baik itu lambang maupun ragam hias, sebagai karya monumental para leluhur yang masih tetap mengawasi tindak tanduk anak cucunya di dunia. Satu hal yang perlu kita ingat bersama bahwa “sesungguhnya manusialah satu-satunya mahluk yang dapat dibunuh dengan sebuah lambang (simbol)” (by Leslie White). Jadi, berhati-hatilah dengan sebuah simbol*****

*) La Ode Ali Ahmadi,SS adalah seorang Arkiolog dan kerja di Dinas Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai Wakil Sekretaris pada Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia.