KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Sabtu, 30 April 2011

KUBURAN TALO-TALO ASLI MASIH DIRAHASIAKAN

Oleh : Ali Habiu



Kuburan Raja Talo-Talo yang ada saat ini dalam kompleks pekuburan Raja-Raja Liya yang berada dibelakang Mesjid Keraton Liya adalah Imitasi alias bukan asli. Kuburan yang ada saat ini yang dibatu nisan tertulis Raja Liya Talo-Talo dengan gambar seorang yang sedang pegang pedang terhunus adalah merupakan kuburan anak kandung Talo-Talo beserta pengasuhnya yang ditanam hidup-hidup. Anak kandung Talo-Talo tersebut diperkirakan baru berusia 2,5 tahun yang digendong oleh pengasuhnya ketika itu menaiki tangga rumah lantas tanpa disengaja ada sebuah Tombak yang dipasang atau disimpang disamping pintu tangga bagian atas terjatuh lalu terhempas kena batok kepala anak tersebut dan meninggal. Sangkin menyesalnya pengasuh anak seorang Raja yang sakti ini lalu diapun minta kepada Talo-Talo jika anak tersebut di kuburkan hendaknya diapun ditanam hidup-hidup sebagai pertanda kesetiannya kepada sang Raja yang penuh pengabdian karena telah lalai menjaga seorang anak bayi pewaris raja. Kisah ini diungkapkan secara medium supranatural melalui konsultasi metafisis Talo-Talo dengan penulis, ketika penulis sedang memakai topi kebesaran Talo-Talo pada tanggal 20 Maret 2010 lalu.
Adapun kuburan Talo-Talo yang asli sedang dalam perlindungan Rahasia dan sesuai dengan perintah Talo-Talo kepada penulis untuk membuktikan kebenaran informasi media metafisis ini, maka pada Hari Kamis tanggal 21 Maret 2010, penulis sengaja pada pagi hari sekitar jam 07.30 menuju ke kawasan Keraton Liya langsung mencari Kuburan Talo-Talo asli dan alhamdulillah mendapatkannya. Kuburan ini kelihatannya sudah ratusan tahun tidak dijamah oleh manusia sehingga nampak bagian kuburan sudah terbenam kedalam tanah dengan batu nisan yang terbuat dari batuan sakarlik juga sudah sangat tua tanpa ada sentuhan jemari manusia yang menjamahnya. Dalam dialog tersebut Talo-Talo  mengatakan bahwa sengaja dia sembunyikan kuburannya dan hanya orang-orang tertentu saja yang tau sebab dia amat sakti dan takut kuburannya jadi sesembahan atau tempat penyembahan masyarakat Liya  ketika itu sehingga membuat ketidaktenangan dia dialam sana. Dia amat ketahui struktur sosial masyarakat Liya yang masih sangat percaya dan hormat dengan rajanya.
Inilah pesan Talo-Talo dalam beberapa hasil dialog metafisis tersebut :

"HAI ANAK-ANAKKU PEWARIS NEGERI LIYA MULAI SEKARANG BANGKITLAH BANGUN DAN KEMBANGKAN KEBUDAYAAN LELUHURMU"... 
"KINI ZAMAN SUDAH TIBA SAATNYA UNTUK MEMBANGUN NEGERIMU...LIYA !."  
"BANGKITLAH MELALUI WADAH FORKOM KABALI SEBAB DISITU ADA SAYA MELINDUNGIMU, MEJAGAMU bagi SEMUA YANG MAU MEMBANGUN NEGERI LIYA UNTUK MENGENANG HASIL-HASIL PERJUANGAN KAMI DI MASA LALU ITU...." 
"JANGAN KAMU TAKUT UNTUK BANGKIT..., SEBAB AKU ADA BERSAMAMU...."


Namun demikian walaupun kebesaran Raja Talo-Talo pada zamannya sangat diagungkan., namun tidak ada satupun naskah sejarah Liya yang kita jumpai saat ini menkisahkan secara lengkap perjalanan Talo-Talo ini, termasuk di dalamnya kapan mulai dia berkuasa sebagai Raja LIya dan dari mana asal muasal sebenarnya Talo-Talo tersebut. Sebagian para ahli sejarah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Talo-Talo itu adalah Karta Negara sebagai Raja Majapahit yang mengtasingkan diri ke Liya. Masih diperlukan penelitian sejarah lebih lanjut untuk membuktikan hal ini semua. ****

Sabtu, 02 April 2011

PEMUGARAN BENTENG KERATON LIYA MULAI TAHUN 2012 MENDAPAT DUKUNGAN POTENSI SDM LIYA

Oleh : Ali Habiu



Komunitas masyarakat Togo Liya dimanapun berada saat ini perlu berbangga diri mengingat bahwa perjuangan para orang tua kita, para tokoh adat, sesepuh, sarah dan pemerintah Kabupaten Wakatobi telah menuai hasil yang cukup gemilang yakni mulai tahun anggaran 2010 ini pemerintah pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Parawisata akan menurunkan DPA (Daftar Pelaksanaan Anggaran) Desain Teknis Pmugaran Benteng Keraton Liya. Momen inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pihak sejak tahun 1980-an lalu ketika Pemerintah Belanda menguyurkan sejumlah bantuan dana internasional untuk pelestarian nilai-nilai sejarah dan purbakala melalui Inter Governmental Group On Indonesia (IGGI) ternyata pengelolaan dana tersebut banyak dihabiskan di pulau Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara kemudian pulau Buton hanya sepenggal saja. 

Inilah bentuk ketidakadilan pemerintah pusat terhadap perimbangan penangangan pembangunan di tanah air yang kebanyakan dana-dana bantuan Loan maupun Green Internasional untuk pemugaran situs-situs sejarah dan purbakala hanya dinikmati pada umumnya di pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara (Bali ) saja padahal semua daerah memiliki hak da kepentingan yang sama dalam pelestaran nilai-nilai budayanya peninggalan leluhur dan nenek moyang bangsa Indonesia. Oleh karena itu isolasi komunikasi dan isolasi distribusi kue pembangunan ini mulai saat ini sudah harus dihentikan tanpa reserve agar daerah-daerah eks kesultanan dan kerajaan yang berada di luar pulau Jawa, Sumatera dan Nusa tenggara (Bali) dapat juga mengalami kemajuan seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan pembangunan di Indonesia. 

Masalahnya kemudian yang menjadi berat kita dalam memperjuangan kue pembangunan ini adalah belum adanya orang Togo Liya yang menduduki jabatan setingkat Direktur Jenderal di suatu Kementerian di Indonesia bahwa juga hingga saat ini orang Togo Liya belum ada juga yang menduduki jabatan Menteri selama pelaksanaan pembanguan sejak tahun 1970-an hingga saat ini padahal potensi  sumber daya manusia orang Togo Liya khususnya pada dekade mulai tahun 2004-an lalu secara nasional sudah terbilang cukup baik dimana hingga tahun 2010 ini berdasarkan data sementara yang dapat KabaLi himpun mulai dari perkumpulan Komunitas Warga Togo Liya yang ada di Marauke, Seram, Ambon, Kendari, Buton, Makassar, Samarinda dan Jakarta memiliki : Sarjana lebih kurang 300 orang, Magister sekitar 64 orang dan Doktor 3 orang

Potensi ini merupakan suatu kekuatan sosial yang perlu dihimpun dan disatukan dalam suatu wadah komunitas guna dapat setidaknya memberikan promosi identitas mereka kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Selain hal itu juga dipandang sudah saatnya kina berbenah kiri kepada semua komunitas Keluarga Besar Liya di Seluruh Indonesia agar mulai tahun 2010 ini mempersiapkan diri secara mantap terjung ke bidang politik dengan memasuki partai-partai politik apa saja yang dapat menampung dan menyalurkan aspirasi politiknya sehingga dengan demikian kedepan akan banyak lagi saudara-saudara kita yang insya Allah bakal duduk di parlemen baik di DPRD, DPR RI maupun di DPD masing-masing daerah yang ada komunitas orang Togo Liyanya di Indonesia. Dan kini sudah mulai setapak harapan itu ada..., yakni saudara kita, adinda kita putri asal Keraton Liya telah masuk dalam akumulasi perpolitikan nasional dan melalui wadah Partai Amanah Nasional, kini Wa Ode Nurhayati,S.Sos telah mewakili kita menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. 

Selain itu juga saudara kita bernama Syachrudin Buton,SH atau sering dikenal dengan nama Udin Nova seorang pengacara kawakan asal Ambon yang tak lain juga merupakan putra asli asal Keraton Liya kini duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara dari Partai Demokrat priode 2009-2014. 

Ada beberapa anggota Keluarga Besar Liya yang juga pernah menjadi anggota DPRD antara lain : H.La Ode Muhu pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Berau Kalimantan Timur dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) priode 1999-2004, juga La Ode Moane Obi,SP,M.Si pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara asal Partai Persatuan Pembangunan (P-3) priode 2004-2009. Namun sayang seribu sayang kedua anggota warga Liya ini yang telah diberi kesempatan oleh rakyat untuk menduduki jabatan strategis itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk membangun komunitas sosial budaya Liya secara mengakar di daerahnya masing-masing dan tidak membekas tajam dihati nurani rakyat kita, sehingga akibatnya kini mereka dalam konteks sosial komunitas budaya Liya saat ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat.

Hal ini kedepan akan menjadi pelajaran berharga bagi semua komunitas  warga Liya dimanapun mereka berada agar ketika rakyat memilihmu dan ketika kamu punya kesempatan emas menduduki jabatan-jabatan strategis itu maka peliharalah sikapmu, janganlah sombong dan tinggi hati dan dalam kesempatan menjalankan tugas-tugasmu sebagai anggota dewan maka  manfaatkanlah tugas itu untuk berperan secara baik ditengah-tengah masyarakatmu  secara adil dan bijak, dengan prioritas utama tugasmu adalah perhatikanlah masyarakat Liya dimana kamu berada, angkatlah harkat dan martabat mereka, beri mereka sentuhan hati nurani dan kedamaian, beri mereka wadah untuk bisa maju, beri mereka sentuhan modal sosial ekonomi sehingga diharapkan pada akhirnya masyarakat kita sedikit demi sedikit dapat kita majukan peradabannya, kualitasnya dan sosial ekonominya yang merupakan embrio perjuangan KabaLi.

 Inilah salah satu propotipe Benteng Keraton Liya Yang Sudah
Mulai Ambruk Dan Sudah Tidak Terawat Lagi
Termasuk Lawa atau Bangunan Pintu Masuk Keraton Ini.

Informasi yang KabaLi dapatkan secara jelas dan bisa dipertanggungjawabkan akan adanya Desain Teknis Pemugaran Benteng Keraton Liya mulai tahun ini (2011) adalah dari salah seorang ahli arkiologis asal Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar yakni saudara  Rustam,SS yang tak lain dia merupakan satu angkatan pada jurusan Arkiologi Fakultas Sastra Universitas Hanasuddin dengan wakil Sekretaris Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang pada beberapa hari lalu bertandan di rumah Ketua Umum Forkom-KabaLdi Kompleks BTN Kendari Indah Jalan Wulele, Kendari.

 
Rustam,SS seorang Ahli Arkiologis yang Bekerja Pada
Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar

Berdasarkan surat Kepala BPPP makassar yang dikirim via facsi mile ke Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasananya antara lain ke Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang diterima pada hari Jumat tanggal 1 April 2011, menyampaikan bahwa pada hari senin tanggal 4 April 2011 akan berangkat 7 orang ahli arkiologi dan perbentengan dari balai Arkiologi Makassar menuju ke Wang-wangi dalam rangka tugas pemetaan zoning Benteng Keraton Liya Lapis ke-3. Lamanya pemetaan dan studi teknis sampai dengan tanggal 15 April 2011. Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa dipanjatkan doa ke hadirat Tuhan YME, karena berkah dan hidayahnya semua program kerja Lembaga KabaLI Indonesia berjalan sesuai rencana. amin ****

TIM BALAI ARKIOLOGI MAKASSAR AKAN TURUN PEMETAAN ZONING BENTENG KERATON LIYA LAPIS TIGA AWAL APRIL 2011

SAMPING BALUARA  TALO-TALO


 DEPAN BALUARA TALU-TALU


OLEH : ALI HABIU


Sesuai dengan Surat BPPP makassar yang dikirim via facsimile kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasannya kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang baru kami terima pada hari jumat tanggal 1 April 2011, dikemukakan bahwa mulai tanggal 4 April 2011 s/d 15 April 2011 Tim Balai Arkiologi (Tim Balar) dari BPPP Makassar akan turun sebanya 7 orang tenaga ahli perbentengan ke Keraton Liya  untuk mengadakan survei dan pendataan teknis dan pemetaan zoning benteng lapisan tiga yang diperkirakan memiliki lngkaran sepanjang 16 Km. Benteng lapis tiga dari keraton Liya dahulu kala dinamakan benteng Patua yang sudah ada sejak Abad VIII masehi yang dibangun oleh orang orang sakti asal Melayu dan orang-orang tua Liya menamakan benteng Pa'tua. Benteng ini keberadaan di lapangan masih di jumpai utamanya pada sisi sebelah utara umumnya masih utuh dengan ketinggian rata-rata 3 meter. Namun demikian untuk sisi barat, timur dan selatan saat ini tinggal dijumpai bekas-bekas bangunannya dari kepunahan.

 Lapis ketiga benteng Keraton Liya diperkirakan sudah mulai punah sejak masuknya Belabda di Indonesia dimana sebagian batunya di pakai untuk pembuatan Break Water dan Dermaga di Laut juga sebagian untuk pondasi bantgunan-bangunan Belanda yang ada di wilayah Wakatobi dan sekitarnya. Dan kehancuran penuh terjadi setelah masuknya Jepang ke Indonesia dengan melalui kerja paksa tentara romusa memerintahkan semua rakyat Liya untuk mengambil batu lapisbenteng ke tiga ini untuk bahan pondasi jalan seluruh wilayah wangi-wangi.





 Harapan seluruh masyarakat Liya agar survei pendataan teknis dan pemetaan zoning Benteng Keraton Liya lapis ke-3 ini bisa berjalan lancar dan sukses dan juga hasil pelaporannya benar-benar di dukung oleh data yang valid dari berbagai sumber sehingga pada laporan hasil penelitian dapat menghasilkan kejutan-kejutan baru dibidang justifikasi perbentengan yang di duga benteng Keraton Liya menjadi Benteng Terbesar di Dunia bukan benteng Wolio (.melayuonline.com )

Lembaga Forum Komunikasi KabalI Indonesia akan berada di garda terdepan dalam mengamankan seluruh aset dan potensi sejarah dan budaya milik keraton Liya untuk secxara bersama-sama dengan pemerintah membangun dan mengembangkan Benteng Keraton Liya yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi pada zamannya ****


Jumat, 25 Maret 2011

LOKASI PONTA AKAN MENJADI KAWASAN WISATA "FISHING"

 Kawasan Pantai Ponta



OLEH : ALI HABIU



Kawasan Lokasi tepian pantai Ponta yang terletak diperbatasan tanah ulayat Sdat Sara Liya dengan Sara Mandati di atas wilayah Lagiampa adalah sangat potensil dapat dijadikan satu-satunya sebagai sarana Wisata Fishing di Kabupaten Wakatobi. Luas kolam alam (storage natural sea) diperkirakan total 3,5 Ha dengan kedalaman rata-rata ketika air laut surut sedalam 3,00 meter. Kolam ini secara alamiah disepanjang habitatnya disepanjang tepinya ditumbuhi oleh tanaman hutan bakau. Kolam ini dari bagian luar laut kedalaman di batasi oleh sebuah pintu masuk dengan lebar kira-kira sepanjang 200 meter dengan kedalaman rata-rata waktu air surut sedalam 2.00 meter. 

Kolam ini bila sudah dekembangkan menjadi sarana wisata fishing, maka mulut atau pintu masuk tersebut harus dapat ditutup dengan memberikan tanggul dari pasangan batu kosong ukuran lebar atas 1,50 meter dan lebar bawa 3,00 meter dengan tinggi rata-rata 4,50 meter dan panjang 200 meter. Pada bagian pesisir pantai sepanjang kolam ini dapat didirikan cottega dan resort untuk tempat peristirahatan para turis sekaligus tempat membakar ikan hasil tangkapan di kolam itu.

 Mudah-mudahan usulan lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia dapat dipenuhi oleh bapak Menteri Pekerjaan Umum, sehingga mulai tahun anggaran 2012 kegiatan pembangunannya akan di tangani oleh Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan total biaya awal sebesar Rp.700 juta. 
Pengelolaan lokasi Kawasan Wisata Fishing ini akan ditangani bersama antara lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia, Masyarakat Adat pemilik Lahan bersama Lembaga Adat Liya. ****

Senin, 14 Maret 2011

TARI HONARI TAMBURU HANYA BOLEH TAMPIL PADA ACARA RITUAL ADAT ATAU SAMBUT PEJABAT


Pasukan Tari Tamburu Keraton Liya


Oleh : Humas Kabali Indonesia




Tarian Honari Tamburu  yang terdiri dari 15 orang pasukan Sara dengan membaw tombak asli dilengkapi dengan 1 orang pemukul tambur (gendang) dan 1 orang pembawa bendera kebesaran Kerajaan Liya hanya boleh ditampilkan pada acara-acara ritual adat Liya dan penyambutan para pejabat (dahulu penyambutan para sultan atau raja) dalam lingkungan keraton Liya. Jika pelaksanaanya di luar ketentuan tersebut maka tarian tersebut sudah melanggar aturan  adat dan tradisi leluhur keraton Liya yang mesti disadari dan dikembalikan posisi sesuai dengan keasliannya. 

 Berhubung karena zaman sudah moderen bisa saja Tarian Tamburu ini di panggil  kewilayah-wilayah lain diluar Keraton Liya asal saja tujuannya untuk menyambut para pejabat atau ada pentas seni budaya lain yang terlebih dahulu melalui  izin Lembaga Adat Liya agar keaslian tujuan dari eksistensi terian Honari Tamburu ini  bisa dipertahankan keaslian kesakralannya dan kemurniannya di lingkungan sosial kemasyarakatan.  



Tari Honari Mosega Keraton Liya

 
Tarian Honari Tamburu ini berpasangan dengan Tarian Honari Mosega dimana pada zaman dahulu kala acara ini digelar setiap ada ritual adat dan penyambutan para petinggi daerah lain seperti sultan maupun raja-raja. Setelah pelaksanaan Tarian Honari Mosega, maka dilakukanlah atraksi serang menyerang dengan Tombak satu dengan lainnya dan ini dinamakan makandara tamburu. 

 Pada saat penyerangan semua penonton sudah berlari menepi keluar arena sebab pelaksanaan atraksi tombak menombak dilaksanakan dengan sunguh-sungguh dan tak ada yang satupun terluka ketika mengenai badan orang-orang dalam pasukan tombak tersebut, bahka hanya bunyi lentingan besi dan baja yang terdengar ketika menyambar badan orang-orang tersebut. Tarian ini merupakan satu tarian tradisional kebanggaan milik Keraton Liya yang mestinya saat ini dapat dilestarikan dan dikembangkan dengan baik dan benar****

Sabtu, 12 Maret 2011

MAKAM LAKINA AJABANAR HAL WALIU





OLEH : ALI HABIU


Makam keramat seorang wali allah yang terdapat di antara Mandati Tonga dengan Desa Lagiampa bernama Lakina Ajabanar Hal Waliu adalah merupakan makam yang sebagian orang-orang asal Mandati mempercayainya bisa membawa berkah tersendiri. Oleh karena itu Makam ini dibetulkan kembali oleh Wakil Bupati Wakatobi yakni saudara Hendiarto mengingat beberapa waktu lalu ketika poros jalan wanci-air port Matahora dibuka di dekatnya pernah batu hitam ini digusur oleh Bull Dozer namun sedikitpun batu hitam ini tak bergeming atau goyang dari tempatnya. Makam Lakina Ajabanar Hal Waliu ditandai oleh sebuah batu karang hitam yang di atasnya ditumbuhi oleh pohon bunga cempaka dan akibat dari kejadian itu Hendiarto membetulkan makam ini dengan membuat dinding dibagian kepalanya dan diberi nama wali tersebut.



Konon kabarnya Lakina Ajabar Hal Waliu adalah berasal dari Batauga sekitar abad XVII lalu dimana dia sebagai Raja disana namun karena kekuasaannya sangat kejam dengan rakyatnya dan telah banyak yang dihukum penggal maka dia diasingkan oleh Sara Batauga ke kepulauan Wangi-Wangi. Setelah dia tiba di kepulauan ini diapun mencari tempat aman dan tenang dan dipilihnya daerah padangkuku ini sebagai tempat huniannya. 




Semasa dia mengasingkan diri di tempat ini, dia sering berkunjung ke Keraton Liya yang mana pada saat itu yang menjadi Raja Liya adalah La Ode Ali anak kandung dari Sultan Langkariri atau Sultan ke XIX buton dan dia merupakan kerabat dekat raja Liya ini****


Kamis, 03 Maret 2011

PEMERINTAH PROVINSI SULTRA MEMBANTU 2 BUAH GENDANG KE SANGGAR SENI BUDAYA KABALI INDONESIA




OLEH : ALI HABIU



Alhamdulillah puji dan syukur tak hentinya dipanjatkan kehadirat Tuhan YME, Allah SWT, atas keridhoannya, maka pemerintah provinsi sulawesi tenggara melalui Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu telah membantu pengembangan seni budaya Liya dengan memberikan 2 buah gendang tradisional yang terdiri dari 1 buah gong besar dan 1 buah gendang kecil untuk dipakai sebagai peralatan latihan pada Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia yang berpusat di dusun Woru Kawasan benteng Keraton Liya kepulauan Wagi-wangi Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara. Hal ini bisa terlaksana atas kerja sama Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara.

Satu lagi kebanggaan kita bahwa di sulawesi tenggara masih ada kepedulian terhadap pengembangan seni budaya tradisional Liya bila dibandingkan dengan pemerintahan kabupaten Wakatobi hingga saat ini belum ada perhatian serius terhadap pengembangan dan pelestarian kebudayaan Liya. Cukup kita maklum bahwa orientasi pemerintahan Kabupaten Wakatobi dalam pembinaan budayanya masih ber fokus sektarian hanya lingkungan ethnis Tomia saja yang menjadi prioritas padahal kalau kita mau bersaing tentang klasifikasi peradaban budaya ethnis Tomia tak ada apa-apanya jika dibanding dengan peradaban budaya ethnis Liya yang di latar dengan kebesaran Benteng Keratonnya.  Tapi bagi warga KabaLi tak usah putus asah dan berkecil hati Tuhan YME, Allah SWT maha mendengan dan maha mengetahui segala sesuatunya, insya allah dalam waktu dekat ini desa Liya dalam kawasan benteng Keraton Liya akan dikunjungi oleh deputy parawisata internasional dari Amerika Serikat dan dari pengembangan kerja sama kebudayaan dengan negeri Belanda. Mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar sesuai dengan skedul yang ditetapkan.

Saat ini di Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia pusat Liya telah digarap sekitar 15 buah Seni Budaya Tradisional berupa seni tari 11 buah dan atraksi tradisional 4 buah, terdiri dari :
  1. Tari lariangi Kareke
  2. Tari lariangi Liya
  3. Honari Samba
  4. Tari Maraim Tombo
  5. Tari Kenta-Kenta
  6. Tari Balumpa Liya
  7. Tari Keden-Kede
  8. Tari Ngifi
  9. Tari Ande-Ande
  10. Tari Honari Mosega
  11. Tari Kabali (Tari Talo-Talo)
  12. Atraksi Posemba Wemba
  13. Atraksi Posemba Aae
  14. Atraksi Posepa'a
  15. Atraksi Pomansa'a 

Semua Seni tari Tradisional dan Atraksi Tradisional tersebut akan di gelar pada acara SEAL Wakatobi 2011 bulan Agustus 2011 dan pada acara Gelar Budaya Festival Keraton Liya 2011 bertempat di lapangan belakang mesjid Agung Keraton Liya dalam kompleks Benteng Keraton Liya****

MULAI AKHIR BULAN MARET 2011, KAWASAN BENTENG KERATON LIYA DIREVITALISASI

 Tim Pusat Direktorat Jenderal Penataan Bangunan dan Lingkungan
Bersama Ketua Umum Lembaga Forkom Kabali Indonesia
Lokasi Resort Hugua, Patuno.


OLEH : ALI HABIU





Berturut-turut selama selang 2 minggu mulai sejak tanggal 17 Februari 2011 dan 23 Februari 2011 Tim Investigasi para sarjana arsitektur dari Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara kerja sama dengan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia datang ke kawasan Benteng Keraton Liya untuk mengukur beberapa segmentasi kawasan dimana fisiknya ditingkatkan statusnya menjadi daya dukung desa wisata budaya kawasan Benteng Keraton Liya. Untuk mendukung rencana tersebut pada tanggal 23 Februari 2011 Tim dari Direktur Pebataan  Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya sebanyak 3 orang ahli tata ruang turut serta mengikuti rombongan ke Liya untuk menyaksikan langsung terhadap beberapa obyek vital yang telah di usulkan untuk dapat disetujui dan alhamdulillah semua usulan dapat diterima oleh Tim tersebut. Adapun revitalisasi kawasan Benteng Keraton Liya yang akan diusulkan menjadi proyek kegiatan tahun 2011 adalah :
  1. Penimbunan Lapangan dibelakang mesjid agung Keraton Liya dilengkapi dengan pemagaran keliling setinggi 80 cm dengan sistem pasangan batu kosong model benteng,
  2. Pembangunan 1 unit Padepokan Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia bertempat di Seru, dengan model bangunan Kamali terbuka setinggi 5 meter dengan lantai dan ukuran bangunan 12 x 8 m2,
  3. Pembangunan 2 unit Pintu Gapura dilengkapi dengan pos jaga dibangun di dua lokasi yakni depan SD Bira dan di pertemuan depan SD Keraton Liya, dengan lebar gapura 6 meter, konstruksi model Kamali. Gapura ini bertemakan : "Selamat Datang..., Anda Memasuki Kawasan Benteng Keraton Liya",
  4. Pembangunan 1 unit gedung "Pusat Informasi Kebudayaan KabaLi Indonesia" model Kamali dari Konstruksi beton termodifikasi ukuran 10 x 20 m2 di lokasi tanah ex. SMA-Negeri IV Liya,
  5. Pembangunan 1 unit gedung Kantor Sanggar Seni Budaya KabaLI Indonesia model Kamali, ukuran 5 x 7 m2 dibangun di lokasi ex. SMA Negeri IV Liya,
  6. Pengadaan 6 buah kios permanent ukuran 1,5 x 3 m2 untuk tempat jualan hasil-hasil pengrajin tradisional dan makanan tradisional yang akan di pasang di sekitar lapangan belakang mesjid agung keraton Liya,
  7. Pembangunan 2 unit lapangan parkir dengan ukuran 80x 70 m2 dan 100 x 100 m2 yang akan dibangun di lokasi ex. SMA Negeri IV Liya dan di depan SD Keraton Liya,
  8. Pembangunan 13 buah pintu Lawa, dibangun sesuai keasliannya,
  9. Pembangunan 1 unit Baruga dibangun sesuai keasliannya,
  10. Pemagaran prasasti "Noomi" atau Liyang dengan pagar besi, seluar 2 x 2 m2, tinggi 1,50 m
  11. Pemagaran prasasti 'Lingga" atau watu sahu'u dengan pagar besi ukuran 2 x 2 m2, tinggi 1,50 m
  12. Perbaikan jalan setapak di dusun Timi sepanjang 3,00 m dan lebar 3,50 m.
  13. Pengadaan sekitar 10 set lampu mercury 5000 waat untuk penerangan lapangan dan jalan dalam kawasan Benteng Keraton Liya.

Rencana paket ini akan ditenderkan di Direktorat Jenderal Cipta karya pada minggu pertama Maret 2011 dan mulai akan di kontrakkan pada minggu kedua Maret 2011 dan rencana pelaksanaan dimulai akhir Maret 2011. Mudah-mudahan semua data diharapkan tidak lagi berubah, kecuali mungkin Pembangunan Pusat Informasi Kebudayaan KabaLi Indonesia akan  tertunda mengingat ruang waktu kontrak hanya selama 4 bulan atau 120 hari lamanya tidak akan menyelesaikan secara tuntas pembangunan tersebut dan akan di pending menjadi kegiatan tahun 2012 mendatang bersamaan dengan penambahan kegiatan lainnya.
Pada kesempatan ini di himbau kepada semua keluarga Besar Liya di seluruh Indonesia atau dimanapun yang sempat membaca berita ini diharapkan marilah merundukkan kepala sejenak sambil bertawadduh memohon keridhoan Allah SWT (sambil membaca surat Al fatiha), kiranya pembangunan ini dapat berjalan lancar dan selamat serta Negeri Liya dapat bangkit budayanya menjadi salah satu daya dukung prospek Parawisata Budaya Internasional dikemudian hari.

Selain itu, dalam rangka SEAL Wakatobi 2011 yang berpusat di kepulauan wangi-wangi, maka pemerintah daerah kabupaten Wakatobi pada tahun anggaran 2011 ini telah menerbitkan DIPA APBD berupa pembamgunan 2 buah Pintu Gerbang perbatasan Wilayah yang akan di bangun di Numana_Liya dan di Lagiampa-One Melai. Pintu gerbang ini dilengkapi dengan thema : "Selamat Datang..., Anda Memasuki Kawasan Wisata Budaya Benteng Keraton Liya". Disamping itu juga akan dibangun jalan aspal lebar 6 meter mulai dari perbatasan Benteng Keraton Liya sampai ke Wanci. Mudah-mudahan tidak lagi berubah dan pemerintah kabupaten wakatobi sudah secara intensif mau memperhatikan kawasan Benteng Keraton Liya sebagai lokus wisata budaya andalan di wilayah Wakatobi. ****


Senin, 21 Februari 2011

ANEKDOT : “EKSISTENSI KEKUASAAN RAJA LIYA MULAI ADANYA KERAJAAN DI PULAU BUTON ABAD IX SAMPAI MASA KESULTANAN BUTON TERAKHIR MENJADI FENOMENA KERAHASIAAN YANG BELUM TERUNGKAP”

OLEH : ALI HABIU


Berbagai referensi dan teks book hasil penelitian baik bersumber dari Belanda maupun dari Kesultanan Buton hingga saat ini belum diperoleh data yang jelas tentang eksistensi Raja Liya, para perangkatnya beserta dengan Keratonnya. Hal ini cukup menantang bagi para ahli arkiologis dan ahli antopologi budaya, ahli sosiologi budaya serta sejarah budaya untuk dapatnya menguak tabir dibalik berdirinya eksistensi Raja Liya yang dikenal pada zamannya dengan sebutan TALO-TALO atau dengan nama panggilan RAJA LAKUNDARU, RAJA LAKUERU ATAU RAJA LASIUBA. Masih terjadi benang merah yang terputus alur kisah pneumatisme sejarah antara Raja Pertama di pulau Buton yang terdapat di gunung Ba,ana Meja Kamaru Lasalimu pertengahan Abab ke IX dengan para Penguasa atau Raja yang terdapat di negeri Liya ini; “apakah memang ada hubungan simbiosis mutualis antara Raja yang berkuasa di Lasalimu pada pertengahan Abab IX dengan para penguasa yang ada di negeri Liya khususnya yang terdapat di pulau Oroho”?!... Mengingat di pulau Oroho ini diperkirakan tempat bermukimnya para bajak laut yang amat terkenal pada saat itu termasuk bajak laut Tobelo yang diperkirakan mulai ada di pulau Oroho pada pertengahan Abad XI. Ada kecendrungan bahwa Mia Patamiana Wolio seperti si Jawangkati, si Malui, si Jatubun dan si Tamanajo disamping Dungku Cangia. Sang Ria Rana, Banca Patola, Kaudiro Raden Jutubun dan Raden Sibatara sebelum mereka bermukin di pulau Buton terlebih dahulu mampir di pulau Oroho ini atau Liya untuk beberapa saat.

Hal ini secara epistemologis diperkuat dengan adanya tanda-tanda persinggahan mereka di pulau Oroho seperti adanya Gua Miabasa, One Ba’a dlsb. Demikian pula Maha Patih Gajah Mada dalam pelariannya dari Sumatera menuju pulau Buton, sebelum prajuritnya masuk ke Batauga terlebih dahulu mereka singgah untuk beberapa saat di pulau Sumanga dekat pulau Oroho sambil memberi perlindungan kepada Maha Patih Gajah Mada agar tidak lagi dikenali oleh siapapun sehingga pasukan yang datang dari pulau Jawa untuk mencarinya tidak bisa diketemukan lagi. Masih perlu penelitian secara ilmiah dengan pembuktian secara arkiologis, sosiologis budaya,... "apakah ada hubungan Raja Pertama Wolio termasuk Sibatara, Wakaa Kaa dengan penguasa di pulau Oroho atau Liya ini!?.  Dan ..."seberapa jauh jarak antara Raja Talo-Talo dengan Raja pertama Buton Sibatara".?!  ..."Apakah ada sela waktu diantaranya atau sama sekali tak terjadi sela waktu"?!  ..."Apa hunbungan Lakundari di Unaha dengan Murhum di Wolio atau La Kila Ponto dan Lakundaru di Liya sebagai Raja Talo-Talo mengingat waktu penguasaanya hampir pada tahun yang bersamaan"!?.

Kemudian dalam buku Murtabat Tujuh Wolio yang disusun oleh Sultan Dayanu Ikhsanuddin terdapat susunan Babato atau Lakina untuk jabatan golongan Kaumu baik dari golongan Sukanaeyo terdapat 20 orang maupun dari golongan Matanaeyo ada 20 orang, Tak satupun golongan masuk dalam wilayah Keraton Liya. Keadaan ini mengandung pertanyaan serius… ; “mengapa sultan buton tidak memasukkan Liya sebagai bagian dari susunan golongan ini”?! Itu berarti sejak zaman dahulu kala memang Liya (Oroho) mengandung kisah penuh rahasia yang dipandang cukup strategis sehingga para Raja atau Sultan di Wolio enggan untuk mengyinggung-nyinggung keadaan ini.
Sebagai bukti nyata bahwa hanya di Liya ini yang satu-satunya wilayah yang ada dalam pemerintahan Kesultanan Buton yang di tugaskan oleh Sara Wolio anak sultan menjadi Raja di Liya. Seperti Sultan ke-XIX Sangia Manuru menugaskan anaknya bernama La Ode Ali untuk menjadi Raja di Liya. Sultan Masabuna Ilabunta menugaskan anaknya bernama La Ode Yani menjadi Raja Liya dan diikuti oleh beberapa anak sultan buton lainnya. Lain halnya dengan orang-orang berani buton atau pembangkan dalam istana buton, juga di bawa atau diasingkan di Liya sekaligus untuk memperkuat Sara Liya. Walaupun demikian baik La Ode Manarfa maupun Basyirun memberkan penjelasan dalam berbagai tulisan sejarahnya bahwa di Liya ada gelar Bobeto Mancuana golongan Matanayo yang berkedudukan sebagai panglima perang Armada Timur. Belum lagi bila kita simak orang karamah yang terdapat di Lontoi desa Liya Mawi kampung Bira dengan sebutan Mia Lontoi adalah seorang permaisuri cantik jelita yang diasingkan dari Wolio sejak Raja ke II bernama La Baluluwu (La Arafani) tahun 1365 Konon dari cikal bakan permaisuri yang cantik inilah asal muasalnya lahirnya TALO-TALO menurut folklore dari kalangan panatua asal Liya. Pengasingan ini postulat ada kemungkinan akibat dari anaknya Raja Pertama Buton yakni Raden Sibatara dengan Permaisurinya Wa Kaa Kaa atau nama aslinya Mussarafatul Izzati Al Fakhry yang bernama Bula Wambona terjadi perselingkuhan tidak resmi dengan La Baluluwu sehingga membuahkan anak perempuan yang cantik jelita. Anak ini tidak disetujui keberadaannya oleh Raden Sibatara dan Wa Kaa Kaa dan untuk menenangkan keadaan maka anak ini masih bayi disingkan ke Liya beserta seorang pengasuhnya. Sampai saat ini barang siapa yang sengaja datang ke makam Lontoi ini apalagi pada waktu-waktu tertentu maka orang yang bersangkutan setelah pulang akan di ikuti dan diberi ilmu ghaib yang amat dasyat, namun hati-hati karena bawaan ilmu yang akan diberikan itu selalu akan jadi dalam setiap tutur kata sehingga kalau tak hati-hati akan membawa banyak korban manusia dan kita sebagai hamba Allah SWT akan mendapat ganjarannya. Sesuai dengan referensi dalam buku “Assajaru Huliqa Daarul Bathny Wa Daarul Munajat” mengemukakan bahwa ketika Raja Kedua Buton dipegang oleh La Baluluwu yang memperistrikan Bula Wambona anak Raden Sibatara, maka baik Raden Sibatara maupun Wa Kaa Kaa memerintahkan La Baluluwu untuk memperluas wilayah pemerintahannya sesuai dengan perkembangan manusia di buton saat itu.

Sang Ria Rana kawin dengan Wagunu atau Wa Nepa-Nepa sebagai putri Raden Jutubun atau Bau Besi menjabat sebagai Raja Kamaru saat itu. Sang Ria Rana diangkat menjadi Raja Tiworo pertama dan Kaudoro diangkat menjadi Raja Todanga pertama dengan gelar Raja Batukara. Raja Kamaru ketika itu mengembangkan dan memperluas wilayah pemerintahannya sampai ke pulau-pulau wakatobi khususnya ke pulau Oroho dan Liya yang mana pulau Oroho sudah ada komunitas manusia yang bermukim saat itu yang tak lain komunitas kumpulan bajak laut. Pada tahun 1838 Masehi, Sultan Dayanu Ikhsanuddin yang merupakan sultan ke 29 kesultanan buton telah memperbaharui undang-undang Barata melalui “Murtabat Tujuh”. Pada saat itu Kaledupa diberi gelar Barata dengan kedudukan raja diberi gelar Lakina kaledupa yang didampingi oleh Bontoogena 2 orang, dan 3 orang Bonto yaitu Bonto Kiwolu 1 orang, Bonto Tapa’a 1 orang dan Bonto Suludadu 2 orang.
Pertanyaan kemudian muncul bahwa mengapa Raja Liya tidak pernah disinggung dalam Murtabat Tujuh ini, padahal jauh hari sebelum pembaharuan undang-undang Barata tersebut di Liya sejak awal abad ke-XV atau tepatnya mulai tahun 1523 sudah ada Raja pertama Liya bernama Talo-Talo. Raja Talo-Talo tersebut dalam menjalankan sistem pemerintahannya didampingi oleh : Meantu’u Solodadu, Meantu’u Agama, Meantu’u Salamawi, Meantu,u Nunu, Meantu,u Sampalu, Meantu,u Tiworo, Meantu,u Kontabitara, Meantu’u Sabandara. Kemudian sudah ada benteng keraton di Liya yang luasnya diperkirakan lebih luas dari benteng keraton wolio. Benteng keraton Liya dilengkapi dengan 15 buah Lawang diantaranya 2 Lawang Lingu atau rahasia, Sementara itu di benteng keraton wolio hanya terdapat 13 buah pintu lawang, satu diantaranya lawang rahasia.

Pantas saja saudara kita Hendiarto dari Buton pernah memberikan diskripsi dalam face book mengatakan bahwa kerajaan tertua di wilayah kepulauan buton adalah terdapat di Liya (baca: pulau oroho) dengan raja pertama adalah Sipanjonga. Sipanjonga sempat memerintah beberapa saat di sini sebelum berhijrah ke wolio. Ini diskripsi sejarah yang perlu disimak secara positif untuk ditindaklanjuti dalam suatu penelitian ilmiah mengingat tentu saudara kita itu tidaklah mengarang-ngarang kisah ini tanpa data sislsilah otentik.

Di keraton Liya sejak tahun 1547 telah dibangun mesjid Mubaraq sebagai mesjid agung keraton Liya setelah 9 tahun lebih dahulu dibangun mesjid agung keratin buton tahun 1538.. Dalam pemerintahan Raja Liya didampingi oleh 40 orang pasukan tombak yang dipimpin oleh meantu’u solodadu dan diiringi oleh 13 buah pasukan tamburu satu diantaranya tamburu warna hitam dipegang oleh meantu’u solodadu. Benteng di kaledupa terdapat hanya 4 buah lawang dan struktur benteng tidak serumit seperti benteng keraton Liya. Dan di Kaledupa hanya terdapat 1 buah tamburu atau pasukan tamburu.
Pada masa lalu menurut tutur folklore dari para penatua Liya mengatakan bahwa ketika Barata Kaledupa membawa Weti atau Pajak ke Sultanan Buton, maka 4 pulau yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko membawa masing-masing kapal sope-sope untuk mengantarkan weti atau pajak tersebut. Dalam perjalanan sope-sope tersebut di depan dipimpin oleh ketua rombongan dari Barata kaledupa dan lainnya ikut di belakang. Namun setelah rombongan sampai di selat Buton tepatnya di perairan Kadatua, Barata Kaledupa mundur sope-sopenya kebelakang dan selanjutnya sope-sope milik Raja Liya yang memimpin di depan sampai tiba di pelabuhan wolio yakni nganga umala. Setibanya di pelabuhan rombongan disambut oleh utusan khusus sultan buton langsung mereka di bawah ke istana sultan. Pada saat perjalanan dari pelabuhan menuju istana sultan buton, didepan dipimpin oleh Raja Liya beserta perangkatnya dan lainnya termasuk Barata Kaledupa meyusul di belakang. Pada saat masuk istana sultan buton, Raja Liya langsung dipersilahkan kedepan menuju altar sultan buton duduk mendampingi sultan buton tanpa harus memberi adat pernghormatan, kecuali Barata Kaledupa dan utusan dari Wangi-Wangi, Tomia dan Binongko yang harus memberi isyarat adat penghormatan khusus sambil dipersilahkan menempati tempat khusus duduk di depan sultan buton.
Postulat, ada kemungkinan kepemerintahan Raja Liya memang pada waktu itu diperlakukan istimewa atau diperlakukan khusus dari kesultanan Buton sebagai partnership pemerintahan kesultanan buton dibidang pertahanan dan keamananan sehingga sultan tidak perlu terlalu banyak mengatur Sara di wilayah Liya ini. Dan berdasarkan tutur folklore dari para penatua Liya bahwa ketika Sultan Buton menghadapi kesulitan dalam melawan pemberontakan dari barata Muna, maka yang diperintahkan sultan untuk membasmi para pemberontak itu adalah meminta bantuan Raja Liya Talo-Talo. Hanya dengan bilangan beberapa jam Talo-Talo sudah bisa membawa kepala pemberontak itu dan menyerahkan ke sultan Buton. Demikian pula ketika sultan Buton menghadapi kesulitan dalam menumpas bajak laut Labolontio dari ternate, maka sultan Buton juga meminta bantuan dari Raja Liya untuk menumpas mata sambali-bali tersebut.
Berhubung karena hingga kini kita masih diperhadapkan adanya keterbatasan referensi yang menyoal tentang eksistensi kekuasaan Raja Liya pada zamannya beserta seluruh perangkatnya, maka tugas kita kemudian para generasi intelektual asal Liya untuk mencari data folklore dari berbagai sumber, selanjutnya mencari buku-buku rahasia sejarah asli Liya yang konon kabarnya di simpan dalam gua ketika terjadi serangan gerombolan bersenjata tahun 1957 lalu. Dengan harapan dapat kita mengungkap keistimewaaan kedudukan Raja Liya dimasa kerajaan Buton sampai ke Sultanan Buton mengingat bahwa tidak banyak sejarah buton yang menyinggung lebih spesifik kedudukan Raja Liya dimasa silam, termasuk berbagai sumber penulisan yang di arsipkan di Leiden Belanda. *****

Kamis, 10 Februari 2011

KERAJAAN MAJAPAHIT ADALAH KERAJAAN ISLAM

OLEH : ALI AHMADI



 Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara. Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat. Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut: 1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid. 2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam. 3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam. 4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. 5. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. 6. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. 7. Pada nisan yang di curigai sementara sebagai makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim. 8. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaanNusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit. Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.Wallahu A’lam Bishshawab. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. ****


Sumber: source:http://danish56.blogspot.com/2010/11/fakta-fakta-tersembunyi-dari-kerajaan.h