KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Selasa, 09 Februari 2016

WAKATOBI MULAI TAHUN 2016 MASUK DALAM 10 DAERAH DESTINASI PARAWISATA PRIORITAS NASIONAL



Oleh : Humas Kabali





Greget Presiden Jokowi untuk segera mewujudkan impiannya, mencetak 10 Bali lagi makin terasa. Berselang 4 hari dari Ratas (Rapat Terbatas) 7 menteri dan 2 Gubernur di kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jateng, tancap gas merataskan Kawasan Danau Toba di Istana Negara.

Bahkan, orang nomor satu di Republik itu memimpin langsung ratas untuk akselerasi 10 Destinasi Prioritas yang sering disebut 10 Bali Baru itu.Di Ratas yang dihadiri Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, Menpar Arief Yahya dan Menseskab Pramono Anung, dengan 5 dari 7 bupati di Toba itu, Presiden Jokowi menegaskan kembali pentingnya pariwisata sebagai pendongkrak dan penggerak ekonomi nasional.

Karena itu Mantan Gubernur DKI ini menegaskan kembali pentingnya percepatan dan akselerasi. Optimisme Presiden Jokowi makin terasa ketika melihat bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia tahun 2015, sebensar 10,4 juta orang.

"Naik sangat signifikan dan estimasi perolehan devisa di sektor ini Rp144 Triliun," kata Presiden pada pengantar rapat terbatas (ratas) tentang Rencana Pengembangan Destinasi Pariwisata Danau Toba, itu. Pariwisata di Indonesia tahun 2015, lanjut Presiden tumbuh di atas pertumbuhan pariwisata dunia yang hanya 4,4% dan pertumbuhan pariwisata kawasan ASEAN sebesar 6 persen.

"Di Tahun 2016 ini, saya minta pertumbuhan di sektor pariwisata bisa lebih dipercepat dan kita akselerasi. Dan juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.

Sebagai mantan pengusaha, Presiden Jokowi berharap bahwa percepatan ini, bukan saja akan mendatangkan devisa, namun bisa mengembangkan sektor UMKM, industri kreatif serta membuka lapangan kerja baru. Karena itu Presiden meminta Manteri Pariwisata, Arief Yahya untuk percepatan di 10 destinasi wisata prioritas, yakni Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Belitung), Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu (Jakarta), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo (Jawa Timur), Mandalika (Lombok), Labuhan Bajo (NTT), Wakatobi (Sultra), dan Morotai (Maltara).

"Diperlukan sebuah kecepatan terobosan baik regulasi maupun pekerjaan-pekerjaan di lapangan sehingga hasilnya segera bisa kita nikmati," ujar Presiden. Khusus Danau Toba, Presiden meminta, "Perkuat konektivitas, aksesibilitas, baik yang berkaitan dengan pelabuhan, dengan bandara dan dengan jalan," instruksi Presiden yang diamini Menpar Arief Yahya.

 Pengembangan pariwisata harus betul-betul terintegrasi mulai dari perencanaan sampai dengan pengelolaannya. Menpar Arief Yahya pun siap tancap gas bersinergi dengan Kementerian, Lembaga dan Badan lain yang terkait. "Instruksi Pak Presiden Jokowi sangat tegas, sinergi dan kolaborasi yang baik akan membantu mempercepat pengembangan 10 destinasi itu. Tujuh bupati di Toba juga sudah siap untuk mewujudkan "Bali" baru di Sumatera Utara itu, dengan ikon Danau Toba," tambah Menpar Arief Yahya.(P-2)

Sumber
http://mediaindonesia.com/news/read/26970/presiden-jokowi-serius-wujudkan-10-bali-baru/2016-02-02 


Jumat, 29 Januari 2016

ASAL USUL NAMA PULAU-PULAU DI WILAYAH WAKATOBI


Oleh La Patuju





1.       Wangi-Wangi
Sumber luar negeri : istilah Wangi-Wangi diambil dari perilaku manusia pertama yang menghuni negeri ini dengan jiwa suka memberi pertolongan yang sangat membutuhkan perlindungan, dalam bahasa Mindanao – Sulu yaitu bahasa “yakan” disebut Wangi-Wangi7.
Dalam tradisi lisan, masyarakat Wangi-Wangi berasal dari sebuah benda dan bila itu dipakai dalam upacara keagamaan dengan cara dibakar, maka bau atau wanginya akan menyebar ke segala penjuru dunia. Dengan tradisi lisan seperti inilah orang Wangi-Wangi gemar merantau ke seluruh penjuru dunia.
2.       Kaledupa
Dalam tradisi lisan, masyarakat Kaledupa ada beberapa pandangan atau versi yaitu :
a.       Kaledupa berasal dari kata “Kaedupa” sebagian masyarakat menyebut “kayudupa”. Dalam tradisi lisan dikisahkan bahwa suatu ketika ada sekelompok masyarakat menebas hutan untuk membuka lahan perkampungan. Di antara pepohonan yang ditebang itu ada satu pohon yang unik dan mempunyai bau harum, karena keunikannya kayu dijadikan bahan pengharum dan sering dipakai dalam upacara keagamaan sehingga diabadikan menjadi sebuah nama pulau yaitu Kaledupa.
b.       Kaledupa berasal dari pulau karang yang ditumbuhi oleh pohon. Pohon itu berkembangbiak di atas pulau karang dan sangat istimewa yang mempunyai bau harum, sehingga pulau karang ditumbuhi pohon itu diabadikan menjadi nama pulau yaitu Kaledupa.
3.       Tomia
Dalam masyarakat Tomia yang mengetahui tradisi lisan mengemukakan bahwa Tomia berasal dari dua kata yaitu : To artinya Tua (bahasa Bagobo) yaitu bahasa-bahasa yang ada di Mindanao-Sulu dan Mia artinya manusia. Jadi, Tomia diambil dari manusia tertua.
4.       Binongko
Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat Binongko mengemukakan bahwa Binongko berasal dari kata binong artinya bercerai, tidak teratur (bahasa Cebu) di Philipina dan ko artinya satu (bahasa Cebu). Jadi, Binongko berarti penyatuan yang telah lama hilang. Mateo Bartoli menyebut penyusunan kembali yang tidak teratur (1948 : 36) dengan menyebutnya Binongko.
( http://lapatuju.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-singkat-wakatobi.html)

VERSI SUMBER LAIN
 
Kepulauan Tukang Besi adalah kepulauan yang terletak disebelah timur pulau Buton. Konon katanya dikarenakan penduduk dikepulauan itu sejak dahulu kala telah mengembangkan kebolehan mereka sebagai “Tukang Besi”, maka berdasarkan hasil penelusuran riwayat lama yang dituturkan oleh La Ode Bosa ( Sejarawan Buton ) pendugaan seperti itu, tidak benar. Yang benar, Tukang Besi yang diabadikan menjadi nama kepulauan itu adalah berawal dari peristiwa kehadiran beberapa ratus tokoh rakyat Maluku dibawah pimpinan Raja Hitu ( dipulau Ambon ) yang bernama “Tuluka Bessi ”

Raja Tuluka Besi bersama pengikutnya tiba di pantai Patuno ( Patahuano ) dipulau Wangi – Wangi sebagai tawanan VOC. Mereka disingkirkan keluar dari Maluku karena pemberontakan yang dilakukan melawan VOC yang memusnakan pohon rempah -rempah ( Pala dan cengkeh ) milik raja dan rakyat Maluku yang oleh Belanda ( VOC ) gerakan pemusnahan pohon rempah-rempah itu dikenal sebagai Hongi – Tochen, karena setiba dipulau Wangi – Wangi para tawanan itu berontak lagi bahkan membunuh habis semua serdadu VOC yang menjaga mereka, maka para tawanan itu dipencarkan kebeberapa pulau yang saling terpisah dikawasan itu. Selain masih tetap dipulau Wangi-Wangi, sebagian lagi di Tomia dan Binongko.
Dari tindakan pemencaran para tawanan dari maluku kebeberapa pulau digugus kepulauan itulah, maka penduduk dari aparat kesultanan Buton, menyebut gugus kepulauan itu menjadi kepulauan Tuka Besi. Tuka Besi tersebut diabadikan menjadi “Tukang Besi”. Penyebutan Tukang Besi bagi gugus kepulauan itu terjadi sejak pertengahan abad ke-11.
Asal – usul nama – nama pulau yang ada di kepulauan Tukang Besi yang lazim pula dijuluki sebagai kepulauan Wakatobi :

1. Pulau Wangi – Wangi
Pulau ini terletak dekat dengan pulau Buton dan dikenal oleh pelayar-pelayar dari luar bernama Wangi-wangi, Sebenarnya penghuni pulau ini bernama “Koba”. Koba adalah nama sejenis pohon kayu yang banyak tumbuh dipulau ini pada masa lampau. Pohon koba itu banyak memberikan manfaat bagi penduduk setempat.

Dari pohon Koba itulah, batangnya dapat dibentuk menjadi sampan (perahu), Daun dan buahnya dapat dimakan, kulit batangnya dijadikan dinding rumah, bahkan dapat diproses menjadi selimut dan pakaian, dan sebelum penduduk dipulau ini mengenal peradaban menenun benang dari kapas. Lalu penduduk mengangkat nama kayu koba itu menjadi nama negeri (pulau) ini.

Pulau Koba itu dikemudian hari diperkenalkan namanya menjadi pulau “Wangi- Wangi” Bersumber dari riwayat lama yang ditutukan oleh LA ODE BOSA. Beliau menjelaskan bahwa sudah menjadi kebiasaan pelayar-pelayar sriwijaya, Majapahit dan negeri lainnya yang berlayar dari ked an dari maluku, manakala waktu itu terjadi angin dan ombak besar, dan maka para pelayar akan singgah berlindung dipantai yang aman dipulau tersebut.

Lebih-lebih perahu yang sarat bermuatan rempah-rempah yang datang dari Maluku. Pada saat perahu-perahu iti berlabuh menanti cuaca baik,para awak perahu memanfaatkan waktunya membongkar muatan rempah-rempah yang terkena basah oleh ombak saat berlayar dari pulau maluku seperti : dilakukan penjemuran dan di kemas lagi. Disaat rempah-rempah dari tiap-tiap perahu itu dijemur disepanjang pesisir pantai, maka bersebaranlah bau wangi rempah-rempah itu., bagaiakan seluruh pulau itu menjadi bau wangi. kesan bau Wangi di pulau yang dijadikan tempat persinggahan itu, disebar luaskan oleh pelayar-pelayar kemana-mana, karena nama Koba yang diberikan oleh kalangan penduduk setempat tidak populer dikalangan pelayar asing.

2. Pulau Kapota
Pulau yang letaknya 2 mil arah sebelah barat pulau Wangi-Wangi itu, dikenal dengan pulau “Kapota”. Pada abad 5 lampau di Pulau Koba, memerintah seorang Ratu bernama Wa Surubaenda. Ratu itu beranak 4 orang. 2 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Setelah anak-anaknya dewasa Ratu Wa Surubaenda menyerahkan kekuasaannya kepada Gangsalangi berkuasa di Riwu Motalo (Liya dan Oroho), Gangsauri berkuasa di Tindoi, dan Wa Suru Bontongi berkuasa di Mandati Tonga yang menjadi pusat Togo Koba. Karena Pulau yang terletak disebelah barat, dihuni oleh migran dari Lamakera (Flores). Maka puterinya yang terbungsu bernama Patimalela diangkat menjadi penguasa di pulau itu. Karena pulau itu merupakan kegenapan atau kecukupan wilayah yang diperintah oleh dinasti Ratu Surubaenda, Maka pulau itu diberi nama “Kapota”. Dari kata “kapo” berarti genap atau lengkap. Dengan demikian, Kapota berarti kegenapan atau kelengkapan wilayah kekuasaan dinasti Wa Surubaenda.

3. Pulau Kaledupa
Kaledupa adalah pulau yang letaknya disebelah tenggara pulau Koba (Wangi-Wangi). Kata Kaledupa berasal dari “kauhedupa” yang berarti “kayu yang dijadikan dupa”

Konon dizaman dahulu, seorang tua bersama anak dan istrinya membuka lading dipulau itu. Pada suatu ketika,orang tua itu bermimpi tanaman diladangnya diserang hama.ind Supaya ladangnya terhindar dariserangan hama,maka seluruh ladaangnya harus diasapi dengan kemenyan.maka dicritakanlah mimpinya itu kepada anak dan istrinya. Dicarinya kemenyan dipulau itu. Namun tidak didapatkan. Karena cemas kalau mimpinya itu benar-benar terjadi, maka ditebangnya pohon kayu yang berada diladangnya lalu dionggokanya ranting-ranting pohon kayu tebangan itu dan dibakarnya, maka alangkah takjub dan gembira hatinya setelah ternyata ranting-ranting yang dibakar itu asapnya mengeluarkan bau yang Wangi Dari perilaku orang itu, tanaman diladangnya tumbuh dengan subur dan menghasilkan panen yang melampaui lading-ladang penduduk yang lainya dipulau itu. Karena orang tua itu mencperitakan keberhasilan ladangnya berpangkal dari mimpi dan asap kayu wangi diladangnaya,maka berebutlah penduduk memotong batang kayu wangi itu dan memperbuatnya seperti apa yang dilakukan orang tua tersebut. Ketiga batang kayu wangi itu habis,maka semua penduduk bersusah. Orang tua lalu bertapa dibekas tumbuh pohon itu. Didalam pertapaannya orang tua itu memperolaeh kesan : “ bahwa setiap penduduk yang berbuat meniatkan baktinya demi kejayaan dan kehormatan negeri (Togo) pulau ini,maka akan berhasillah setiap apa yang dikerjakan orang itu. Karena negeri (Pulau)ini dipersiapkan agar dikemudian hari menjadi adik dari negeri wolio(Buton). Bertolak dari kesan pertama itu,maka diberinama “Togo Kauhedupa”. Pada saat Kasawari dilantik menjadi Lakina Barata kauhedupa yang pertama, ia menyuarakan semboyan kepada penduduk “ Rodongo sabaangkita mia nu togo, te kahedupa nte nirabu,te andi-andi nu wolio” artinya Dengarlah hai segenap penduduk, negeri kahedupa dicipta untuk menjadi adik (setingkat lebih rendah) dari pada negeri Wolio (Buton). Dengan pernyataan itu memberikan penegasan bahwa kahedupa adalah pemimpin atas negeri (Pulau-Pulau) lain dikawasan kepulauan itu. Bahwa kata kauhedupa dikemudian hari menjadi kalidupa,maka pihak Belanda (VOC)lah yang mengabadikannya, lalu terbawa-bawa hingga kini/kapanpun.
Betapa besarnya penghargaan terhadapnegeri (Togo) kahedupa tersebut, siapapun yang akan merusaknya,menghinanya maka penduduk Togo itu akan membelanya dengan tetesan darahnya sekalipun.

4. Pulau Tomia
Konon dizaman dahulu setelah Ratu Wa Suru bentengi meninggal dunia, maka dimandati Tonga/Koba terjadilah krisis kepemimpinan. Kelompok yang berpengaruh dimasyarakat saling bersaing menjagokan tokohnya masing-masing. Karena Kaapi yang selama Wa Surubonntongi berkuasa adalah penasehat dinegeri itu, namun tidak diindaahkan lagi nasehat-nasehatnya, maka Kaapi memutuskan untuk meninggalkan Koba,iya menitip pesan kepada rakyatnya yang masih menghormatinya antaraa lain : “ Siapa saja diantara kalian yang masih mencintaiku maka susullah sebelum aku kearah tenggara dimasa bulan purnama berikutnya. Untuk kepastian tempat aku akan membuat api agar asapnya dapat mengepul tebal keudara”.

Akibat pertikaian di Mandati Tonga tak kunjung selesai, maka banyak pengikut Kaapi bertekad untuk mencarinya. Setelah mereka tiba dipulau Kaledupa lalu mereka mengarahkan pandangan kearah Tenggara untuk melihat jikalau ada asap tebal yang mengepul keudara. Kaerena tidak melihat isyarat asap tersebut,maka mereka melanjutkan kembali perjalananya. Ketika berda dipantai Lentea Kiwolu tiba-tiba mereka melihat kepulau asap tebal dari sebuah Pulau jauh diarah Tenggara. Lalu mereka berteriak kegirangan “Atoomia,Atoomia, te Kaapi yilahanto”. Kelakuan para penjajah yang berasal dari Koba itu disaksikan olaeh penduduk pulau kahedupa yang sedang mencari siput terheran-heran. Sejak peristiwa itu maka penduduk pulau kahedupa memberinama pulau tersebut dengan “Tomia” akibat dariteriakan penjelajah dari Koba “Atomia” sambil menunjukan kearah bukit.

5. Pulau Binongko
Ada dua pendapat tentang asal usul pulau ini: Bonongko berasal dari kata “Benudongka” yang artinya sabut (kelapa) hanyut. Perawi riwayat menyikapkan bahwa dahulu kala ada sekerat sabut kelapa hanyut terkatung-katung ditengah laut. Tiba-tiba sabut itu berpusing dan tenggelam karena arus yang kuat / kencang. Lalu benda tersebut muncul kembali kepermukaan dan lama-kelamaan menjadi besar dan akhirnya membentuk sebuah pulau. Pulau tersebut akhirnya diberinama Benu-dongka. Riwayat ini tergolong lagenda belaka.

Dahulu kala berlabuh sebuah kapal besar. Sejumlah awaknya naik kedarat untuk mengenali daratan tersebut. Dan awaknya mencari jalan untuk dapat naik ketebing, maka bertemulah mereka dengan seorang ayah dan puteranya. Lalu awak kapal tersebut bertanya kepada mereka “apakah nama pulau ini?” Karena tidak mengerti dengan bahasa awak perahu itu, lalu mereka melarikan diri akibat ketakutan. Sang ayah ditawan untuk dijadikan penunjuk jalan sementara sang anak berlarian pulang kekampung . Sang ayah berteriak kepada anaknya : Wane angku……wine angku…..eee… Maksudya benih diamankan. Dalam keadaan ketakutan sang ayah menunjukan jalan. Setibanya dikampung alangkah kagetnya para awak kapal,setelah dilitnya di pulau itu banyak pohon itu banyak terdapat pohon pala dalam keadaan mereka berteriak: “pala hidup….pala hidup”. Walau pada saat itu pala belum musimnya namun mereka sangat gembira dan sewaktu berangkat mereka berjanji kelak suatu waktu mereka akan kembali lagi, beberapa lama kemudian perahu itu tiba-tiba kembali,karena penduduk ketakutan akhirnya menyingkir kebukit yang mereka sebut “Kolo Makoro”

Penumpang perahu yang berkulit putih berteriak memanggil-manggil: Binongko….Binongko. teriakan seperti seperti itu menirukan teriakan sang ayah “wine angku ” pada saat pertama mereka tiba di pulau tersebut. Para awak menyuruh penduduk untuk mengumpulkan pala dan menukarnya dengan barang-barang yang menarik hati pendududuk. Sejak peristiwa itu pulau tersebut banyak dikunjungi perahu layar milik orang putih,walau percakapan mereka tidak saling dimengerti.maka sejak peristiwa saat itu, maka pulau tersebut diberi nama Binongko berasal dari kata Wine angku artinya benih diamankan. Dan kata pala hidup rupanya telah abadi hingga kini menjadi nama sebuah kampung yang ada di daerah tersebut yaitu “Pala hidu”.

Pulau Runduma
Pulau-pulau kecil yang merupakan hamparan pasir yang terletak dikawasan karang disebelah utara deretan Pulau Wangi – Wangi,Kaledupa, Tomia dan binongko.didalam peta laut dikenal dengan Pulau Runduma.
Konon digugus pulau kecil itu disebut oleh para pelayar yang berasal dari koba karena diwaktu mmalam hari perahu yang berlayar melintasi kawasan karang yang terbentang luas amatlah beresiko dengan menabrak batu karang,maka telah menjadi kebiasaan para pelayar jika berada dikawasan itu pada malam hari,maka perahu dilabuhkan untuk menunggu siang guna melanjutkan kembali pelayaran. lokasi yang dijadikan untuk tempat bermalam para pelayar itu dinamakan “Rondomo” dengan asal kata “Rondo” artinya malam sehingga Rondomo artinya tempat untuk bermalam.

(https://beringing.wordpress.com/2012/06/21/asal-usul-nama-pulau-digugus-kepulauan-tukang-besi/)

Catatan 
Cerita di atas semua bersifat tula-tula, belum tahu kebenaranny sehingga masih butuh penelitian dan penelusuran naskah sejarah lain sebagai pembanding.

Kamis, 21 Januari 2016

MAJAPAHIT TIDAK MENGUASAI NUSANTARA

 Oleh Humas Kabali
 (http://sains.kompas.com/read/2013/10/13/2012358/Faktanya.Nusantara.Bukanlah.Wilayah.Majapahit)

 


KOMPAS.com — Suatu hari pada awal 2012, saya berkesempatan berdiskusi dengan Hasan Djafar, seorang ahli arkeologi, epigrafi, dan sejarah kuno. Lelaki dengan tutur dan penampilan bersahaja itu akrab dipanggil dengan sebutan ”Mang Hasan”. Saya menyampaikan kepadanya tentang sesuatu yang telah menjadi panutan umum: bahwa Majapahit punya wilayah Nusantara yang teritorinya seperti Republik Indonesia.

”Itu omong kosong!” ujar Hasan. ”Tidak ada sumber yang mengatakan seperti itu.” Dia mengingatkan, kalau sejarah harus berdasarkan sumber berarti semuanya harus kembali ke sumber tertulisnya. ”Wilayah Majapahit itu ada di Pulau Jawa. Itu pun hanya Jawa Timur dan Jawa Tengah.”

”Sayang sekali banyak ahli sejarah menafsirkan bahwa Nusantara itulah wilayah Majapahit!” Menurutnya, makna ”nusa” adalah ”pulau-pulau atau daerah”, sedangkan ”antara” adalah ”yang lain”. Jadi, Nusantara pada masa Majapahit diartikan sebagai ”daerah-daerah yang lain” karena kenyataannya memang di luar wilayah Majapahit.

Nusantara merupakan koalisi di antara kerajaan-kerajaan yang turut bekerja untuk kepentingan bersama untuk keamanan dan perdagangan regional, demikian hemat Hasan. Mereka berkoalisi sebagai ”mitra satata” sahabat atau mitra dalam kedudukan yang sama.

”Jangan diartikan kepulauan di antara dua benua,” kata Hasan. ”Bukan pula nusa yang lokasinya di antara.”

Sebagai kerajaan adikuasa setelah zaman Sriwijaya berakhir, Majapahit tetap berkepentingan dengan wilayah kerajaan-kerajaan itu sebagai daerah tujuan pemasaran dan sebagai penghasil sumber daya alam yang berpotensi perdagangan. Memang ada jalinan hubungan. Namun, hubungan ini tidak harus seperti penguasa dan yang dikuasai, bukan kekuasaan dalam artian politik. Ini adalah hubungan kepentingan bersama sehingga Majapahit juga berkepentingan untuk mengamankan dan melindungi wilayah-wilayah itu.

Walau demikian, sampai hari ini masih saja ada tafsir bahwa kerajaan-kerajaan itu memberikan upetinya setiap tahun kepada Majapahit. Hal ini seolah membuktikan ketundukan kerajaan-kerajaan Nusantara di bawah supremasi Majapahit.

”Ini sering ditafsirkan sebagai upeti,” ujar Hasan. ”Padahal, tidak ada satu kata pun dalam Nagarakertagama yang bisa diartikan sebagai upeti, apalagi upeti tanda tunduk seolah menjadi negara jajahan Majapahit.”

Berdasar uraian Nagarakertagama, Majapahit memang punya tradisi mengadakan suatu pesta besar setiap tahunnya. Semua penguasa wilayah–wilayah kerajaan itu diundang dan ada yang memberikan hadiah-hadiah kepada raja Majapahit, dan menurut Hasan hadiah itu bukanlah upeti. ”Buktinya, sejak Majapahit berkuasa sampai runtuh pun daerah-daerah itu bebas merdeka.”

Lalu mengapa sampai ada anggapan bahwa Nusantara itu adalah wilayah Majapahit? ”Barangkali karena The Founding Fathers kita ingin menyatukan negara ini,” ujar Hasan lirih. Kemudian ”Muhammad Yamin—salah satu tokoh pendiri negara Indonesia—menggunakan gagasan Nusantara sebagai bentuk negara kesatuan.”

Di sebuah toko buku bekas di Jakarta, saya pernah menemukan karya Yamin yang dimaksud oleh Hasan. Yamin pernah menulis sebuah buku Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara yang terbit kali pertama pada 1945 dan telah dicetak ulang belasan kali. Buku itu mengisahkan epos kepahlawanan Gajah Mada sebagai Patih Kerajaan Majapahit.

Dalam lampirannya terdapat secarik peta wilayah Indonesia, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud, dengan judul ”Daerah Nusantara dalam Keradjaan Madjapahit”. Tentang peta ini, Djafar mengungkapkan bahwa ”gagasan persatuan ini oleh para sejarawan telah ditafsirkan sebagai wilayah Majapahit sehingga seolah ada penaklukan. Itu salahnya!”

Yamin, dalam buku tersebut, juga menampilkan foto sekeping terakota yang mewujudkan sosok wajah lelaki berpipi tembam dan berbibir tebal. Di bawah foto sosok itu, Yamin dengan keyakinan ilmu firasat menuliskan, ”Gajah Mada... Rupanya penuh dengan kegiatan yang mahatangkas dan air mukanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh.” Namun, belakangan saya menyaksikan kepingan terakota itu di Museum Trowulan yang sejatinya bagian dari celengan kuno dan tidak ada kaitannya dengan Gajah Mada.

Buku Yamin itu, secara tak kita sadari, telah menjadi panutan dari sekolah-sekolah dasar di Indonesia hingga lembaga pemerintahnya. Kini, sebuah patung lelaki bertubuh gempal dengan wajah seperti dalam buku Yamin itu telah berdiri di halaman Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di Kebayoran Baru. ”Itu skandal ilmiah dalam sejarah,” ujar Hasan. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia).

Editor: Yunanto Wiji Utomo

Senin, 18 Januari 2016

PATTIMURA ADALAH KAPITAN WALOINDI YANG BERASAL DARI BINONGKO, WAKATOBI (BUTON)



Oleh : Cracker popalia



Bukti dan Jejaknya Masih tertata Rapih, di Binongko Patimura di Sebut Kapitan Waloindi.

Mengungkap Asal Usul Patimura

Mengungkap jejak asal-usul Patimura berarti mengingatkan kita pada sejarah perjuangan kemerdekaan merebut Benteng Duursetede di Ambon, pada tanggal 16 Mei 1817 M. Nah, Bagaimana kisahnya hingga Patimura disebut Kapitan Waloindi yang tersohor sebagai Pendekar di Bitokawa (Wilayah Kerajaan Buton), selanjutnya di Ambon dikenal dengan nama “ Thomas Matulise Patimura.

Gino Samsudin Mirsab

Di Abad ke 21 ini, banyak para ahli sejarah meneliti situs-situs sebagai fakta sejarah masa lampau dan akhirnya mengangkat nama pejuang yang tidak di kenal asal usulnya, tak terkecuali “Patimura atau di Kerajaan Binongko disebut Kapitan Waloindi”. Pada zamannya Kapitan ini, oleh Colonial Belanda menggelarnya dengan sebutan pembangkang, sebaliknya di mata bangsa Indonesia, Patimura dia dikenal sebagai seorang tokoh pendekar yang santun, murah hatinya dan pejuang hak asasi manusia (HAM).

Saat ini, tak jarang banyak pakar sejarah di tanah air, terpaksa membolak-balikkan fakta sejarah para perjuang Kemerdekaan. Misal Kapitan Waloindi yang setara dengan para pejuang Nasional lainnya di Indonesia. Penelusuran pakar sejarah, ditemukan adanya jejak Patimura. Namun di Binongko oleh kalangan pendahulu Patimura di Binongko, namanya adalah Kapitan Waloindi.
Salah seorang peneliti sejarah La Rabu Mbaru SPd SD, yang ditemui Crew Radar Buton di Binongko mengatakan, sepak terjang pendekar yang satu ini, bukan saja melawan ketidak adilan di wilayah Kerajaan Buton, melainkan juga melakukan perlawanan dengan kalangan penjajah di bumi pertiwi ini. Alkisah, dialah Kapitan Waloindi, salah seorang sosok pendekar pembela rakyat jelata, pembela kebenaran, dan selalu murah hatinya, serta wajib baginya untuk menuntut agar keadilan dibumi pertiwi ini, segera diwujudkan, kata La Rabu Mbaru SPd.SD. Dalam penelusurannya, Kapitan Waloindi bukan saja berjuang melawan penjajah di kepulauan Tukang Besi Bitokawa (saat ini disebut Wakatobi) kerajaan Buton, tetapi juga di wilayah kepulauan Maluku. Karena itu La Rabu Mbaru, dalam uraiannya di buktikan dengan temuan-temuannya, sebagai fakta sejarah dan bukti-buktinya, tutur La Rabu.

“Kapitan Waloindi makamnya ada di Binongko, tegasnya”. Kapitan Waloindi merupakan kisah sejarah masa lampau (bukan merubah sejarah), tetapi hanya menekankan siapa sesungguhnya Kapitan Waloindi itu…?. Dalam fakta-fakta sejarah di Pulau Binongko hingga saat ini masih tersimpan kebenarannya. Karena itu Kapitan Waloindi dalam tradisi lisan rakyat Wali Pulau Binongko, bukan hanya menjadi cerita bersambung antara generasi, melainkan juga disertai dengan bukti-bukti sejarah tercatat pada tahun 1334 M.



Kapitan Waloindi 


Dalam sejarah di Kerajaan Binongko telah berdiri kokoh pada tahun 1334 M, sebelum kedatangan Raja Pati La Soro yang berpusat di Wali Koncu Patua. Selanjutnya pada tahun yang sama dibentuk empat kerajaan bersaudara yang disingkat dengan nama Bitokawa (Binongko, Tomia, Kahedupa, dan Wanse). Sejarah Buton dilegitimasi kebenarannya.

Dikatakannya, Raja Pati LaSoro yang kemudian dikenal dengan nama LaHatimura alias LaMura, alias Kapitan Waloindi, diakuinya berasal dari Tanah Barat yaitu dari wilayah Mongol (Tiongkok-Cina). Adapun sesuai penelusurannya Kapitan Waloindi ditemukan bukan berasal dari Mongol, namun ternyata sejak kecil dia diculik oleh para bajak laut, dan dia kembali masuk ke Indonesia melalui Gorontalo (Sekarang disebut Kabupaten Gorontalo) pada tahun 1334 M.

Selanjutnya Kapitan Waloindi atas informasi yang disampaikan oleh rekan penculiknya sejak masih balita pada saat itu, dia melanjutkan perjalannya menuju ke Pulau Bitokawa tepatnya di Binongko. Maksud kedatangannya di Negeri Bitokawa mencari sanak saudaranya, karena ternyata beliau adalah salah seorang anak cucu Raja Wali Patua Sakti (Sumahi Tahim Alam). La Baru Mbaru dalam penjelasannya, Kapitan Waloindi sesampainya di Pulau Binongko. La Soro bertemu dengan LaKakadu disekitar benteng keramat Oihu (saat ini disebut Kahea Koba). Kahea Koba adalah tempat tanah longsor jatuhnya raja Pati La Soro disaat uji kanuragan kesaktiannya (Hingga hari ini tempat itu, masih mengakui disebut jatuhnya raja Pati LaSoro) oleh masyarakat Lokal binongko.

La Kakadu yang ketika menjamu tamunya, karena mengaku adalah saudaranya yang telah lama menghilang, belum langsung mempercayainya, “kalau benar La Soro (Penemu atau pemilik pulau Bitokawa) adalah saudaraku akan kita buktikan kesaktianmu”, ucap LaKakadu. Tanpa menunggu lama keduanya saling menguji kesaktiannya, yang saat ini masih disebut tempat jatuhnya Raja Pati La Soro. Dalam adu kanuragan LaKakadu menendang Raja Pati LaSoro, hingga terperesok kedalam tanah sedalam 7 depa, selanjutnya di Cabut dari dalam tanah (saat ini disebut Kahea Koba), Kahea artinya Lubang, sedangkan Koba artinya dicabut, jelasnya.

Setelah LaSoro mendapat ujian dari LaKakadu, tibalah gilirannya untuk menguji La Kakadu. Secara tangkas LaSoro memutar Lakakadu dengan menggunakan ujung jarinya, sehingga La Kakadu bermuntah-muntah, lantas dia dilemparkan ke udara dan jatuhnya tepat di tanjung Pemali (Matano Sangia Burangasi) di Pulau Buton. Mengingat karena hal itu hanya ujian kanuragan, LaSoro menarik kembali LaKakadu untuk di kembali ketempat semula di Ohiu Pulau Binongko. Sehingga mulai saat itu keduanya saling membenarkan bahwa keduanya memang bersaudara, anak cucu dari Raja Patua Sumahil Tahim Alam, selanjutnya sebagai fakta sejarah tempat uji coba kesaktian itu, disebut Oihu artinya berarti saudara (Toih’u atau Oih’u), papar La Baru. ”Raja Pati LaSoro yang dikenal Sakti Mandraguna, usianya tercatat lebih kurang 600 tahun, selain itu mempunyai kelebihan atau dalam bahasa Wali (Cia-Cia) disebut (Kalabia Mimbali)”.

Sementara itu La Ode Illa dalam keterangannya kepada Radar Buton mengatakan, Kapitan Waloindi pada tahun 1975, seorang sejarawan Wali bernama Ama Huji, ketika ditemui 4 orang peneliti sejarah yang berasal dari Sumatera, kala itu disaksikan oleh La Ode Illa, La Ode Sehe mantan Kepala Desa Wali yang pernah menjabat pada tahun 1955 – 1979, dan selanjutnya diamini oleh LaOde Jaidi (Iyaro Agama Sarano Wali), sempat mendiskusikan asal-usul Kapitan Waloindi, tepatnya di Baruga Sarano Wali Binongko.

Dalam penjelasannya Iyaro Agama, Raja Pati La Soro yang sering dikenal dengan nama Kapitan Waloindi, berasal dari daerah mongol, namun sebelumnya dalam pencarian sanak saudaranya beliau sempat singga di Gorontalo, selanjutnya menuju ke Binongko. Menariknya dalam kisah pencarian Raja Pati Lasoro ini, setibanya di Binongko, dia La Soro di kabarkan mencari anak cucu Patua (Sumahil Tahil Alam).

Selanjutnya Iyaro Agama menjelaskan, perjuangan Kapitan Waloindi di pulau Tukang Besi ini, sangat besar pengaruhnya. Pasalnya, di Kepulauan Tukang Besi pada saat itu, sedang gencarnya perebutan kekuasaan antara perampok Bajak Laut dari wilayah Tobelo, Ternate, maupun Kerajaan Buton. Karena itu dibutuhkan peranan seorang pahlawan seperti halnya Kapitan Waloindi. Bersama para pejuang lainnya di Kepulauan Tukang besi maka dibangunlah kekuatan Bala tentara, yang hingga saat ini, tidak akan terlupakan dalam lembaran sejarah kerajaan Binongko, karena jasanya menumpas para Bajak laut, hingga saat ini cerita sejarah Kapitan Waloindi dimasyarakat daerah Wakatobi masih selalu diperdengarkan hingga saat ini.

Selanjutnya pada Abat 1334 M, kerajaan Binongko di Wali Koncu patua ketika di taklukan oleh Raja  Baluwu atas nama kerajaan Buton, maka pada saat itu, empat kerajaan bersaudara Bitokawa masing-masing kerajaan berpusat di Patua Tomia, di Palea Kahedupa, Kerajaan Liya di Wangiwangi.


Kapitan Waloindi 


Hal ikhwal ditaklukannya kerajaan Bitokawa oleh Kerajaan Buton kala itu, sesuai nara sumber sejarah diwilayah Buton, antara Kapitan Waloindi dan Sapati Baaluwu, sempat terjadi pertempuran antara keduanya selama sehari. Namun karena keduanya tidak nampak akan adanya yang kalah dan menang, maka Kapitan Waloindi, meminta agar pertempuran dihentikan sementara. Dalam jedah waktu tersebut Kapitan Waloindi ketika menatap roman muka Sapati Baaluwu, maupun gerak gerik lawannya itu, yang tidak ada gentarnya.
Maka keduanya berinisiatif, untuk saling membuka rahasia, selanjutnya berunding, untuk tidak memperpanjang pertempuran, guna tidak memakan banyak korban nyawa. Dan dalam bahasa rahasia Kapitan Waloindi memulai membuka Rahasia hidupnya, kalau ingin mengalahkan Kapitan Waloindi, Rahasianya tersimpan ditelapak kakinya. Sapati Baaluwu, mendengar terbukanya Rahasia Kapitan Waloindi…dia berjanji telah tiba saatnya, ”Engkaulah Sapati Baaluwu yang meneruskan Kerajaan Binongko, untuk dipersatukan di bawah naungan Kerajaan Butuni (Buton). Dan bertindaklah yang adil, bijaksana dalam setiap langkahmu”, ungkap Kapitan Waloindi.

Bukti sejarah pertempuran kedua pendekar ini sampai saat ini, masih ada di pantai Pasir Palahidu, dimana secara Haebu (Rahasia), Kapitan Waloindi menyerahkan dengan suka relah telapak kakinya kepada Sapati Baaluwu untuk dibelah kakinya. Dan sejak itu tempat pertarungannya di sebut Pallahidu (Pala artinya Telapak, Hidu artinya Hidup atau Hayat). Hal ini, juga diakui oleh sumber Radar Buton La Herani: pada tahun 2002. Selanjutnya Kapitan Waloindi berkata kepada masyarakatnya, dan sanak keluarganya, ”Kujalau (Aku jalan kaki lewat laut), Jalan tete, jalan tete (Kepergian seorang Kakek), Tamosio-siomo (kita akan berpisah-pisah), Mina dhi Wali Saranakamo LaOde (di Wali akan diserahkannya kepemimpinannya), Asumawimo di Watu Maria Khu Rumope Dhi Ambo Soea (Kumenumpang dipeluruh meriam atau Bedil, Kumenuju Ambon, Soea), sumber La Isamu Kaluku pada tahun 2004.

Diriwayatkan juga, setelah Kapitan Waloindi dibelah kakinya oleh Sapati Baaluwu, maka Kapitan Waloindi menghilang secara misterius menuju Timur, Ambon, dan tinggal di Gunung Soea, untuk melanjutkan pertapaannya. Keberadaan Kapitan Waloindi, di gunung Soea Ambon tidak diketahui orang-orang Bitokawa (Wakatobi), maupun orang Buton yang lebih dahulu bermukim di Ambon, kecuali orang-orang yang bisa memegang rahasia (Manusia Rahasia), baru dapat mengenalnya.

Pada tahun 1511 M, setelah sekian lama Kapitan Waloindi bermukim di gunung Soea Ambon. Namun tidak seorangpun yang tahu kalau beliau adalah seorang yang Ksatria dan mandraguna. Beliau dianggap orang biasa saja. Kapitan Waloindi mulai dikenal sebagai pendekar setelah dia masuk tentara Protugis pada tahun 1511 M, selanjutnya bertempur dengan unifprm pasukan tentara Protugis, menyerang dan memukul mundur pasukan Belanda. Karena itu, maka dia Kapitan Waloindi serya membangkitkan semangat rakyat Ambon Maluku, dia juga membentuk pasukan bala tentara untuk menghadapi ancaman penjajah Belanda (VOC).

Sebagai teman karib Kapitan Waloindi yang setia masing-masing; LaTulukabesi (Raja Hitu), Paulus Tiahahu, Cristina Marta Tiahahu (seorang anak putri Paulus Tiahahu) dan Kapitan Patipelohi (Patipelong), berjuang bahu membahu untuk mengusir penajajah Belanda, kala itu, dikenal dengan merebut Benteng Duursetede Ambon dari tanggal 15-16 Mei 1817.

Setelah menguasai Benteng Duursetede Ambon, dia Kapitan Waloindi yang lebih akrab dipanggil sahabat-sahabatnya dengan nama Patimura, karena Hatinya murah, mulia. Selain itu Kapitan Waloindi juga dipanggil oleh sahabat-sahabatnya La Hatimura atau LaMura. Disebutkannya dengan nama Patimua itu, karena dia Raja Pati yang berhati mulia (bermurah hati), beliau relah membantu orang-orang yang lemah dan teraniaya, sehingga gelarnya semakin lama, maka oleh sahabat-sahabat, mengkukuhkan namanya menjadi, ”Thomas Matulesi Patimura”. Berdasarkan kajian riwayat sejarah lisan kuno Wali Binongko, yang digantung oleh Belanda didepan Benteng Victoria Kota Ambon pada tanggal 16 Desember 1817 itu, adalah bukan Patimura, melainkan seorang mata-mata Belanda yang kebetulan wajahnya sama, mirip dengan Patimura.

Sedangkan Kapitan Waloindi atau Patimura telah merubah wajah bersama La Tulukabesi (Raja Hitu), Paulus Tiahahu, Cristina Tiahahu, dan Kapitan Patipelohi kala itu sedang dalam tahanan Belanda, selanjutnya mereka diasingkan ke tanah jawa. Namun ketika diberangkatkan dengan kapal, sesampainya di sekitaran Laut Buru, kapal tersebut kehabisan makanan dan air minum. Maka kalangan pendekar yang menjadi tahanan Belanda dikapal tersebut, melakukan pemberontakan, dan membunuh habis para penghianat (Belanda) selanjutnya mengarahkan kapal tersebut ke Pulau Tukang Besi, tepatnya dipantai Patuhuno (orang yang turun), dan saat ini disebut ”Patuno”, pulau wangi-wangi.

Keberadaan tahanan Belanda ini, setibanya di pulau Wangiwangi disambut dengan gembira oleh masyarakat Wangiwangi. Namun mata-mata Belanda sebaliknya tidak tinggal diam, malah melaporkannya, berada di pulau Wangiwangi. Raja Hitu (Latulukabesi), bersama Paulus Tiahahu, dan Cristina Tiahahu mendengar telah diketahui oleh mata-mata Belanda tentang keberadaannya di Wangiwangi, setelah mendapat tumpangan mereka kembali ke Ambon, tanpa diketahui oleh mata-mata Belanda.

Sedangkan Kapitan Patipelohi (Patipelong) menuju ke Pulau Tomia dan kawin dengan putri Ince Suleman (Dato Suleman) penyiar agama Islam di Tomia. Sementara Kapitan Waloindi kekampung halaman di Binongko menemui anak cucunya yang kala itu dia tinggalkan kurang lebih 483 tahun.

Ironisnya, setibanya Kapitan Waloindi di Binongko terdengar oleh mata-mata Belanda dan akhirnya beliau dicari oleh Belanda hingga sampai ke pulau Binongko. Namun ketika Kapal Belanda yang memuat 7 Kompi Bala Tentara Belanda untuk menangkap Patimura, malah yang terjadi sebaliknya tentara Belanda dihabisi oleh Kapitan Waloindi.

Sebagai Bukti peninggalan sejarah, kapal Belanda yang berlabuhnya di Taduna itu oleh masyarakat Binongko, tempat itu diberi nama kampung Nato, letaknya tidak jauh dari pantai perkampungan Walanda (Belanda), meskipun hingga saat ini masih dirahasiakan.

Kampung lama atau Kampung Molengo atau mangingi, disinilah Kapitan Waloindi menghembuskan nafas terakhirnya, dan nama Kapitan Waloindi telah diabadikan menjadi nama desa, di kecamatan Togo Binongko Wakatobi. Kesaktian Kapitan Waloindi di Zaman seperti ini, sepertinya tidak masuk akal, namun tidak salah untuk kita kagumi, karena hal itu terjadi pada zamannya.