KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Sabtu, 14 Februari 2015

MOHON BANTUN UNTUK MENGUNGKAP MAKAM GAJAHMADA ! "HIPOTESIS KEBERADAAN LOKASI WAFATNYA MAHA PATIH GAJAH MADA DI WANGI-WANGI LIYA TAK PERLU LAGI DIRAGUKAN"

OLEH : ALI HABIU



Hipotesis tentang keberadaan Maha Patih Gajah Mada di kepulauan Wangi-Wangi khususnya di Kerajaan Liya pada masa lalu tidak lagi perlu  diragukan atau disangsikan sebagaimana pretensi keraguan yang dimunculkan oleh  para sejarawan Indonesia saat ini. Kalau pengertian dalam bahasa Jawa kuno "BANGGAWAI" sebagai berkaitan dengan upaya-upaya seseorang  untuk melindungi dirinya atau meminta perlindungan atas keselamatannya dan "KUNI" sebagai daerah keresian atau daerah yang penuh keheningan dari hirup pikuk pemerintahan dan "CRA" sebagai penunjukan tempat bermukin maka sudah dapat dipastikan bahwa LIYA inilah merupakan daerah yang dicari oleh kebanyakan para sejarahwan dan budayawan selama ini sebab dia muncul dari berbagai naskah pewayangan Jawa kuno. Postulat sebagai data sementara  membuktikan hipotesis tersebut dapat di sintesis dari beberapa data dukung sejarah yang pernah terjadi masa itu, antara lain :
  1. Berdasarkan dari silsilah kerajaan Singosari pernah Mahisa Cepaka memerintah di Keraton Liya pada pertengahan Abad ke XII. Rangga Wuni adalah  anak dari Anusapati cucu Ken Dedes dengan Tunggal Ametung sedangkan Mahisa Cempaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng, cucu Ken Dedes dari ken Arok. Kedua-duanya pernah menjadi Raja Singosari ke-3 yang bergelar Wisnuwardhana.   Untuk menghindari pertikaian dalam keluarga antara Rangga Wuni karena adanya peristiwa  keluarga yang tidak mengenakkan sebelumnya maka Mahisa Cempaka sengaja dia mengasingkan dan menenangkan diri  di daerah keresian Liya membuat bandar dan kerajaan disana.  
  2. Berdasarkan naskah sejarah kuno buton disebutkan bahwa Si Panjonga sebagai salah satu dari mia patamiana wolio pernah berkuasa (baca : menjadi  Raja) di Keraton Liya pada akhir abad ke XII.  Sipanjonga adalah seorang satria berasal dari kerajaan pariaman melayu-pasai. Dia meninggalkan daerahnya pada tahun 1213 Masehi bersama pengawal utamanya bernama Si Jatubun. Dalam perjalanan Si panjongan menuju Liya Wangi-Wangi sempat menyinggahi beberapa kerabatnya di Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singosari. Postulate, Si Panjonga dan rombongannya sebelum masuk ke tanah Buton terlebih dahulu singgah di pulau wangi-wangi untuk membuat Benteng Liya lapis ke-2 pada awal abad ke XII. Dan untuk Benteng Liya lapis ke-1 dibuat oleh Si Malui, Si Jawangkati serta dilanjutkan oleh Bau Besi (Raden Jutubun) sebelum mereka memasuki tanah Buton yang diperkirakan juga pada awal abad ke XII. Benteng-benteng tersebut sengaja dibuat untuk sebuah pertahanan dalam mengamankan para resi yang bermukim di Liya dari serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Khubilaikhan. Sebagian tentara mongol yang berhasil ditawan di himpun dalam sebuah permukiman tua di Mandati Tongah yang berbatasan dengan Liya pada masa silam dan kini sisa-sisa keturunan bangsa ini masih bisa diketemukan di Wangi-Wangi tepatnya saat ini bermukim di wungka tonga dan pada kuru.
  3. Mahaji Noesa (Kompasiana.com) memberikan penjelasan bahwa dalam buku Nagarakertagama karangan Empuh Prapanca disebutkan bahwa : wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit meliputi : Muwah Tanah I Bantayan Len Luwut tentang Udamakatrayadhi Nikanangsunusaspupul Ikang Sakasa Nusanusa : Makassar, Butun, Banggawai Kuni Cra-liya-o Wangi (ng), Salayar sumba solo muar......"  (Mattulada mengutif buku "Gajah  Mada" karangan Muhammad Yamin, Terbitan Balai Pustaka, Jakarta Tahun 1945)
  4.  Slamet Muliana (1979) dalam bukunya "Negara Kartagama dan Tafsir Sejarahnya pada halaman 167 disebutkan bahwa desa keresian seperti berikut: Sampud, Rupit, Pilan, Pucangan, Jagadita dan Pawitri dan Butun (baca : Buton).  Disitu terbentang taman, didirikan Lingga dan saluran air  yang mulia mahaguru. Butun masa lalu meliputi kepulauan Wangi-Wangi sebagai daerah keresian menjadi tempat pilihan terakhir untuk menenangkan hidupnya dan kariernya akibat konflik intenal dengan Hayam Wuruk.
  5. Prof.DR.Hasan Muarif Ambary (1999) dalam bukunya  "Menemukan Peradaban : Jejak Arkiologis dan Historis Islam di Indonesia" , mengatakan bahwa Gajah Mada mengakhiri pengasingannya di Buton di jumpai di kampung Majapahit di desa Masiri Batauga. Kemudian Makam Gajah Mada juga terdapat di Takimpo Pasar Wajo.  Hal ini ditandai adanya makam berisi 40 orang hulubalang pendamping setia Gajah Mada. Nisan yang ada tipe kala-makara merupakan gejala umum dalam kelompok nisan tipe demak troloyo. Selain makam tsb juga terdapat menhir di puncak gunung Wagumbangga da sebuah makam yang dilelilingi oleh pohon cempaka berbunga bir. Keberadaan makam-makam tersebut postulat diperkirakan sebagai taktis para prajurit setia Gajah Mada yang sengaja di ciptakan untuk mengecoh serangan para perajurit teliksandi Raja Majapahit Hayam Wuruk setelah mereka mengasingkan diri dari Sumatera sehingga keberadaan Gajah Mada sesungguhnya yang  sedang menenangkan diri di Liya-Wangiwangi tidak bisa dilacak keberadaannya.
  6. Dalam Pupuh ke XIV Negarakertagama oleh Mpuh Prapanca (1365) disebutkan bahwa LIYA Wangi-Wangi adalah daerah KUNI termasuk wilayah Kerajaan Majapahit, ...."Ingkang sakasanusa Makasar Butung (Buton) Banggawai, Kuni Gga-LIYA-o mwang i(ng) Salaya (Selayar island) Sumba Solot Muar muwah tikang i Wandan (Bandaneira) Ambwan (Ambon) athawa Maloko (Maluku) Ewaning (Wanin/West Papua) ri Sran (Seram) in Timur (Timor) makadi ning angeka nusatutur
  7. Di dalam Benteng Keraton Liya terdapat Lingga dan Yoni yang saat ini masih diabadikan sebagai benda situs cagar budaya. 
  8. Dalam kawasan Benteng Keraton Liya terdapat Watu Mada (Batu Mada) yang diyakini oleh masyarakat tertentu setempat sebagai tanda akan keberadaan Maha Patih Gajah Mada di Liya-Wangiwangi ****
  9. Di pulau Wangi-Wangi terdapat Makam Wakunduru sebagai makam tua yang dikeramatkan oleh rakyat secara turun-temurun yang diyakini sebagai makam kepala Gajah Mada yang ditanam ketika kala adu tanding dengan seorang pria sakti asli kepulauan wangi-wangi dengan kulit bentol-bentol (kunduru).
  10. Di pulau Oroho wilayah Liya Togo terdapat Gua Miabasa (gua orang besar) yang pintunya tertata baik dan di dalamnya terdapat sekat-sekat kamar tamu dan kamar khusus serta dibagian dalam terdapat ruangan peristirahatan/hunian umum yang diyakini oleh masyarakat Liya di salah satu altar  di dalamnya terdapat lokasi pertapaan Maha patih Gajah Mada (Moksa Gajah Mada). 
  11. Sindiko pajenengan Raden Wijaya sunuhun Kartanegara. Patih Gajah Mada meniko sang hiang wisnu monoreh akeng paparan pendopo kahiyangan ning gedoan hutan ka Roho-an  saiki ngeno aken pulau Oroho wilayah Liya kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara.

Jumat, 06 Februari 2015

BENTENG LIYA PULAU WANGI-WANGI - WAKATOBI, BELUM DITERBITKAN SITUS NASIONALNYA

OLEH   HUMAS KABALI INDONESIA


 


Benteng Liya memiliki tiga lapis benteng dibangun akhir abad X. Untuk Benteng Liya lapis pertama dan lapis kedua telah dilakukan pengukuran data teknis dan zonasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar mulai tahun 2010 s/d 2011 sebanyak 4 kali pemetaan, pengukuran dan zonasi. Dana yang digunakan adalah Dana Dekonsentrasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dikelolah oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara kerja sama secara informal dengan Lembaga Kabali Indonesia. Benteng Liya lapis pertama merupakan zona inti memiliki luas 22.970 M² (2,297 Ha) dengan jumlah pintu Lawa sebanyak 4 buah yakni pintu Lawa Ntooge, pintu Lawa Godo, pintu Lawa Puru dan pintu Lawa Balalaoni. Ukuran tebal dinding 1,20 – 3,00 M, dengan Tinggi 2,50 M, Panjang keseluruhan dinding 717 M.

Benteng Liya lapis kedua memiliki luas 297.780 M² (29,778 Ha) dengan ukuran Tebal dinding 1,20 – 3,00 M, Tinggi 2,50 M. Panjang keseluruhan dinding 9.295 M. Benteng Liya lapis kedua ini memiliki pintu sebanyak 9 buah, yakni pintu Lawa Ewatu, pintu Lawa Efula’a. pintu Lawa Baringi, pintu Lawa Bente, pintu Lawa Tamba’a, pintu Lawa Rea, pintu Lawa Bisitio, pintu Lawa Wote’a dan pintu Lawa Timi. Dan memiliki 2 buah pintu rahasia yakni pintu Lawa Lingu Bisitio dan pintu Lawa Lingu Timi.


 PETA ZONASI BENTENG LIYA LAPIS PERTAMA DAN LAPIS KEDUA

Sayang hasil laporan Zonasi Benteng Liya oleh BPPP Makassar yang dilanjutkan dengan penyampaian Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara ditujukan kepada Bupati Wakatobi hingga saat ini pemerintah Wakatobi belum juga mengusulkan ke Gubernur Sulawesi Tenggara untuk segera terbitkan SK Situs Provinsi sebagai persyaratan terbitnya SK Situs Nasional. Disamping itu juga Pemerintah Daerah Wakatobi melalui SKPD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata belum juga pernah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Situs Benteng Liya  ke DPRD Kabupaten Wakatobi untuk mendapat persetujuan, sehingga benteng ini tidak bisa turun dana pemugarannya. Benteng Liya untuk lapis ketiga baru akan dizonasi tahun anggaran 2015 setelah pada tahun 2012 dan 2013 lalu dananya teralihkan ke nomenklatur kegiatan lain di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara. Data sementara menggunakan JPS Benteng Liya Lapis ketiga memiliki luas lebih kurang 300.000 M² (30 Ha).


 PELATARAN SAMPING BASTION ZONA UTAMA

Sejak gabungnya Kerajaan Liya dengan Kerajaan Buton, Raja di Liya terdapaat 31 orang Raja mulai Tahun 1532-1588 Raja Liya ke-1 La Djilabu dan Raja Liya ke-31 sebagai Raja LIya terakhir tahun 1942-1952 La Ode Bula. Jumlah Kamali di Liya sebanak 15 buah dan yang tersisa masih utuh tinggal Kamali La Ode Taru di Timi. Sebelum Kerajaan Liya gabung dengan Kerajaan Buton, terdapat raja-raja yang sekaligus membangun benteng tersebut. Struktur dan nama- raja-raja Liya saat ini sementara dalam penelitian naskah.



A. Kesimpulan Hasil Zonasi Benteng Liya Oleh BPPP
  1. Kawasan Benteng Liya sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Liya mengandung tinggalan arkiologi yang sangat variatif berupa ; dinding benteng, bastion (baluara), pintu (lawa), mesjid kuno, Liang/Liya (Yoni), Watusahuu (Lingga), bekas istana, rumah tradisional, meriam, lesung batu, gerabah, keramik kuno, makam kuno dan sebaran keramik asing, uang logam asing dan gerabah.
  2. Benteng Liya sebagai kawasan desa wisata, telah mulai dikunjungi oleh masyarakat luar, baik untuk berwisata maupun untuk berinvestasi, sebagian beberapa diantaranya menduirikan bangunan permanen di atas dinding benteng dan menggunakan batu-batu benteng untuk dijadikan pondasi bangunan. Hal tersebut jika tidak diantisipasi lebih awal dan membuat regulasi atau aturan tentang penataan dan pengaturan ruang dan lingkungan Benteng Liya, maka lambat laun rumah-rumah tradisional dan tinggalan-tinggalan kepurbakalaan yang menjadi ciri khas kawasan tersebut akan habis dan berganti menjadi bangunan permanen, sehingga kelestarian kawasan tersebut sebagai peninggalan Kerajaan Liya akan musnah.

B. Rekomendasi Hasil Zonasi Benteng Liya Oleh BPPP
  1. Perlu segera menetapkan Situs Benteng Liya sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi dengan Keputusan Gubernur yang selanjutnya diperkuat oleh Perda, Perdes dan Peraturan Adat,
  2. Setiap rencana pelestarian (Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatannya) Situs Benteng Liya harus mengacu pada sistem zonasi yang telah ditetapkan.
  3. Perlu kajian interdisipliner untuk membuat detail teknis zonasi Benteng Liya serta menenpatkan tanda (tonggak/patok) sebagai batas zonasi,
  4. Perlu kajian interdisipliner untuk penyusunan Master Plan pelestarian (Perlindunga, Pengembangan dan Pemanfaatan) Benteng Liya,
  5. Perlu pengembangan program dan  kegiatan pelestarian yang bersifat reaktif kepada masyarakat, khususnya masyarakat sekitar Liya Togo dan Liya Mawi,
  6. Perlu sosialisasi hasi Zonasi Benteng Liya kepada stakeholders,
  7. Seluruh bangunan permanen dan non permanen baik yang berada di atas jalur dinding benteng maupun yang berjaraj + 20 m, harus segera mungkin dipindahkan demi perlindungan area,
  8. Lokasi yang selama ini dijadikan oleh masyarakat untuk kegiatan adat seperti perta adat, dapat dilaksanakan asalkan tidak merusak benda cagar budayadan lokasi situs.



Kamis, 01 Januari 2015

MINTA BANTUAN PEMERINTAH PUSAT, MENELITI MENGUNGKAP MAKAM GAJAHMADA ! "ABSTRAKSI PENELITIAN PENELUSURAN JEJAK MAKAM PATI GAJAH MADA DAN PRAJURITNYA DI BUTON SULAWESI TENGGARA"


OLEH : ALI HABIU


Devisi Pernaskahan dan Pengembangan Sejarah Budaya, Lembaga Kabali Indonesia akan melakukan riset ilmiah tentang keberadaan Gajah Mada di wilayah eks kerajaan buton. Sebagai tokoh yang besar, Gajah Mada sampai saat ini masih tetap misteri dalam sejarah Indonesia. Bahkan beberapa daerah saling mengklaim tentang tempat kelahiran dan wafatnya Gajah Mada. Sedangkan di dalam masyarakat Buton mereka meyakini beberapa tempat yang dipercayai menjadi makam Gajah Mada, yaitu di Kampung Majapahit Desa Masiri Kecamatan Batauga, Desa Takimpo Kecamaatan Pasar Wajo, serta di dalam masyarakat Liya Kecamatan Wangi-Wangi Selatan mengenai silsilah Gajah Mada, serta memiliki bukti-bukti, situs dan artefak tempat Wafatnya Gajah Mada. Di samping itu, Orang Buton meyakini bahwa, Buton adalah tempat keresian yang dipilih oleh Gajah Mada untuk menenangkan diri dan mengakhiri hidupnya.  Meskipun belum ada penelitian yang mendalam tentang masalah terkait, namun asumsi tersebut bukan  tanpa  alasan. Bila pengasingan adalah suatu upaya untuk melakukan perenungan dan tapa brata dalam tradisi Hindu serta untuk mencapai ketenangan batin, maka logis bila pelakunya memilih daerah atau wilayah yang diperkirakan jauh dari hiruk pikuk namun tetap masih dalam wilayah kekuasaan Maja Pahit. Dalam konteks tersebut, Buton dapat diduga menjadi salah satu pilihan selain daerah-daerah lainnya. Asumsi ini beranjak dari keterangan yang terdapat dalam Negarakretagama pupuh LXXVIII yang menyebutkan, bahwa desa keresian seperti berikut: Sampud, Rupit, Pilan, Pucangan, Jagadita dan Pawitri masih sebuah lagi Butun (baca : Buton). Disitu terbentang taman, di dalamnya didirikan Lingga dan saluran air  yang mulia mahaguru – demikian sebutan beliau.  Jika Buton adalah bagian dari kekuasaan Maja Pahit dan lebih penting lagi Buton adalah desa keresian, maka asumsi orang Buton yang mengkalaim wilayah ini sebagai pilihan Gajah Mada untuk mengakhiri karirnya akibat konflik internal dengan Hayam Wuruk boleh jadi benar adanya.
Selain petunjuk tentang posisi Buton sebagai bagian dari Majapahit, yang memungkinkan bagi Gajah Mada untuk memilih wilayah ini sebagai tempat menenangkan diri dan moksa.  Dalam Pupuh ke XIV Negarakretagama disebutkan bahwa Ingkang sakasanusa ………Butung (Buton) Banggawi Kuni Cra-liya-o mwang i(ng) (Liya Wangi-Wangi)……. makadi ning angeka nusatutur. Oleh karena itu, penelitian mengenai Jejak Gajah Mada di Buton merupakan salah upaya yang harus dilakukan guna menemukan jejak asal-usul dan tempat moksa Gajah Mada di Buton, mengingat, asal-usul Gajah Mada hingga kini di Indonesia yang masih tetap misteri. 
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai jejak Gajah Mada di Buton, baik dalam bentuk situs, artefak, naskah maupun dalam bentuk memori kolektif masyarakat Buton terhadap Gajah Mada. Karena dengan adanya penelusuran jejak Gajah Mada dalam masyarakat Buton akan melengkapi atau memberikan kejelasan para sejarahwan atas kebuntuan dalam mengungkapkan asal-usul Gajah Mada yang selama ini kabur dalam penulisan sejarah Indonesia. Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai asal-usul dan tempat wafat Gajah Mada yang diyakini didalam masyarakat Buton. Di samping itu, tujuan penelitian ini juga untuk memberikan jawaban atas kekosonngan sejarah tokoh Gajah Mada yang selama tetap misteri dalam penulisan sejarah Indonesia.
Metode penelitian digunakan  histeryografi tradisional dengan melakukan observasi, ekskavasi dan forensik. Diharapkan hasil penelitian akan mendapatkan data akurat tentang keberadaan Gajah Mada di wilayah eks Kerajaan Buton yang mana hingga saat ini oleh masyarakat buton sangat meyakini bahwa Gajah Mada Lahir dan Wafat di wilayahnya.*****


BEBERAPA LAMPIRAN PROPOSAL 








Jumat, 19 Desember 2014

MOHON PERHATIAN PEMERINTAH PUSAT, "PAKET WISATA BUDAYA DI DESA WISATA LIYA TOGO MATI SURI"



OLEH : HUMAS KABALI INDONESIA


Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Hugua sebagai Bupati Wakatobi pada pertemuan pengurus pusat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia tanggal 22 Desember 2012 dengan Bupati Wakatobi dan para staf ahlinya di ruang kerja Bupati Wakatobi,  bahwa pengelolaan industri pariwisata desa Wisata Liya Togo dikelolah sendiri oleh masyarakat lokal, maka kami telah merespon perintah tersebut dan mendirikan Lembaga Pengelola Pariwisata Budaya Kabali Indonesia dengan membentuk kepengurusan dan memodali usaha dengan melibatkan hampir 100 % masyarakat lokal yang bermukim dikawasan Benteng Liya Togo serta telah menyusun Liflet Wisata Budaya serta manajemen pengelolaannya. Sayang sekali setelah kami bentuk Lembaga Pengelola Wisata ini serta setelah kami serahkan Liflet paket-paket Wisata Budaya di Desa Wisata Liya Togo sampai hari ini tidak pernah lagi pemerintah daerah melalui SKPD Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mau melibatkan lembaga ini untuk mengelola berbagai wisata budaya saat para turis manca negara berkunjung ke Wakatobi (Hoga dan Onebaa) dan mampir di pulau wangi-wangi.












Hal ini diperburuk lagi bahwa semua Liflet paket informasi wisata dan paket wisata Benteng Liya yang telah kami serahkan ke pemerintah daerah Wakatobi yang dijanjikan akan diperbanyak dicetak ofset dan dipromosikan ke manca negara ternyata hanya isapan jempol belaka. Kenyataan bahwa paket program wisata budaya Kabali Indonesia telah diadopsi menjadi cultural visit pachage  yang menjadi salah satu paket baru dimanajemen Patuno Resort milik Hugua dkk. Dan sejak tahun 2013 hingga saat ini semua kegiatan-kegiatan budaya di wilayah desa wisata Liya Togo telah diambil alih oleh manajemen Paturo Resort kerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten Wakatobi, tidak lagi diserahkan secara penuh kepada masyarakat Liya melalui Lembaga Pengelola pariwisata Budaya Kabali Indonesia.

Kini semua komponen yang berhubungan dengan manajemen pengelolaan wisata budaya milik lembaga pengelola wisata budaya kabali indonesia telah mati suri, mulai dari pranata sisten seni budayanya sampai dengan kelompok industri kerajinan rakyat seperti industri tenung sarung tradisional, industri pembuatan anyaman tikar, industri pengrajin perak, besi, tembaga, industri krupuk dari rumput laut, ikan karang dlsb.







Mohon bantuan bapak Presiden Joko Widodo agar industri seni budaya tradisional milik masyarakat Liya dapat kembali hidup juga industri  para pengrajin tradisional dapat kembali hidup agar perekonomian masyarakat di kawasan benteng Liya dapat berputar dan meningkat dalam upaya mensejahterakan kehidupan masyarakatnya. Saat ini tingkat sosial ekonomi pri kehidupan masyarakat kawasan benteng Liya masih terdapat kemiskinan absolut postulat diperkirakan sekitar 18,60 % dan kemiskinan permanen merata diperkirakan postulat sekitar 64 %. Pola kehidupan masyarakat eks Kerajaan Liya tersebut pada umumnya adalah petani nelayan dengan peralatan sangat sederhana dan petani pekebun dengan lahan yang tidak subur (bercocok tanam di atas tanah sela-sela batuan). Selebihnya masyarakat yang hidup pra sejahtera terdiri dari para guru dan PNS serta pedagang asongan dipasar-pasar tradisonal sekitar 17,40 %.****

Selasa, 16 Desember 2014

MOHON BANTUAN PEMERINTAH PUSAT ; "SANGGAR SENI BUDAYA KABALI INDONESIA PUSAT BENTENG LIYA MATI SURI" !



OLEH  : HUMAS KABALI INDONESIA


 Gedung Sanggar Kabali, Kini Sepi Kegiatan Pelatihan Seni


Kegiatan Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia pusat Benteng Liya yang sejak bulan Juni 2012 lalu telah menjadi Desa Wisata (Desa Wisata Liya Togo) yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kini sejak tahun 2012 hingga saat ini telah mati suri. Keadaan mati suri tersebut disebabkan karena ternyata pemerintah daerah kabupaten Wakatobi kebijakan program kerjanya tidak pernah memasukkan Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia sebagai salah satu sanggar yang mendapat pembinaan dan bantuan stumulan dalam rangka melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat Liya  khususnya dibidang seni tari tradisional dan seni atraksi tradisional. Kejadian ini sangat kami sesalkan mengakibatkan seluruh bantuan peralatan seni budaya mulai dari gendang, gambus, kecapi sampai gong serta seluruh komponen penarinya tidak lagi dimanfaatkan oleh kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan ekonomi kerakyatan yang sejak tahun 2010 sampai 2012 masih sering tampil menyambut para turis manca negara yang berkunjung ke wilayah Benteng Liya.

Para pelatih dan pengurus sanggar seni budaya Kabali Indonesia saat ini semua menjadi fakum karena tidak adanya perhatian Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wakatobi melalui program-program SKPD yang bersangkutan yang dianggarkan menggunakan dana APBD II, sehingga baik para pelatih seni budaya maupun para pengurus tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak mendapatkan dana stumulansi untuk menggerakkan pelatihan dan organisasi.

Selama dibentuknya Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia pusat Benteng Liya, Wangi-Wangi sejak tahun 2010 hingga saat ini belum ada satu rupiahpun dana yang diterima oleh pengurus sanggar terutama untuk biaya pengadaan pakaian para panari yang bermotifkan tradisional, sehingga ketika sanggar tersebut masih aktif tahun 2010 hingga 2012 seluruh stribut pakaian dipakai motif apa adanya hasil swadaya para pengurus dan penari. Hal ini juga sangat disesalkan mengingat bahwa hampir semua Sanggar-sanggar yang dibawah binaan langsung oleh pemerintah daerah kabupaten Wakatobi, seperti Sanggar Wanianse, Sanggar Kanamingku, Sanggar-sanggar seni budaya di Tomia dan Kaledupa setiap tahunnya mendapat bantuan biaya operasional melalui SKPD Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wakatobi yang bisa mencapai 500 jutaan rupiah dalam setahunnya.
Salah satu penyebabnya adalah Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia tidak masuk dalam dokumen program Visi-Misi Bupati Wakatobi dan Peranan anggota DPRD Kabupaten Wakatobi selama hampir 8 tahun ini tidak sama sekali mendapat perhatian serius untuk membicarakan masalah ini di forum-forum acara konsultasi dewan dengan SKPD yang bersangkutan

Gedung Sanggar Kabali Bantuan Direktorat PBL Kemen PU 2012


Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia memiliki beragam seni tari tradisional mulai dari Honari Liya, Lariangi Liya, Lariangi Kareke, Honari Mosega, Honari Tamburu, Honari Kenta-Kenta, Atraksi Seni Posepaa, Atraksi Seni mansa'a Liya, Seni Atraksi Posemba Ae, Seni Atraksi Posemba Wemba, Seni Atraksi Makan Kulit Kerang, Seni Atraksi Bakar Diri, Seni Atraksi Menempa Parang dari Tangan, Seni Atraksi Tombak Menonbak dan lain sebagainya.

Pengurus pusat Lembaga Kabali Indonesia sangat mengharapkan diera pemerintahan Jokowi-JK saat ini melalui kementerian yang terkait dapat memperhatikan potensi yang dimiliki Sanggar Seni Budaya Kabali Indonesia ini dengan memberikan pembinaan-pembinaan, palatihan dan pendidikan serta bantuan-bantuan stumulansi dana operasional kegiatan dan pembinaan sanggar sehingga diharapkan semua komponen dan komunitas yang tergabung didalam sanggar tersebut termasuk organ-organ para penarinya dan para aktornya dapat meningkat perekonomiannya melalui bidang profesi seni yang telah mereka tekuni, dengan demikian  dapat kita entaskan kemiskinan absolut yang masih banyak terdapat di wilayah Benteng Liya-Desa Wisata Liya Togo kabupaten Wakatobi. 

Pak Jokowi...., Mohon bantuannya..!! Sudah capek kami menggagas dan menfasilitasi semua kepentingan masyarakat kami..., namun kerja-kerja pemerintah daerah kabupaten Wakatobi masih tebang pilih, kurang perhatian terhadap semua usaha kami selama ini dalam kerangka meningkatkan ekonomi kerakyatan yang mana kehidupan masyarakat Liya disekitar Benteng Liya diperkirakan masih terdapat tingkat kemiskinan absolut  28,7 % dan perlu pemerintah pikirkan nasib mereka itu.  ****