KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Kamis, 12 September 2013

JIKA TUHAN MERIDHOI MULAI TAHUN 2014 "KABALI" AKAN BANGKITKAN WAKATOBI MENDUNIA ATAS KEINDAHAN ALAM DAN BUDAYA MANUSIANYA YANG BELUM TERJAMAH OLEH PEMERINTAH SAAT INI.



OLEH : ALI HABIU


Saat ini keindahan struktur alam wilayah kepualauan Wakatobi baik yang terdapat di darat maupun di laut serta keindahan budaya manusia dari gugusan pulau-pulau tukang besi tersebut belumlah nampak kepermukaan secara nyata (kecuali struktur laut pulau Hoga) karena hingga saat ini belum ada orang putra daerah asli yang mampu untuk mengangkat kepermukaan nilai-nilainya  untuk kemudian diolah, ditata dan dikembangkan sekaligus dipromosikan keseluruh pelosok dunia.


Terbentuknya kepulauan Wakatobi dimulai sejak jaman tersier hingga akhir jaman Miosen. Pembentukan pulau-pulau di kawasan ini akibat adanya proses geologi berupa sesar geser, sesar naik maupun sesar turun dan lipatan yang tidak dapat dipisahkan dari bekerjanya gaya tektonik yang berlangsung sejak jaman dulu hingga sekarang.

Kepulauan Wakatobi terdiri dari gugusan pulau-pulau utama memliki luas masing-masing pulau sebagai  berikut : Pulau Wangi-wangi 156,5 km2; Pulau Kaledupa 64,8 km2 ; Pulau Tomia 52,4 km2 ; dan.Pulau Binongko 98,7 km2

Berdasarkan Arysio Santos, dalam bukunya "Atlantis The Lost Continent Finally Found" dikatakan bahwa benua yang hilang itu berada di timur jauh dan barat jauh, dan benua yang hilang itu berada di antara  benua Amerika dan Afrika, dan menurut beliau benua itu bukanlah samudra Atliantik yang kita kenal dalam dunia modern sekarang, melainkan benua Hindia (Indonensia sekarang), ia berada di antara dua samudra, yaitu pasifik dan Hindia, kemudian negeri yang bermartabat itu memiliki kesejahteraan yang tinggi, berbudi mulia, "tanah suci" tanah yang keramatkan, masyarakatnya sejahtera, tetapi sekarang negeri itu telah lenyap hanya karena kebobrokan pemimpinnya ketika itu, maka dilanda bencana dasyat dan sampai sekarang negeri itu abadi di dalam lautan, dan tinggal gunung-gunung tinggi yang menjulang, dan kini menjadi daratan yang dikenal sekarang sebagai Indonesia. 

Plato (427 " 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Prof. Santos melihat itu ada di Indonesia, tetapi kalau kita lihat lebih jauh lagi, maka pertemuan dua samudra itu ternyata ia berada di Wakatobi.  Oleh karena itu, Entah sengaja atau tidak sengaja, pemerintah kabupaten Wakatobi menetapkan Visi Wakatobi sebagai "Surga nyata Bawah laut di jantung segi tiga karang dua" merupakan daerah surga yang sejak dulu sudah dikenal dalan berbagai kitab suci agama-agama kuno.

Keindahan bawah Laut Wakatobi, bukanlah hal yang baru, tetapi dalam berbagai naskah kuno dunia, dalam berbagai peradaban di dunia menyebutkan bahwa daerah "Surga itu" merupakan taman-taman yang indah, ditumbuhi bunga-bunga dan segala keindahannya, dan juga dihuni oleh orang-orang yang "suci" orang-orang yang berbudaya dan bermartabat. Tentunya ini membutuhkan penelitian yang lebih jauh lagi, karena negeri Atlantis menurut Prof. Santos Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato"s Lost Civilization adalah negeri yang bercirikan pantai yang indah yang menghadap ke dua samudra.

Tentunya, ini adalah sebuah kebetulan atau disengaja, maka untuk mewujudkan Wakatobi sebagai "negeri Surga nyata bawah laut" diperlukan beberapa persyaratan yang dikemukakaan oleh Prof. Santos tentang manusia yang mendiami negeri surga yang kaya raya itu, bahwa orang-orang yang mensucikan dirinya, melenyapkan nafsunya, terutama untuk kepentingan pribadi dan golongannya, tetapi orang-orang yang mementingkan kepentingan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Mereka itulah yang menghuni daerah “surga” itu. Maka dari itu kita semua harus memperjuangkan dengan saksama bahwa Wakatobi kedepan surganya bukan hanya terdapat di laut tapi juga memiliki surga nyata di daratan kepulauannya, sebagaimana cirri-ciri budaya manusia yang mendiaminya yang telah digambarkan oleh Prof Santos tersebut diatas, tetapi juga ditunjang oleh keberaneka ragam struktur fenomenal alamnya baik yang terdapat di darat maupun dalam ruang-ruang gua-gua alam bawah tanah.

Apa itu Budaya?

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.  Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Sedangkan Kebudayaan didefinisikan oleh M. Jacobs dan B.J. Stern, adalah mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial. 

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

            Pulau-pulau tukang besi yang terdiri dari pulau Wangi-Wangi, pulau Kaledupa, pulau Tomia dan pulau Binongko masa lalu sebelum tahun 1500 masehi adalah merupakan gugusan pulau-pulau yang memeliki pemerintahan tradisional secara sendiri-sendiri yang tidak pernah diatur oleh pemerintahan kerajaan Buton. La Ode Bumbu dalam bukunya Sejarah Budaya Liya (tidak diterbitkan) mengatakan bahwa sejak tahun 538 Masehi sudah terdapat permukiman di pulau Oroho kepulauan wangi-wangi. Kehidupan masyarakatnya saat itu telah memiliki nilai-nilai budaya leluhur yang amat dihormati dan yang diwariskan secara turun temurun. Walaupun belum ada naskah sejarah yang diwariskan oleh pulau kaledupa, Tomia dan Binongko, namun postulat hampir bisa dipastikan bahwa kehidupan masyarakat di pulau-pulau tersebut tidak terlalu jauh beda keberadaannya dengan seperti apa yang terdapat di pulau Oroho, karena keempat pulau-pulau tersebut merupakan suatu gugusan kepulauan yang tidak bisa terpisahkan satu dengan lainnya.

Kepulauan Wangi-wangi memiliki struktur keindahan alam yang tak ada bandingnya dengan daerah-daerah lain di dunia baik yang terdapat di laut maupun di daratannya, demikian pula nilai-nilai kebudayaannya demikian pulau yang terjadi di kepulauan Kaledupa, Tomia dan Binongko. Yang baru mendapat resfon dunia adalah pulau Hoga yang terdapat di Kaledupa.

Pesona bawah laut Wakatobi memang salah satu yang terbaik di dunia. Letak Wakatobi yang masuk dalam wilayah Segitiga Karang Dunia membuat tempat ini menjadi surga bagi para penyelam. Bagaimana tidak, Wakatobi memiliki 750 dari 850 spesies koral, jenis karang yang beragam serta makhluk laut yang sudah sulit ditemukan di daerah lain.

Demikian juga budaya Posepa,a, Budaya Honari Mosega dan Makandara Tamburu, Budaya Safara, Budaya Sampea, Budaya Kabuenga, Budaya Hekansoda’a dan lain sebagainya serta benda-benda peninggalan leluhur berupa artifak, benteng keraton Liya, benteng-benteng patua yang terdapat di Kaledupa, Tomia dan Binongko merupakan akulturasi surga nyata didaratan yang masih diperlukan penataan, pengaturan dan promosi sehingga suatu saat dapat dikenal sebagai suatu nilai-nilai peninggalan yang tak ada taranya di berbagai belahan dunia.

Jika kami sebagai Lembaga Kabali Indonesia mendapat kesempatan dan dipercaya oleh masyarakat Wakatobi untuk mengolah, menata dan mengatur semua pranata sistem budaya tersebut baik yang terdapat dalam fenomenal keindahan struktur alam wilayah wakatobi  di laut maupun didaratannya yang belum terjamah selama ini serta keindahan nilai-nilai budaya manusianya yang juga belum bangkit selama ini ;   maka dengan memohon keridhoan Tuhan YME, Insya Allah Kabali akan mulai bekerja secara berkesinambungan membangkitkannya keseluruh pelosok dunia mulai tahun 2014 mendatang. ****

Minggu, 28 Juli 2013

PEMERINTAH WAKATOBI HARUS SEGERA TURUN TANGAN AGAR PERMASALAHAN PENGOLAHAN RUMPUT LAUT DI LIYA RAYA SEGERA DAPAT TERATASI


OLEH : ALI HABIU *)


Rumput laut memiliki nilai ekonomi yang tinggi (high value commodity), spectrum penggunaannya sangat luas, daya serap tenaga kerja yang tinggi, teknologi budidaya yang mudah, masa tanam yang pendek (hanya 45 hari) dan biaya unit per produksi sangat murah. Tetapi pada kenyataannya tingkat kehidupan masyarakat pembudidaya rumput laut di desa Liya dan sekitarnya masih dominan kurang baik jika dibandingkan dengan para pedagang ikan antar pulau dan sektor informal lainnya.

Permasalahan yang diidentifikasi pada usaha rumput laut di kawasan Liya Raya dan sekitarnya adalah :

  1.  Strategi pengembangan usaha rumput laut masih kurang terencana, pengembangan usaha dominan dipengaruhi oleh faktor harga rumput laut kering, ketika harga rumput laut tinggi maka usaha budidaya berkembang cepat dan begitu sebaliknya. Strategi belum dirancang menjadi suatu struktur usaha dikelolah berorientasi pengembangan dan turunannya, sehingga sangat rentang terhadap perubahan.
  2. Posisi tawar pembudidaya kepada para pedagang masih rendah, disebabkan oleh masih kurang kesesuaian kebutuhan antara industri pengolahan dengan para pembudidaya dan belum berfungsinya kelembagaan pada tingkat petani budidaya rumput laut.
  3. Pelaku usaha kurang berperan sebagai pelaku pemasaran produksi rumput laut pada tingkat lokal maupun antar pulau sehingga harga rumput laut berfluktuasi, sangat berpengaruh pada pembudidaya dalam mengembangkan usaha rumput laut.
  4. Pengembangan budidaya rumput laut masih dilaksanakan sendiri-sendiri secara sektoral.
  5. Masih ditemukan tidak adanya koordinasi yang baik antar dinas/instansi dalam rangka pelaksanaan program pemberdayaan khususnya pada budidaya rumput laut dan penguatan modal serta peningkatan sistem monitoring controlling dan survailance untuk memperoleh data kemajuan usaha budidaya rumput laut yang terpadu di desa Liya dan sekitarnya,
  6. Analisa detail spesifikasi wilayah untuk pemanfaatan areal budidaya rumput laut yang dilakukan pembudidaya selama ini, umumnya tanpa diawali dengan penelitian tentang kondisi daya dukung lahan dan status lokasi, sehingga sangat mempengaruhi keberlanjutan usaha budidaya rumput laut.
  7. Keterbatasan penerapan dan alih teknologi budidaya rumput laut yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas hasil panen yang berkualitas melalui penelitian, percontohan, pelatihan, magang dan penyuluhan yang mestinya menjadi program kerja tahunan pemerintah daerah kabupaten Wakatobi,
  8. Perubahan budaya kerja, nelayan terbiasa mempunyai pola kerja yang dapat langsung mengambil hasil tanpa ada budidaya pemeliharaan sebelumnya, berubah menjadi pembudidaya yang membutuhkan pemeliharaan dan investasi merupakan kendala budaya. Namun dengan melihat kondisi nelayan yang berubah profesi menjadi pembudidya tingkat kehidupannya lebih baik, dapat membantu proses adaptasi perubahan budaya tersebut.
  9. Pada lokasi budidaya yang potensial, belum dikelola karena keterbatasan tenaga kerja dan keterbatasan sarana penunjang untuk mencapai lokasi dan sarana pendukungnya.
  10. Prasarana dan sarana untuk mengembangkan rumput laut dari daerah pesisir pantai wangi-wangi selatan, pulau simpora, pulau sumanga, pulau oroho, pasia roka, uju melebaki dsb masih sangat terbatas, terutama yang mendukung industri pengolahan rumput laut dan turunannya.
  11. Potensi areal budidaya masih kurang optimal pengunaannya, pemanfaatan areal kawasan belum merata dan tertata, skala usaha pembudidaya sangat bervariasi dan masih diperlukan peningkatan jiwa entrepenur bagi pembudidaya. Penataan dan kepastian status pemanfaatan pesisir merupakan salah satu masalah dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut.
  12. Keterbatasan modal usaha untuk pengadaan sarana media budidaya dan bibit rumput laut merupakan masalah saat pembudidaya akan mengembangkan usahanya.
  13. Masalah gagal panen masih sering terjadi pada suatu kawasan atau kelompok , budidaya rumput laut terserang penyakit ice-ice, lumut, dan penyakit layu.

Oleh karena itu, merupakan tanggungjawab dan tugas legislator ke depan untuk mengetok palu secara tegas bahwa pemerintah daerah kabupaten Wakatobi tanpa ragu-ragu harus segera membenahi semua permasalahan di atas melalui program kerja dinas-dinas terkait termasuk dalam menyiapkan dana APBD dan tenaga ahlinya, sehingga dapat segera di atasi semua persoalan kendala pengelolaan rumput laut yang dialami oleh masyarakat Liya Raya, Kapota, Kolo, One Melai dan sekitarnya saat ini.
*) Calon Anggota Legislatif Wakatobi 2014-2019, Partai Golkar Nomor Urut 4, Dapil Wakatobi 2, Wangi-Wangi Selatan.

Jumat, 26 Juli 2013

RUMPUT LAUT PRODUK MASYARAKAT LIYA SUDAH SAATNYA PEMERINTAH DAERAH MENDORONG MENJADI KOMUDITI ANDALAN SEKTOR PENINGKATAN EKONOMI KERAKYATAN

OLEH : ALI HABIU
 
 
 
 
 

Penemuan sejenis rumput laut spiral pada tahun 1962 menggemparkan dunia. Hal ini karena diketahui bahwa 1 gr jenis rumput laut ini menyamai kombinasi 1000 gr dari berjenis-jenis sayur-sayuran, kandungan gizi paling kaya, paling lengkap, penyebaran gizinya yang paling stabil, terutama ini adalah makanan alkali.

Mengapa panjang umur penduduk Jepang menjadi juara dunia, rahasianya adalah karena mereka dalam 1 tahun dapat mengkonsumsi 500 ton rumput laut spiral. Bila mereka pergi ke Tiongkok rata-rata mereka membawa serta rumput laut sebagai bekal utama mereka , menurut mereka dengan 8 gr rumput laut mereka akan mampu bertahan hidup selama 40 hari. Perlu diketahui juga bahwa makanan para astronot ruang angkasa zaman sekarang juga rumput laut, bukanlah roti, pau dan lain sebagainya.

Bila Anda merasa kurang gizi banyak-banyaklah mengkonsumsi rumput laut, karena dapat menstabilkan makanan dan sangat penting untuk penderita penyakit bahkan penyakit yang dapat dibilang berat sekalipun seperti :Penyakit pembuluh darah jantung dan otak, menurunkan tekanan darah tinggi dan lemak darah, kencing manis dan lain sebagainya.

Khusus untuk penyakit kencing manis, Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan protein, vitamin. Rumput laut dapat memberi protein dan keunggulan utamanya adalah agar penderita kencing manis tidak terserang penyakit komplikasi, dapat makan minum secara normal seperti orang biasa pada umumnya. Penderita kencing manis kurang energi dan tidak boleh mengkonsumsi gula, rumput laut ini adalah merupakan gula kering, setelah dimakan akan menambah energi. Selain itu, kadar gula darah penderita kencing manis tidak stabil, dengan konsumsi rumput laut dapat perlahan-lahan menghentikan obat, dan perlahan- lahan berhenti mengkonsumsi rumput laut dan akhirnya hanya dengan cara control makanan dan minuman.

Penyakit radang maag juga dapat di atasi dengan rumput laut karena mengandung zat hijau daun dan serat yang cukup tinggi sehingga dapat dapat memulihkan selaput lendir lambung.

Penyakit hepatitis juga dapat di atasi dengan cara mengkonsumsi rumput laut secara teratur, setiap keluarga, saat makan harus pisah makanan. Harus waspadai, banyak orang kelihatannya sehat- sehat saja, Anda tidak mengetahui bahwa ternyata dia adalah penderita hepatitis. Rumput laut dapat mencegah agar penyakit tersebut tidak berkembang biak, kandungan asam aminonya yang kaya dapat memulihkan sel hati dan kandungan alkali empedunya dapat memulihkan fungsi hati, meningkatkan daya tahan tubuh.

Rumput laut dari jenis spiral juga dapat mencegah radiasi yang sangat kuat, saat terjadi ledakan stasiun listrik nuklir di Rusia, Tentara Jepang membawa rumput laut jenis ini untuk mengatasi radiasi nuklir yang meluluh lantakkan stasiun listrik Rusia saat itu.

Radiasi membawa dampak yang sangar berat, rumah-rumah hancur dan sangat berbahaya untuk orang tua, wanita hamil dan anak-anak, paling sedikit 1/2 tahun kemudian baru boleh ditempati. Rumput laut yang telah diolah yang sangat murni dan kecil disebut "Zau Fu Kan" dapat menjadi anti radiasi, anti tumor, anti virus, anti oksidasi, meningkatkan daya tahan tubuh, Zao Fu Kan ini adalah satu-satunya yang dapat mencegah radiasi.

Begitu hebatnya khasiat rumput laut bagi kesehatan tubuh manusia, hanya sayang masyarakat Indonesia belum begitu banyak memahami akan manfaat rumput laut ini. Perlu pengenalan lebih lanjut kepada masyarakat luas agar mereka tahu bahwa sebenarnya rumput laut sangat bermanfaat bagi tubuh mereka.

Kehadiran IPCM Rumput Laut adalah merupakan harapan baru bagi masyarakat Indonesia untuk hidup sehat secara alami yang memang sekarang baru disadari bahwa penggunaan bahan kimia sebagai bahan tambahan makanan akan menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya bagi manusia.



 
Pengembangan rumput laut di desa Liya dimulai sejak tahun 1986 dengan memberikan contoh penanaman pada beberapa masyarakat di desa Lagundi yang secara kebetulan ada beberapa masyarakatnya baru pulang berpendidikan dari kota Makassar sering membaca manfaat rumput kesehatan laut tsb sekaligus manfaat ekonomi bagi keluarga jika mampu menghasilkan produk yang banyak dan bisa memasarkannya. Saat itu kebetulan La Ode Saruhu (LM. Ali Habiu) bekerja di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Buton sejak tahun 1985 sering berkunjung di desa Liya dan pada suatu kesempatan di awal tahun 1986 membawakan contoh rumput laut jenis yang baik sekaligus memberikan contoh sistem penanamannya dan cara memanennya kepada beberapa orang masyarakat di desa Lagundi yakni La Ode Ali, La Ode Dhahi, La Ode Sahira. Dan alhamdulillah selang beberapa tahun kemudian tepatnya awal tahun 1990-an petani rumput laut di wilayah Liya sudah mulai menjamur dan menghasilkan produk rumput laut yang lumayan besar kala itu. Hanya saja masih terkendala pada jejaring sistem pemasaran. 
 
 


Sampai saat ini pemerintah daerah Kabupaten Wakatobi belum satupun program kerja mereka menyentuh kebijakan pembinaan dan pengelolaan sistem ekonomi rumput laut tersebut sehingga sudah tibalah saatnya masyarakat Liya mendedak dan menuntut pemerintah Wakatobi untuk bertanggungjawab atas pembinaan dan pengelolaan termasuk sistem pemasaran rumput laut di desa Liya ini sehingga masyarakat petani sektor ini dapat meningkatkan ekonominya secara merata dan kontinue. Dengan demikian rumput laut dapat menjadi sektor andalan dan membawa peningkatan ekonomi kerakyatan di wilayah Liya raya.

Saya La Ode Saruhu akan memperjuangkan secara politik eksistensi rumput laut tersebut ketika bisa menjadi legislator wakatobi 2014-2019 mendatang dan merupakan kerja-kerja prioritas bagi kebijakan DPRD Wakatobi. Semoga !!
RUMPUT LAUT PRODUK MASYARAKAT LIYA SUDAH SAATNYA PEMERINTAH DAERAH MENDORONG MENJADI KOMUDITI ANDALAN SEKTOR PENINGKATAN EKONOMI KERAKYATAN



Penemuan sejenis rumput laut spiral pada tahun 1962 menggemparkan dunia. Hal ini karena diketahui bahwa 1 gr jenis rumput laut ini menyamai kombinasi 1000 gr dari berjenis-jenis sayur-sayuran, kandungan gizi paling kaya, paling lengkap, penyebaran gizinya yang paling stabil, terutama ini adalah makanan alkali.

Mengapa panjang umur penduduk Jepang menjadi juara dunia, rahasianya adalah karena mereka dalam 1 tahun dapat mengkonsumsi 500 ton rumput laut spiral. Bila mereka pergi ke Tiongkok rata-rata mereka membawa serta rumput laut sebagai bekal utama mereka , menurut mereka dengan 8 gr rumput laut mereka akan mampu bertahan hidup selama 40 hari. Perlu diketahui juga bahwa makanan para astronot ruang angkasa zaman sekarang juga rumput laut, bukanlah roti, pau dan lain sebagainya.

Bila Anda merasa kurang gizi banyak-banyaklah mengkonsumsi rumput laut, karena dapat menstabilkan makanan dan sangat penting untuk penderita penyakit bahkan penyakit yang dapat dibilang berat sekalipun seperti  :Penyakit pembuluh darah jantung dan otak, menurunkan tekanan darah tinggi dan lemak darah, kencing manis dan lain sebagainya.

Khusus untuk penyakit kencing manis, Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan protein, vitamin. Rumput laut dapat memberi protein dan keunggulan utamanya adalah agar penderita kencing manis tidak terserang penyakit komplikasi, dapat makan minum secara normal seperti orang biasa pada umumnya. Penderita kencing manis kurang energi dan tidak boleh mengkonsumsi gula, rumput laut ini adalah merupakan gula kering, setelah dimakan akan menambah energi. Selain itu, kadar gula darah penderita kencing manis tidak stabil, dengan konsumsi rumput laut dapat perlahan-lahan menghentikan obat, dan perlahan- lahan berhenti mengkonsumsi rumput laut dan akhirnya hanya dengan cara control makanan dan minuman.

Penyakit radang maag juga dapat di atasi dengan rumput laut karena mengandung zat hijau daun dan serat yang cukup tinggi sehingga dapat dapat memulihkan selaput lendir lambung.

Penyakit hepatitis juga dapat di atasi dengan cara mengkonsumsi rumput laut secara teratur, setiap keluarga, saat makan harus pisah makanan. Harus waspadai, banyak orang kelihatannya sehat- sehat saja, Anda tidak mengetahui bahwa ternyata dia adalah penderita hepatitis. Rumput laut dapat mencegah agar penyakit tersebut tidak berkembang biak, kandungan asam aminonya yang kaya dapat memulihkan sel hati dan kandungan alkali empedunya dapat memulihkan fungsi hati, meningkatkan daya tahan tubuh.

Rumput laut dari jenis spiral juga dapat mencegah radiasi yang sangat kuat, saat terjadi ledakan stasiun listrik nuklir di Rusia, Tentara Jepang membawa rumput laut jenis ini untuk mengatasi radiasi nuklir yang meluluh lantakkan stasiun listrik Rusia saat itu.

Radiasi membawa dampak yang sangar berat, rumah-rumah hancur dan sangat berbahaya untuk orang tua, wanita hamil dan anak-anak, paling sedikit 1/2 tahun kemudian baru boleh ditempati. Rumput laut yang telah diolah yang sangat murni dan kecil disebut "Zau Fu Kan" dapat menjadi anti radiasi, anti tumor, anti virus, anti oksidasi, meningkatkan daya tahan tubuh, Zao Fu Kan ini adalah satu-satunya yang dapat mencegah radiasi.

Begitu hebatnya khasiat rumput laut bagi kesehatan tubuh manusia, hanya sayang masyarakat Indonesia belum begitu banyak memahami akan manfaat rumput laut ini. Perlu pengenalan lebih lanjut kepada masyarakat luas agar mereka tahu bahwa sebenarnya rumput laut sangat bermanfaat bagi tubuh mereka.

Kehadiran IPCM Rumput Laut adalah merupakan harapan baru bagi masyarakat Indonesia untuk hidup sehat secara alami yang memang sekarang baru disadari bahwa penggunaan bahan kimia sebagai bahan tambahan makanan akan menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya bagi manusia

Pengembangan rumput laut di desa Liya dimulai sejak tahun 1986 dengan memberikan contoh penanaman pada beberapa masyarakat di desa Lagundi yang secara kebetulan ada beberapa masyarakatnya baru pulang berpendidikan dari kota Makassar sering membaca manfaat rumput kesehatan laut tsb sekaligus manfaat ekonomi bagi keluarga jika mampu menghasilkan produk yang banyak dan bisa memasarkannya. Saat itu kebetulan La Ode Saruhu (LM. Ali Habiu) bekerja di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Buton sejak tahun 1985 sering berkunjung di desa Liya dan pada suatu kesempatan di awal tahun 1986 membawakan contoh rumput laut jenis yang baik sekaligus memberikan contoh sistem penanamannya dan cara memanennya kepada beberapa orang masyarakat di desa Lagundi yakni La Ode Ali, La Ode Dhahi, La Ode Sahira. Dan alhamdulillah selang beberapa tahun kemudian tepatnya awal tahun 1990-an petani rumput laut di wilayah Liya sudah mulai menjamur dan menghasilkan produk rumput laut yang lumayan besar kala itu. Hanya saja masih terkendala pada jejaring sistem pemasaran. 

Sampaia saat ini pemerintah daerah Kabupaten Wakatobi belum satupun program kerja mereka menyentuh kebijakan pembinaan dan pengelolaan sistem ekonomi rumput laut tersebut sehingga sudah tibalah saatnya masyarakat Liya mendedak dan menuntut pemerintah Wakatobi untuk bertanggungjawab atas pembinaan dan pengelolaan termasuk sistem pemasaran rumput laut di desa Liya ini sehingga masyarakat petani sektor ini dapat meningkatkan ekonominya secara merata dan kontinue. Dengan demikian rumput laut dapat menjadi sektor andalan dan membawa peningkatan ekonomi kerakyatan di wilayah Liya raya. 

Saya La Ode Saruhu akan memperjuangkan secara politik eksistensi rumput laut tersebut ketika bisa menjadi legislator wakatobi 2014-2019 mendatang dan merupakan kerja-kerja prioritas bagi kebijakan DPRD Wakatobi. Semoga !!

Jumat, 03 Mei 2013

PEMBANGUNAN PINTU LAWA OLEH DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM SUDAH MULAI RUSAK DIMAKAN RAYAP

OLEH : HUMAS KABALI INDONESIA


Menjelang palaksanaan Sail Wakatobi-Balitong 2011 lalu pemerintah Kabupaten Wakatobi mendapat bantuan dana dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan jumlah dana sebesar total sekitar 2,4 Milyar Rupiah, kini ramuan kayu bangunan pintu Lawa sudah mulai rusak dimakan oleh kumbang rayap dan 12 buah bangunan pintu Lawa sudah dalam keadaan rusak ringan/berat. Hal ini bisa terjadi karena Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Kabupaten Wakatobi seakan tidak perduli akan keberadaan bangunan-bangunan pintu Lawa yang di bangun di Benteng Liya pulau Wangi-Wangi karena merasa bangunan-bangunan tersebut bukan merupakan program kerja mereka bahkan mungkin karena lokasinya bukan di pulau Tomia, sehingga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Energi walaupun telah disampaikan dan dikoordinasikan hal tersebut, namun mereka tidak menyiapkan dana bahkan tidak mau perduli akan adanya kerusakan bangunan-bangunan pintu Lawa akibat dimakan oleh binatang kumbang jenis anai-anai.






 
Dana yang diperlukan untuk pembangunan sarana lingkungan kawasan Benteng Liya tahun 2011 lalu bukan sedikit, sehingga masyarakat mempertanyakan sejauhmana tanggungjawab pemerintah kabupaten Wakatobi dalam memelihara bangunan-bangunan fisik yang telah dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum di desa Liya Togo pulau Wangi-Wangi.




Sayang sekali saat pembangunan pintu Lawa benteng Liya saat itu tak ada satupun pelaksanan pengawasan dari unsur teknis Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wakatobi, sehingga di lapangan dijumpai ramuan-ramuan kayu yang digunakan oleh Kontraktor Pelaksana menggunakan kayu-kayu lapuk atau kayu-kayu kualitas kelas IV dan V. Padahal dalapm spesifikasi kontrak mestinya menggunakan kayu-kayu kelas II jenis kayu jati atau Bengkirai atau Meranti. Masyarakat Liya Togo yang bermukim disekitar bangunan-bangunan pintu Lawa tersebut ketika itu merasa heran mengapa bangunan cagar budaya milik leluhur mereka dibangun dengan menggunakan kayu berkualitas sangat rendah. saat  ini masyarakat lokal meminta Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum untuk segera turun lapangan memeriksa pekerjaan-pekerjaan hasil kontrak dari Direktorat PBL Kementerian Pekerjaan Umum melihat di lapangan banyak kejanggalan dalam kualitas pelaksanaan dan dimensi ukuran ramuan konstruksi kayunya. Demikian pula diminta kepada Komisi Pemberantasan Kosupsi untuk segera turun tangan menyoal masalah tersebut agar dugaan indikasi pelaksanaan tindak pidana korupsi pada keseluruhan paket PBL tanhun 2011 di kabupaten Wakatobi dengan nilai kontrak sekitar 8 Milyar lebih dapat diketahui pertangggungjawaban dengan transfaran.****

Jumat, 26 April 2013

HASIL PENELITIAN MAHASISWA PASCA SARJANA UNHALU MENUNJUKAN PENGELOLAAN PARIWISATA DI WAKATOBI TIDAK BERBASIS MASYARAKAT TAPI BERBASIS PEMILIK MODAL

OLEH : HUMAS KABALI INDONESIA



Dalam rangka hari ulang tahun sulawesi tenggara ke 49 Tahun 2013 dimeriahkan beberapa kegiatan diantaranya kegiatan Seminar Pariwisata dan Maritim : "Mewujudkan Sultra Sebagai destinasi pariwisata Unggulan Serta Meningkatkan Ketahanan Maritim dan Ekonomi kelautan Untuk Kesejahteraan Masyarakat" . Seminar ini dilaksanakan malam hari Tanggal 24 April 2013 di Swiss Belt Hotel Kendari. Dalam acara diskusi seminar ini dibawakan 4 finalis antara lain : Prof DR. Nasruddin Suyuti (Unhalu), Prof.DR. Jamaluddin Jampa (Unhas), Ir.H.Hugua (Bupati Wakatobi) dan Kolonel Laut Yos Suryono (Komandan Lanal Kendari) yang kemudian dimoderatori oleh Prof.DR. La Sara (Unhalu). 
Acara seminar ini dibuka oleh Wakil Gubernur Sultra yang di hadri oleh Pjs. Bupati Kolaka Timur, dan beberapa orang Kepala SKPD Provinsi Sultra. Sayang Gubernur Sultra berhalangan sehingga para kepala SKPD sultra juga banyak yang tidak hadir. Secara keseluruhan undangan disebar sebanyak 150 orang yang terdiri dari semua SKPD kabupaten/Kota se sultra, para tokoh2 LSM pemerhati parawisata termasuk ketua umum Lembaga Kabali Indonesia dan tokoh-tokoh masyarakat dan diperkirakan yang hadir adalah 70% dari total undangan yang disebar.





Semua finalis membawa materi secara singkat dan padat mengingat waktu sangat terbatas dan yang paling menarik dari semua materi finalis adalah materi kepariwisataan yang dibawakan oleh Prof.DR. Nasrudin Suyuti, dosen fakultas ilmu-ilmu sosial dan pasca sarjana Universitas Haluoleo Kendari. Dia memaparkan berbagai hasil penelitian mashasiswa Pasca Sarjana Unhalu di Wakatobi tentang pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. Hampir semua sektor pengelolaan pariwisata di wilayah Wakatobi hingga saat ini masyarakat belum pernah dilibatkan, malah sebaliknya yang mengelola pariwisata baik pariwisata maritim (kelautan) maupun pariwisata budaya adalah para kelompok kapitalis dan borjuis yang dimotori oleh Ir.H. Hugua atau katakanlah Grup Hugua cs di pulau Wangi-wangi dan Hoga Kaledupa. Selain itu juga grup Lorenzs di pulau Tomia. Selama pengelolaan pariwisata masih dikuasai oleh kelompok kapitalis maka selama itu pula hasil-hasil pengelolaan pariwisata baik maritim maupun budaya tak pernah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Wakatobi. Prof.Dr. Nasruddin Suyuti meminta kepada Bupati wakatobi untuk dapat merubah pola manajemen pengelolaan pariwisata di Wakatobi sehingga masyarakat dapat ikut serta dilibatkan secara penuh di lapangan. 






Dalam acara sesi tanya jawab, ada 5 orang penanya yang materi pertanyaannya rata-rata menyorot pemerintah kabupaten wakatobi bahkan dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Konut menanyakan kepada Hugua kenapa waktu pelaksanaan MTQ Tahun 2012 lalu ketika mereka berada di Wanci banyak masyarakat yang mengeluh bahwa pengelolaan pariwisata di Wakatobi tidak pernah mereka nikmati keberhasilannya dengan istilah "Surga di Laut dan Neraka di darat". Sedangkan Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia menyoroti sistem manajemen pengelolaan pariwisata di wakatobi telah dikuasai oleh kelompok Kapitalis dan Borjuis yang mana rakyat hanya sebagai pennton di kampung sendiri. Pemerintah daerah tidak pernah membatu dana untuk pengelolaan pariwisata budaya di Liya.



Untuk pengelolaan pariwisata maritim di pulau Wangi-wangi dan Hoga dilaksanakan manajemennya di Resort Patuno atau orang lebih kenal dengan sebutan Resort Hugua, sebab resort ini adalah sepenuhnya milik Bupati Wakatobi. Dalam aktivitasnya para turis ditawarkan berbagai paket-paket wisata maritim seperti Snoukling dan Diving termasuk lokasi yang ditunjuk. Biasanya operasi turis-turis yang telah membeli paket wisata di Resort Patuno langsung di ajak menyelam di Hoga, selain itu juga di pulau Sumanga, Pantai One Baa (ujung oroho) dan sekitar perairan wangi-wangi selatan yang mana kepemilikan wilayah laut tersebut sejak zaman kerajaan hingga kini adalah milik penuh hak ulayat adat Liya. Pemakaian lokasi-lokasi wilayah hak ulayat sara Liya sejak Tahun 2008 hingga saat ini belum pernah manajemen Resort Patuno membayar royalty atau kompensasi ke Sara Liya. Padahal kalau mau hukum adat ditegakan di wilayah hukum sara Liya maka bisa saja semua wilayah hak ulayat pulau-pulau dan garis pantai milik sara Liya di larang untuk turis melakukan segala sesuatu kegiatan keparwisataan baik snoukling maupu diving. Pantas saja kegiatan pengelolaan pariwisata budaya di Liya Togo macet hingga kini, karena dia bukan bagian dari kebijakan Bupati Wakatobi. *****

Kamis, 11 April 2013

BANTUAN HIBAH SEPERANGKAT INTERNET UNTUK PENGELOLA PARIWISATA BUDAYA KABALI INDONESIA DARI KEMENTERIAN INFORMASI DAN TELEKOMUNIKASI BELUM JUGA DITERIMA

OLEH : HUMAS KABALI INDONESIA.

Pada tanggal 8 April 2013, Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia telah menerima tamu dari Kepala Seksi of Model Implementation for Information Technology Empowerment in Urban Area yakni saudara Menhariq Noor dan Aris Kurniawan  dari Kementerian Informasi dan Telekomunikasi Republik Indonesia di Wanci tepatnya di Hotel Wisata Wangi-Wangi. Pada saat pertemuan hari itu senen sekitar Jam 09.00 WIT dihadiri pula oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi ikut mendukung dan memberikan rekomendasi bahwa bantuan hibah seperangkat peralatan Komputer dari Program PLIK (Pusat Layanan Internet  Kecamatan) dari Kementerian Informasi dan Telekomunikasi disetujui untuk dibantu Lembaga Kabali Indonesia guna pengelolaan pariwisata budaya di Liya Togo. Bantuan hibah seperangkat internet dengan 5 buah komputer ini telah disampaikan langsung oleh Saudara Aris Kurniawan kepada Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia yakni Bapak Ir.L.M. Ali Habiu,M.Si pada hari Kamis tanggal 4 Maret  2013 via telpon selulernya sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya ke Wangi-Wangi pada Hari Minggu Tanggal 7 Maret 2013. Seperangkat internet dan 5 buah komputer ini adalah murni bantuan langsung dari Kementerian Informasi dan Telekomunikasi Republik Indonesia kepada Lembaga Pengelola Pariwisata Budaya Kabali Indonesia guna membuka akses seluas-luasnya daerah wisata budaya Liya Togo ke dunia manca negara untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam rangka pengelolaan kepariwisataan disamping sebagai media sarana komunikasi dunia maya para wisatawan manca negara yang berkunjung ke Liya Togo dan sekitarnya.


 Aris Kurniawan dan Menhariq N Lagi Bingung Dalam Koordinasi Hibah ke Kabali

Aris Kurniawan Sedang Nikmati di atas Bastion Talo-Talo Benteng Liya


Namun sangat disayangkan bantuan Hibah tersebut hingga Minggu pertama April 2013 belum juga Lembaga Pengelola Pariwisata Budaya Kabali Indonesia menerimanya, padahal di Kantor pengelola pariwisata budaya tersebut telah disiapkan ruangan ukuran 3 x 5 m2 untuk penempatan seperangkat komputer dan peralatan internetnya.

Menurut Menhariq Noor dan rekannya bahwa setibanya mereka di Wangi-wangi harus terlebih dahulu mengadakan koordinasi dengan Kepala Dinas Informasi dan Telekomunikasi Kabupaten Wakatobi, sebab surat pemberitahuan dari kementerian jatuhnya di instansi tersebut, namun pada hari senen tanggal 8 April 2013 kepala dinas yang bersangkutan tidak ada di ruang kerjanya sebab sedang mengikuti rapat kordinasi dengan Bupati Wakatobi di gedung Darma Wanita Wangi-Wangi. Oleh karena itu dilain kesempatan Drs.Andi Tawakkal sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi menyayangkan adanya birokrasi yang berbelit-belit, mengingat beliau selaku kepala Dinas juga bisa sekaligus mewakili dan/atau mengatasnamakan Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi dalam penerimaan bantuan hibah peralatan internet tersebut dengan pertimbangan baik Kepala Dinas Informasi dan telekomunikasi Kabupaten Wakatobi maupun Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabaupaten Wakatobi adalaah sama-sama pembantu Bupati yang bisa menyelesaikan persoalan dengan memperpendek jalur birokrasi dan tentunya tinggal dilakukan koordinasi dengan pemerintah daerah wakatobi*****



Kegiatan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) Bantuan Kemeninfokom

Pasa akhir bulan Maret 2013 lalu, Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia telah menghubungi Aris Kurniawan rekan  Menhariq Noor mengatakan bahwa hingga kini sementara menunggu disposisi dari Dinas Informasi dan Telekomunikasi Kabaupaten Wakatobi. Konformasi ini menurut Lembaga Kabali Indonesia sangat bertentangan dengan rekomendasi yang diberikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi yang mana beliau menginginkan sesuai dengan rencana semula kedatangan Tim dari Kementerian Informasi dan Telekomunikasi bahwa seperangkat komputer dan peralatan internet tersebut di hibahkan untuk Kabali Indonesia di Liya Togo. ****


Sabtu, 30 Maret 2013

LEMBAGA FORUM KOMUNIKASI KABALI INDONESIA TELAH MENGADUKAN LEMBAGA BRITISH COUNCIL KE KADIS KESBANG, KADIS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DAN POLSEK WANGI-WANGI SELATAN KABUPATEN WAKATOBI

HUMAS : KABALI INDONESIA



Pada hari senen tanggal 18 Maret 2013 lalu Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia bersama Ketua Cabang Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Kabupaten Wakatobi telah melaporkan Lembaga British Council Indonesia atas kegiatan yang dilakukan bersama LSM-Sintesa milik Bupati Wakatobi (Hugua) dan Lembaga Greeneration Bandung (Grup WWF Indonesia) menggerakkan masyarakat di dusun Bisitio Desa Wisata Liya Togo. Laporan ini bersifat pengaduan untuk segera diselesaikan sengketa antara Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia dengan British Council yang sejak Juli 2012 sampai saat ini melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kepariwisataan yang tidak pernah melakukan koordinasi dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia yang telah menggarap kegiatan-kegiatan tersebut sejak Tahun 2010 lalu dan telah merusak pranata sistem manajemen kepariwisataan perdesaan terpadu yang telah diprogramkan oleh Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia di Desa Wisata Budaya Liya Togo tanpa melakukan koordinasi dengan baik dengan pihak Kabali. Lembaga Kabali sangat heran mengapa kegiatan British Council Indonesia di desa Liya Togo dilaksanakan oleh Saudari Tati Cs dari Lembaga Sintesa punya Hugua dengan membuat program "mandiri untuk mandiri" dan setiap kegiatannya mengatasnakan British Council Indonesia !?. Kabali menganggap secara formal semua tenaga konsultan resmi British Council telah ditarik ke Jakarta sambil menunggu pertemuan resmi antara Kabali dan British Council tidak ada kegiatan dilapangan. Demikian pesan surat Pejabat Direktur British Council Indonesia Mr. Mark Crossey kepada Lembaga Kabali Indonesia. Namun ternyata di lapangan kegiatan British Council tetap jalan hingga saat ini. Dan menjadi pertanyaan Kabali kemudian bahwa mengapa British Council membiarkan kegiatan program kerjanya di desa Liya Togo dilaksanakan oleh LSM Sintesa ?! LSM ini tak ada relevansi programnya dengan kerja-kerja pariwisata budaya. Dalam SOP (standard operation procedure) British Council tidak memperkerjakan LSM lain dalam menjalankan program kerjanya di lapangan karena British Council memiliki tenaga organik yang terdiri dari tenaga-tenaga konsultan ahli dibidangnya. Perlibatan LSM dengan British Council adalah LSM lokal yang terdapat di wilayah operasional kerjanya yang mana program kerja LSM tersebut  sesuai dengan program kerja yang akan dikembangkan oleh British Council di desa Liya Togo.




Pengaduan ini telah diterima dengan baik oleh Kepala Dinas Kesbang Kabupaten Wakatobi dan Kepala Bidang Destinasi Pariwisata mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi dan mereka berjanji akan menyelesaikan sengketa ini dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah mereka melapor kepada Bupati Wakatobi. Selain hal tersebut, Kepala Dinas Kesbang menyampaikan kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia untuk hari itu juga  segera melaporkan kepada Kepala Kepolisian Sektor Wangi-Wangi Selatan masalah oknum-oknum yang mengadakan kegiatan-kegiatan mengatasnamakan Lembaga British Council Indonesia di dusun Bisitio Desa Liya Togo dan di kantor Polsek melalui dua orang penyidiknya telah menerima laporan dan dibuatkan berita acara hasil laporan tersebut.
Adapun dasar laporan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia adalah sebagai berikut :
  1. Surat Pejabat Direktur British Council Indonesia Mr.Mark Crossey tertanggal 19 Desember 2012  yang intinya meminta kepada Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia untuk melaksanakan pertemuan bersama dengan British Council Indonesia membicarakan kerja sama dengan British Council Indonesia masalah penanganan manajemen kepariwisataan di desa Liya Togo. Oleh karena itu sejak akhir Desember 2012 semua konsultan pelaksana dari British Council Indonesia yang bertugas di desa Liya Togo ditarik sementara ke Jakarta sambil menunggu hasil jalan keluar permasalahan kedua Lembaga ini dapat diselesaikan yang mana british Council akan mengundang Lembaga Kabali Indonesia secara resmi dan duduk bersama membicarakan program penanganan pariwisata di desa Liya Togo dengan dimediasi oleh pemerintah daerah (Bupati).
  2. Surat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang ditanda tangani oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat, Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Bapak Drs.Bakri,MM, dengan surat No.403/1/1/DPDP/KPEK/2013 tertanggal 10 Januari 2013 ditujukan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi. Isi surat ini intinya adalah meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi cq.Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk segera menyelesaikan sengketa antara Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia dengan British Council Indonesia agar masyarakat tidak resah dalam melakukan aktivitas kepariwisataan di desanya. Disamping itu juga menyinggung dana bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kepariwisataan yang dananya tahun 2013 ini akan dikelola bersama masyarakat dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia di desa Liya Togo.
  3. Hasil pertemuan antara Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia dengan Bupati Wakatobi di Kendari tanggal 17 Januari 2013 yang berlangsung sekitar 4 jam mulai pukul 17.45 sampai 21.30. Inti pertemuan tersebut Bupati Wakatobi meminta maaf kepada semua pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia atas kesalahan beliau dalam mengarahkan masuknya British Council Indonesia di desa Liya Togo, yakni Hugua ternyata dia lupa bahwa ada Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia yang sejak tahun 2010 telah banyak bekerja mempromosikan desa Liya Togo sebagai desa wisata budaya disamping telah menyusun dengan baik semua sistem manajemen kepariwisataan berbasis perdesaan di desa Liya Togo. Dalam menyoal kekeliruan ini, beberapa kali Hugua sebagai Bupati Wakatobi meminta maaf kepada Pengurus Pusat Kabali karena akibat kelalaian ini sampai terjadi perselisihan kedua lembaga ini. Oleh karena itu, Hugua akan ketika itu akan segera terbang ke jakarta dan menemui khusus Direktur British Council sekaligus meminta kepada Direktur British Council untuk segera duduk bersama dengan Lembaga Kabali Indonesia dan membicarakan program kerja sama kepariwisataan di desa Liya Togo.
Sayang sekali, Kabali memandang bahwa semua maksud surat-surat tersebut termasuk janji pak Bupati Wakatobi sampai saat berita ini di relis tak pernah ditepati dan kami dari segenap pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia baik di pusat maupun di cabang Wakatobi akan tetap mendesak pemerintah daerah kabupaten Wakatobi sebagai regulator kepariwisatan untuk segera menyelesaikan masalah ini. Tertundanya waktu pertemuan antara kedua lembaga ini  dicurigai  sengaja digagalkan oleh kelompok tertentu karena ada indikasi kepentingan  politisasi ekonomi  untuk penguasaan wilayah oleh kelompok usaha Hugua cs di desa Liya Togo. Sayang masyarakat Liya pada tataran tertentu kurang faham akan keadaan ini dan tanpa berfikir panjang mau dinina bobokan oleh kelompok-kelompok pengusaha kapitalis dan liberal yang membonceng terselubung dibawah kegiatan British Council Indonesia di desa Liya Togo. British Council adalah sebuah organisasi yang terdaftar di ingeris sebagai charity  sebagai lembaga yang menjalankan program berkesinambungan, hadir di Indonesia sejak tahun 1948 berkonstribusi di tiga bidang utama yakni : Bahasa Inggeris English), Kesenian (Arts), Pendidikan dan Kemasyarakatan (Education and Society).  Telah beroperasi di 109 negara di dunia yang mana  British Council hadir dibawah organisasi kedutaan besar masing-masing negara. British Council dalam melaksanakan kegiatannya senantiasa berkeja sama saling menguntungkan antara pemerintah indonesia, perusahaan, institusi, organisasi non profit (LSM), dan masyarakat luas.
Dalam kaitan tersebut, Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia telah memberikan ultimatum waktu penyelesaian sengketa paling lambat 1 (satu) minggu setelah mereka bicarakan dengan Bupati Wakatobi. Jika kemudian tidak bisa diselesaikan maka pengurus pusat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia akan melayangkan surat protes ditujukan ke Kedutaan Besar Ingeris di Jakarta dan Perdana Menteri Inggeris di London, sekaligus akan mengadukan Kepala Kepolisian Resort Wangi-Wangi Selatan Kepada Kapolri dengan tindasan semua jajaran terkait karena tidak mampu menyelesaikan masalah tindak pidana umum sesuai berita acara isi laporan, sebagaimana Surat Tanda Bukti Lapor No.STPL/15/III/2013/Sek Wangi-wangi Selatan, Tanggal 18 Maret 2013 dengan delik aduan 4 orang pelaku mengatasnamakan pelaksana British Council Indonesia di desa Liya Togo. ****