KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Senin, 07 Desember 2009

KINI TIBA SAATNYA ERA KEBANGKITAN MASYARAKAT LIYA DI PERANTAUAN


 OLEH : ALI HABIU


Pada hari Minggu tanggal 6 Desember 2009 tepat jam 11.00 telah didirikan suatu organisasi sosial yang bakal bercitra besar bernama FORUM KOMUNIKASI KELUARGA BESAR LIYA atau disingkat FORKOM-KABALI. Organisasi sosial ini dipimpin oleh kalangan muda asal putra liya yang cukup berpengalaman dan memiliki jam terbang diberbagai organisasi baik sosial maupun politik sehingga dengan kepengurusan ditangan mereka diharapkan dalam waktu dekat dapat dikembangkan organisasi tersebut ke berbagai tingkat lapisan masyarakat liya utamanya yang berada diperantauan.

Pantai Pulau Oroho Liya

Pantai Bira Liya

Keluarga besar liya berada tepatnya di Desa Liya sekitar 9 kilometer arah timur kota Wanci Ibu Kota Kabupaten Wakatobi yang merupakan Kabupaten Definitif berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003, tanggal 7 Januari 2004. Pulau Wakatobi atau didalam peta dunia lebih dikenal sebagai pulau Tukang Besi adalah gugusan pulau-pulau karang yang bersatu dan skronim dari nama pulau yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.
Kabupaten Wakatobi terletak di ujung tenggara pulau Sulawesi yang lebih tepatnya dibahagian tenggara pulau Buton, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan laut Banda
- Sebelan selatan berbatasan dengan laut Flores
- Sebelah timur berbatasan dengan laut Banda
- Sebelah barat berbatasan dengan pulau Buton
 Tari Lariangi Model Liya

Wilayah kabupaten Wakatobi memanjang dari utara ke selatan dan berada pada posisi lintang antara 5,15 sampai 06,10 derajat dan membentang dari barat ke timur pada posisi antara 123,30 sampai 124,15 derajat. Secara administrasi pulau Wangi-Wangi merupakan bagian dari kabupaten Wakatobi dengan memiliki 3 kecamatan dan 18 desa.
Wilayah Liya berada pada kecamatan wangi-wangi selatan. Karakter masyarakat liya yang tegas dan inovatif adalah merupakan dasar mengapa pandai berdiplomasi, mampu bertahan hidup dan berkeinginan untuk maju. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya masyarakat Liya yang bertahan hidup dan berkembang di perantauan yang saat ini telah tersebar diseluruh penjuru Nusantara meski dalam jumlah yang terbatas.
Dahulu, sudah menjadi karakter masyarakat Liya jika berada diperantauan untuk selelu membawa dan menerapkan adat dan tradisi Liya. Kebiasaan ini memerlukan syarat dan merasa berdosa jika tidak melaksanakannya. Batasan dari contoh kasus ini dapat dibuktikan pada pertemuan seremonial masyarakat Liya, pada pelaksanaan perkawinan, sunatan, membangun rumah, manasik haji, sunatan, pingitan dan lain sebagainya. Sedapat mungkin masyarakat Liya berusaha untuk menampilkan beragam atraksi seni dan budaya sebagai sebuah identitas lokal dan alat komunikasi untuk mempererat Tali Silaturahim dan berinteraksi, baik dikalangan komunitas Liya itu sendiri maupun masyarakat lain diperantauan. Kini kebiasaan positif tersebut sangat langka dijumpai saat ini.

Fenomena memperihatinkan di atas sangat menyentuh hati nurani para intelektual muda asal Liya yang berada di Kota Kendari, selanjutnya mereka bertekad untuk segera berbuat sesuatu guna membangkitkan kembali semangat kebersamaan, sepenanggungan, satu rasa, saling asih dan saling membantu sesamanya, yang terkait dalam lingkungan bingkai adat dan tradisi Liya yang mulai itu yang saat ini sudah mulai pudar ditelan oleh keganasan zaman khususnya yang terjadi di daerah perantauan.
Dengan berdasarkan peikiran inilah kini telah lahir lembaga yang diberi nama FORUM KOMUNIKASI KELUARGA BESAR LIYA disingkat FORKOM-KABALI yang kemudian diharapkan bahwa melalui wadah lembaga ini dapat menjadi wadah interaksi sosial kemasyarakatan dan pelestari nilai budaya dan tradisi adat istiadat masyarakat liya utamanya bagi mereka yang berada diperantauan... SELAMAT YAHHH"...****
Poskan Komentar