KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Senin, 22 Februari 2016

KAMPANYE PRIDE PAAP LAKINA LIYA DI TAMAN NASIONAL WAKATOBI



Oleh : AGUNG DJABBAR DAENG MATANTU


Tarian tradisional asli milik Keraton Liya yakni Tarian Lariangi Kareke merupakan salah satu tarian tradisional yang tertua di Indonesia yang diperkirakan lahir sejak pertengahan abad ke XIII sehubungan dengan masuknya Maha Patih Gajah Mada ke Liya. Tarian ini menggambarkan suatu peradaban yang tinggi mulai dari bentuk gerakan da syair yang dinyanyikan oleh para pemainnya mengandung pesan-pesan moral dan budaya. Adapun pesan-pesan moral dan budaya yang dinyanyikan oleh para penari yang biasanya berjumlah genap antara 12 orang sampai 16 orang ini adalah penyampaian pesan kepada para tamu atau pendatang. Salah satu diantara pesan tersebut adalah "jika tuan datang ke negeriku maka hormatilah budaya kami..., "jika tuan datang menyapa kami, maka sapalah dengan santun dan berbudaya...., "jika tuan datang ke negeriku maka janganlah membawa budayanya" ...., dst. (Sumber http://craliyao.blogspot.co.id)


                                   Tari Lariangi Kareke - Liya
KAMPANYE PRIDE PAAP KADIE LIYA di Taman Nasional Wakatobi.
Tarian tradisional asli milik Keraton Liya yakni Tarian Lariangi Kareke merupakan salah satu tarian tradisional yang tertua di Indonesia yang diperkirakan lahir sejak pertengahan abad ke XIII sehubungan dengan masuknya Maha Patih Gajah Mada ke Liya. Tarian ini menggambarkan suatu peradaban yang tinggi mulai dari bentuk gerakan da syair yang dinyanyikan oleh para pemainnya mengandung pesan-pesan moral dan budaya. Adapun pesan-pesan moral dan budaya yang dinyanyikan oleh para penari yang biasanya berjumlah genap antara 12 orang sampai 16 orang ini adalah penyampaian pesan kepada para tamu atau pendatang. Salah satu diantara pesan tersebut adalah "jika tuan datang ke negeriku maka hormatilah budaya kami..., "jika tuan datang menyapa kami, maka sapalah dengan santun dan berbudaya...., "jika tuan datang ke negeriku maka janganlah membawa budayanya" ...., dst.

Kamis, 18 Februari 2016

BENTENG LIYA TOGO DAN LAGENDA TALO TALO



Oleh : detikTravel Community


 Kompleks Benteng Liya Togo (Benteng Lapis ke-1), Wakatobi

 
Bukti kebesaran Kerajaan Mongol (Kerajaan Buton) bisa terlihat dari puing-puing benteng yang tersebar di Pulau Buton dan kawasan Wakatobi. Salah satunya adalah Benteng Liya Togo di Pulau Wangi-wangi. Terletak di daerah berbukit, benteng ini  mengelilingi Desa Togo dan sesuai hasil studi teknis Balai Arkiologi Makassar dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar disebut Benteng Lapis ke-1, dari tiga lapis benteng Benteng Liya yang ada di wilayah kepulauan Wangi-Wangi, Wakatobi. Sampai pada saat kami datangi,29 Oktober 2010, desa ini masih terlihat setia pada bentuk arsitektur lama dan terstruktur rapi.&nbet.  

Kompleks Benteng Liya Togo  intinya sendiri berada di posisi tertinggi. Dengan bentuk gerbang khas buton, atau disebut lawa dalam bahasa buton, dan arsitektur baruga yang sama dengan kompleks di tempat lain. Ada Mesjid Mubarak disisi barat dan baruga, atau semacam balairung (Bastion Laro Togo), di sisi timur. Di Utara terdapat kompleks pemakamanan. Yang terkenal disini adalah Makam Talo-Talo.  

Talo-talo adalah seorang Raja yang diangkat berasal dari pemuda biasa (golongan bukan bangsawan) yang memiliki kesaktian mandraguna. Beliau juga dikenal dengan sebutan Malan Sahibu yang artinya kurang lebih sebagai orang yang berkarakter keras dan bila berperang dia akan bertarung sampai titik darah penghabisan serta meluluhlantakan semua lawannya. Menurut legendanya, beliau ini saat mudanya sering berlatih meloncat di Baliura (bastion Laro Togo). 

Bastion  ini dipercaya sebagai inti atau asal usul Desa Liya Togo. Karena keahliannya meloncat ini, maka pada saat Kerajaan Liya sudah Gabung dengan Kesultanan Buton awal abad ke XVI mengirim beliau untuk menyelesaikan konflik di Batara Muna. Batara adalah konsep negara bagian di jaman pemerintahan Sultan Buton yang diterapkan oleh sultan Idrus Kaimuddin. 

Talo-talo menyelinap dengan melompati benteng Muna dan berhasil membunuh Raja Muna saat itu. Sebagai hadiah,  Kerajaan Talo-talo diberikan gelar sebagai Bobato Mancuana Matanayo atau Panglima Perang Kawasan Barat. 

 Hingga sekarang beliaupun dimakamkan di komplek dalam benteng Liya Togo. Satu lagi legenda yang menarik sehubungan dengan benteng ini adalah Baliura (Bastion Laro Togo). Bagi siapa yang menyentuh Lokasi ini dipercaya akan kembali ke Togo. Untungnya, saya sempat menyentuh batu secara tidak sengaja. Berarti saya akan bisa kembali datang ke Wakatobi dan menikmati keindahan alam dan keunikan legendanya. disana ****

Sumber :

Rabu, 17 Februari 2016

LIYA TOGO, JEJAK SEJARAH KERAJAAN BUTON DI WAKATOBI

Oleh : Sutiknyo


Jejak sejarah kebesaran masa lalu Indonesia kembali saya temukan di tenggara Sulawesi. Sebuah benteng yang konon katanya adalah satu dari bebeberapa benteng yang menjadi pusat penyebaran Islam di kesultanan Buton. Benteng dengan luas 30 Hektare menyimpan banyak sekali sejarah masa lampau. Sebut saja masjid Mubarak.

Mesjid ini di bangun dari susunan batu karang  yang konon katanya di rekatkan dengan mengunakan adonan kapur di campur dengan putih telur ayam, menarik.


Sebuah benteng di Liya Togo
Sebuah benteng di Liya Togo
 
Benteng Liya Togo ini terletak di desa Liya Raya, kecamatan wangi-wangi selatan, kabupaten Wakatobi. Komplek inti dari benteng ini berada di daerah tertinggi. Sebuah tanah lapang yang terdapat sebuah masjid Mubarak di sisi Barat,  dan Baruga atau semacam balairung tempat berkumpul di sisi kanan. Yang menarik perhatian saya adalah adanya komplek makam di sisi utaranya. Konon katanya di pemakaman itulah bersemayan Jasad Talo-talo seorang pemuda digdaya yang menjadi asal-usul liya togo ini.

Talo-talo muda dulu sering berlatih melompat di Baliura, sebuah batu yang menjadi legenda di liya Togo. Buah hasil rajin berlatih meloncat ini lah akhirnya Talo-talo berhasil membunuh seorang raja di Batara Muna dengan mengendap dan melompati benteng Muna, Batara itu semacam negara bagian pada masa pemerintahan kesultanan Buton. Nah sebagai hadiah dari keberhasilannya itu Talo-talo di berikan daerah Liya Togo sebagai daerah kekuasaan nya oleh sultan Buton.

Terpisah dari Legenda itu saya sangat antusias dengan kehadiran bocah-bocah yang sedang asik bermain bola di Liya Togo petang itu. Nah begitu moncong lensa saya membidik aksi-aksi mereka yang seperti pemain bola dunia, eh malah mereka langsung berkumpul minta di foto terus-terus an ha ha. Ibu-ibu terlihat sedang bersendau gurau. Sesekali terlihat seorang ibu lain yang berkeliling menjajakan Kasuami (makanan khas Wakatobi dari olahan singkong).  
Pohon-pohon flamboyan yang usianya sudah tua dengan bentuk dahan meliuk-liuk  juga menghiasi komplak inti Liya Togo ini, seolah mereka juga berperan menjadi saksi sejarah dari kebesaran Liya togo di masa lalu.

Liya Togo
Liya Togo
 
Liya Togo sedang berbenah, Baruga yang berada di sisi timur sedang di pugar untuk di renovasi. Ingin sekali menyaksikan prosesi pembangunan kembali Baruga ini. Liya togo memang sedang di persiapkan sebagai sebuah destinasi wisata baru di Wakatobi. Jejak sejarah di kemas dalam sebuah paket yang menarik. Jadi Wakatobi bukan hanya pesona underwater dan pantainya saja, ada satu lagi destinasi sejarah dari masa lalu Indonesia.

SEJARAH KAPITANLAU BOBETO MANCUANA SAMPOLAWA DAN BOBETO MANCUANA LIYA

Disebut Panglima Armada Barat Dan Armada Timur
 
Oleh Pimred Intelijenpost.com : Ode Lahane Aziz


 Benteng Buton, Setelah diPugar
 
 
Setelah kita telusuri sejarah, berbicara tentang seni budaya tidak lepas dari pada kita berbicara tentang karakter sosial dimana budaya tersebut dihasilkan. Honari Mosega sebagai salah satu contoh seni budaya yang dimiliki oleh karakter sosial orang-orang Liya yang pada zamannya di kenal dengan orang-orang pemberani dan ahli dalam silat atau olah kanukragan.
 
Untuk membenarkan hal demikian ini diperkuat oleh beberapa referensi atau literatur yang pernah ditulis oleh para ahli sejarah wolio termasuk pengakuan dari Drs.H. La Ode Manarfa  bahwa Honari Mosega hanya  satu-satunya milik Bobeto Mancuana Liya.  Pada zaman kerajaan Buton dahulu kala sudah terjalin hubungan-hubungan pemerintahan antara Raja Buton dengan Raja Liya Talo-Talo.
 
Dari hubungan-hubungan ini terjalin dalam rangka memperkuat  kekuasaan Raja Buton dan/atau Kesultanan Buton sekaligus mempertahankan kedaulatan wilayah pemerintahan Raja atau Sultan Buton mulai dari wilayah bagian utara Marunene sampai ke bagian timur Binongko dari pada serangan musuh atau pihak-pihak lain yang ingin mencaplok wilayah tersebut.
 
Kemudian, karena itu pada zamannya di wilayah Kesultanan Buton terdapat dua wilayah yang diberi gelar sebagai Bobeto Mancuana setingkat Kapitanlau yakni Bobeto Mancuana Sampolawa dan Bobeto Mancuana Liya. Selanjutnya, Bobeto Mancuana ini memiliki kedudukan sebagai Panglima Armada yakni kawasan Barat di pegang oleh Sampolawa dan kawasan timur dipegang oleh Liya.
 
Lantas kedua wilayah ini dari zaman kerajaan wolio dan/atau kesultanan wolio pada masa dahulu kala sudah dikenal dikalangan sara wolio sebagai daerah yang memiliki kelebihan khusus yaitu Sampolawa mempunyai kelebihan sebagai daerah yang masyarakatnya memiliki ahli kebatinan sedangkan Liya dikenal masyarakatnya sebagai ahli perang dan silat atau kanukragan.
 
Bahkan, pada masa kerajaan Buton sampai Kesultanan Buton, jika Raja dan/atau Sultan Buton ingin mengadakan perang, maka terlebih dahulu dia  harus berkonsultasi kepada dua Raja di daerah ini yakni Raja Sampolwa dan Raja Liya.
 
Sementara jika kedua raja di daerah ini mengatakan perang, maka otomatis Raja Buton dan/atau Sultan Buton mengumumkan perang.  Begitu pentingnya kedudukan Bobeto Mancuana pada kedua daerah ini Liya dan Sampolawa.
 
Honari Mosega merupakan simbol atau lambang-lambang karakter sosial masyarakat pada zamannya. Honari Mosega hanya  satu-satunya terdapat di Liya dari seluruh wilayah pemerintahan Kerajaan dan/atau Kesultanan Buton karena dia merupakan ciri khas kultur masyarakatnya pada waktu itu. 
 
Jika ada pihak lain atau daerah lain ingin mengakui Honari Mosega sebagai miliknya maka berati Bobeto Mancuana ada dilain tempat selain Liya dan Sampolawa, sementara itu Kerajaan dan/atau Kesultanan Buton hanya memberikan kekuasaan Bobeto Mancuana pada dua wilayah yakni Sampolawa dan Liya.
 
Dengan demikian jika Mandati masih ingin menklaim bahwa Honari Mosega adalak miliknya maka buktikan dulu sejarahnya dan minta restu dulu dari Sara Wolio sebab sesungguhnya Honari Mosega muncul dari karakteristik dan kekhasan siafat-sifat sosial suatu daerah Liya yakni pemberani, suka berperang dan ahli kanukragan.
 
Polemik masalah Honari Mosega yang dihembuskan oleh kalangan masyarakat Mandati adalah merupakan embrio dari pada adanya migrasi orang-orang Liya sejak akhir Abad ke VII ke Mandati dengan tujuan awal untuk memperkuat kedudukan Sara Mandati hasil bentukan Raja Liya dan mereka akhirnya bermukim tetap disana lalu kawin dan memiliki keturunan-keturunan. 
 
Dari keturunan-keturunan mereka orang-orang asal Liya yang tinggal di Desa Mandati inilah yang memperkeruh keadaan dan mengaku-ngaku sebagai Honari Mosega milik mereka padahal sesungguhnya mereka itu tak lain berdarah asli Liya dan tidak begitu mendalami dan mengetahui sejarah yang benar dan asal muasal mengapa orang tua mereka hijrah ke Mandati pada zamannya ***

Sumber 

SENI BUDAYA TRADISIONAL POSEPA’A DI LIYA WAKATOBI


Oleh : Ahmad Fiyanto



Seni Atraksi Posepa

Latar Belakang

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut para antorpolog, Budaya adalah seluruh system gagasan, rasa dan tindakan bersama melalui proses belajar.


Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk system agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dari beberapa unsur- unsur budaya diatas, Seni Budaya Tradisional Posepa’a merupakan  suatu tradisi adat istiadat yang berkembang dan dimiliki bersama oleh masyarakat lingkugan Benteng Keraton Liya Wakatobi yang diwariskan dari generasi ke generasi yang diperkirakan dimiliki sejak pertengahan abad ke XIII.

Gambaran Pelaksanaan Seni Budaya Tradisional Posepa’a


 “Posepa’a” diambil dari bahasa masyarakat Liya Wakatobi yang berarti baku tendang atau sepak- menyepak. Posepa’a merupakan Seni Budaya Tradisional Liya Wakatobi yang dilaksanakan atau diperagakaan setiap bulan suci ramadhan setiap sore hari menjelang buka puasa sebagai acara rutin masyarakat dalam lingkungan keraton Liya.


Dalam tradisi ini biasanya diawali dengan tarian perang “Honari Mosega” yang diatrasikan oleh pemangku Adat Suku Liya Wakatobi. Tarian sebagai symbol perang melawan hawa nafsu selama bulan ramadhan. Barulah selesai tarian perang ini, seni budaya tradisional pospa’a (baku tendang) dimulai.


Seluruh kalangan masyarakat dapat mengikut serta dalam tradisi posepa’a ini. Selain itu, tidak ada aturan dalam hal pakaian yang digunakan pada saat mengikuti tradisi posepa’a selain hanya kain sarung yang dikalungkan dibahu saja.


Aturan dalam seni budaya posepa’a ini adalah tidak diperbolehkan menggunakan tangan untuk memukul. Peserta dalam tradisi ini adalah dua kelompok lelaki yang saling berhadapan sambil memegang tangan anggota kelompoknya  dan salin menendang. Tidak ada pemenang dalam adu tendangan ini. Jika dinilai terlalu keras, pemangku adat akan segera menghentikan adu fisik ini dan dilanjutkan dengan saling memaafkan agar tak ada dendam di antara mereka. Warga Suku Liya Wakatobi percaya seni tradisi posepa’a  perlu dipertahankan karena dapat bertujuan memelihara persaudaraan, juga budaya saling memaafkan.

Sejarah Awal Mula Pelaksanaan Seni Budaya Tradisional Posepa’a


Posepa’a merupakan Seni Budaya Tradisional Liya Wakatobi yang diperkirakan dimiliki sejak pertengahan Abad ke XIII yang dibawah dari Kerajaan Melayu yang diperagakan setiap bulan suci Ramadhan setiap sore hari menjelang berbuka puasa sebagai acara rutin masyarakat dalam lingkungan Keraton Liya Wakatobi.


Penyebaran seni budaya posepa’a ini diperkirakan disebarkan oleh para pengwal dan/atau pengikut setia Si Panjonga yang telah menetap dikeraton Liya Wakatobi setelah Si Panjonga menjadi Raja Liya sekitar tahun 1258- 1296 dan berpindah ke Buton.


Seni budaya posepa’a ini, diperagakan oleh para pengikut setia Si Panjonga yang telah bermukim di Liya Wakatobi pada setiap memasuki Bulan Ramadhan sebagai olah raga fisik, mental dan melatih kanuragan disaat- saat perut terasa lapar akibat berpuasa, disamping mengisi waktu menjelang buka puasa agar tidak jenuh dan  merasa payah.
 


Kesimpulan

1. Seni Budaya Tradisional Posepa’a Di Liya Wakatobi adalah sekelompok lelaki yang saling berhadapan, sambil memegang tangan anggota kelompoknya  dan salin menendang.


2. Seni Budaya Tradisional Posepa’a merupakan Seni Budaya Tradisional Liya Wakatobi yang diperkirakan dimiliki sejak pertengahan Abad ke XIII yang dibawa dari Kerajaan Melayu yang diperagakan setiap bulan suci Ramadhan setiap sore hari menjelang berbuka puasa sebagai acara rutin masyarakat dalam lingkungan Keraton Liya Wakatobi hingga sekarang.


3.   Awal mula Seni Budaya Posepa’a ini diperagakan oleh para pengawal atau pengikut setia Si Panjonga yang merupakaan Raja Liya sekitar tahun 1258- 1296 sebelum akhirnya berpindah ke Buton. 
4.  Tujuan Seni Budaya Tradisional Posepa’a menurut kepercayaan warga Suku Liya Wakatobi adalah untuk bertujuan memelihara persaudaraan, juga budaya saling memaafkan.
Sumber