KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Sabtu, 08 September 2012

SEKELUMIT KISAH GAJAHMADA DI EKS KERAJAAN BUTON : “GAJAHMADA MERUPAKAN SAUDARA TIRI JAYANEGARA DAN TRIBHUWANATUNGGADEWI”.


 
OLEH : ALI HABIU  *)




Siapa Gajahmada itu…??

Leo Suryadinata mengakui, sejarah awal kehidupan Gajahmada tidaklah begitu jelas. Namun, Encarta Encylopedia berani memperkirakan Gajahmada lahir tahun 1290 M. Jadi, ia lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara. Pembacaan atas tokoh Gajahmada kerap dihubungkan dengan dimensi supernatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.

Berdasarkan foklour masyarakt buton mengatakan bahwa Gajahmada merupakan anak pertama dari pasangan Si Jawangkati dengan Lailan Mangraini. Sijawangkati adalah seorang muslim merupakan pembantu Si Malui dan adiknya bernama Si Baana dan sebagai manusia yang kedua datang di pulau Buton. Si Jawangkati dating ke pulau Buton menemani Si Malui dan Si Baana pada hari bulan sya’ban tahun 634 Hijriah dengan menumpangi behtera kapal bernama “Popanguna” berbenderakan Buncaha yakni bendera dengan motif warna kuning hitam selang-seling yang tak lain adalah bendera kerajaan asal leluhurnya dari daerah Bumbu negeri Melayu Pariaman (baca buku perak buton berjudul : Assajaru Haliqa Darul bathniy Wa Darl Munajat, serta Hikayat Negeri Buton)

Pada akhir tahun 1236 M Si Jawangkati beserta tuannya terdampar di sebelah utara timur laut Buton yakni “Kamaru” dengan bentengnya bernama “Wonco”. Si Jawangkati dengan memimpin rombongan kecil berpamitan dengan Si Malui dan Si Baana untuk mencari daerah hunian baru dan setelah ditemukan hunian ini bernama “Wasuembu”. Setelah menemui tempat baru ini Si Jawangkati langsung membuat perkampungan serta benteng pertahanan bernama “Koncu” di Wabula.

Gajahmada cucu Raden Wijaya….. !

Tak lama berselang kedatangan Si Jawangkati di pulau Buton, maka datanglah serombongan para anak-anak bangsawan dari pulau Jawa. Anak-anak bangsawan tersebut tak lain adalah Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Mangraini yang merupakan anak-anak dari Raden Wijaya yang ketika itu masih sebagai Raja Mataram sebelum gabung dengan Majapahit.  Kedatangan ketiga anak-anak Raden Wijaya tersebut bukan tidak beralasan, mereka datang atas petunjuk ghaib yang diterima oleh dukun atau penasehat istana kerajaan Mataram untuk memerintahkan anak-anak Raden Wijaya tersebut mencari suatu pulau yang terdapat di wilayah Timur nusantara bernama pulau Buton. Setelah menemui pulau Buton ketiga anak-anak Raden Wijaya diperintahkan untuk membangun Bandar perniagaan.  Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.  

Kedatangan putra putri Raja Mataram itu menggunakan dua Armada antara lain satu armada dipimpin oleh Raden Sibahtera dengan adiknya Lailan Mangrani disertai dengan 40 pengikutnya, sedangkan armada yang satu dipimpin oleh Raden Jutubun beserta 40 pengawalnya. Kedua armada tersebut masing-masing membawa bendera leluhurnya yang dipasang diburitan kapal dengan warna bendera merah putih dan bendera ini dinamai “dayialo”. Kedua armada ini setelah tiba di laut Buton selanjutnya disambut oleh Si Jawangkati dan Si Tamanajo di teluk Kalampa tempat kedua armada tersebut berlabuh.

Tak lama berselang beberapa tahun kemudian setelah Raden Sibahtera telah dinobatkan menjadi Raja Pertama Buton dengan permaisurinya bernama gelar Wa Kaa Kaa atau nama aslinya Mussarafatul Izzati Al Fakhriy, maka kawinlah Si Jawangkati denga Lailan Mangrani. Hasil dari perkawinan Sijawangkati dengan Putri Raden Wijaya ini membuahkan seorang anak pertama seorang bayi yang cukup besar dan  berparas jelek dan diberi nama Gajahmada. Mulai umur 3 tahun Gajahmada ini memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa baik secara kekuatan fisik maupun instink dan setelah usia mencapai 7 tahun maka dilatihlah oleh ayahnya ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian. Perlu diketahui bahwa Si Jawangkati ini adalah seorang amat sakti dari asal keturunan para wali negeri melayu.

Kemudian setelah ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian telah diturunkan oleh ayahandanya kepada Gajahmada, genap usia 15 tahun Gajahmada di bawalah ke pulau Jawa oleh ibunya Lailan Mangrani untuk membantu Raden Wijaya dalam kesulitan melawan para pemberontak dari dalam kalangan lingkungan kerajaan Majapahit. Disanalah awal kisah Patih Gajahmada dalam peranannya membantu neneknya sendiri yakni Raden Wijaya dan pamannya bernama Jaya Negarauntuk memberantas para penjahat kerajaan (baca kisah Gajah Mada semakin sangat jelas, Gajah Mada lahir dan wafat di wilayah eks kerajaan buton, http://kabali-indonesia.blogspot.com/2012/09/semakin-sangat-jelas-kisah-maha-patih.html)

Leo Suryadinata menulis, Gajahmada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya adalah kepala pasukan Bhayangkara, pasukan penjaga keamanan Raja dan keluarganya. Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309-1328 M. Menjadi mungkin, Gajahmada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami spirit pemerintahannya.

Gajahmada Bersaudara Tiri dengan Jayanagara dan Tribuwanattunggadewi ….!

Jayanagara ini adalah putra pasangan Raden Wijaya dengan seorang putri Sumatera (Jambi) bernama Dara Petak. Sebab itu, darah yang mengalir di tubuh Jayanagara bukanlah pure Jawa. Anggapan yang relatif rasis ini merupakan fenomena sebuah kancah politik hegemoni dalam kekuasaan aneka suku bangsa tatkala itu. Buktinya, pernah tahun 1316 M muncul pemberontakan Nambi yang menurut http://www.gimonca.com muncul akibat sentimen "darah" Jayanagara tersebut. Meski pemberontakan itu berhasil dipadamkan, seolah sesuatu yang laten (faktor rasisme) 'menyala' dalam politik Majapahit ini.

Tatkala Gajahmada jadi kepala pasukan Bhayangkara, meletus pemberontakan Ra Kuti, salah satu pejabat istana tahun 1319 M. Pemberontakan ini cukup menohok, oleh sebab si pemberontak mampu menduduki ibukota. Jayanagara berikut istri Raden Wijaya dan putrinya (Tribhuwanattungadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita) mengungsi ke Bedander. Selaku kepala pasukan keamanan, Gajahmada memastikan keamanan raja dan keluarga. Setelah dinyatakan save, ia berbalik ke ibukota guna menyusun serangan balasan.


Ia meneliti kesetiaan rakyat dan pejabat Majapahit kepada Raja Jayanagara dengan memunculkan isu keterbunuhan raja. Menurut anggapannya, raja dan sebagian besar pejabat Majapahit menyayangkan kematian raja dan membenci perilaku Ra Kuti. Atas dasar ini, Gajah Mada menyusun serangan balasan secara kemiliteran, dan berhasil membalik keadaan. Pemberontakan Kuti pun dipadamkan. Raja dan keluarganya kembali ke ibukota.


Kebijakan Jayanagara ditopang oleh kemampuan politik Arya Tadah, mahapatih Majapahit. Fokus kebijakan raja dan mahapatih ini adalah stabilitas politik dalam negeri. Jadi, Majapahit belum lagi melakukan penaklukan ke pulau-pulau "luar" Jawa. Ini mengingat Gajahmada belum memegang peran penting di dalam pembuatan keputusan politik level negara.


Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajahmada dari sekadar komandan pasukan Bhayangkara menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala. Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta.


Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajahmada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajahmada adalah Jenggala-Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi.

Pertama, dari Charles Kimball yang menulis, loyalitas Gajahmada terhadap Jayanagara mengalami titik balik tatkala raja mengambil istri Gajahmada selaku haremnya. Kedua, Kitab Negara Kertagama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajahmada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajahmada sendiri. Ketiga, novelis Langit Kresna Hariyadi, yang menulis loyalitas Gajahmada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi.

Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328. Versi meninggalnya Jayanagara pun berlatar belakang loyalitas Gajahmada pada Jayanagara. Versi Kimball menyatakan, Gajahmada menskenario pembunuhan atas Jayanagara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jayanagara akibat suruhan Gajah Mada dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. Versi ini didukung pula oleh pendapat Leo Suryadinata, yang juga menulis kekecewaan Gajahmada akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi. Setelah raja meninggal, Gajahmada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri. Peristiwa 1328 M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras Palace Circle. Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara.


 Mahapatih Gajahmada


Pada masa terbunuh dan digantinya Jayanagara ini, Odoric dari Pordonone, pendeta ordo Fransiskan dari Italia mengunjungi Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Setelah terbunuhnya Jayanagara, Gajahmada berkeras Tribhuwanattunggadewi dijadikan ratu Majapahit. Belum ditemukan bukti yang cukup seputar alasan kekerasan hati Gajah Mada atas penunjukan ini. Namun yang belum sampai analisis para ahli sejarawan kita hingga saat ini adalah Gajah Mada dan Jayanegara sebetulnya adalah saudara tiri. Gajahmada lahir dari seorang selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram dan Jayanegara lahir dari seorang ibu bernama dara petak masa Raden Wijaya menjabat Raja Majapahit. Hingga saat ini belum terkomfirmasi siapa nama slir Raden Wijaya semasa menjabat Raja Mataram yang memiliki 3 orang anak bernama Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Manggraini. Kalau silsilah dalam kerajaan Mataram bisa ditemukan, maka disana akan terungkap struktur keluarga Gajahmada secara spesifik yang memecahkan teka teki asal usul Gajahmada yang kontroversial.


Asumsi lain dari analisis ras, Gajahmada mungkin kuwatir singgasana akan jatuh pada Arya Damar, keturunan Raden Wijaya dari istri yang asal Jambi. Sementara, Tribhuwanattunggadewi adalah putri keturunan Raden Wijaya asli pulau Jawa. Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra asli atau bukan. Atau, dimungkinkan pula, dengan beralihnya kekuasaan pada ratu ini, Gajahmada lebih leluasa dalam mengambil tindakan. Konflik suksesi ini terbukti dengan baru dilantiknya Ratu Tribhuwanattunggadewi tahun 1329, sekurang-kurangnya menurut Charles Kimball. Pemimpin perempuan Majapahit ini berkuasa sejak 1329 hingga 1350 M. Pada fase ini, Majapahit memulai fase penaklukannya.

Analisis rasialitas ini memiliki alasan pribadi yang sangat mendalam, yang mana antara Gajahmada, Arya Damar dan Tribhuwaanattunggadewi adalah semua bersaudara satu ayah bernama Raden Wijaya dan lain ibu yang mana Gajah Mada tentu dalam menunjuk atau memperjuangkan saudara-saudaranya berdasarkan pengamatan pribadi dia mana yang memiliki kelebihan sifat kepemimpinan antara keduanya Arya Damar dan Tribhuwanattunggadewi maka dia memilih memperjuangkan Tribhuwanattunggadewi sebagai Raja Majapahit pengganti Jayanegara.

Mahapatih Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, dan praktis posisi tersebut jatuh ke tangan Gajahmada. Tribhuwanattunggadewi sangat mendukung program-program Gajahmada. Tahun 1331 M meletus pemberontakan Sadeng dan Keta, di wilayah timur Pulau Jawa. Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke sana dan berhasil memadamkan pemberontakan wilayah tersebut. Ra Kembar, salah satu bangsawan dan pejabat Majapahit berusaha menutup jalan pasukan Gajah Mada ke wilayah Sadeng, baik secara politik maupun militer.


Lokasi Wafat Gajahmada….?

Beberapa refensi menyebutkan bahwa Gajahmada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa BUBAT dimana Gajahmada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajahmada di wilayah itu asketis (http://setabasri01.blogspot.com)

Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajahmada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini, Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau "luar" seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan.

Dalam analisis penulis Gajahmada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya inti yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton. Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajahmada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan tukang besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi. Perlu diketahui bahwa Gajahmada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalannya pulau ke pulau Buton dia dituntun secara ghaib dan senantiasa mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual dalam pelariannya. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajahmada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi dengan memasang simbol-simbol disana. Pada saat rombongan Gajahmada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini yang tak lain adalah merupakan para hulubalang dan bajak laut (bajak laut tobelo). Para bajak laut di pulau ini terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajahmada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya berdasarkan petunjuk ghaib dia memutuskan untuk wafat di pulau ini, sementara ke 40 prajurit inti pengawal setianya diperintahkan untuk melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajahmada yang amat sakti ini tetap terjaga. Gajahmada akhirnya di pulau kecil sebelah barat wangi-wangi tersebut memutuskan untuk melakukan tapah brata didalam suatu gua yang didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gajamada meninggalkan alam maya padah ini dalam keadaan duduk bersemedi dengan salah satu bagian tangannya menggenggam cakram sebagai senjata andalannya. 


 Mahapatih Gajahmada


Meskipun secara ilmiah masih diperlukan penelitian mendalam atas riwayat ini, namun bahwa bukti-bukti secara ontologisme dapat dipertimbangkan dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajahmada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga di pulau wangi-wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut. Selain itu bukti-bukti fisik baik situs, atefak, artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan tertentu penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau wangi-wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai situs batu Mada.

Menurut folklour masyarakat setempat keberadaan situs batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajahmada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti. Tak jauh dari situs batu Mada terdapat situs Oa (Gua) Buea yang digunakan oleh Gajahmada sebagai pintu rahasia keluar masuk menuju persembuyiannya. Tak jauh dari situs Gua Buea terdapat situs Kuni yang diyakini oleh masyarakat lokal sebagai tempat semedi Gajahmada dan tak jauh dari situs Kuni terdapat situs Oa (Gua) Winte yang diyakini oleh masyarakat lokal sebagai gua tempat penyimpanan harta-harta berharga Gajahmada.
Sedangkan ke 40 orang prajurit inti pengawal setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan wangi-wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua yang lebar dan luas. Dan di dalam gua inilah ke 40 orang prajurit inti pengawal setia Maha Patih Gajahmada mlakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri Batauga.

Berdasarkan foklour masyarakat buton, diyakini bahwa Gajahmada lahir di buton dan merupakan anak pertama dari Si Jawangkati seorang muslim asal Johor-Melayu dengan ibu bernama Lailan Mangrani juga seorang muslim yang tak lain adalah anak slir  Raden Wijaya yang ketika itu sebagai Raja Mataram. Gajahmada sengaja secara rahasia dibawa oleh ibunya ke pulau Jawa untuk mengamankan sekaligus melindungi kakeknya bernama Raden Wijaya mengingat kala itu terdapat banyak pemberontakan dalam kalangan istana Majapahit, yang mana Gajah Mada diyakini memiliki kesaktian luar biasa hasil didikan orang tuanya . Oleh karena itu sejarah asal usul Gajahmada di kerajaan Majapahit tidak dimiliki mengingat kedatangannya disana merupakan urusan dalam internalitas keluarga pribadi Raja Majapahit. Dan  tak kala penting yang para ahli sejarah kita luput selama ini ialah bahwa ternyata “Gajahmada merupakan saudara tiri Jayanegara, Arya Damar, Tribhuwanatunggadewi. Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita. Jika silsilah keluarga ibu Gajahmada seorang slir istana Mataram bisa didapatkan, maka akan membuka ruang babak sejarah baru tentang Gajahmada di tanah air merevisi semua penulisan-penulisan sejarah yang sudah terbukukan selama ini. ****


 *). Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia

SEMAKIN SANGAT JELAS KISAH MAHA PATIH GAJAH MADA BAHWA GAJAH MADA LAHIR DAN WAFAT DI EKS WILAYAH KERAJAAN BUTON


OLEH : ALI HABIU *)



Konstruksi sejarah Maha Patih Gajah Mada yang diakui oleh berbagai ahli sejarah di Indonesia masih tidak jelas dimana lahirnya, siapa ayah dan ibunya serta dimana dia meninggal dunia, dengan berbagai temuan hasil penelitian belakangan ini semakin memberikan ketegasan bahwa Maha Patih Gajah Mada lahir dan meninggalnya di eks wilayah kerajaan buton. Walaupun statemen ini diperoleh baru sebatas hasil observasi lapangan dari berbagai hasil wawancara (data foklour) dengan masyarakat buton dan masyarakat Liya serta berbagai artifak, atefak, situs yang menunjukkan keberadaan Maha Patih Gajah Mada di wilayah tersebut, namun masyarakat lokal sangat meyakini bahwa histeryografi yang dibangun oleh masyarakat buton dan Liya tentang keberadaan Maha Patih Gajah Mada tersebut bukan tidak beralasan karena diturunkan secara tutur ratusan tahun silam secara turun temurun dari leluhur mereka (baca abstraksi penelitian penelusuran jejak makam maha patih gajah mada di wilayah buton sulawesi tenggara,http://www kabali-indonesia.blogspot.com/2012/01/abstraksi-penelitian-penelusuran-jejak.html)

Menurut tulisan Sufyan Al  Jawi Arkeolog di Numismatik Indonesia berjudul “Jejak Prajurit islam Majapahit dari Bali hingga Australia”, yang dimuat dalam media on line, mengatakan bahwa Maha Patih Gajah Mada itu adalah seorang  Muslim. Hal ini didasarkan fakta sejarah bahwa ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.
Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.
Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.


 Maha Patih Gajah Mada

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Sementara dilain pihak, Sufyan Al Jawi, dalam artikelnya yang berjudulMeluruskan Sejarah Maha Patih Gajah Mada” mengatakan bahwa Historyografi (Penulisan Sejarah) suatu bangsa merupakan kewajiban dari bangsa itu sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Ilmu sejarah itu dinamis, tidak statis.
Meskipun kedinamisan dalam ilmu sejarah itu lamban, dan bisa berubah apabila ditemukan bukti-bukti baru yang akurat. Tentu harus dengan kaidah Historyografi, yaitu : ilmiah – berdasarkan fakta bukan spekulasi, jujur tidak ada yang ditutupi dan netral terlepas dari kepentingan politik/agama tertentu.
Untuk menulis sejarah tidak bisa hanya dengan membaca buku-buku status quo, itu berarti merupakan pengulangan/saduran saja. Juga tidak cukup dengan kajian tesis sejarah dikampus dan seminar, tapi wajib riset di lapangan, observasi mencari situs tersembunyi, ekskavasi situs, dan bila perlu melakukan forensik.
Sejak JLA Brandes, NJ Krom, dan JH Kern dari tahun 1902-1920 menulis sejarah bangsa kita, tentang Majapahit dan Sriwijaya secara sudut pandang Barat (Modern), banyak sejarahwan menulis puluhan buku tentang Majapahit. Namun tak ada satu pun yang berhasil mengungkap jatidiri tokoh besar Majapahit, Mahapatih Gajah Mada.
…..”Sungguh aneh dan miris! Karena begitu besarnya nama Gajah Mada, tapi tidak diketahui asal usulnya? Sehingga meimbulkan spekulasi beberapa daerah yang mengklaim Gajah Mada berasal dari daerah mereka, tanpa di dasari oleh fakta yang akurat…..”

Statemen artikel
Sufyan Al  Jawi di atas semakin mendukung data folklour masyarakat buton yang diyakininya bahwa Ayah Gajah Mada bernama Si Jawangkati seorang sakti asal johor yang datang bersamaan rombongan Si Malui dan dia sebagai pengawal pribadi Si Malui diperkirakan mendarat di pulau buton tahun 1238 masehi. Si Jawangkati seorang muslim dalam riwayat beberapa sejarah kontemporer buton disebutkan sebagai seorang sakti mandraguna, ahli kanukragan dan ahli berbagai ilmu kebathinan. Mula mendarat armada laut Si Malui dan Sijawangkati dan rombongan di Kamaru yang letaknya sebelah timur kota bau-bau saat ini. Tak lama mereka tiba disana, Si Malui membuat benteng Wonco di Kamaru dan Si Jawanagkati diperintahkan untuk membuat benteng Wabula di Wasuemba Lasalimu, jarak sekitar 48 km arah selatan Kamaru.
Menjelang akhir  abad XII, sekitar tahun 1287 datanglah rombongan kakak beradik bernama Raden Jutubun dengan nama panggilan Bau Besi yang disertai adiknya yang bernama Lailan Manggraini beserta 40 orang pengikut setiaanya di pulau Buton menyusul kakaknya yang bernama Raden Sibahtera yang telah datang sebelunnya. Ketiga kakak beradik ini muslim adalah merupakan anak selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram. Pada saat peralihan kerajaan Mataram ke kerajaan Majapahit, diam-diam Raden Wijaya mengutus ketiga orang anaknya ini untuk membuat Bandar di pulau buton (baca sejarah perak buton, berjudul : Assajaru Haliqa Darul Bathniy Wa Darul Munajat dan Hikayat Negeri Buton)
Tak lama Lailan Manggraini berada di pulau Buton, diam-diam Si Jawangkati menaruh hati dan melamarnya menjadi istrinya. Hasil perkawinan antara Si Jawanagkati dan Lailan Manggraini inllah melahirkan Gajah Mada.  Semasa kecil Gajah Mada sudah memiliki tanda-tanda sebagai kesatria, makanya ayahandanya tak segang-segang mewariskan seluruh ilmu kesaktian yang dimilikinya kepada Gajah Mada. Pada usia menjelang 15 Tahun, Gajah Mada dibawah ke pulau Jawa oleh ibunya, karena mendengar bahwa neneknya bernama Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit tengah dalam kesulitan mengatasi pemerintahannya, karena banyaknya pemberontakan dalam istana. Kedatangan Gajah Mada di pulau jawa bersifat rahasia, oleh karena itulah sejarah asal muasalnya Gajah Mada di pulau Jawa hingga saat ini tidak ada dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit. Dan menjadi menggelitik para tokoh masyarakat buton, “mengapa para sejarawan, para arkiolog di Indonesia hingga saat ini hanya melulu terobsesi dengan folklour tentang kisah Gajah Mada yang ada di desa mada, desa gondang, desa badender dan trowulan jawa timur sementara disana hingga saat ini belum jelas konstruksi sejarah asal muasal termasuk wafatnya ?! Adakah memang perbedaan entitas kesukuan di negeri ini, sehingga eksistensi kebesaran Maha Patih Gajah Mada harus mutlak selalu berada di pulau Jawa ?! Lantas Buton sebagai eks wilayah kerajaan Majapahit (pupuh XIV negarakretagama) dan eks wilayah keresian Majapahit (pupuh LXXVIII negarakretagama) mau disembunyikan dikolong bawa tanah mana di negeri ini ?! “Pada saatnya duniapun akan tahu ketidakadilan ini..” Ojo Dumeh !! ****

*). Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia.

Kamis, 02 Agustus 2012

JANJI ANDI TAWAKKAL SELAKU KADIS BUDPAR WAKATOBI KEPADA MASYARAKAT LIYA TERNYATA TIDAK DITEPATI, “TAK ELOK" !


OLEH : HUMAS KABALI


Para Wali Pelindung Kabali

Kabali menilai sangat tak elok, jika ada penyelenggaraan Seminar Kebudayaan yang bertempat di Keraton Liya selama 2 tahun belakangan ini (Tahun 2010 dan 2011), kemudian dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi dan jajarannya dan ikut memberikan konstribusi masukan dalam seminar tersebut. Kemudian ketika seminar telah selesai dan moderator membacakan butir-butir rekomendasi hasil seminar tersebut dan hasilnya tidak bisa dipenuhi dengan baik oleh Drs. Andi Tawakkal, M.Si selaku mewakili unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi.


Mesjid Agung Keraton Liya, Lokasi Seminar

Sebut saja penyelenggaraan Seminar kebudayaan Liya ke-2 Tahun 2011 yang dilaksanakan pada bulan November 2011 di Mesjid Agung Keraton Liya yang dihadiri oleh Drs. H. Andi Tawakkal,M.Si (Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi), Wa Ode Nurhayati, S.Sos (Anggota DPR RI), Drs. La Ode Ali Murni, M.Si (Penasehat Kabali), La Ode Salagu, SE (Bendahara Kabali), La Ode Ali Ahmadi, SS  (Wakil Sekretaris Umum Kabali),  Ir.L.M. Ali Habiu,M.Si (Ketua Umum Kabali) , H. Usman Baga, S.Sos (Staf Ahli Bupati Bidang Kebudayaan/Ketua Lembaga Adat MandatI),  Kapolsek Wangi-wangi Selatan, Camat Wangi-Wangi Selatan, Kepala SMP Negeri Liya, Kepala UPTD Pendidikan Wilayah Wangi-Wangi Selatan, Kepala SD Negeri Keraton, Sara Mesjid Agung Keraton Liya, Kepala Desa Liya Togo, Kepala Desa One Melangka, para tokoh adat, para tokoh agama, para mahasiswa dan undangan. Adapun susunan acara Diskusi Keudayaan Liya Ke-2 Tahun 2012, terdiri dari 2 (dua) orang pemateri utama, yakni : Wa Ode Nurhayati (Anggota DPR RI) membawakan materi "Prospek Parawisata Budaya Kabupaten Wakatobi", DR. La Ode Muhammad Alifuddin Nur, M.Ag membawakan materi "Budaya Tutur Liya", Kemudian Penjelasan dan Pembanding dibawakan oleh H.Usman Baga, S.Sos selaku staf ahli Bupati dan Drs. Andi Tawakkal, M.Si selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi sekaligus mewakili Bupati Wakatobi, dengan moderator dibawakan langsung oleh Ketua Umum Kabali Indonesia, telah menghasilkan tiga buah rekomendasi, antara lain : 
  1.  Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi segera menyusun administrasi pengajuan Hak Paten ke Menteri Kehakiman Republik Indonesia, yakni Seni Budaya : Posepaa, Honari Mosega dan Lariangi Kareke untuk segera di hak patenkan sebagai milik budaya Keraton Liya;
  2. Pemerintah Kabupaten Wakatobi mulai tahun  anggaran 2012 akan memfasilitasi penyelenggaraan Seminar Budaya Liya sehari yang membahas tentang Budaya “Sampea” untuk dijadikan salah satu ikon budaya Kabupaten Wakatobi;
  3. Pemerintah Kabupaten Wakatobi mulai tahun 2012 menfasilitasi penyelenggaraan Loka Karya sehari membahas berbagai atribut Seni Budaya Tradisonal Liya, termasuk renovasi Mesjid Agung Keraton Liya  untuk dijadikan potensi  asset wisata budaya Kabupaten Wakatobi.
Kabali sangat menyayangkan dan sangat menyesal, ternyata saudara Drs. Andi Tawakkal,M.Si tidak mampu menjembatani hasil-hasil seminar tersebut dan melaporkan apa adanya kepada Bupati Wakatobi saat itu, sehingga dia tak mampu menyelenggarakan acara-acara yang telah dijanjikan dan disepakti dari hasil Seminar tersebut sampai saat ini, karena Bupati Hugua tidak memberikan resfon yang baik, mengakibatkan saat ini  masyarakat Liya sangat kecewa atas kejadian ini.


 WON, Salah Satu Pemateri Seminar

Beberapa kali kami hubungi Drs. Andi Tawakkal, M.Si  selaku Kepala Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata melalui telpon selulernya sejak awal tahun dan pertengahan tahun 2012 ini, namun kedengarannya jawabannya tidak serius, padahal Janji yang telah diucapkan dan merasa dipenuhi pada saat memberikan penjelasan penutup di acara seminar budaya tersebut adalah merupakan utang yang berdasarkan prinsip-prinsip agama utang tersebut akan dibawah mati.

Kabali sekedar mengingatkan bahwa barang kali kalau budaya di daerah lain tentang kata janji itu tidak memiliki nilai religius dan sanksi sosial, namun bagi kawasan Benteng Keraton Liya, janji itu apalagi telah diucapkan dan merasa dipenuhi adalah memiliki nilai religius yang memiliki dampak mematikan apalagi dia memiliki hukum adat yang masih dipegang erat oleh para tokoh adat dan masyarakatnya, sehingga kata janji bagi warga Liya adalah sangat sakral ! . 

Oleh karena itu bagi siapapun yang masuk dalam kawasan wilayah adat Liya perlu diingatkan bahwa jangan sekali-kali mengucapkan janji jika sekiranya baru setengah hati atau merasa bakal tidak bisa akan dipenuhi janji itu sebab resikonya berat terhadap badan yang mengucapkan janji tersebut karena wilayah ini masih sangat tradisional memiliki nilai-nilai religius yang masih mampuni, janji bisa membawa maut.


 Nampak Kapolsek dan Staf Ahli Bupati Hugua

Kabali mengingatkan bahwa belum ada kata terlambat, sebab Pestival Keraton Liya Ke-3 Tahun 2012 akan berlangsung bulan haji pertengahan November 2012, saat ini kita masih memiliki waktu relatif 3 bulan untuk bias berbenah diri dalam memenuhi janji tersebut.

Jika Pemerintah Kabupaten Wakatobi mau secara serius memberikan dorongan dan apresiasi terhadap Kabali, sesungguhnya pemerintah daerah sebetulnya tinggal menerima barang jadinya atas segala upaya pengembangan dan pelestarian kebudayaan Liya yang dilakoni oleh Kabali selama ini. Sayang seribu kali sayang, hingga saat ini tidak ada satupun Kabali menerima apresiasi itu, bahkan yang Kabali rasakan adalah pandangan sebelah mata,  perlawanan bahkan ketidak senangan terhadap masyarakat Liya.

Tak ada waktu yang tidak bisa berubah, manusia sangat terbatas dan semoga pemerintah daerah dapat menepati janjinya yang telah disepakati dan disaksikan oleh orang banyak…,termasuk disaksikan oleh para tokoh adat, para kepala desa…., “ah malu deh” !? ****

Kamis, 26 Juli 2012

BUDAYA KABUENGA MANDATI TAK SAMA DENGAN BUDAYA SAMPEA LIYA


OLEH : HUMAS KABALI


 DR. L.M. Alifuddin Nur, M.Ag. (Kanan)
Ketua Bidang Pengembangan Kebudayaan Kabali

Kabali memberitakan bahwa Budaya Sampea Liya sudah hamper 3 dasawarsa tidak pernah lagi dilaksanakan oleh masyarakat Liya atau terakhir tampil tahun 1985-an dan  kini seluruh komunitas adat tidak berani menyelenggarakan acara Sampea tersebut karena terbentur masalah dana operasional, mengingat sebagian besar terkendala adanya keterbatasan kemampuan sosial ekonomi masyarakat dan tidak berjalannya sistem pemerintahan tradisional akibat dari telah wafatnya Raja Liya terakhir La Ode Bula.

Budaya sampea Liya masa lalu merupakan acara rutin tahunan seluruh masyarakat Liya dengan membawa hasil-hasil panen dari kebun, laut dan ternak, baik yang telah diolah dalam bentuk masakan dan disajikan dalam bentuk Liwo dan yang masih mentah, yang mana masing-masing kampung membawa hasil-hasil tersebut ke suatu tempat di lapangan belakang Mesjid Agung Keraton Liya.

Seluruh kampung melalui perwakilan masing-masing membawa makanan olahan dan yang belum di olah kemudian dibuatkan rumah tanduh dengan model sedemikian rupa dan dihiasi oleh hasil2 kebun, ternak dan laut tersebut dan bagian depan dibuatkan miniatur model kepala ayam jago besar dari bahan-bahan hasil kebun tersebut. Di dalam rumah tandu tersebut berisikan Liwo semua kampung. Sebelum diadakan makan-makan bersama dan saling tukar hasil kebun, ternak dan hasil laut, terlebih dahulu diadakan ritual adat oleh para pemuka adat dan sara mesjid Agung Keraton Liya, kemudian sedudahnya disuguhkan honari tamburu dan honari mosega, bahkan juga di suguhkan atraksi posepaa, atraksi semba wemba dan tarian-tarian asli Liya. Sesudah acara ritual dan tampilan seni budaya tersebut lalu diadakanlah makan bersama atau dikenal dengan sebutan Manga-Manga seluruh masyarakat kampung tanpa kecuali yang berkumpul di lapangan (alun-alun) keraton Liya.


 Acara Rakyat Liya di Alun2 Mesjid Agung Keraton Liya

Sayang seribu sayang, acara ini tidak pernah dilestarikan dan dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi sehingga keberadaan Budaya Sampea boleh dikatakan bahwa saat ini hampir punah dan generasi muda Liya kebanyakan sudah tidak mengetahuinya lagi. Padahal acara Budaya Sampea Liya ini telah dilakukan oleh nenek moyang suku Liya sejak ratusan tahun silam yang lalu sebagai tanda syukur mereka akan karunia Allah SWT dan alam semesta atas pelimpahan rezeki atas hasil-hasil kebun, ternak dan laut. Dan biasanya setelah acara Sampea ini dilakukan, masyarakat Liya mendapatkan kesuburan kebun-kebun yang ditanaminya, kesuburan ternak serta hasil-hasil laut yang semakin melimpah.

Kabali menghimbau kepada Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wakatobi untuk segera mengadakan pendataan dan inventarisasi sejarah Budaya Sampea Liya ini sekaligus menjadikannya ikon budaya wakatobi sejajar dengan budaya Kabuenga asal Maadati, mengingat bahwa Budaya Sampea Liya akan memberikan konstribusi positif pada leading sector parawisata budaya di wakatobi karena budaya ini dapat membangkitkan animo para turis manca negara untuk turut aktif didalam kegiatan tersebut ketika mereka menyaksikan acara ini.

Sesuai dengan berita dari sumber media on line di http://adirafacesofindonesia.com/article.htm/378/Sisi-Lain-Dari-WAKATOBI, disebutkan bahwa  Salah satu hal yang lain yang tak kalah menarik  adalah budaya wakatobi yang masih dilestarikan salah satunya Kabuenga. Ini adalah salah satu perayaan lokal yang bahkan katanya telah diadakan sejak zaman kerajaan  kabuton. Kabuenga sendiri adalah ayunan besar yang dapat diduduki cewek dan cowok dewasa dimana mereka percaya bahwa pasangan yang diayun adalah berjodoh. Oleh sebab itu yang mengayunnya pun sambil memanjatkan doa dan nyanyian untuk mendoakan pasangan tersebut. Menurut ceritanya, kabuenga ini diadakan karena para pemuda lokal yang notabane adalah pelaut sulit memiliki waktu untuk bersosialisasi sehingga mereka kesulitan mencari pasangan sehingga diadakanlah kabuenga untuk mengatasi hal ini.


 Kabuenga Mandati

Prosesi Kabuenga dimana para gadis dalam balutan pakaian adat bersama para ibu mereka dituntun dan berjalan mengelilingi arena kegiatan sambil menyanyikan lagu kadhandiyo untuk beberapa kali. Sehubungan dengan prosesi, para gadis menyuguhkan minuman dalam takaran tertentu kepada tamu yang diundang. Tamu dengan spontan akan menghargai minuman dengan memberikan sejumlah uang dalam amplop yang tertutup.Setelah prosesi itu selesai, anak anak muda membagikan bingkisan kepada sejumlah gadis gadis kecil peserta kabuenga yang biasanya mengambil tempat di tengah arena.Setelah itu acara yang ditunggu tunggu pun berlangsung. Para orang tua lelaki akan memberikan sejumlah uang atau membawa bahan makanan untuk diberikan kepada salah satu gadis pujaan sang pemuda. Maka itu berarti sang pemuda mencintai sang gadis. Acara kabuenga diakhiri dengan mengayun pasangan muda mudi yang diketahui saling mencintai. Mereka diayun secara bersama oleh para orang tua dan disaksikan oleh seluruh pengunjung.

Konon mantra ”Kabuenga” sangat manjur sehingga dipercaya bagi pasangan yang duduk bersama dan diayun akan berjodoh. “Mantra” kabuenga ini bahkan terbukti manjur ketika artis Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca mencoba diayun di kabuenga dan tak lama setelah itu mereka melangsungkan pernikahan. Entah benar atau tidak yang jelaskabuenga merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan.****

BUPATI WAKATOBI SEBAIKNYA MEMPELAJARI SEJARAH BUDAYANYA LEBIH MENDALAM AGAR DALAM MENGELUARKAN STATEMEN SEJARAH DIDUKUNG OLEH FAKTA SEJARAH.



OLEH : HUMAS KABALI


Bupati Wakatobi, Ir. Hugua





Dalam berita media on line http://ozzonradio.com/home/2012/03/hugua-wakatobi-bagian-kesultanan-buton-tapi-beda-etnis/, Bupati Wakatobi, Ir Hugua, mengatakan, untuk membangun eksistensi Kabupaten Wakatobi yang sudah tersohor dengan pariwisatanya, maka satu hal yang harus diperhatikan yakni Wakatobi harus unik dan beda dengan daerah lainnya di Indonesia. Hal itu diungkapkannya saat penerbangan perdana expressair rute Makassar-Wakatobi-Ambon beberapa hari lalu.

Keunikan yang dimaksudkan Bupati dua periode tersebut yakni Wakatobi tidak bisa meniru budaya, logat dari daerah lain. Jika meniru budaya daerah lain, maka secara langsung budaya Wakatobi yang diwarisi sejak para leluhur akan lebih rendah dari daerah yang ditiru.

“Wakatobi tidak bisa meniru budaya, logat daerah lain. Wakatobi harus tetap dengan budayannya sendiri. Jika Wakatobi meniru budaya dan logat daerah lain maka Wakatobi sangat jelas lebih rendah dari daerah yang ditiru,” terang Hugua.

Menurutnya, meskipun Wakatobi secara geografis berada dalam wilayah Buton (Kesultanan Buton, red), namun Wakatobi bukan berarti masuk etnis Buton. Wakatobi tetap memiliki etnis tersendiri yakni etnis Wakatobi. Dan itu sangat beralasan karena bahasa Buton dan Bahasa daerah Wakatobi tidak ada kesamaan.
“Wakatobi punya etnis tersendiri. 

Wakatobi hanya bagian dari kerajaan Buton tapi etnis beda. Pasalnya, bahasa daerah Wakatobi tidak ada yang sama dengan bahasa Buton,” katanya. Untuk itu kata Hugua, Wakatobi agar tetap memiliki eksistensi tersendiri maka Wakatobi tidak akan mengadopsi budaya daerah lainnya.  Wakatobi kata dia, memiliki budaya yang tidak dimiliki daerah lainnya.“Wakatobi memiliki kekuatan laut yang tidak bisa terpental,” tukasnya.****


Selasa, 24 Juli 2012

PEMKAB WAKATOBI BELUM MERATA MEMBINA PARA PERAJIN TRADISIONAL DI SEMUA ETHNIS DI WILAYAHNYA UNTUK HASILKAN PRODUK BERKUALITAS


OLEH : HUMAS KABALI



Forum Diskusi Masyarakat Wangi-Wangi


 DR. L.M. Alifuddin Nur, M.Ag dalam sebuah acara diskusi

Pemerintah Kabupaten Wakatobi secara real hingga saat ini belum secara adil dan merata membina para kelompok-kelompok pengrajin tradisional yang terdapat di berbagai ethnis di wilayahnya, sehingga pertumbuhan dan perkembangan ekonomi kreatif di bidang kelompok pengrajin hanya dapat dinikmati oleh kelompok-kelompok dari ethnis tertentu saja, padahal potensi corak dan ragam hasil produk petenung masing-masing ethnis memiliki motif tertentu. 

Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia sejak tahun 2011 lalu telah banyak memberikan koreksi dan pelaporan langsung ke Kementerian Perindustrian Republik Indonesia untuk dapatnya secara arif dan bijaksana menjembatani ketimpangan ini sehingga para kelompok pengrajin tredisional di wilayah Wakatobi dapat  maju secara bersama-sama dari semua kelompok  ethnis.

Alat Tenung Semi Tradisional


Katakan saja kelompok pengrajin tradisional asal Benteng Liya, disana sejak dahulu kala sangat terkenal hasil-hasil produk para pengrajinnya, sayangnya hingga saat ini pemerintah kabupaten wakatobi belum ada perhatian khusus pada kelompok ethnis ini.  Kini di Kawasan Benteng Keraton Liya telah di akomodir kelompok-kelompok pengrajin tradisional untuk mempermudah distribusi pendidikan dan pelatihan serta pembinaannya yang terdiri dari Kelompok Pengrajin Tradisonal Kabali Keraton Liya (Liya Togo), Kelompok Pengrajin Tradisional Kabali Sempo, Kelompok Pengrajin Tradisional Liya Mawi dan Kelompok Pengrajin Tradisional One Melangka.


Alat  Tenung Tradisional


Diharapkan kelompok-kelompok pengrajin tradisional ini yang direkrut dari komunitas para pengrajin berketurunan di kawasan Benteng Keraton Liya ini dapat memberikan kemudahan akses  bagi pemerintah pusat khususnya Kementerian Perindustrian untuk mendatangkan program pendidikan dan pelatihan termasuk bantuan-bantuan peralatan modern, sehingga kedepan kelompok-kelompok pengrajin ini dapat menghasilkan produk-produk tenung dengan motof kolaborasi antara tradisional dan modern sebagai soko guru leading sektor parawisata di wilayah ini. Para turis akan disematkan selendang hasil tenung tradisional Kabali, juga akan diberikan sarung  hasil tenung tradisional Kabali, sehingga ketika mereka memasuki gerbang wisata menuju Benteng Liya  mereka para turis telah disematkan sesuatu kekhasan yang dapat menutup auratnya bersifat islamik. Disamping itu juga sebagai oleh-oleh tradisonal dalam kawasan wisata Liya Togo.


Alat Tenung Tradisional


Berdasarkan sumber berita dari media on line hari senin, tanggal 2 Juli 2012 yang dikutif dari http://www.antaranews.com/berita/319305/pemkab-wakatobi-dorong-perajin-hasilkan-produk-berkualitas, mengatakan bahwa  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi, Sulawesi Tenggara  mendorong para perajin di daerah itu untuk terus meningkatkan kualitas produksi kerajinan, sehingga kerajinan yang dihasilkan bisa laku dan mampu bersaing di pasaran.

"Saat ini, kami pemerintah Kabupaten Wakatobi terus melakukan pembinaan kepada para perajin agar bisa menghasilkan produksi kerajinan yang berkualitas tinggi, sehingga mampu bersaing di pasaran," kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Wakatobi, Abdul Manan di Wangiwangi, Senin.
Selain itu kata dia, Pemkab Wakatobi juga mendorong para perajin agar terus mengembangkan kreatif dan inovasi sehingga bisa melahirkan bentuk-bentuk atau motif kerajinan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

"Menghasilkan produk kerajinan berkualitas tinggi tapi tidak memenuhi selera konsumen di pasaran umum, menjadi percuma. Karena itu, menjadi kewajiban Pemkab Wakatobi, mengarahkan para perajin untuk bisa menghasilkan bentuk-bentuk kerajinan yang memenuhi selera pasar," katanya.
Menurut Manan, kerajinan tradisional masyarakat Wakatobi yang hingga saat ini masih bertahan dan digemari konsumen di pasaran, adalah kerajinan parang, pisau, alat-alat pertanian dan perkakas dapur yang terbuat dari besi.
Saat ini, kata dia para perajin sudah mengembangkan bentuk dan motif dari kerajinan besi tersebut sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga tidak kalah bagus dengan produk-produk perkakas dapur dari industri.

"Kita terus mendorong para perajin agar tetap kreatif dan inovatif melahirkan bentuk-bentuk kerajinan yang bagus, sehingga kerajinan tradisional peninggalan dari leluhur itu tetap eksis sepanjang masa," katanya.

Kerajinan lain yang banyak dikembangkan warga adalah kerajinan kain tenun, baik kain tenun tradisional khas masyarakat Wakatobi, maupun kain tenun khas masyarakat suku Bajo, termasuk kerajinan kerang-kerangan dari kulit mutiara.
"Ketiga jenis kerajinan itu, saat ini sudah menembus pasar di Jepang dan negara-negara Eropa," katanya.

Menurut dia, hasil kerajinan masyarakat Wakatobi tersebut menembus pasar di Jepang dan negara-negara Eropa atas promosi yang dilakukan Yayasan Megranian Bina Bangsa, yayasan di Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. ****