KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Kamis, 08 November 2012

MENGGAGAS REKONSILIASI ETHNIS MASYARAKAT PULAU WANGI-WANGI WAKATOBI DAN PERANAN LINTAS TOKOH

 OLEH : ALI HABIU
Beberapa tahun lalu yang sempat saya ingat ada sebuah kisah yang perlu dicermati yakni tepatnya terjadi pada hari Minggu 11 syawal 1426 H bertepatan tanggal 13 November 2005 telah dilaksanakan Halal bi Halal masyarakat Wangi-wangi yang berasal dari beberapa paguyuban arisan tergabung dalam Kerukunan Keluarga Wangi-wangi (Kekarwangi) Kendari. Kegiatan Halal bi Halal ini berlangsung di pantai Toronipa kabupaten Konawe adalah merupakan hasil kesepakatan bersama para tokoh-tokoh masyarakat daerah tersebut untuk memenuhi permintaan para ibu-ibu yang tergolong dalam paguyuban arisan Wanci (Arisan Wangi-Wangi Induk) dan arisan Liya-Mandati (Arisan Wangi-Wangi Selatan)  pulau Wangi-wangi. Adapun kisah nyata atau anekdot yang kemudian terjadi dalam kegiatan Halal bi Halal ini, yakni ternyata bahwa para tokoh masyarakat pulau Wangi-wangi yang pada umumnya telah mengetahui dan menyetujui pelaksanaan kegiatan ini tak ada yang muncul satupun dengan berbagai alasan kontroversial.


Tokoh-tokoh kalangan papan atas pulau ini (Wanci dan Mandati dan Liya) yang diharapkan dapat tatap muka untuk silaturrahim secara langsung dengan masyarakatnya tak tampak hadir sehingga membuat kekecewaan tersendiri pada semua masyarakat yang menghadiri acara tersebut.. Sementara itu dilain pihak pada waktu yang bersamaan ditempat yang berbeda, masyarakat yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kaledupa melaksanakan juga kegiatan Halal bi Halal dengan suasana yang dibuat cukup meriah bertempat di pantai Nambo dimana acara Arisan dibuka sendiri oleh Bapak Drs.H.Yusran Silondae,MSi selaku Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara pada waktu itu yang atas nama mewakili Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara sekaligus memberikan kata sambutannya sebagai motivasi positif bagi kalangan masyarakat Kaledupa yang domisili di Kota Kendari. Turut hadir pada kesempatan itu para tokoh-tokoh masyarakat Kaledupa dari berbagai tingkat golongan mulai dari anggota DPRD sultra, plt. Bupati Wakatobi, Kepala Dinas, Kepala Biro, Asisten III pemerintah provinsi sultra, Dekan, Dosen dan sejumlah Tokoh Pemuda, para Pengusaha serta seluruh masyarakat Kaledupa yang berdomisili di Kota Kendari. Kejadian di pantai Nambo ini patut dicontoh karena meraka telah menggambarkan kepada kita semua betapa solidaritas dan kompaknya ethnis ini. Suatu pembuktian bahwa berbagai heterogenitas budaya antar ethnis Kaledupa saat ini tidak terdapat lagi konflik tata krama budaya. Mereka saat ini sudah berubah begitu jauh-----mereka semua tidak kepingin lagi mau memetingkan atau menonjolkan keakuan masing-masing kelompok ethnis melainkan mereka telah menjalin humanisme hubungan internalitas kelompok sosial dengan menghormati segala perbedaan prilaku ethnis, melengkapi segala kekurangan antara kelompok ethnis dan menjadikannya suatu kekuatan sosial komunitas baru dalam tataran striotipik masyarakat moderen abad ini.

Kisah yang terjadi di pantai Toronipa beberapa tahun lalu tentu sangat jauh dari harapan kita semua sebagai suatu komunitas sosial yang terbanyak di wilayah Wakatobi jika dibanding kisah yang terjadi di pantai Nambo. Kisah di pantai Toronipa telah menggambarkan secara tak langsung kepada kita semua bahwa sebenarnya ada kerapuhan...., ada kegelisahan..., ada keangkuhan....., ada kemunafikan diantara berbagai lapis depan tataran para tokoh-tokoh masyarakat Wangi-wangi sehingga telah terjadi perbedaan prilaku tata karma yang begitu prinsipil menimbulkan striotipik prilaku sosial yang sangat berbeda sebagaimana yang kita harapkan selama ini------ternyata mereka semua boleh dikata munafik tidak pernah menjalin hubungan kerja sama yang harmonis diantara sesama warga masyarakatnya di kepulauan wangi-wangi. Disharmonisasi ini terjadi postulat bisa disebabkan oleh adanya perbedaan penafsiran budaya dalam suatu kelompok masyarakat tertentu akibat desakan perubahan stratifikasi sosial ekonomi dimana kehidupan sebagian warganya yang telah mapan tingkat sosial ekonominya sangat mencolok. Juga budaya kolonialisme, feodalisme yang berlebihan membentuk watak tentatif, sementara dilain pihak banyak warga dari kelompok ethnis marginal dalam lingkungan semua ethnis di kepulauan wangi-wangi yang kehidupannya masih relatif miskin dengan berbagai stratifikasi sosial tidak pernah mendapat perhatian serius, malah kelompok ini cenderung terisolasi dalam berbagai aktivitas sosial..

 
Patut amat disayangkan ketidak hadiran para tokoh masyarakat yang mewakili antar ethnis di pulau Wangi-wangi ini, mengingat momen ini hanya terjadi sekali setahun dan merupakan wadah sambung rasa dalam mempererat tali silaturrahmi antar ethnis sekaligus sebagai wadah bearing storming antara individu para tokoh papan atas daerah ini dalam upaya mengikis habis distorsi perbedaan tata krama budaya yang telah mengakar selama ini dengan memperkokoh uhuwa islamiah dan amar ma’ruf nahi mungkar.

 
Rupanya polarisasi paham separatisme atas produk penjajahan Belanda serta culture pattern ketika resim distrik yang berpusat di wanci yang sudah diterapkan oleh pemerintahan Kesultanan Buton pada zamannya telah ikut andil dalam membentuk prilaku tata krama budaya amburadul sebagaian masyarakat di daerah ini. Bisa jadi sebagai balas dendam dimana dalam pergaulan sehari-hari pembentukan prilaku ini diwujudkan dengan selalu ingin menonjolkan diri dalam kelompok sosialnya. Keadaan ini akan nampak sekali terlihat pada aktivitas pergaulan sosial kemasyarakatan antar ethnis pada daerah-daerah tertentu cenderung lebih kelompokisme. Gejalanya bisa diamati dalam berbagai aspek kehidupan kemasyarakatan, yang kemudian akan menimbulkan distinksi kelompok kaya, kelompok miskin, kelompok pejabat, kelompok pedagang, kelompok politikus, kelompok pejabat dlsb. Kondisi semacam ini tidak mampu dihapuskan oleh pengaruh intelektualitas seseorang. Malah justru sebaliknya dalam tata krama pergaulan sehari-hari yang terjadi adalah semakin tinggi pendidikan seseorang ataupun integritas pribadi seseorang semakin jauh jurang pemisah antar simiskin dan sikaya, Fenomena ini tak mungkin bisa di hilangkan tanpa ada rasa kesadaran dan kepedulian semua pihak untuk merubahnya. Hendaknya semua pihak diharapkan dapat instrospeksi diri masing-masing untuk lebih terbuka dengan berani merubah sifat dan prilaku domain dan tata krama (moralitas) sosial yang buruk secara kolektif dan mulai membangun humanisme yang lebih baik.
 
Pengangkatan jati diri ethnis dengan melakukan perubahan-perubahan budaya prilaku karena merasa sebagai orang hebat, merasa sebagai pejabat, merasa sebagai orang terkaya atau terpandang karena telah sukses dalam kehidupan ini, merasa sebagai politikus handal karena telah menjadi ketua partai atau anggota DPRD, merasa sebagai orang terpintar karena telah menyandang gelar Doktor atau Professor dan lain sebagainya-----lantas mereka merasa sebagai satu-satunya individu atau golongan ethnis tertentu yang bisa merubah paradigma sejarah budaya. Sangatlah mustahil hal itu bisa dilakukan sebab bisa jadi penggelapan sejarah budaya dan penciptaan degradasi konflik psikologis antar ethnis semakin hari semakin berkepanjangan.

 
Penciptaan kelas-kelas (class action) dalam tata pergaulan sosial kemasyarakatan kepulauan wangi-wangi akan menimbulkan semakin jauhnya jurang pemisah antar yang kaya dan miskin, antar yang berpendidikan tinggi dengan masyarakat biasa dan antar pejabat dan pegawai rendahan serta antara pedagang kaya dan pedagang asongan. Kondisi ini bila dibiarkan terus berkembang, kelak akan membuahkan kontinuitas konflik sosial yang dapat meruntuhkan idealisme komunitas ethnis dalam seluruh lingsup sosial di kepulaua wangi-wangi.
Sejarah budaya telah mencatat bahwa pada masa kejayaan kesultanan Buton hanya satu-satunya penguasa yang mendapat 3 (tiga) gelar kekuasaan pada pulau Wangi-wangi ini yakni terdapat pada penguasa desa Liya Togo. Adapun gelar yang dianugrahkan oleh Sultan Buton kepada penguasa di desa ini, yakni sebagai : Raja Liya (meantu’u Liya), Lakina Liya dan Bobeto Mancuana. Oleh karena itu konon diriwayatkan dalam sejarah bahwa ketika terjadi acara-acara rapat pemerintahan pada zamannya yang bertempat di dalam benteng keraton Liya, masing-masing utusan baik dari Kaledupa, Tomia, Binongko, Wanci, Mandati dan Kapota karena meraka hanya memiliki 1 (satu) gelar yakni Meantu’u atau Lakina, maka semua utusan duduk bersilah di bawah altar sementara Raja Liya (meantu’u liya) duduk pada tempat yang lebih tinggi bersamaan dengan sultan Buton atau utusannya. Berdasarkan sinopsis ini semestinyalah ethnis Liya ini bisa jadi suri tauladan dilingkungannya karena memiliki hirarkhi genetikal kepemimpinan yang baik. Namun patut disayangkan bahwa dalam kehidupan kemasyarakatan kelompok sosial ethnis ini kurang begitu mapan tingkat ekonominya sehingga mereka kurang terkenal. Akibatnya jumlah kader sangat terbatas dalam semua strata bidang kehidupan, khususnya dalam konteks kehidupan sosial politik dan sosial kemasyarakatan di Sulawesi Tenggara.
 
Secara realitas, ethnis yang lebih menonjol kehidupan sosial ekonomi di Sulawesi Tenggara ialah ethnis Wanci (Wangi-Wangi Induk).  Hampir sebagian jabatan strategis di pemerintahan ketika itu mulai wakil Wali Kota Bau-Bau, Wakil Bupati Buton, Asisten II Pemerintah provinsi Sultra, Dekan fakultas Pertanian Unhalu, Pembantu rektor Unidayan dan saat ini para guru besar di Universitas Halu Oleo dan Angoota DPRD Provinsi dlsb dipegang oleh ethnis ini. Selain itu hampir sebagian besar pengusaha kaya juga dipegang oleh ethnis Wanci (Wangi-Wangi Induk) disamping ethnis Mandati. Diluar ke dua ethnis ini, kehidupan sosial ekonomi ethnis lainnya relatif masih sangat terbelakang dan termarginalkan.

Saat ini kita sebagai masyarakat Wangi-Wangi yang berdomisili di Sulawesi Tenggara telah memiliki sumber daya manusia yang domain dimana jumlah Doktor (S-3) sampai saat ini telah terdapat sebanyak 13 orang, sementara ethnis Kaledupa hanya terdapat 3 orang saja. Namun sayang seribu sayang...., dijajaran pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara ethnis Kaledupa justru mampu menempatkan 3 orang menduduki esselon II. Sementara ethnis wang-wangi tidak ada satupun yang bisa dihandalkan. Padahal kalau mau kita pikir jernih bahwa ternyata jumlah penduduk kepulauan wangi-wangi berada kisaran 54 % dari total penduduk total ke 3 pulau (Kaledupa, Tomia dan Binongko) di wilayah Kabupaten Wakatobi.
Oleh karena itu sudah saatnya semua kekuatan komunitas sosial yang ada di pulau ini mulai dari ethnis : Wanci (Longa, Waha, One, padha), Kapota, Mandati, dan Liya (Wakamali) segera melakukan rekonsiliasi dan segera membangun paradigma tata krama baru kemasyarakatan. Sebagai landasan idealnya ialah memperkuat hubungan emosional antar ethnis dimana masing-masing kelompok ethnis harus dapat saling kerja sama bantu-membantu satu dengan yang lainnya. Sudah saatnya merubah sikap laku yang buruk dan memulai tata krama baru yang normatif dalam pergaulan sesama dengan saling menghormati perbedaan heterogenitas budaya antar ethnis.

Sudah tiba saatnya untuk segera membenahi kontroversial tata pergaulan kemasyarakatan yang terjadi selama ini. Persoalan heterogenitas budaya ini disinggung oleh Soetandyo Wignjosoebroto guru besar sosiologi Undip dalam artikel berjudul “Tata Krama” (Jawa Pos : 1990) mengatakan bahwa heterogenitas budaya sebenarnya merupakan suatu kekayaan sumber yang akan bisa memberikan banyak kemungkinan untuk melakukan pilihan-pilihan guna menentukan mana diantara yang lebih baik untuk dikembangkan dan diangkat dalam fungsinya sebagai tradisi panutan. Pilihan-pilihan tidak selamanya mudah. Dalam hal pengembangan budaya baru dan moral baru yang berfungsi sebagai landasan normatif tata krama baru dalam kehidupan bermasyarakat----pilihan yang hendak mendahulukan dengan beranjak secara sengaja dari satu kekayaan ethnis tertentu akan sering menimbulkan tuduhan telah terjadi etnosentrisme yang kurang patut.
Semestinya kita diinsyafkan oleh kenyataan bahwa kita kini hidup dalam sebuah masyarakat massa, massa itu tak dapat diatur atau diperintah tanpa serangkaian inovasi dan penyempurnaan serangkaian tekhnologi sosial, ekonomi dan politik. Yang dimaksud dengan tekhnologi sosial disini adalah berbagai metode yang digunakan orang bertujuan mempengaruhi sikap laku sesamanya.
 
Kehidupan sosial masa sekarang memungkinkan ditempatkannya segala proses psychology dibawa kontrol publik yang dimasa lalu masih bersifat pribadi. Emile Durkheim (1926) dalam bukunya “De la Division du Frovoil Social” mengatakan : bahwa hanya masyarakat yang primitif yang dapat hidup berdasarkan homogenitas dan berkelit dalam kelompok wangkul.
Oleh karena itu rasa tenggang (verdroog zamheid) berarti bahwa setiap insan berhak menggunakan pendapat di dalam masyarakat guna mencapai mufakat, bukannya setiap individu secara ngotot membenarkan pendapat masing-masing.
 
Semua pihak sangat mengharapkan mulai tahun depan tidak lagi terulang anekdot kisah pantai Toronipa yang memilukan beberapa tahun lalu itu melainkan dimungkinkan akan terjadi suatu gradualisme tingkah laku baru dan tata krama baru dalam pola pergaulan antar ethnis Wangi-wangi pada tataran masyarakat moderen yang heteroganistik dengan menghormati segala perbedaan budaya dan menjadikan suatu kekuatan sosial terpandang dikemudian hari. Mungkinkah rekonsiliasi kelompok ethnis di pulau Wangi-wangi ini bisa terwujud mengingat konflik sosial budaya antar ethnis sudah berlangsung cukup lama. Semua sangat tergantung dari sejauhmana kesadaran semua pihak----mampukah merubah moralitas, prilaku dan tata krama.sosialnya ? Sebagai jawabnya adalah tergantung sejauhmana konsistensi para Lintas Tokoh Wangi-Wangi yang saat ini sudah terbentuk ; "mampukah mereka merubah keadaan itu ?!
 hee... hee... hee... bahakonto La Ode....Meanae aii anedo omotutu akabalinto !! ****

Sabtu, 13 Oktober 2012

PEMDA WAKATOBI HARUS TANGGAP : SECARA SOSIOLOGI BUDAYA, KEHADIRAN LEMBAGA ADAT DI LIYA, WANGI-WANGI TIDAK DIPERLUKAN ; "GALANG LEMBAGA SARA LIYA"


OLEH : HUMAS KABALI



Berdasarkan hasil kajian sosiologis tradisi budaya Liya, disimpulkan bahwa keberadaan Lembaga Adat Liya yang ada saat ini sama sekali tidak diperlukan oleh masyarakat Liya mengingat bahwa secara turun temurun hingga saat ini charisma kewibawaan Sara Liya (bobato Liya) masih sangat disegani oleh masyarakat adat Liya. Apalagi sejak tanggal 25 Juli 2012 Meantu,u Liya (di Liya dikenal dengan nama Lakina, atau Moori atau Raja) telah dilantik secara adat oleh Sultan Buton di Keraton Buton. Dampak positif dari telah dilantiknya Raja Liya tersebut yang dipegang oleh Mumammad Haris (anak Raja Liya terahir), maka saat ini telah disusun perangkat sara Liya yang terdiri dari 12 orang Bobato Liya atau pemangku tertinggi adat Liya sebagai perangkat pemerintahan Raja Liya. Meskipun kehadiran Raja Liya dan perangkatnya sebagai suatu sistem pemerintahan tradisional masa lalu tidak begitu tenar dibicarakan saat ini diranah nasional, namun tidaklah begitu salah keberadaan mereka saat ini mengingat bahwa nilai-nilai sistem hukum adat tradisional di masyarakat Liya hingga saat ini dalam kehidupan sehari-hari masih berlaku mutlak

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 5 tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan,pada bab I Ketentuan Umum, Pasal 1, ayat 15. Disebutkan bahwa Lembaga Adat adalah Lembaga Kemasyarakatan baik yang sengaja dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang di dalam sejarah masyarakat atau dalam suatu masyarakat hukum adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam hukum adat tersebut, serta berhak dan berwenang untuk mengatur, mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. Dalam keterangan ayat 15 tersebut sangatlah jelas bahwa yang dimaksud dengan Lembaga Adat yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang dalam sejarah masyarakat Liya adalah Sara Liya yang dikenal dengan Bobato Liya. Bobato Liya inilah sebenarnya berfungsi sebagai Lembaga Adat karena ditangan merekalah yang mengatur segala sistem adat dan hukum adat yang berlaku di masyarakat Liya bukan lembaga adat yang baru dibentuk seperti yang terjadi saat ini.

Masyarakat Liya sampai saat ini sangat tunduk atas azas system adat dan hokum adat yang berlaku di Liya termasuk juga batas-batas wilayah hak ulayat adat. Menurut DR (kandidat) Sumiman Udu, M.Hum mengatakan bahwa di Liya tidak diperlukan hadirnya Lembaga Adat, sebab masyarakat masih tunduk dan taat atas azas system adat dan hokum adat yang dimiliki oleh sara Liya (bobato Liya), sehingga keberadaan Lembaga Adat yang ada saat ini akan menjadi mubasir jika para sara Liya tidak mau menyetujui keputusan-keputusan yang diambil oleh Lembaga Adat ini.

Oleh karena itu, Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia menghimbau agar para pengurus Lembaga Adat Liya saat ini sebaiknya mempertimbangkan dengan baik keberdaan lembaga yang dibentuknya supaya masyarakat Liya tidak menjadi bingung dalam penegakan adat istiadat, tradisi dan budaya mengingat Sara Liya (bobato Liya) masih memiliki kewibawaan untuk mengatur masyarakatnya apalagi saat ini telah terbentuk bobato Liya dengan 12 orang kepala Sara yang dipimpin oleh Raja Liya (meantu,u Liya). Raja Liya dan perangkatnya inilah merupakan partnership pemerintah daerah Kabupaten Wakatobi dalam mengatur sistem masyarakat adat di wilayahnya dan penghubung antara kepentingan masyarakat adat dan pemerintah. 

Dengan demikian Pemerintah Daerah kabupaten Wakatobi sudah saatnya merangkul Raja (Lakina/Mo'ori) Liya dan perangkatnya sebab ditangan merekalah merupakan kedaulatan tertinggi penegakan sistem adat dan hukum adat masyarakat Liya, termasuk dalam mengurusi sejarah, budaya tradisi dan atad istiadat dan batas-batas tanah hak ulayat adat milik sara Liya. Jangan samakan struktur sara Liya dengan struktur sara mandate atau Wanci, sebab struktur sara Liya terdiri dari Lakina (Raja) Liya didampingi oleh 12 orang kepala Sara (bobato Liya) tidak dimiliki oleh sara Mandati, Sara Kapota dan Sara Wanci, sebab di wanci, Mandati dan Kapota tidak memiliki Lakina (Raja) kecuali hanya kepala Sara. Dan hanya Raja Liya ketika masa pemerintahan kesultanan buton baik sebelum terbitnya undang-undang Murtabat Tujuh maupun sesudahnya diberi tiga gelar atau kekuasaan yakni Raja Liya sebagai Lakina Liya, Raja Liya sebagai Sarana Wolio dan Raja Liya sebagai Bobato Mancuana Matanayo. Di seluruh wilayah kepulauan tukang besi kala itu, termasuk barata Kaledupa tidak memiliki Bobato Mancuana Matanayo dan Sarana Wolio kecuali hanya satu-satunya terdapat di Liya.

Konsepsi sejarah tradisional masa lalu tidak bisa dihilangkan begitu saja dari peradaban masyarakat sebab sampai saat ini di Liya semua komunitas masih membekas dan mempercayainya sebagai suatu sistem pranata adat istiadat dan budaya yang mengikat seluruh kehidupan masyarakat disana dan pranata itu dijalankan oleh Sara Liya yang lebih dikenal dengan Bobato Liya, bukan oleh Lembaga Adat. Oleh karena itu sekali lagi kami tegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Wakatobi  mulai saat ini mulailah menggalan kerja sama dengan Lakina Liya (saat ini ditunjuk : La Ode Muhammad Haris) dengan perangkatnya yang terdiri dari 12 orang kepala Sara (bobato Liya) sehingga diharapkan dengan telah dijalinnya kerja sama yang baik pemerintah daerah wakatobi akan lebih mudah dalam menerapkan program-program kerja dibidang sosial budaya dan batas-batas tanah hak ulayat adat disana sebab masyarakat Liya masih sangat taat azas kepada Sara Liya.

Pergeseran nilai-nilai pemerintahan tradisional kesultanan buton mulai bergeser atas kepentingan Belanda ketika telah ditanda tangani perjanjian Brughman-Asykin pada tahun 1902 dan kemudian dibentuklah 18 buah distrik di wilayah kesultanan buton satu diantaranya adalah termasuk distrik wangi-wangi. Saat itu di wangi-wangi hanya dikenal 4 buah desa yakni desa Liya, desa Wanci, desa Mandati dan desa Kapota. Seiring dengan perjalanan waktu supaya Belanda mudah memungut pajak di wilayah distrik wangi-wangi, maka beberapa gelar pemerintah tradisional di Liya dihapus; seperti Bobato Mancuana Matanayo Liya, Sabandara dan Bonto (Bonto Wawo dan Bonto Woru). Dilain pihak di Wanci, Mandati dan Kapota di angkat Mo’ori atau Raja dengan maksud melalui raja-raja bentukan colonial ini masyarakat di wilayah tersebut bisa tunduk membayar pajak ke petugas-petugas resmi yang di pekerjakan oleh Belanda.

Kalau di Wanci, Mandati dan Kapota ada Lembaga Adatnya, biarkan saja sebab struktur sara yang mereka miliki tidak sama dengan Liya, tak ada karma-karmaan disana. Kalau di Liya sampai saat ini masih berlaku hukum karma yakni "Tapa Sara" atau “bala’o.” Jika sebagian dari warga Liya masih tak percaya hal ini..., maka di coba saja paling yang menanggungnya diri sendiri bukan orang lain. 

Bagaimana Mengaktifkan Lembaga Sara Liya

Satu-satunya cara untuk bisa mengaktifkan Lembaga Sara Liya (Bobato Liya) yang telah tersusun saat ini yakni dengan segera membentuk Kantor Sekretariat Lembaga Sara Liya dengan melengkapi personil-personil yang dipandang cakap dan mampu mengolah administrasi kelembagaan dan mampu berkomunikasi dengan pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kabupaten Wakatobi. Sekretariat Lembaga Sara Liya dipimpin oleh seorang sekretaris yang minimal berlatar belakang pendidikan sarjana (S-1) dan memiliki pengalaman dalam berorganisasi dengan paling sedikit membawahi dua bidang, yakni bidang hubungan masyarakat kemudian  bidang penegakan hukum sara dan penegakan hukum adat. Para tokoh-tokoh masyarakat Liya, tokoh pemuda, tokoh mahasiswa agar segera menggagas pertemuan untuk membahas pembentukan sekretariat lembaga Sara Liya ini agar para Sara Liya (bobato Liya) yang sudah dikukuhkan oleh Meantu'u Liya (Raja Liya/Lakina Liya) beberapa waktu lalu segera menjalankan fungsi-fungsi sosial budaya yang mereka emban sesuai kedudukan masing-masing dalam penegakan hukum sara dan hukum adat yang diembannya termasuk didalamnya inventarisasi tanah-tanah milik hak ulayat sara Liya yang saat ini sudah banyak yang tersabotase oleh oknum-oknum tertentu, juga inventarisasi harta-harta alam dan harta simpanan pampasan perang masa lalu yang tertimbun di wilayahnya.
Dengan telah diaktifkannya lembaga sara Liya akan membawa dampak positif dalam pengendalian sistem adat istiadat dan tradisi budaya di wilayah Liya dalam rangka mendukung desa Liya Raya sebagai desa wisata budaya menyambut kunjungan para turis manca negara mulai tahun 2013 secara berkelanjutan dan sebagai tolok ukur pengembangan desa-desa wisata budaya di tanah air indonesia. ****


Diposkan oleh : Kabali-Indoneia di 08:25

Sabtu, 22 September 2012

MASYARAKAT WAKATOBI PROTES PULAU OROHO DIIKLANKAN

OLEH : HUMAS KABALI

 
        Panti Pulau Oroho,Wangi-Wangi

WAKATOBI, Baubaupos.com - Masyarakat Kabupaten Wakatobi dalam status jejaring sosial Facebook (FB) memprotes oknum tertentu yang telah mengiklankan Pulau Oroho Liya, Desa Liya Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi untuk disewakan. 
 

Dalam status yang ditulis Ali Habiu itu (http://www.facebook.com/groups/beritawakatobi/)  menyebutkan harga sewa perhari antara Rp 700 ribu sampai Rp 1.500.000 perhari untuk 15 orang. Dalam akun tersebut juga, Ali Habiu juga belum mengatahui siapa oknum yang telah mengiklankan pulau tersebut (baca :http://pulau-oroho-di-kabupaten-wakatobi.pasaran.web.id/_f.php?_f=iklan - rinci-cari&jobs = Pulau+Oroho+ Di+ Kabupaten+ Wakatobi&ip1=Y
.
"Kurang ajar sipenggagas iklan ini, bikin resah masyarakat Liya," ujarnya dalam komentar.


Kemarin, Senin (16/09) Ali Habiu mengaku akan melapor hal tersebut ke Direktur Serse Mabes Polri dan Menteri Koordinator Pertahanan Nasional. "Kita lihat saja siapa nantinya akan ditangkap. Di Wakatobi setahu saya 10 tahun belakangan ini banyak kecurian situs-situs arkiologi maritim seperti yang terdapat di ujung pulau Kapota, ditepi pulau Sumanga, di ujung Pasiaroka dan lain sebagainya," beber Ali Habiu.


Bahkan, lanjutnya, tiga tahun lalu nelayan suku Bajo Mola sekitar pukul 02.00 Wita dini hari memergoki lima buah kapal milik Australia yang krunya sedang menyelam mengangkat kepermukaan peti-peti harta pusaka yang kemungkinan milik bajak laut Tobelo di Selat Oroho-Simpora.


Menurut Ali Habiu, Pemda wakatobi mendiamkan masalah tersebut. Sehingga hal itu juga akan menjadi bahan laporannya ke Badan Intelejen Negara. Terkait Pulau Oroho, Ali Habiu juga telah mengkordinasikan hal tersebut kepada para tokoh adat sara Liya,


"Jawaban mereka harga maati mempertahankan tanah hak ulayat sampai berdarah-darah. Jadi kalau ada turis yang berani kesana tanpa sepengetahauan mereka, maka masyarakat akan mengejarnya sampai habis," tulis Ali Habiu.


Semenatara itu, La Ode Ilmin Yuntafau dalam komentarnya mengatakan masyarakat harus melawan, sehingga katanya jangan sampai nasib pulau Oroho sama dengan Pulau One Moba'a yang ada di Tomia yang disewakan selama 75 tahun kepada pengusaha asing, Lorens.


Senada dengan La Ode Ilmin Yuntafau, Akas Hamid menulis, tidak lama lagi Wakatobi tidak di sewakan lagi tapi akan di jual kepada Negara Asing, agar masyarakat Wakatobi di pindahkan ke daerah Timor Leste. "Hancur Ahlaknya penguasa di Wakatobi kalau itu terjadi," tegasnya. (adn)


Sumber :

Sabtu, 08 September 2012

SEKELUMIT KISAH GAJAHMADA DI EKS KERAJAAN BUTON : “GAJAHMADA MERUPAKAN SAUDARA TIRI JAYANEGARA DAN TRIBHUWANATUNGGADEWI”.


 
OLEH : ALI HABIU  *)




Siapa Gajahmada itu…??

Leo Suryadinata mengakui, sejarah awal kehidupan Gajahmada tidaklah begitu jelas. Namun, Encarta Encylopedia berani memperkirakan Gajahmada lahir tahun 1290 M. Jadi, ia lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara. Pembacaan atas tokoh Gajahmada kerap dihubungkan dengan dimensi supernatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.

Berdasarkan foklour masyarakt buton mengatakan bahwa Gajahmada merupakan anak pertama dari pasangan Si Jawangkati dengan Lailan Mangraini. Sijawangkati adalah seorang muslim merupakan pembantu Si Malui dan adiknya bernama Si Baana dan sebagai manusia yang kedua datang di pulau Buton. Si Jawangkati dating ke pulau Buton menemani Si Malui dan Si Baana pada hari bulan sya’ban tahun 634 Hijriah dengan menumpangi behtera kapal bernama “Popanguna” berbenderakan Buncaha yakni bendera dengan motif warna kuning hitam selang-seling yang tak lain adalah bendera kerajaan asal leluhurnya dari daerah Bumbu negeri Melayu Pariaman (baca buku perak buton berjudul : Assajaru Haliqa Darul bathniy Wa Darl Munajat, serta Hikayat Negeri Buton)

Pada akhir tahun 1236 M Si Jawangkati beserta tuannya terdampar di sebelah utara timur laut Buton yakni “Kamaru” dengan bentengnya bernama “Wonco”. Si Jawangkati dengan memimpin rombongan kecil berpamitan dengan Si Malui dan Si Baana untuk mencari daerah hunian baru dan setelah ditemukan hunian ini bernama “Wasuembu”. Setelah menemui tempat baru ini Si Jawangkati langsung membuat perkampungan serta benteng pertahanan bernama “Koncu” di Wabula.

Gajahmada cucu Raden Wijaya….. !

Tak lama berselang kedatangan Si Jawangkati di pulau Buton, maka datanglah serombongan para anak-anak bangsawan dari pulau Jawa. Anak-anak bangsawan tersebut tak lain adalah Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Mangraini yang merupakan anak-anak dari Raden Wijaya yang ketika itu masih sebagai Raja Mataram sebelum gabung dengan Majapahit.  Kedatangan ketiga anak-anak Raden Wijaya tersebut bukan tidak beralasan, mereka datang atas petunjuk ghaib yang diterima oleh dukun atau penasehat istana kerajaan Mataram untuk memerintahkan anak-anak Raden Wijaya tersebut mencari suatu pulau yang terdapat di wilayah Timur nusantara bernama pulau Buton. Setelah menemui pulau Buton ketiga anak-anak Raden Wijaya diperintahkan untuk membangun Bandar perniagaan.  Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.  

Kedatangan putra putri Raja Mataram itu menggunakan dua Armada antara lain satu armada dipimpin oleh Raden Sibahtera dengan adiknya Lailan Mangrani disertai dengan 40 pengikutnya, sedangkan armada yang satu dipimpin oleh Raden Jutubun beserta 40 pengawalnya. Kedua armada tersebut masing-masing membawa bendera leluhurnya yang dipasang diburitan kapal dengan warna bendera merah putih dan bendera ini dinamai “dayialo”. Kedua armada ini setelah tiba di laut Buton selanjutnya disambut oleh Si Jawangkati dan Si Tamanajo di teluk Kalampa tempat kedua armada tersebut berlabuh.

Tak lama berselang beberapa tahun kemudian setelah Raden Sibahtera telah dinobatkan menjadi Raja Pertama Buton dengan permaisurinya bernama gelar Wa Kaa Kaa atau nama aslinya Mussarafatul Izzati Al Fakhriy, maka kawinlah Si Jawangkati denga Lailan Mangrani. Hasil dari perkawinan Sijawangkati dengan Putri Raden Wijaya ini membuahkan seorang anak pertama seorang bayi yang cukup besar dan  berparas jelek dan diberi nama Gajahmada. Mulai umur 3 tahun Gajahmada ini memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa baik secara kekuatan fisik maupun instink dan setelah usia mencapai 7 tahun maka dilatihlah oleh ayahnya ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian. Perlu diketahui bahwa Si Jawangkati ini adalah seorang amat sakti dari asal keturunan para wali negeri melayu.

Kemudian setelah ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian telah diturunkan oleh ayahandanya kepada Gajahmada, genap usia 15 tahun Gajahmada di bawalah ke pulau Jawa oleh ibunya Lailan Mangrani untuk membantu Raden Wijaya dalam kesulitan melawan para pemberontak dari dalam kalangan lingkungan kerajaan Majapahit. Disanalah awal kisah Patih Gajahmada dalam peranannya membantu neneknya sendiri yakni Raden Wijaya dan pamannya bernama Jaya Negarauntuk memberantas para penjahat kerajaan (baca kisah Gajah Mada semakin sangat jelas, Gajah Mada lahir dan wafat di wilayah eks kerajaan buton, http://kabali-indonesia.blogspot.com/2012/09/semakin-sangat-jelas-kisah-maha-patih.html)

Leo Suryadinata menulis, Gajahmada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya adalah kepala pasukan Bhayangkara, pasukan penjaga keamanan Raja dan keluarganya. Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309-1328 M. Menjadi mungkin, Gajahmada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami spirit pemerintahannya.

Gajahmada Bersaudara Tiri dengan Jayanagara dan Tribuwanattunggadewi ….!

Jayanagara ini adalah putra pasangan Raden Wijaya dengan seorang putri Sumatera (Jambi) bernama Dara Petak. Sebab itu, darah yang mengalir di tubuh Jayanagara bukanlah pure Jawa. Anggapan yang relatif rasis ini merupakan fenomena sebuah kancah politik hegemoni dalam kekuasaan aneka suku bangsa tatkala itu. Buktinya, pernah tahun 1316 M muncul pemberontakan Nambi yang menurut http://www.gimonca.com muncul akibat sentimen "darah" Jayanagara tersebut. Meski pemberontakan itu berhasil dipadamkan, seolah sesuatu yang laten (faktor rasisme) 'menyala' dalam politik Majapahit ini.

Tatkala Gajahmada jadi kepala pasukan Bhayangkara, meletus pemberontakan Ra Kuti, salah satu pejabat istana tahun 1319 M. Pemberontakan ini cukup menohok, oleh sebab si pemberontak mampu menduduki ibukota. Jayanagara berikut istri Raden Wijaya dan putrinya (Tribhuwanattungadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita) mengungsi ke Bedander. Selaku kepala pasukan keamanan, Gajahmada memastikan keamanan raja dan keluarga. Setelah dinyatakan save, ia berbalik ke ibukota guna menyusun serangan balasan.


Ia meneliti kesetiaan rakyat dan pejabat Majapahit kepada Raja Jayanagara dengan memunculkan isu keterbunuhan raja. Menurut anggapannya, raja dan sebagian besar pejabat Majapahit menyayangkan kematian raja dan membenci perilaku Ra Kuti. Atas dasar ini, Gajah Mada menyusun serangan balasan secara kemiliteran, dan berhasil membalik keadaan. Pemberontakan Kuti pun dipadamkan. Raja dan keluarganya kembali ke ibukota.


Kebijakan Jayanagara ditopang oleh kemampuan politik Arya Tadah, mahapatih Majapahit. Fokus kebijakan raja dan mahapatih ini adalah stabilitas politik dalam negeri. Jadi, Majapahit belum lagi melakukan penaklukan ke pulau-pulau "luar" Jawa. Ini mengingat Gajahmada belum memegang peran penting di dalam pembuatan keputusan politik level negara.


Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajahmada dari sekadar komandan pasukan Bhayangkara menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala. Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta.


Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajahmada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajahmada adalah Jenggala-Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi.

Pertama, dari Charles Kimball yang menulis, loyalitas Gajahmada terhadap Jayanagara mengalami titik balik tatkala raja mengambil istri Gajahmada selaku haremnya. Kedua, Kitab Negara Kertagama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajahmada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajahmada sendiri. Ketiga, novelis Langit Kresna Hariyadi, yang menulis loyalitas Gajahmada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi.

Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328. Versi meninggalnya Jayanagara pun berlatar belakang loyalitas Gajahmada pada Jayanagara. Versi Kimball menyatakan, Gajahmada menskenario pembunuhan atas Jayanagara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jayanagara akibat suruhan Gajah Mada dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. Versi ini didukung pula oleh pendapat Leo Suryadinata, yang juga menulis kekecewaan Gajahmada akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi. Setelah raja meninggal, Gajahmada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri. Peristiwa 1328 M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras Palace Circle. Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara.


 Mahapatih Gajahmada


Pada masa terbunuh dan digantinya Jayanagara ini, Odoric dari Pordonone, pendeta ordo Fransiskan dari Italia mengunjungi Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Setelah terbunuhnya Jayanagara, Gajahmada berkeras Tribhuwanattunggadewi dijadikan ratu Majapahit. Belum ditemukan bukti yang cukup seputar alasan kekerasan hati Gajah Mada atas penunjukan ini. Namun yang belum sampai analisis para ahli sejarawan kita hingga saat ini adalah Gajah Mada dan Jayanegara sebetulnya adalah saudara tiri. Gajahmada lahir dari seorang selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram dan Jayanegara lahir dari seorang ibu bernama dara petak masa Raden Wijaya menjabat Raja Majapahit. Hingga saat ini belum terkomfirmasi siapa nama slir Raden Wijaya semasa menjabat Raja Mataram yang memiliki 3 orang anak bernama Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Manggraini. Kalau silsilah dalam kerajaan Mataram bisa ditemukan, maka disana akan terungkap struktur keluarga Gajahmada secara spesifik yang memecahkan teka teki asal usul Gajahmada yang kontroversial.


Asumsi lain dari analisis ras, Gajahmada mungkin kuwatir singgasana akan jatuh pada Arya Damar, keturunan Raden Wijaya dari istri yang asal Jambi. Sementara, Tribhuwanattunggadewi adalah putri keturunan Raden Wijaya asli pulau Jawa. Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra asli atau bukan. Atau, dimungkinkan pula, dengan beralihnya kekuasaan pada ratu ini, Gajahmada lebih leluasa dalam mengambil tindakan. Konflik suksesi ini terbukti dengan baru dilantiknya Ratu Tribhuwanattunggadewi tahun 1329, sekurang-kurangnya menurut Charles Kimball. Pemimpin perempuan Majapahit ini berkuasa sejak 1329 hingga 1350 M. Pada fase ini, Majapahit memulai fase penaklukannya.

Analisis rasialitas ini memiliki alasan pribadi yang sangat mendalam, yang mana antara Gajahmada, Arya Damar dan Tribhuwaanattunggadewi adalah semua bersaudara satu ayah bernama Raden Wijaya dan lain ibu yang mana Gajah Mada tentu dalam menunjuk atau memperjuangkan saudara-saudaranya berdasarkan pengamatan pribadi dia mana yang memiliki kelebihan sifat kepemimpinan antara keduanya Arya Damar dan Tribhuwanattunggadewi maka dia memilih memperjuangkan Tribhuwanattunggadewi sebagai Raja Majapahit pengganti Jayanegara.

Mahapatih Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, dan praktis posisi tersebut jatuh ke tangan Gajahmada. Tribhuwanattunggadewi sangat mendukung program-program Gajahmada. Tahun 1331 M meletus pemberontakan Sadeng dan Keta, di wilayah timur Pulau Jawa. Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke sana dan berhasil memadamkan pemberontakan wilayah tersebut. Ra Kembar, salah satu bangsawan dan pejabat Majapahit berusaha menutup jalan pasukan Gajah Mada ke wilayah Sadeng, baik secara politik maupun militer.


Lokasi Wafat Gajahmada….?

Beberapa refensi menyebutkan bahwa Gajahmada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa BUBAT dimana Gajahmada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajahmada di wilayah itu asketis (http://setabasri01.blogspot.com)

Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajahmada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini, Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau "luar" seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan.

Dalam analisis penulis Gajahmada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya inti yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton. Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajahmada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan tukang besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi. Perlu diketahui bahwa Gajahmada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalannya pulau ke pulau Buton dia dituntun secara ghaib dan senantiasa mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual dalam pelariannya. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajahmada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi dengan memasang simbol-simbol disana. Pada saat rombongan Gajahmada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini yang tak lain adalah merupakan para hulubalang dan bajak laut (bajak laut tobelo). Para bajak laut di pulau ini terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajahmada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya berdasarkan petunjuk ghaib dia memutuskan untuk wafat di pulau ini, sementara ke 40 prajurit inti pengawal setianya diperintahkan untuk melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajahmada yang amat sakti ini tetap terjaga. Gajahmada akhirnya di pulau kecil sebelah barat wangi-wangi tersebut memutuskan untuk melakukan tapah brata didalam suatu gua yang didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gajamada meninggalkan alam maya padah ini dalam keadaan duduk bersemedi dengan salah satu bagian tangannya menggenggam cakram sebagai senjata andalannya. 


 Mahapatih Gajahmada


Meskipun secara ilmiah masih diperlukan penelitian mendalam atas riwayat ini, namun bahwa bukti-bukti secara ontologisme dapat dipertimbangkan dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajahmada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga di pulau wangi-wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut. Selain itu bukti-bukti fisik baik situs, atefak, artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan tertentu penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau wangi-wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai situs batu Mada.

Menurut folklour masyarakat setempat keberadaan situs batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajahmada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti. Tak jauh dari situs batu Mada terdapat situs Oa (Gua) Buea yang digunakan oleh Gajahmada sebagai pintu rahasia keluar masuk menuju persembuyiannya. Tak jauh dari situs Gua Buea terdapat situs Kuni yang diyakini oleh masyarakat lokal sebagai tempat semedi Gajahmada dan tak jauh dari situs Kuni terdapat situs Oa (Gua) Winte yang diyakini oleh masyarakat lokal sebagai gua tempat penyimpanan harta-harta berharga Gajahmada.
Sedangkan ke 40 orang prajurit inti pengawal setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan wangi-wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua yang lebar dan luas. Dan di dalam gua inilah ke 40 orang prajurit inti pengawal setia Maha Patih Gajahmada mlakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri Batauga.

Berdasarkan foklour masyarakat buton, diyakini bahwa Gajahmada lahir di buton dan merupakan anak pertama dari Si Jawangkati seorang muslim asal Johor-Melayu dengan ibu bernama Lailan Mangrani juga seorang muslim yang tak lain adalah anak slir  Raden Wijaya yang ketika itu sebagai Raja Mataram. Gajahmada sengaja secara rahasia dibawa oleh ibunya ke pulau Jawa untuk mengamankan sekaligus melindungi kakeknya bernama Raden Wijaya mengingat kala itu terdapat banyak pemberontakan dalam kalangan istana Majapahit, yang mana Gajah Mada diyakini memiliki kesaktian luar biasa hasil didikan orang tuanya . Oleh karena itu sejarah asal usul Gajahmada di kerajaan Majapahit tidak dimiliki mengingat kedatangannya disana merupakan urusan dalam internalitas keluarga pribadi Raja Majapahit. Dan  tak kala penting yang para ahli sejarah kita luput selama ini ialah bahwa ternyata “Gajahmada merupakan saudara tiri Jayanegara, Arya Damar, Tribhuwanatunggadewi. Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita. Jika silsilah keluarga ibu Gajahmada seorang slir istana Mataram bisa didapatkan, maka akan membuka ruang babak sejarah baru tentang Gajahmada di tanah air merevisi semua penulisan-penulisan sejarah yang sudah terbukukan selama ini. ****


 *). Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia

SEMAKIN SANGAT JELAS KISAH MAHA PATIH GAJAH MADA BAHWA GAJAH MADA LAHIR DAN WAFAT DI EKS WILAYAH KERAJAAN BUTON


OLEH : ALI HABIU *)



Konstruksi sejarah Maha Patih Gajah Mada yang diakui oleh berbagai ahli sejarah di Indonesia masih tidak jelas dimana lahirnya, siapa ayah dan ibunya serta dimana dia meninggal dunia, dengan berbagai temuan hasil penelitian belakangan ini semakin memberikan ketegasan bahwa Maha Patih Gajah Mada lahir dan meninggalnya di eks wilayah kerajaan buton. Walaupun statemen ini diperoleh baru sebatas hasil observasi lapangan dari berbagai hasil wawancara (data foklour) dengan masyarakat buton dan masyarakat Liya serta berbagai artifak, atefak, situs yang menunjukkan keberadaan Maha Patih Gajah Mada di wilayah tersebut, namun masyarakat lokal sangat meyakini bahwa histeryografi yang dibangun oleh masyarakat buton dan Liya tentang keberadaan Maha Patih Gajah Mada tersebut bukan tidak beralasan karena diturunkan secara tutur ratusan tahun silam secara turun temurun dari leluhur mereka (baca abstraksi penelitian penelusuran jejak makam maha patih gajah mada di wilayah buton sulawesi tenggara,http://www kabali-indonesia.blogspot.com/2012/01/abstraksi-penelitian-penelusuran-jejak.html)

Menurut tulisan Sufyan Al  Jawi Arkeolog di Numismatik Indonesia berjudul “Jejak Prajurit islam Majapahit dari Bali hingga Australia”, yang dimuat dalam media on line, mengatakan bahwa Maha Patih Gajah Mada itu adalah seorang  Muslim. Hal ini didasarkan fakta sejarah bahwa ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.
Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.
Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.


 Maha Patih Gajah Mada

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Sementara dilain pihak, Sufyan Al Jawi, dalam artikelnya yang berjudulMeluruskan Sejarah Maha Patih Gajah Mada” mengatakan bahwa Historyografi (Penulisan Sejarah) suatu bangsa merupakan kewajiban dari bangsa itu sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Ilmu sejarah itu dinamis, tidak statis.
Meskipun kedinamisan dalam ilmu sejarah itu lamban, dan bisa berubah apabila ditemukan bukti-bukti baru yang akurat. Tentu harus dengan kaidah Historyografi, yaitu : ilmiah – berdasarkan fakta bukan spekulasi, jujur tidak ada yang ditutupi dan netral terlepas dari kepentingan politik/agama tertentu.
Untuk menulis sejarah tidak bisa hanya dengan membaca buku-buku status quo, itu berarti merupakan pengulangan/saduran saja. Juga tidak cukup dengan kajian tesis sejarah dikampus dan seminar, tapi wajib riset di lapangan, observasi mencari situs tersembunyi, ekskavasi situs, dan bila perlu melakukan forensik.
Sejak JLA Brandes, NJ Krom, dan JH Kern dari tahun 1902-1920 menulis sejarah bangsa kita, tentang Majapahit dan Sriwijaya secara sudut pandang Barat (Modern), banyak sejarahwan menulis puluhan buku tentang Majapahit. Namun tak ada satu pun yang berhasil mengungkap jatidiri tokoh besar Majapahit, Mahapatih Gajah Mada.
…..”Sungguh aneh dan miris! Karena begitu besarnya nama Gajah Mada, tapi tidak diketahui asal usulnya? Sehingga meimbulkan spekulasi beberapa daerah yang mengklaim Gajah Mada berasal dari daerah mereka, tanpa di dasari oleh fakta yang akurat…..”

Statemen artikel
Sufyan Al  Jawi di atas semakin mendukung data folklour masyarakat buton yang diyakininya bahwa Ayah Gajah Mada bernama Si Jawangkati seorang sakti asal johor yang datang bersamaan rombongan Si Malui dan dia sebagai pengawal pribadi Si Malui diperkirakan mendarat di pulau buton tahun 1238 masehi. Si Jawangkati seorang muslim dalam riwayat beberapa sejarah kontemporer buton disebutkan sebagai seorang sakti mandraguna, ahli kanukragan dan ahli berbagai ilmu kebathinan. Mula mendarat armada laut Si Malui dan Sijawangkati dan rombongan di Kamaru yang letaknya sebelah timur kota bau-bau saat ini. Tak lama mereka tiba disana, Si Malui membuat benteng Wonco di Kamaru dan Si Jawanagkati diperintahkan untuk membuat benteng Wabula di Wasuemba Lasalimu, jarak sekitar 48 km arah selatan Kamaru.
Menjelang akhir  abad XII, sekitar tahun 1287 datanglah rombongan kakak beradik bernama Raden Jutubun dengan nama panggilan Bau Besi yang disertai adiknya yang bernama Lailan Manggraini beserta 40 orang pengikut setiaanya di pulau Buton menyusul kakaknya yang bernama Raden Sibahtera yang telah datang sebelunnya. Ketiga kakak beradik ini muslim adalah merupakan anak selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram. Pada saat peralihan kerajaan Mataram ke kerajaan Majapahit, diam-diam Raden Wijaya mengutus ketiga orang anaknya ini untuk membuat Bandar di pulau buton (baca sejarah perak buton, berjudul : Assajaru Haliqa Darul Bathniy Wa Darul Munajat dan Hikayat Negeri Buton)
Tak lama Lailan Manggraini berada di pulau Buton, diam-diam Si Jawangkati menaruh hati dan melamarnya menjadi istrinya. Hasil perkawinan antara Si Jawanagkati dan Lailan Manggraini inllah melahirkan Gajah Mada.  Semasa kecil Gajah Mada sudah memiliki tanda-tanda sebagai kesatria, makanya ayahandanya tak segang-segang mewariskan seluruh ilmu kesaktian yang dimilikinya kepada Gajah Mada. Pada usia menjelang 15 Tahun, Gajah Mada dibawah ke pulau Jawa oleh ibunya, karena mendengar bahwa neneknya bernama Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit tengah dalam kesulitan mengatasi pemerintahannya, karena banyaknya pemberontakan dalam istana. Kedatangan Gajah Mada di pulau jawa bersifat rahasia, oleh karena itulah sejarah asal muasalnya Gajah Mada di pulau Jawa hingga saat ini tidak ada dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit. Dan menjadi menggelitik para tokoh masyarakat buton, “mengapa para sejarawan, para arkiolog di Indonesia hingga saat ini hanya melulu terobsesi dengan folklour tentang kisah Gajah Mada yang ada di desa mada, desa gondang, desa badender dan trowulan jawa timur sementara disana hingga saat ini belum jelas konstruksi sejarah asal muasal termasuk wafatnya ?! Adakah memang perbedaan entitas kesukuan di negeri ini, sehingga eksistensi kebesaran Maha Patih Gajah Mada harus mutlak selalu berada di pulau Jawa ?! Lantas Buton sebagai eks wilayah kerajaan Majapahit (pupuh XIV negarakretagama) dan eks wilayah keresian Majapahit (pupuh LXXVIII negarakretagama) mau disembunyikan dikolong bawa tanah mana di negeri ini ?! “Pada saatnya duniapun akan tahu ketidakadilan ini..” Ojo Dumeh !! ****

*). Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia.