KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Selasa, 22 November 2011

BOBETO LIYA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SARA LIYA


 
 BARUGA KERATON LIYA (MODEL BUKAN ASLI)



OLEH : LA BARA


La Bara adalah sosok cucu terakhir dari Bonto Wawo bernama La Dapara. Bonto merupakan bagian dari 12 kepala Sara (Kepala Pemerintahan) masa kejaan kerajaan Liya beberapa waktu silam. Dama pembagian pemerintahan Bonto di kenal ada dua bagian yakni Bonto Wawo dan Bonto Woru yang mana tugas dan fungsinya adalah masing-masing sama yakni tempat memutuskan akhir dari suatu persoalan yang dibahas dalam rapat 12 Sara yang dilaksanakan di Baruga Keraton Liya dan dipimpin oleh Raja Liya (Baca : Lakina Liya atau Mo'ori Liya).

Adapun jumlah kepala Sara atau semacam menteri dalam kedudukan pemerintahan saat ini yang menjadi bahagian dari pemerintahan Raja Liya adalah sebagai berikut :
  1. Konta Bitara
  2. Meantu,u Solodadu
  3. Menatu'u Sampalu
  4. Meantu'u Nunu
  5. Meantu'u Toko
  6. Meantu'u Olitau
  7. Meantu'u Salamawi
  8. Meantu'u Tonga-Tonga
  9. Meantu'u Wapuru
  10. Meantu'u Sabandara
  11. Bonto Wawo
  12. Bonto Woru
Masing-masing kepala Sara atau Bobeto Liya di atas mengepalai anggota Sara sesuai dengan proporsi jumlah yang ditetapkan dan jumlah anggota Sara Liya keseluruhan ialah 120 anggota Sara. Jadi yang berhak menduduki atau menempati Baruga paling atas adalah 12 Bobeto Liya atau kepala Sara tersebut, sedangkan yang lainnya duduk di samping kanan dan samping kiri Baruga termasuk sebagian dibahagian bawah pada saat dilaksanakan musyawarah adat atau rapat adat untuk memutuskan segala sesuatu yang penting di masa kejayaan kerajaan Liya beberapa waktu lalu. pesan La Bara kepada generasi pelanjut Liya bahwa jangan lupa kembangkan dan lestarikan kebudayaan Liya dan juga jangan lupa tampilkan pakaian adat kebesaran Bonto yang coraknya beda dengan pakaian adat kebesaran kepala sara lainnya.

Pada masa kejayaan Kerajaan Liya pada zamannya ketika berlangsung rapat sara di Baruga ini yang membahas masalah pemerintahan di wilayah wakatobi, maka yang duduk di atas Baruga hanya Raja Liya dan Bobeto Liya sedangkan utusan-utusan dari Binongko, Tomia dan Kaledupa kepala saranya duduk di samping sayap baruga sedang lainnya menyaksikan dari kejauhan (umumnya mereka kumpul di Lawa Godo dan Lawa Balalaoni. Sedangkan utusan sara dari Wanci dan Mandati juga duduk disayap baruga kemudian utusan sara Kapota duduk dibawah baruga. Demikian kebesaran pemerintahan kerajaan Liya ketika itu.***

Jumat, 18 November 2011

PENASEHAT KHUSUS LEMBAGA FORUM KOMUNIKASI KABALI INDONESIA

OLEH : ALI HABIU



Puji syukur hanya semata-mata dipanjatkan keharibaan Tuhan YME, Allah SWT karena atas perkenan dan ridhonya sehingga Program Kerja Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dan satu lagi kebanggaan buat lembaga ini karena salah seorang putri Keraton Liya yang terbaik saat ini dan diperhitungkan dikalangan politisi di tanah air sekaligus sebagai mantan ketua departemen Kowati PB HMI pusat yakni WaOde Nurhayati,S.Sos telah mendapat kehormatan menjadi penasehat khusus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia. Kami segenap pengurus Lembaga ini mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya atas kesediaannya beliau menjadi penasehat khusus lembaga ini dan dengan senang hati kami menerima saran, tanggapan dan masukan yang baik demi kemajuan pembangunan sosial budaya di lingkungan Benteng keraton Liya dan umumnya kawasan Liya Raya kepulauan wangi-wangi kabupaten Wakatobi. Segenap pengurus sangat mengharapkan agar dengan masuknya WaOde Nurhayati,S.Sos sebagai penasehat khusus lembaga ini dapat mendorong lembaga ini agar lebih berani tampil kedepan dan semakin konkret peran dan program-program kerja kemasyarakatannya khususnya dibidang pelestarian dan pengembangan kebudayaan Liya sehingga suatu kelak hasilnya dapat dirasakan manfaatnya bagi seluruh masyarakat Liya dimanapun mereka berdomisili dan khususnya yang berdomisili di desa Liya Raya kepulauan wangi-wangi. Tidak saja itu lebih jauh kami semua punya mimpi-mimpi yang indah, mudah-mudahan dengan seringnya beliau dalam menyempatkan diri untuk memberi motivasi dan kederisasi kepada semua jajaran pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia dimanapun, diharapkan kelak ada potensi kader-kader baru yang tumbuh sebagai calon pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia masa depan. amin









Sekilas Latar Belakang Berdirinya Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia
Latar belakang berdirinya Lembaga ini dimulai dari pemikiran 3 orang putra asli Liya di Kendari yakni La Ode Haruku, La Ode Marsidi dan La Ode Saruhu yang secara kebetulan pemikiran ini muncul di ruang tunggu Bandara Wolter Monginsidi (sekarang Halu Oleo) Kendari pada awal bulan Oktober tahun 2009 lalu.  Kami bertiga sangat prihatin melihat fenomena kerukunan antara masyarakat Liya khususnya di Kendari dan umumnya di Indonesia semakin hari semakin longgar seakan-skan yang terjadi tidak ada lagi ikatan solidaritas yang utuh dari keluarga satu dengan lainnya, utamanya dikalangan para tokoh elite  asal Liya yang saat ini kebanyakan lebih individualistik dan ekonomikus. Jika ada saudara-saudara kita yang mengalami sakit atau meninggal dunia tak jarang kita bisa mengetahui dengan tepat bahkan sama sekali keluarga tidak mengetahuinya kecuali setelah semua terjadi sudah dikebumikan atau sudah mengalami kesembuhan dan telah kembali ke kampung halaman barulah ada pemberitaan dari keluarga lainnya. Kejadian ini sudah lama berlangsung dan sangat bertentangan dengan fasafah nasehat orang-orang tua kita dahulu yang selalu mereka pertahankan : Toponamisi, Toosaileama, Toposaasa walaupun dalam keadaan himpitan kehidupan sosial ekonomi yang pas-pasan, namun jiwa kesatuan dan persatuan antara masyarakat Liya begitu mampu dipertahankan dan dijalankan dengan baik sehingga semua keadaan dapat teratasi dengan baik melalui Topohamba-hamba.
Banyak tokoh-tokoh masyarakat kita yang kondisi kehidupannya boleh dibilang sudah mapan dan memadai baik yang ada di Kendari maupun di daerah-daerah Lain kebanyakan hanya mau dipuji dan dibanggakan dengan mengutamakan popularitas, bukan penciptaan pengabdian dan solidaritas diantara sesama warga sehingga kesatuan dan persatuan semakin hari semakin rapuh diantara sesama warga Liya di Indonesia. Belum lagi kami menyoal masalah pembangunan sosial budaya di negeri asal kita Liya yang ketika itu yang hungga saat itu pemerintahan Hugua tidak pernah mau melirik atau menalokasikan sebagian APBDnya untuk perkuatan ekonomi kerakyatan disana, sementara ada beberapa orang-orang asli asal Liya yang duduk di DPRD Kabupaten Wakatobi, ada juga yang duduk sebagai Kepala Dinas Kesatuan Bangsa saat itu, tapi mereka semua tak mau perduli akan masa depan negeri Liya sebagai bekas wilayah Kerajaan Majapahit pada zamannya dengan kemegawan Bentengnya sebagai salah satu situs cagar budaya dunia...."
Setelah kemudian kami evaluasi keadaan itu, kami beretiga kembali mengadakan evaluasi potensi SDM yang saat itu dimiliki oleh masyarakt Liya di seluruh Indonesia. Bahwa berdasarkan data sementara potensi SDM masyarakt Liya diberbagai lapisan sosial di Indonesia terdiri dari : pendidikan doktoral (strata-3/S-3)  konsentrasi daerah Kendari sejumlah 3 orang, terdiri dari spesialisasi : Sosiologi Budaya, Antropologi dan Budaya Tutur. Kemudian pendidikan Magister atau strata-2/S-2 terdiri 80 orang berbagai jurusan dan  tersebar diberbagai daerah di Indonesia serta pendidikan Sarjana strata-1/S-1 sejumlah 220 orang dengan berbagai jurusan dan tersebar diberbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan dari hasil diskusi dan pemikiran dari 3 orang tersebut di atas, kemudian ditindaklanjuti dibahas dibeberapa kali forum rafat formal dengan melibatkan semua unsur masyarakt Liya yang domisili di Kota Kendari. Dari hasil-hasil rafat forum formal tersebut direkomendasikan untuk segera membentuk suatu wadah perhimpunan semua elemen masyarakat Liya dalam suatu bentuk Lembaga independen dan berbadan hukum tetap guna dapat memperjuangkan semua aspirasi kerakyatan yang tengah berkembang guna kemajuan masayarakat Liya dimasa-masa akan datang. Maka sebelum pemelihina pengurus, diadakan rapat-rapat pendahuluan untuk memilih nama yang tepat bagi lembaga yang akan dibentuk ini. Maka munculllah berbagai usul, misalnya Umar Ode Hasani mengusulkan nama lembaga ini adalah Kamali (kesatuaan masyarakat Liya). 

Dalam perhelatan diskusi nama ini ditolak karena lebih berbau kebangsawanan dan tidak mengaspirasi perjuangan kerakyatan untuk semua lapisan golongan di Liya. Akhirnya muncullah peyunjuk ghaib dari seorang bernama Sitti Kiah dengan suara lantang malam itu mengatakan bahwa lembaga itu namakan Kabali (keluarga besar Liya) dengan alasan bahwa Kabali merupakan lambang peralatan yang digunakan setiap hati baik di kebun maupun di laut oleh semua lapisan masyarakat di Liya, tanpa Kabali mereka tak bisa hidup. Kabali juga memiliki salah satu sisi yan tajam artinya perjuangan itu butuh keberanian dan pengorbanan tanpa rasa ragu dan takut. Maka malam itu diputuskanlah lembaga ini dinamakan Lembaga Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya pusat Kendari (Lembaga Forkom Kabali).

Dan pada tanggal 06 Desember 2009 diadakan pemilihan pengurus disamping pengukuhannya yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat dan pemuda Liya dalam Kota Kendari dan terpilih sebagai pengurus dengan jumlah suara terbanyak adalah L.M.Ali Habiu. Selanjutnya pengurus menyusun nama-nama dewan penasehat dan pengurus harian lainnya, antara lain ketua dewan Penasehat Kabali ditunjuk Drs.H.La Ode Murni Misa,M.Si dan wakilnya H.Syahrudin Buton,SH. Kemudian Pengurus harian Sekretaris umum adalah Umar Ode Hasani,SP.,M.Si, Bendahara Drs. La Ode Salagu,SE dan Koordinator Bidang Sosial Budaya Ir. Edy Sunarno,MBA dan koordinator Hubungan masyarakat La Ode Ali Kalau,BA. Sedangkan kelengkapan personalia pengurus lainnya ditentukan dalam rapat pleno dan ditetapkan dalam bentuk surat keputusan dewan pendiri Lembaga ini. Adapun dewan pendiri Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia terdiri dari : Ketua merangkap anggota : L.M. Ali Habiu, anggota masing-masing : La Ode Marsidi, La Ode Haeruddin,SE, La Ode Bahrum Sulaiman,SE, Umar Ode hasani,SP.,M,Si, La Ode salagu,SE dan La Ode Ali Ahmadi,SS. Kemudian lembaga ini dilaporkan ke Notaris guna mendapatkan akte hukum dan terbit Akte Notaris Nomor : 09/2009 an. Rayan Riadi,SH.,M.Kn dan Keputusan Kepaniteraan Pengadilan Negeri Kendari No. Leg.74/XII/12/2009 dan Izin kesatuan bangsa dari pemerintah provinsi sulawesi tenggara No.200/01/2010 berlaku Januari 2010 s/d Januari 2011 dan diperpanjang No.220/02/2011 berlaku Januari 2011 s/d januari 2012 dan seterusnya. Lembaga ini juga memiliki faktur pajak dari kantor perpajakan sulawesi tenggara yang sewaktu waktu dapat digunakan apabila lembaga ini memiliki kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan proyek di bidang kebudayaan dan keparawisataan. Dan alhamdulillah genap perjalanan lembaga ini selama setahun, tepatnya sejak tahun 2010 lalu telah terbentuk cabang-cabangnya di seluruh wilayah Indonesia yang mana di wilayah tersebut terdapat domisili warga asli Liya minimal 10 KK, antara lain di Batam kepulauan, Jakarta, Samarinda, Balikpapan, Bau-bau, Buton (Pasar Wajo), Ternate, Ambon, Wakatobi, Makassar, taliabo, Marauke dan Kendari. Masing-masing pengurus cabang baru terbentuk secara defakto langsung dari penunjukan pusat atas susunan pengurus yang diajukan dari masing-masing daerah, belum dilaksanakan secara de jure atas independensi daerah masing-masing mengingat adanya keterbatasan dana operasional. Rencana kedepan apabila memungkinkan pendanaan akan diadakan rakornas dan/atau rapinnas yang akan dibahas legitimasi kepengurusan dan program kerja 5 tahunan. Saat ini sementara lokus kegiatan organisasional berpusat di Lembaga Forum Komunikasi Kabali pusat kendari dan akan berjalan terus sepanjang belum diadakan rakornas dan/atau rapinnas organisasi ini.
Organisasi Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia bersifat independen dan demokratis dibentuk atas dasar Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi kemasyarakatan yang memiliki tujuan sebagai Pelestari dan pengemban kebudayaan Liya.

Dasar Perjuangan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia

Dasar perjuangan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia adalah "Topogau satotono" yang diwujudkan dalam prilaku : Topoangkatako, Toponamisi, Toposaileama dan Toposaasa.
Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia memiliki Visi : "Memperjuangkan pelestarian dan pengembangan Kebuduyaan Liya dan cagar Budaya benteng Keraton Liya sebagai potensi wisata budaya menuju kesejahteraan masyarakat tahun 2020"

Sedangkan Misi Lembaga ini tertuang dalam Anggaran Dasar pada Pasal 6 yang diuraikan sebagai berikut :
  1. Melakukan kontrol sosial budaya disegala bidang
  2. Menyatakan dan menyampaikan Visi, Misi, Presepsi Potensi Desa Liya kepulauan Wangi-wangi dan sekitarnya dan menyalurkan aspirasi masyarakat Liya kepada pihak yang berkompoten
  3. Mengembangkan kepeloporan masyarakat Liya sehingga berani tampil ditengah-tengah masyarakat secara bertanggungjawab dan menjunjung tinggi keadilan
  4. Meningkatkan peran serta  masyarakat Liya dalam pembangunan bangsa yang meliputi peran pelaksana seni budaya, sejarah dan kebudayaan, tradisi dan adat istiadat, pembinaan, pengawasan kontrol sosial budaya yang dilaksanakan secara kritis, konstruktif, konsepsional terhadap para pelaksana pembangunan atau pemerintah di daerah
  5. Memberikan penyuluhan seni budaya, sejarah dan kebudayaan, tradisi dan adat istiadat.
  6. Melaksanakan dan membuat studi dan kajian tindak dan investigasi
  7. Melakukan pendampingan dan konsultansi
  8. Mendorong dan menfasilitasi Pemugaran Benteng Keraton Liya, Situs-Situs Sejarah yang terdapat dalam lingkungan Benteng Kaearton Liya, penulisan naskah sejarah Liya serta mendorong melestarikan nilai-nilai budaya, tradisi dan adat istiadat
  9. Mendorong dan menfasilitasi pengungkapan pelaku sejarah beserta situs-situs lain peninggalan manusia-manusia pertama kali mendiami pulau Oroho dan Liya guna pengembangan sejarah dan budaya
  10. mendirikan Lembaga Adat Liya dan menyelenggarakan Pusat Informasi Kebudayaan Liya serta mendirikan Sanggar Seni Budaya
  11. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Seni Budaya Tradisional Liya, Seni Tenun dan Seni Pengrajin Perak/kuningan untuk memberdayakan usaha ekonomi kerakyatan
  12. Memimpin dan terlibat aktif dalam mewujudkan masyarakat Liya yang demokratis, santun dan berbudaya menuju masyarakat mandiri
  13. Mengadakan kajian dan perbedayaan ekonomi kerakyatan dibidang Seni Budaya Tradisional, Seni Tenun dan Seni Pengrajin Perak/tembaga
  14. Melakukan usaha-usaha lainnya yang tidak bertentangan dengan maksud dan tujuan lembaga satu dan lain dalam arti kata yang seluas luasnya.
Adapun maksud dan tujuan Lembaga ini sebagaimana tertuang dalam Bab IV, Pasal 7 Anggaran Dasar Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia, adalah :
  1. Mengikat dan mengeratkan tali persaudaraan komunitas Liya keseluruhan dan secara khusus diperantauan
  2. Promosi dalam proses membangun citra positif dan identitas lokal masyarakat Liya secara umum
  3. Menjadi konsultan penghubung dalam rangka interaksi kekerabatan dan penyelesaian masalah-masalah sosial yang dihadapi
  4. Melestarikan nilai Budaya, Adat dan Tradisi Liya
  5. Membantu pemerintah daerah dalam rangka pembangunan Kebudayaan dan Parawisata.*****

PEGELARAN BUDAYA LIYA KE II DIDUKUNG DONATUR LUAR WAKATOBI : "BUPATI WAKATOBI DINILAI PILIH KASIH DALAM KEPENTINGAN MASYARAKATNYA !?"

 OLEH : TOTOM WAKATOBI (wartawan free lines)


Indonesia Online News - Kebudayaan Liya ke II Tahun 2011, yang digelar mulai Senin (7/11) laly berjalan dengan sukses. Hal itu berkat atas dukungan para donatur di luar wilayah Pemerintahan Kebupaten Wakatobi, Demikian disampaikan Ketua Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia, Ali Habiu kepada wartawan.

Ali Habiu, mengatakan dengan tidak ada perhatian Pemda Wakatobi kepada kegiatan tersebut membuat banyak pertanyaan banyak masyarakat Wakatobi khususnya masyarakat Wakatobi di Pulau Wangi-wangi.
 
“Masyarakat Liya lebih khususnya mempertanyakan kenapa acara-acara konteksi adat dan budaya Kraton Liya yang telah terlaksana belakangan ini, tidak diperdulikan Pemerintah Daerah Wakatobi. Saya katakana ini memang, Bupati Wakatobi baik secara kelembagaan maupun pribadi tidak ada sama sekali perhatiannya, padahal konteksi ini merupakan iven yang cukup strategis dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah. Sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat (m) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah adalah termasuk dalam katagori Hak dan Kewajiban Pemerintahan Daerah Otonom (Pemerintah Daerah kabupaten Wakatobi),” katanya.
 
Kata dia berdasarkan UU pasal 22 ayat (m) tersebut berbunyi, dalam penyelenggaraan otonomi daerah mempunyai kewajiban (m) melestarikan nilai social budaya. Dengan begitu, menurut penilaiannya, menunjukkan bahwa Bupati Wakatobi, Hugua masih pilih kasih dalam menjalankan kepemerintahannya.

“Dan bukan merupakan rahasia umum jika selama ini yang menjadi prioritas penanganan pelestarian dan pengembangan kebudayaan hanya diberikan kepada daerah asal kelahirannya yakni Tomia tanpa secara adil memperhatikan wilayah-wilayah daerah lain (Binongko, Kaledupa dan Wangi-wangi) yang memiliki potensi nilai sosial budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan,” ucapnya lantang.
 

Lanjutnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi, Drs.Tawakkal mengemukakan bahwa mulai tahun 2012 mendatang acara kegiatan serupa yakni Gelar Kebudayaan Liya ke III Tahin 2012 mendatang sudah akan ditangani oleh dinasnya karena telah masuk dalam tugas pokok dan fungsi Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi, yang tentunnya akan kerja sama dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia sebagai lembaga independen perintis dan pelestari kebudayaan Liya.
“Kami berharap semoga janji ini bisa merupakan kenyataan pada Tahun 2012 mendatang. Selama acara berlangsung, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hanya mengambil dokumentasi, publikasi untuk promosi mereka,” ujarnya.
Ali Habiu, menyampaikan bahwa meskipun demikian tanpa bantuan pemerintah Kabupaten Wakatobi pelaksanaan Gelar Budaya Liya ke I Tahun 2010 dan ke II Tahun 2011 ini cukup meriah, bisa berjalan lancar dan sukses.Tentunya hasil berkat kerja keras tanpa lelah dari segenap pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia baik yang berada di pusat maupun di daerah khususnya di Pengurus Cabang Kabupaten Wakatobi yang dikomandoi oleh Hasan Ndou dan lainya.
Sesuai dengan pengakuannya pelaksanaan Gelar Budaya Liya ke II Tahun 2011 ini jauh lebih sempurna pelaksanaannya jika dibandingkan dengan pelaksanaan Gelar Kebudayaan Liya ke I Tahun 2010 lalu, karena sudah didasarkan atas pengalaman pelaksanaan sebelumnya.
“Kegiatan yang ditampilkan pada acara Budaya Liya ke II Tahun 2011 berupa pemotongan hewan qurban secara tradisional (adat istiadat) dan diskusi kebudayaan. Pada pelaksanaannya dirangkaikan bersamaan pada hari Senin (7/11). Dan Pentas Seni Budaya dengan menampilkan 18 jenis seni budaya tradisional Liya di laksanakan pada hari Selasa (8/11). Kegiatan dimulai Jam 09.00 Wit sampai Jam 14.00 Wit. Sedangkan penampilan Seni Budaya tahun 2010 lalu hanya sejumlah 8 jenis saja,” tutupnya.(by.totom/bustomi)

Sabtu, 12 November 2011

PELAKSANAAN SHALAT IED IDUL ADHA 1432 H DI ALUN ALUN KERATON LIYA

OLEH : ALI HABIU



Pada hari Raya Idul Sdha 1432 H yang jatuh pada hari Minggu tanggal 6 November 2011 berlangsung di alun-alun Keraton Liya cukup meriah di hadiri oleh para warga asal desa Liya Togo dalam lingkup Keraton Liya. Pelaksanaan shalat ied Idul Adha 1432 H di Liya Raya masing-masing dilakukan di desa Lagundi (Liya Bahari), desa Liya Mawi, desa One Melangka dan desa Wisata Kolo. Seandainya semua kegiatan shalat ied dipusatkan di alun-alun keraton Liya maka pasti akan dibanjiri oleh jamaah yang diperkirakan sejumlah 6000 orang.

Alhamdulillah meskipun lapangan alun-alun yang belum selesai ditanami rumput oleh kontraktor pelaksana, namun tidak berpengaruh secara signifikan atas adanya guyuran hujan semalam sebelum pelaksanaan shalat ied dilaksanakan. Jadi kondisi lapangan ketika jamaah menghamparkan sajadah dalam persiapan pelaksanaan shalat ied Idul Adha 1432 H tanah tidak pecek ataupun basah.
Kondisi fisik penataan lapangan alun-alun Keraton Liya dari paket Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum yang dijumpai sampai dengan saat ini masih dalam kisaran 60%. Adanya keterlambatan pekerjaan di lapangan disebabkan oleh karena dana APBN perubahan yang dituangkan dalam DIPA paket tersebut sampai dengan saat ini juga belum diterbitkan oleh direktorat jenderal perbendaharaan kementerian keuangan republik indonesia. Kepala satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Sulawesi Tenggara yakni Bapak Ir. Fahry yamsul,M.Si yang ditemui oleh penulis akhir bulan oktober 2011 lalu mengatakan bahwa DIPA paket tersebut dijanjikan oleh pemerintah pusat akan terbit setelah lebaran haji akhir tahun ini.







Hanya saja pelaksanaan shalat ied kali ini yang dilaksanakan oleh pengurus atau sara Mesjid Agung keraton Liya tidak begitu khidmat berhubung karena 8 orang pengurus mesjid yang ada tidak begitu kompak dengan kepala desa Liya Togo sehingga semacam ada mis komunikasi dan ketergantungan satu dengan lainnya. Akibatnya pelaksanaan takbir pengantar shalat ied kurang begitu lancar dan tertib. Keterangan ini dibenarkan oleh salah seorang sara atau pengurus mesjid agung keraton Liya yang enggan disebut namanya sekaligus menyampaikan keluhan kepada penulis bahwa besarnya honorarium yang diterima oleh para pengurus mesjid kurang memadai jika dibandingkan dengan tugas-tugas mereka. Pada masa lalu sampai dengan era tahun 1970-an jumlah sara mesjid masih terdapat sejumlah 15 orang yang terdiri dari : Modhi=4 orang, Khatibi=4 orang, Imamu=2 orang dan Mokimu = 5 orang. Dalam kaitan ini Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia akan segera menyampaikan keluhan ini kepada Menteri Dalam Negeri dan Otoda untuk segera menurunkan Tim Verifikasi Anggaran yang ditujukan kepada pemerintah daerah kabupaten wakatobi agar pengurus mesjid dapat bekerja aktif sebagaimana mestinya. ****

Jumat, 11 November 2011

DISKUSI KEBUDAYAAN PADA GELAR BUDAYA LIYA KE II TAHUN 2011

OLEH : ALI HABIU



Pelaksanaan Diskusi kebudayaan pada acara Gelar Budaya Liya ke II 2011 merupakan salah satu agenda dalam acara pegelaran tersebut. Kali ini dilaksanakan di dalam ruang Mesjid Al Mubaraq Alun-Alun Keraton Liya yang tak lain sebagai mesjid Agung Keraton Liya. Pemateri dalam acara diskusi kebudayaan tersebut yakni langsung dibawakan oleh putra-putri asal Keraton Liya Liya yang terbaik saat ini yakni : Wa Ode Nurhayati,S.Sos sebagai anggota DPR Republik Indonesia dari Partai Amanah nasional dan DR. La Ode Muhammad Alifuddin Nur, M.Ag sebagai akademisi dosen STIA Negeri Kendari. Adapun materi yang dibawakan oleh Wa Ode Nurhayati,S.Sos adalah masalah seputar "Penyadaran Masyarakat Lokal Perlunya Perkuatan dalam Pelestarian Sosial Budaya" dan DR. La Ode Muhammad Alifuddin Nur,M.Ag ialah seputar "Masalah Budaya Tutur" . Dalam acara diskusi kebudayaan moderator dibawakan langsung oleh Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Bapak L.M. Ali Habiu yang dihadiri oleh Kapolsek Wangi-wangi Selatan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata kabupaten Wakatobi beserta jajarannya, Ketua Dewan Penasehat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Pusat Bapak Drs. H. La Ode Alimurni Misa, M.Si, Staf Ahli Bupati Wakatobi bidang Kebudayaan, Ketua Cabang Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Kabupaten Wakatobi, Pengurus Lembaga Adat Liya, Tokoh Sara, Tokoh Agama, Budayawan, tokoh pemuda serta segenap undangan.




Dalam acara diskusi kebudayaan tahun ini materi yang dibawakan oleh kedua finalis cukup mempesona para hadirin karena isi yang dipesankan banyak hal-hal yang menyangkut perkuatan nilai-nilai budaya asli Liya agar semakin dilestarikan dan dikembangkan dimasa-masa akan datang. Meminta agar segera menyiapkan lahan yang letaknya dibelakang Baruga untuk dibangun Pusat Promosi dan Penjualan hasil-hasil kerajinan rakyat Liya, meminta untuk segera membuat desain rekonstruksi mesjid Agung Keraton Liya "Al Mubaraq" dengan maksud agar bila ada yang berkeinginan membangun mesjid tersebut gambarnya sudah ada secara paten yang telah disetujui oleh BPPP Makassar. dlsb.
Sedangkan DR. Alifuddin Nur, M.Ag materi penekanan lebih fokus kepada budaya foklour seperti budaya tula-tula yang saat ini sudah mulai hilang di kalangan generasi muda Liya. Budaya tula-tula tersebut dahulu kala hampir semua warga Liya mengetahuinya dan biasanya diceritakan malam hari sebagai pengantar tidur bagi anak-anak. Misalnya tula-tula Wandiu-diu, dlsb.


Setelah pemaparan 2 pemateri dikumandangkan kemudian selanjutnya diadakan acara tanya jawab yang berlangsung selama satu sesi mengingat waktu sudah akan memasuki shalat zuhur. Pada acara tanya -jawab cukup banyak peserta hadirin yang bertanya namun hanya dibatasi kepada 5 orang penanya dan materi pertanyaanpun yang dilayankan cukup berbobot. Semua pertanyaan dijawab oleh finalis dan para penanyapun cukup puas. Sebelum acara diskusi ditutup oleh moderator, terlebih dahulu dipersilahkan Bapak Drs. Andi Tawakkal selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi memberikan beberapa sambutan-sambutan. Diantaranya yang paling penting untuk diketahui bagi kita semua warga Liya adalah bahwa SKPD Budpar wakatobi mulai tahun 2012 sudah akan mulai mendata dan menganggarkan semua potensi seni budaya di wilayah wakatobi sekaligus memberikan anggaran biaya bagi pembinaan dan atributnya, segera membenahi semua Lembaga Adat di wilayah wakatobi termasuk memberikan pakaian sara lengkap dan mulai tahun 2012 kegiatan Gelar Budaya Liya ke III akan dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi kerja sama dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia.


Pada acara penutup, berhubung karena terlalu banyak permasalahan yang belum tuntas dalam acara diskusi budaya tersebut, maka moderator mengharapkan agar masalah yang belum tuntas dapat diselesaikan melalui beberapa tahapan yang ditindaklanjuti dalam kesimpulan sebagai berikut :
  1. Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi kerja sama dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia dalam waktu dekat mengadakan Loka Karya sehari membahas tentang pembenahan Lembaga Adat, Susunan Sara dan Tokoh Adat Liya dan pembentukan Tim Penasehat Kebudayaan Liya.
  2. Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi kerja sama dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia untuk menyelenggarakan Seminar sehari membahas tentang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Liya.
  3. Diminta kepada Pemerintah Kabupaten Wakatobi cq Dinas Kebudayaan dan Parawisata untuk segera mengusulkan ke Kementerian Kehakiman RI guna mendapatkan hak paten bagi Tarian Honari Mosega, Lariangi Kareke, Posepaa dan Makandara Tamburu Liya.
Demikian sekilas jalannya acara diskusi kebudayaan Liya 2011 yang berlangsung dalam ruang mesjid Al Mubaraq, mesjid Agung Keraton Liya untuk menjadi bahan seperlunya****

PEMOTONGAN HEWAN KURBAN 1432 H SECARA TRADISI LIYA

OLEH : ALI HABIU



Alhamdulillah, pelaksanaan Gelar Budaya Liya Ke II Tahun 2011 dengan salah satu agenda adalah Pemotongan Hewan Kurban secara Adat Tradisi Keraton Liya berjalan cukup khidmad dan sederhana. Agenda ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 7 November 2011 di Keraton Liya yang mana hewan dibawah arak-arakan oleh Tokoh Adat, Tokoh Sara dan masyarakat adat dalam kawasan Benteng Keraton Liya dengan mulai star di dusun Seru dan berakhir di samping mesjid Agung Keraton Liya. 
Adapun jumlah hewan kurban pada idul adha 1432 H tanggal 7 November 2011 sejumlah 4 ekor yang terdiri dari sapi 1 ekor dan 3 ekor kambing. Hewan sapi yang akan dikorban kali ini dimiliki oleh 7 orang yang terdiri dari : L.M. Ali Habiu, La Ode Salagu,SE, Umar Ode Hasani,M.Si, Wa Ode Unga Kolo, Drs. La Ode Rajuddin, Wa Ode Bahuli Haliana, S.Kes. dengan total biaya sapi sebesar Rp.8.400.000,--. Kemudian hewan kambing dimiliki oleh : H.Ali Mazi, SH, Ir. Fahry Yamsul,M.Si dan Dr. La Duwi, SP.An. Total biaya ke empat hewan tersebut adalah sebesar Rp.15.100.000,--











Kelengkapan dalam prosesi adat Liya arak-arakan hewan tersebut ialah Liwo (sesajen) 1 buah, Tamburu 1 buah, Gendang Rabbana 1 set. Liwo setelah sampai di mesjid agung Keraton Liya langsung dibawah kedalam mesjid oleh perwakilan barisan arak-arakan yang terdiri dari kaum perempuan yang berpakaian adat Liya. Kemudian Liwo tersebut diterima oleh Imam Mesjid Agung Keraton Liya yang selanjutnya dibacakan doa-doa khusus bagi semua orang yang akan melaksanakan kurban tersebut. Setelah acara pembacaan doa selesai barulah dimulai prosesi pemotongan hewan secara islami oleh satu orang Sara yang ditugaskan spesial sebagai juru potong dan kemudian dibantu oleh panitia kurban. Adapun tujuan di gelarnya pemotongan hewan kurban secara adat tradisi Liya adalah hanya semata-mata untuk promosi wisata budaya, sebab nilai-nilai tradisi dan adat yang di bawakan dalam gelar tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang dapat dijual kepara wisatawan bail lokal maupun manca negara. ****

Kamis, 10 November 2011

PEGELARAN BUDAYA LIYA KE II TAHUN 2011 DI DUKUNG OLEH DONATUR LUAR WAKATOBI

OLEH : ALI HABIU



Acara akbar Gelar Kebudayaan Liya ke II Tahun 2011 tanggal 7 s/d 8 November 2011 berjalan sukses atas dukungan para donatur di luar wilayah pemerintahan kebupaten wakatobi. Hal ini rada-rada kelihatannya sangat aneh dan banyak dipertanyakan oleh masyarakat wakatobi khususnya wangi-wangi dan Liya mengapa acara-acara konteksi adat dan budaya pemerintah kabupaten wakatobi khususnya Bupati baik secara kelembagaan maupun pribadi tidak ada sama sekali perhatiannya, padahal konteksi ini merupakan iven yang cukup strategis dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat (m) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah adalah termasuk dalam katagori Kewajiban Pemerintahan Daerah Otonom (Pemerintah Daerah kabupaten Wakatobi). Dalam pasal 22 ayat (m) tersebut berbunyi : Dalam Penyelenggaraan Otonomi, Daerah mempunyai Kewajiban ; (m). Melestarikan Nilai Sosial Budaya.  Hal ini menunjukkan bahwa Bupati Hugua masih pilih kasih dalam menjalankan kepemerintahannya dan bukan merupakan rahasia umum jika selama ini yang menjadi prioritas penanganan pelestarian dan pengembangan kebudayaan hanya diberikan kepada daerah asal kelahirannya yakni Tomia tanpa secara adil memperhatikan wilayah-wilayah daerah lain (Binongko, Kaledupa dan Wangi-wangi) yang memiliki potensi nilai sosial budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.  Namun demikian Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi Bapak Drs.Tawakkal mengemukakan bahwa mulai tahun 2012 mendatang acara kegiatan serupa yakni Gelar Kebudayaan Liya ke III Tahin 2012 mendatang sudah akan ditangani oleh SKPDnya karena telah masuk dalam tugas pokok dan fungsi Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi yang tentunnya akan kerja sama dengan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia sebagai lembaga independen perintis dan pelestari kebudayaan Liya. Semoga janji ini bisa merupakan kenyataan tahun 2012 mendatang. Sumbangan Drs. Andi Tawakkal selaku Kepala SKPD Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi adalah pemberian fasilitas shooting selama acara berlangsung untuk bahan dokumentasi, publikasi dan promosi namun sayang hingga saat ini hasil shooting dan dokumentasi yang dijanjikan belum juga kami terima. Untuk itu kami segenap pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia sangat kecewa atas ketidak konsistenan ini.

Acara Gelar Budaya Liya ke II tahun 2011 dihadiri oleh segenap undangan mulai dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi dan 2 kepala bidang yang mendampinginya, Camat Wangi-Wangi Selatan, Kapolsek Wangi-wangi Selatan, Kepala UPTD Dinas Pendidikan Nasional Wangi-Wangi Selatan, Drs. H. La Ode Ali Murni Misa,M.Si  sebagai Ketua Dewan Penasehat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Pusat, Hasan Ndou selaku Ketua Cabang Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Kabupaten Wakatobi beserta jajarannya, La Ode Sahira selaku penasehat Lembaga Adat Kabali Indonesia, Kepala desa Liya Togo, Kepala Desa Liya mawi, para Kepala Dusun Se Liya Togo, Para Tokoh Adat, Tokoh Sejarah, Budayawan dan totoh-tokoh masyarakat Liya dan seluruh masyarakat Liya Raya. Sebelum acara inti dimulai, terlebih dahulu diadakan acara pembukaan oleh panitia kemudian sambutan-sambutan masing-masing oleh Ketua Panitia Bapak Hasan Basri, S.Sos, Ir.L.M. Ali Habiu,AMts.,M.Si Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia dan terakhir Drs. Andi Tawakkal selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi mewakili pemerintah daerah kabupaten wakatobi sekaligus membuka secara resmi acara Gelar Budaya Liya ke II tahun 2011.
 













Walaupun demikian tanpa bantuan pemerintah Kabupaten Wakatobi pelaksanaan Gelar Budaya Liya ke I Tahun 2010 dan ke II Tahun 2011 ini cukup berjalan lancar dan sukses berkat kerja keras tanpa lelah dari segenap pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia baik yang berada di pusat maupun di daerah khususnya di Pengurus Cabang Kabupaten Wakatobi yang dikomandoi oleh Hasan Ndou dan kawan-kawan.

Pelaksanaan Gelar Budaya Liya ke II Tahun 2011 ini jauh lebih sempurna pelaksanaannya jika dibandingkan dengan pelaksanaan Gelar Kebudayaan Liya ke I Tahun 2010 lalu karena sudah didasarkan atas pengalaman pelaksanaan sebelumnya. Kegiatan yang ditampilkan pada acara Gelar Budaya Liya ke II Tahun 2011 berupa : Pemotongan Hewan Kurban Secara Tradisional (adat istiadat) dan diskusi kebudayaan yang pelaksanaannya dirangkaikan bersamaan pada hari Senin tanggal 7 November 2011. Dan Pentas Seni Budaya dengan menampilkan 18 jenis seni budaya tradisional Liya di laksanakan pada hari Selasa tanggal 8 November 2011 mulai jam 09.00 sampai jam 14.00 WIT. Sedangkan penampilan Seni Budaya tahun 2010 lalu hanya sejumlah 8 jenis saja.

Pada acara diskusi kebudayaan pemateri utama adalah : Wa Ode Nurhayati,S.Sos (Anggota DPR RI) dan DR. L.M. Alifuddin Nur (Akademisi) yang mana semua pemateri tersebut berasal dari Keraton Liya dan dimoderatori oleh L.M. Ali Habiu selaku ketua umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia. Pada acara diskusi kebudayaan semua unsur tokoh asal Liya turut hadir termasuk para perwakilan mahasiswa baik dari Kendari maupun kota lainnya di Indonesia.
Adapun para donatur yang berasal dari  luar daerah kabupaten wakatobi turut menyumbang untuk digunakan sebagai biaya operasional sampai suksesnya acara Gelar Budaya Liya ke II Tahun 2011 ini terdiri dari :

  1. H. Ali Mazi, SH selaku Mantan Gubernur Sulawesi Tenggara Priode 2003 s/d 2008, sebesar Rp.5.000.000,--
  2. H. Ir. Asrun,.M.Eng.Sc selaku Wali Kota Kendari, sebesar Rp.5.000.000,--
  3. Ir. Fahry Yamsul, M.Si selaku Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Sulawesi Tenggara (Kegiatan Revitalisasi Benteng Liya 2011), sebesar Rp.5.000.000,--
  4. Wa Ode Nurhayati,S.Sos selaku Anggota Banggar DPR Republik Indonesia, sebesar Rp.1.000.000,--
  5. Salih Hanan,M.Si selaku direktur LSM TNC sebesar Rp.300.000,--
Atas segala partisipasi dan dukungan dana kepada para donatur tersebut, kami dari Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia mengucapkan banyak terima kasih dan semoga Tuhan YME memberikan hidayahnya kepada semuanya.

Sedangkan sumbangan hewan kurban berupa 1 ekor sapi jantan yang terdiri dari 7 orang pengurban antara lain : Ali Habiu, Umar Ode Hasani, La Ode Rajuddin, Wa Ode Unga Kolo, H.La Ode Misa, La Ode Salagu dan wa Ode Bahuli Haliana dengan nilai sebesar Rp.8.400.000,--. Kemudian hewan kurban kambing sebanyak 3 ekor masing-masing senilai Rp.1.700.000,-- disumbang oleh : Ir. Fahry yamsul, H.Ali Mazi,SH dan Dr.La Duwi,SP.An

Sehingga total biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan Gelar Budaya Liya Ke-II Tahun 2011 ini sebesar menghampiri Rp.30.000.000,--
Berdasarkan hasil rapat evaluasi Panitia pelaksana pada malam tanggal 8 November 2011 setelah dihitung semua beban pengeluaran atas kegiatan tersebut ternyata masih memiliki saldo kas sebesar Rp.1.350.000,--. Dari sejumlah saldo kas tersebut akhirnya didistribusikan kepada 10 orang panitia pelaksana yang sangat aktif dan sibuk dalam pelaksanaan iven tersebut sehingga setiap orang mendapat biaya capek antara Rp.100 ribu sampai Rp.150 ribu dan dengan ucapan alhamdulillah panitia pelaksana setelah menerima uang capek tersebut langsung juga dibubarkan secara resmi oleh Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia. Dan sebagai penanggungjawab kegiatan Gelar Budaya Liya Ke II tahun 2011 ini adalah semua jajaran pengurus Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia Cabang wakatobi.****