KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Kamis, 31 Desember 2009

PERJALANAN MELELAHKAN.....SAMBIL MENAWARKAN PROPOSAL KabaLi DENGAN WA ODE NURHAYATI


La Ode Muhammad Ali Habiu, Salah seorang pengurus KabaLi
berpose di Terminal Cengkareng 31 Desember 2009 

Beberapa waktu lalu, salah seorang pendiri utama KabaLi mendapatkan perintah dari atasannya dia bekerja dalam suatu Instansi Pemerintah di Sulawesi Tenggara untuk mengurus Dana Loan IBRD 4744 IND pada Departemen Keuangan Republik Indonesia yang masih tertinggal sebesar Rp.1,42 Milayar. Dalam perjalanan menggunakan pesawat Lion Air  hari Minggu tanggal 27 Desember 2009 Siang, berangkat dari Airt Port Woltermonginsidi Kendari tepat Jam 10,45 WIT dan Singgah transit di Makassar jam 11.30 WIT. Dalam boarding penumpang asal Makassar naik pesawat ini dengan tujuan menuju Jakarta tak disangka La Ode Muhammad Ali Habiu melihat Wa Ode Nurhayati ikut juga menumpang pesawat Lion Air ini dari Makassar dengan tujuan Jakarta bersama dengan satu orang anak semata wayang perempuan kira-kira berusia 3,5 tahun dan ditemani oleh asisten pribadi seorang cewek putri asal Kendari cukup cantik dengan pakaian muslimah berjilbat warna putih. Ditengah perjalanan, La Ode Muhammad Ali habiu ingin pipis dan beranjak dari tempat duduknya di nomor kursi 3D menuju toilet bagian belakang pesawat tersebut. Lantas pada sit dari 3 bagian akhir sebelah kiri dari belakang dilihatnya Wa Ode Nurhayati sedang setengah-setengah ngantuk sambil menggendong anak semata wayangnnya itu dan langsung La Ode Muhammad Ali Habiu menegur dan  menunjuk sebagai     tanda seru " Benarkah ini bernama   Wa Ode Nurhayati...." diapun menjawab : benar"... Lalu La Ode Muhammad Ali Habiu memperkenalkan dirinya sebagai salah seorang pengurus Lembaga Forum Komunikasi KabaLi di Kendari dan juga menyatakan dia adalah asli dari asal Desa Liya Togo dan masih kerabat dekat La Ode Nurdin. La Ode Nurdin ini adalah merupakan pengganti Ayahandanya ketika dia melangsungkan akad nikah di Irian Barat beberapa waktu lalu. Diapun menyambut dengan baik, lalu La Ode Muhammad Ali Habiu mengatakan bahwa minggu lalu Ibu di tunggu-tunggu oleh La Ode Marsidi di Kendari katanya Ibu mau singgah dirumahnya.., Diapun mengatakan bahwa tidak sempat lagi kerumahnya sebab di Kendari padat urusannya dan cuma satu hari saja. Dia ada bebeberapa hari tinggal di Makassar setelah kunjungan di Kendari tersebut dalam rangka urusan Partai Amanah Nasional. Setelah itu, La Ode Muhammad Ali Habiu menyampaikan maksudnya yakni ingin mengharapkan agar dapat mengambil usulan Proposal KabaLi sekaligus dapat membantunya berupa permintaan biaya untuk pengadaan seperangkat peralatan peragaan seni budaya dan musik senilai sekitar Rp.174 juta. Dan diapun menyambutnya dengan baik sambil mengatakan Proposal langsung kirimknan ke Kantornya di Senayan, yakni Alamat :  WA ODE NURHAYATI, ANGGOTA FRAKSI PAN DPR RI, D/A. GEDUNG NUSANTARA SATU LANTAI 19 RUANGAN 1932, JALAN GATOT SUBROTO, SENAYAN JAKARTA PUSAT.


 Lebih Dekat Mengenal Air Port Sokarno-Hatta
(Cengkareng). La Ode Muhammad Ali Habiu Pernah
Menjadi Site Manager Terminal C Pada Saat Dibangun
Terminal Baru Air Port Soekarno-Hatta Pada Tahun 1988
s/d 1990 bekerja di Perusahaan milik Tommy Soeharto yakni
PT. Panca Perkasa Inti Konstruksi konsorsium dengan SSC-Francis



 Berpose sendiri dengan menjapret kamena Nikon Digital A-480
Di Atas Pesawat Batavia Air Lines Dalam Penerbangan Dari
Jakarta menuju Kendari 31 Januari 2009

 
 Salah Satu Pose di Dalam Terminal Hasanuddin Makassar
Pada Saat Transit Menuju Kendari 31 Desember 2009
Sudah Agak Legah, Mengingat Wa Ode Nurhayati Sebagai
Salah satu Anggota DPR RI Utusan Partai Amanah Nasional
Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara Sudah Mengetahui
Adanya Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Kendari


Proposal ini nantinya setelah sudah dia terima dan mempelajarinya, maka akan meneruskan kepada pihak-pihak terkait guna dapat dibiayai sanggar KabaLi.  Diapun merasa senang sekali mendengar ada Organisasi Kemasyarakatan Lembaga Forum Komunikasi KabaLi ini di Kendari, apalagi dia sudah sedikit-banyaknya mengetahui bahwa  Forkom-KabaLi ini bertujuan untuk mendidik seni dan budaya bagi generasi muda putra putri asal masyarakat dari desa Liya yang bermukim di Kendari dan dia akan usahakan menghubungi pihak-pihak terkait guna mendapatkan dana untuk keperluan sanggar kabaLi di Kendari. Alhamdulillah, semua ini bisa terjadi berkat rahmat Tuhan YME dan semangat para pengurus Forkom KabaLi di Kendari. Mudah-mudahan semua ini bisa mendapat restu dari Allah SWT sehingga diharapkan dalam waktu dekat ini KabaLi Kendari sudah bisa mendapat kan santunan dana sehingga dapat segera di bentuk sanggar KabaLi dengan segala fasilitas yang dimilikinya. Semoga Barakatinta Togo Liya dan Labaluluwu, Peropa, Dete dan Katapi senantiasa menyertai kerabat Wa Ode Nurhayati sebagai Anggota DPR Ri yang kita banggakan sehingga dapat sukses sesalu dalam menjalani tugas-tugas yang diembannya khususnya untuk kebangkitan masyarakat Liya di Sulawesi Tenggara dan umumnya untuk kebangkitan seluruh masyarakat Indonesia. amien

Sabtu, 19 Desember 2009

BEBERAPA FOSE PARA PENDIRI KabaLi SAAT MENGADAKAN PEMBAHASAN ORGANISASI


Inilah wajah-wajah para pemrakarsa dan pendiri Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (Forkom-KabaLi) Kendari. Nama-nama pendiri mulai dari kanan adalah putra asli asal Desa Liya Kecamatan Wangi-Wangi yang terdiri dari : Umar Ode Hasani,SP.,M.Si; Drs. La Ode Haruku; Ir.La Ode Muhammad Ali Habiu,AMts.,M.Si; Drs. H. La Ode Bahrum Sulaiman; La Ode Marsidi; La Ode Ali Kalau,B.Sc; La Ode Salagu,SE dan La Ode Ali Ahmadi,S.Sas.

 
Nampak dalam gambar dua orang Pendiri KabaLi yakni dibelakang
adalah : Ir.La Ode Muhammad Ali Habiu,AMts,.M.Si dan 
didepan  La Ode Haruku sedang serius membahas agenda 
untuk mencetak Almanak KabaLi. La Ode Haruku 
sedang utak atik nomor Hand Phone kerabat di Makassar 
yang akan menangani pencetakan Almanak KabaLi Tahun 2010


Para pendiri KabaLi sedang diskusikan program Proposal
untuk pencarian dana guna kelengkapan sarana Sanggar KabaLi.
Dalam gambar nampak dari kiri ke kanan : La Ode Marsidi;
Drs.H.La Ode Bahrum Sulaiman; La Ode Salagu,SE dan Laode Ali Kalau,B.Sc


Inilah Figur Pemrakarsa Utama Dibentuknya Lembaga Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (Forkom-KabaLi) Kendari, yakni dari kanan kekiri : 
Ir. La Ode Muhammad Ali Habiu,AMts.,M.Si ; La Ode Marsidi

 
Salah Seorang Pendiri Utama Forkom KabaLi ini 
Pernah Aktif Melanglang Buana Pada Beberapa Organisasi
Ormas maupun Orsimasinal, Diantaranya : Anggota Satgas Brigade Pemuda Pusat Pelopor Penerus Kemerdekaan Bangsa Indonesia (PPKBI),
Anggota Bidang Sosbud Dewan Pimpinan Pusat Kariawan
Antar Rakyat Indonesia, Ketua Bidang Pengembangan
Wirausaha DPD Golongan Karya Sulawesi Tenggara,
Sekretaris Umum DPD Pelopon Penerus Kemerdekaan Bangsa
Indonesia Sulawesi Tenggara, Sekretaris Jenderal Pengurus 
Besar Kerukunan Keluarga Indonesia Buton Makassar,
Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Talo-Talo Makassar.


Mereka para Pendiri KabaLi berprinsip dan berpandangan bahwa kini sudah tiba saatnya yang dinantikan oleh segenap komunitas masyarakat Liya dimanapun saja mereka berada  untuk diadakan reformasi sosial, politik, kemasyarakatan dan budaya. Reformasi semacam ini amat diperlukan guna memacu ketertinggalan ethnis Liya selama ini dikancah persaingan global antar ethnis di Indonesia sehingga perlu ada suatu wadah yang bisa menampung berbagai aspirasi sekaligus sebagai sarana pendidikan sosial, budaya, kemasyarakatan dan politik. Oleh karena itu para penggagas KabaLi kini membentuk suatu wadah yang bisa menampung aspirasi komunitas masyarakat Liya diperantauan  khususnya yang berada di Kendari sebagai suatu wilayah daerah yang paling strategis dan sangat dekat dengan Wangi-Wangi dan wadah itu kini sudah terbentuk dengan nama Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (Forkom KabaLi) Kendari.
Mereka berjuang semata-mata didasari oleh jiwa dan semangat para leluhurnya dari asal  keturunannya yang berasal dari pulau Buton dengan memegang teguh falsafah yakni : Bolimo a'arta somanamo karo, bolimo karo somanamo lipu dan bolimo lipu somanamo agama. Dengan demikian lembaga ini dibangun atas dasar hati nurani para pendirinya yang menginginkan segera ada perubahan komunikasi sosial di antara sesama warga liya dimanapun berada sehingga dapat saling membantu disaat kesulitan, saling mengangkat disaat diperlukan dan saling menghormati dalam suatu sistem adat istiadat " Topogau Satotono"

Jumat, 18 Desember 2009

BERBAGAI AKTIVITAS SEKRETARIAT KabaLi


Spanduk KabaLi Kepada Hari Ulang Tahun Kabupaten Wakatobi Ke-VI
Tema : "Topogau Satotono"



Spanduk Sanggar KabaLi Kendari
Tema : "Topogau Satotono"

Topogau Satotono...
Tema ini merupakan simbol budaya KabaLi untuk mengajak kepada siapapun para calon pemimpin yang akan memerintah Wangi-Wangi atau Kabupaten Wakatobi mulai tahun 2011 mendatang agar senantiasa dapat memelihara lidahnya. Lidah itu tak bertulang, dia bisa bergerak mengiringi suara manusia sesuai dengan maksud apa yang akan dia ucapkan. Ucapan yang baik bagi seorang pemimpin adalah apabila dia telah mengeluarkan ucapannya melalui gerakan lidah yang tak bertulang itu, maka  ucapan-ucapan itu diharapkan dapat senantiasa konsekuen. Artinya dia harus dapat membuktikan dan menjalankan ucapannya itu kepada masyarakat..., kepada rakyat tanpa ragu-ragu, dan/atau tanpa lagi memputarbalikkan antara fakta ucapan dengan tingkah laku perbuatan. Saat ini amat banyak pemimpin yang edan, dalam artian bahwa ketika calon-calon seorang pemimpin tersebut berkeinginan untuk mendapatkan atau merebut sesuatu jabatan, maka dia akan mengeluarkan seribu kata uberan janji-janji palsu. Dan pada akhirnya ketika calon pemimpin tersebut telah dipilih oleh rakyat, dipercayakan oleh rakyat untuk memegang amanah kedaulatan, maka ternyata semua obralan-obralan kata-kata yang pernah dia keluarkan atau dia janjikan tidak pernah satupun dia mampu wujudkan dan realisasikan kepada rakyat yang telah memilihnya. Pemimpin-peminpin macam ini adalah pemimpin yang homo-ekonomikus, dalam artian bahwa segala sesuatu sepak terjang, cita-cita, maksud, tujuan dan keinginannya calon pemimpin tersebut semata-mata  hanya berorientasi dengan "uang" bukan moral, etika dan hati nurani. Semua rakyat, semua masyarakat Liya sangat mendanbakan seorang pemimpin yang bisa membangun, yang bisa membangkitkan ekonomi rakyat melalui sentuhan sektor reel, yang bisa mengangkat harkat dan martabat golongan papah, yang secara adil dan bijaksana memperdulikan pada mereka yang mendapat kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Mana pemimpin itu..., mana jiwa itu..., mana saudara/saudari itu...., mana manusia itu...!?. KabaLi akan mendorong calon-calon pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk membangun, juga memiliki keteladanan dalam sikap dan tingkah laku sosialnya serta rendah hati. Maka dari itu KabaLi akan menopang sepenuhnya bagi siapa saja yang bisa memegang amanah "Topogau Satotono"....
Maka dari itu : biarlah bukan harta asal badanku.., biarlah bukan badanku asalkan negeriku...,dan biarlah bukan negeriku asalkan mampu kupertahankan agamaku.... "Topogau Satotono"....

Rabu, 16 Desember 2009

MASYARAKAT LIYA PEDULI UNTUK MELESTARIKAN TERUMBU KARANG DI WILAYAH PERAIRAN WANGI-WANGI

Terumbu karang merupakan eko-sistem yang sangat penting dan bernilai tinggi bagi suatu daerah. Karena secara ekologis memiliki produktivitas hayati yang dominan karena adanya daur ulang zat hara yang sangat efisien terjadi dalam system tersebut melalui interaksi yang harmonis antara polyp karang dengan alga zooxanthtella. Secara ekonomis terumbu karang dikenal sebgai habitat untuk berbagai jenis ikan karang yang bernilai niaga tinggi dan sebagai komuditas eksport. Misalnya seperti ikan merah, kerapu serta napoleon dan lain-lain. Dilain pihak jika ditinjau secara estetika terumbu karang memiliki cirri fisik yang indah sekali dipandang mata dengan warna-warni yang menyolok serta dapat menjadi suatu obyek wisata bawa air yang teramat indah dan bernilai tinggi.


Jenis Karang di Perairan Wangi Wangi


Jenis Karang di Perairan Wang Wangi


Jenis Karang di Perairan Wangi Wangi


Jenis Karang di Perairan Wangi Wangi
Terumbu karang memiliki keunikan diantara asosiasi habitatnya atau komunitas lautan yang selluruhnya dibentuk oleh aktivitas biologis. Terumbu karang ialah terdiri dari endapan-endapan massif yang terpenting dari unsur kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan terutama oleh polyp karang atau filum cnidaria, class antozoa, ordo madreporaria dan sclera tina, dengan seikit tambahan dari alga berkapurdan organism lainnnya yag mengeluarkan CaCO3.
Tata letak terumbu karang ini adalah dekat dengan dasar laut meskipun letaknya diwilayah laut dangkal sehingga proses pelapukannya sangat memungkinkan akibat dari pengaruh erbagai aktivitas manusia yang mendiami sepanjang pesisisr pantai sebagai ndampak dari lemahnya sistim masyarakat dan pemerintah untuk melindungi atau menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang ini hingga saat ini dianggap masih kurang. Hal ini dapat dinilai masih tingginya aktivitas masyarakat secara langsung mapun tidak langsung disepanjang pesisir pantai maupun diwilayah laiut pedalaman yang dapat merusak ekosistem terumbu karang, seperti pemboman ikan secara spasial, penggunaan obat sianida.
Kerusakan terumbu karang di wilayah Indonesia sudah dianggap cukup parah dengan kerusakan di atas 70% (Hopley dan Suharsono dalam Winarni D.Monoarfa). Kerusakan terumbu karang di wilayah perairan Wangi-Wangi sudah dianggap pada ambang kerusakan cukup parah. Kondisi ini sudah terjadi sejak wilayah Wangi-Wangi masih masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Buton tahun 2003 silam membuat Bupati Syafei Kahar ketika itu sempat kebakaran janggot dan memerintahkan jajarannya untuk buat pos komando pengaduan masyarakat tentang pelaporan kerusakan lingkungan terumbu karang.
Intensitas pemboman ikan di wilayah Wangi-Wangi sudah di mulai secara intensif sejak tahun 1979 lalu dengan bahan-bahan peledak diperoleh dari kapal-kapal para saudagar kaya asal negeri ini yang datang dari negeri jiram Malaysia dan Singapura. Walaupun demikian itu sesngguhnya pemboman ikan dalam komunitas masyarakat Wangi-wangi sejak dahulu kala sudah ada namun masih dalam intensitas terbatas dan menggunakan bahan-bahan peledak terbatas pula.
Secara nasional sampai sekarang usaha rehabilitasi kawasan terumbu karang yang telah mengalami kerusakan masih sangat kurang. Sebagai salah satu cara yang bisa dilakukan untuk rehabilitasi terumbu karang adalah dengan mengadakan tranplantasi karang dewasa (Fox et.all dalam Winarni D.Monoarfa ,2000). Meskipun usaha ini dinilai bisa dilakukan, namun adanya pertimbangan luas areal karang yang rusak, maka akan berdampak. Namun sebaliknya bila upaya itu dilakukan justru akan merusak karang dewasa. Apalagi tingkat kelangsungan hidup karang dari usaha transplatansi itu masih rendah. Untuk itu masih diperlukan penelitian-penelitian secara terus menerus guna mendapatkan suatu teknologi yang tepat dalam upaya rehabilitasi terumbu karang yang telah rusak.
Berdasarkan hasil study, di kawasan timur Indonesia mempunyai keragaman jenis karang dengan berpotensi terbesar di dunia. Keragaman jenis ini juga menggambarkan keragaman bentuk atau morfologi karang pembentuk terumbu (Winarni D.Monoarfa et.all, 2002). Khusus untuk daerah perairan Wangi-Wangi saat ini terkenal di dunia dengan wilayah penyelaman terindah di dunia dimana memiliki cirri khas karang lunaknya lebih nenajubkan ketimbang kepulau Fiji di Hawai yang terkenal itu. Di dalam lautan wilayah perairan Wangi-Wangi terdapat 350 jenis species ikan di antaranya terdapat 32 jenis ikan butterfly.
Oleh karena itu mengingat potensi terumbu karang ini begitu besar manfaatnya dalam pengembangan parawisata di Wilayah Wangi-Wangi maka sudah sepantasnya Pemerintah Daerah harus semakin aktif dan tanggap dalam mengawasi penrusak-penrusak terumbu karang di wilayah kerjanya, dengan melibatkan suatu kekuatan sosial budaya era baru yakni Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya (Forkom-KabaLi) untuk  diberi peran mengambil bagian dalam mengakses potensi massanya agar potensi sumber hayati alam dibawah laut perairan Wangi-Wangi dapat dikelolah dengan baik agar bermanfaat ekonomis bagi kehidupan masyarakat di daerah ini***

Selasa, 08 Desember 2009

GAMBAR GAMBAR PENINGGALAN BUDAYA BENTENG KERATON LIYA


Mesjid Agung Keraton Liya
Mesjid ini diperlukan sentuhan budaya agar artifisial arsitektur kembali pada aslinya kondisi aslinya sebagaimana peradaban pada zamannya


Benteng pembatas kompleks Mesjid Agung Keraton Buton 
Benteng ini merupakan pagar pembatas lingkungan Mesjid Agung Keraton Liya dengan Lapangan tempat pertemuan adar dan budaya Liya, masih diperlukan sentuhan untuk reintatement


Lawa Laro Togo atau Pintu Masuk Pusat Kampung 
Pintu masuk ini merupakan salah satu pintu gerbang benteng keraton liya yang seluruhnya terdapat sebanyak 12 buah ditambah 1 buah pintu rahasia yang keseluruhannya masih diperlukan sentuhan para arkiologis guna merenovasi dan meningkatkan kembali kondisinya sesuai aslinya dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya Liya


Baliara atau tempat peristirahatan Raja Liya
Baliara ini kurang lebih setinggi 3 m dengan luas juga kurang lebih 12 m x 12 m yang dahulu kala digunakan sebagai tempat pertemuan khusus para raja-raja di wilayah kerajaan buton yang saat ini pada kondisi mengenaskan. Diperlukan sentuhan arsitektur kotenporer untuk mengembalikan kondisinya sesuai aslinya.




Batanga atau tempat perkumpulan para Sa'ra atau tokoh adat Liya
Semula bangunan ini sebetulnya tidak disini tempatnya namun dia pada umumnya dibangun dan ditempatkan pada hampir semua dusun atau desa sehingga dalam pengembangan kedepan kompleks Keraton Liya sebaiknya banguan batanga ini ditiadakan saja.


Pepohonan dengan latar pagar benteng pembatas lapangan dengan kompleks pekuburan Raja-Raja Liya
Diperlukan sentuhan seni budaya untuk mengembalikan kondisi asli pagar benteng pembatas ini sehingga akan nampak sesuai dengan aslinya dikemudian hari


Pusat Bumi Tembuk Ka'bah Baithullah
Pusat bumi ini tepatnya terdapat sekitar 40 depa dibelakang Mesjid Agung Keraton Liya yang sejak tahun 1860 keghaiban lubang ini telah sirna di ambil kembali oleh sang khalik akibat dari para Sa'ra dan Raja Liya sudah tidak memeliharanya secara spritual dengan baik yang dibuktikan dengan sikap dan prilaku para manusianya yang sudah mulai kejam dan tidak rendah hati.



Himbauan KabaLi dan Profil Forkom-KabaLi

Kepada semua potensi sosial budaya masyarakat Liya di perantauan..., mari bergabunglah bersama ForKom- KabaLi guna kita dapat saling mempersatukan tali silaturrahim antar sesama warga sambil mengembangkan budaya dan adat istiadat kita.


Arti Lambang Forkom-KabaLi




  1. Makna Tulisan
·      KabaLI Merupakan Akronim yang berarti Keluarga Besar Liya
·      KabaLI dalam bahasa LIYA Wakatobi berarti Parang.
·      Simbol Parang di artikan sebagai berikut:
Parang merupakan Peralatan Rumah Tangga yang hampir seluruh masyarakat kita di Nusantara memilikinya. Parang dimaksudkan sebagai alat praktis yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Fungsi praktis dari parang inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai simbol KabaLI yang memang jika ditelusuri lebih dalam bahwa  Kehidupan dan Karakter dari Masyarakat Liya dalam aktifitas kesehariannya terikat dan mengandalkan pada sebuah Parang yang tajam sebagai suatu kelengkapan Hidup dimana penggunaannya disesuaikan pada kebutuhan, baik untuk berkebun, mencari ikan (nelayan), menebas rumput untuk membangun rumah, memotong ikan, mencari kayu bakar dan lain sebagainya. Dalam arti luas bahwa Parang/Kabali adalah  simbol Daya tahan hidup, mandiri, cerdas dan tajam karena akan selalu di asah, dan Parang atau Kabali memaknai sebuah Simbol Kebersahajaan, Keberanian dan Jiwa Kegotong Royongan yang di miliki oleh Mayarakat Liya Wakatobi.

  1. Arti Warna
·     Merah bergaris Hitam Pada kalimat KabaLI berarti Keberanian yang terbungkus Keagungan manusia, adat, seni dan budaya Liya yang harus tetap dilestarikan,
·     Warna Biru pada hulu parang berarti kebebasan dan kebersahajaan masyarakat Liya yang selalu tergenggam pada persatuan dan kesatuan, demokrasi dan kegotong royongan.
·    Warna Hitam Keseluruhan adalah simbol Kepercayaan dan ghoib atas Imam dan Iman Islam masyarakat Liya Kepada Alam, Leluhur dan Allah SWT.


1.     PENDAHULUAN
Kabupaten Wakatobi merupakan Kabupaten Definitif berdasakan Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2003, tanggal 7 Januari 2004. Pulau Wakatobi atau didalam peta dunia lebih dikenal sebagai Pulau Tukang Besi adalah gugusan pulau – pulau karang yang bersatu padu dan akronim dari pulau utama yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.
Kabupaten Wakatobi terletak di ujung Tenggara Pulau Sulawesi yang lebih tepatnya dibahagian Tenggara pulau Buton. dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :
-  sebelah Utara berbatasan dengan Laut Banda
-   sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
-   sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
-   sebelah Barat berbatasan dengan Pulau Buton
Wilayah Kabupaten Wakatobi memanjang dari Utara ke Selatan berada pada posisi lintang antara 5,150 sampai 06.100 LS (sepanjang ± 160 km) dan membentang dari Barat ke Timur pada posisi bujur antara 123,300  samapai 124,150  BT (sepanjang ± 120 km). Secara administratif Kabupaten Wakatobi terbagi dalam 7 (tujuh) Kecamatan, 16 Kelurahan dan 48 Desa.
Wilayah Liya berada pada Pulau Wangi-Wangi.
Karakter masyarakat Liya yang tegas dan inovatif adalah dasar mengapa mereka pandai berdiplomasi, mampu bertahan hidup dan berkeinginan untuk Maju. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya masyarakat Liya yang bertahan hidup di perantauan dan tersebar di seluruh jagat Nusantara meski dalam jumlah yang terbatas.
Dahulu, sudah menjadi karakter masyarakat Liya jika berada di perantauan untuk selalu membawa dan menerapkan adat dan tradisi Liya. Kebiasaan ini merupakan  syarat dan merasa berdosa jika tidak dilaksanakan. Batasan dan contoh kasus ini dapat disaksikan pada pertemuan seremonial masyarakat Liya, pada pelaksanaan  Perkawinan, Sunatan, membangun rumah, manasik haji dan acara lain sebagainya. Sedapat mungkin mereka (masyarakat Liya), berusaha untuk menampilkan beragam atraksi seni dan budaya sebagai sebuah identitas lokal dan alat komunikasi untuk mempererat Tali Sulaturahim dan berinteraksi baik di kalangan komunitas Liya itu sendiri maupun Masyarakat lain di perantauan. Kini kebiasaan positif tersebut sangat langka untuk kita saksikan bersama.
Fenomena memprihatinkan di atas sangat menyentuh nurani  para Intelektual Muda Asal Liya yang berada di Kota Kendari, selanjutnya mereka bertekat untuk segera berbuat guna membangkitkan kembali semangat kebersamaan, sepenanggungan, satu rasa dan saling membantu sesamanya, yang terikat pada bingkai adat dan tradisi Liya yang mulia, yang memang kini telah mulai pudar oleh jaman, khususnya di daerah perantauan.
Dasar inilah sehingga lahir lembaga alternatif  yang diberi nama Forum Komunikasi  Keluarga Besar Liya yang di singkat menjadi FORKOM KABALI dan diharapkan lembaga ini dalam prosesnya dapat menjadi wadah interaksi sosial dan Pelestari nilai adat dan tradisi masyarakat Liya khususnya di Perantauan.
2.     PROFIL LEMBAGA
A.  Nama dan Pendirian
Lembaga ini bernama; FORKOM KABALI, merupakan akronim dari Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya, dan Resmi didirikan pada tanggal,  06 Desember 2009 di Kota Kendari – Provinsi Sulawesi Tenggara. Didirikan melalui Akta Notaris Nomor : 09 Tahun 2009, Tanggal 8 Desember 2009 dengan Notaris Rayan Riadi,SH.,M.Kn Kendari.
B.  Alamat Sekretariat
Sekretariat Forkom Kabali beralamat di Jl. Balaikota/Lorong Rembis No. 7 Kelurahan Mandonga Kecamatan Mandonga Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Kode Pos 93111, No Telp. 0401-3000051/0401-3022215                
HP. 081341669909,081241000080,08134164330,085241567302
email :forkomkabali@gmail.com
URL:http://www.forkomkabali.blogspot.com
Tarian KabaLi     
C. Tujuan dan Fungsi
FORKOM KABALI adalah Organisasi Non Pemerintah dan Bergerak di Bidang Kemanusian,  Sosial dan Budaya yang memiliki 5 (lima) tujuan dan fungsi Utama yakni:
1.  Mengikat dan mengeratkan tali persaudaraan komunitas Liya keseluruhan, secara khusus di perantauan,
2.  Promosi dalam proses membangun Citra Positif dan Identitas Lokal masyarakat Liya secara umum
3. Menjadi konsultan penghubung dalam rangka interaksi kekerabatan dan penyelesaian masalah-masalah sosial yang di hadapi,
4.   Melestarikan Nilai Budaya, Adat dan Tradisi Liya,
5. Membantu Pemerintah Daerah dalam rangka Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata,
D. Keanggotaan
Anggota FORKOM KABALI adalah Seluruh Komunitas Liya perantauan di Kota Kendari ditambah anggota lain sebagai Partisipasipan.
E. Rutinitas/Pertemuan Anggota
Pertemuan Anggota dilaksanakan minimal 1 (satu) kali setiap bulan di tempat/lokasi yang telah di sepakati.
F. Pengelolaan Keuangan
Keuangan Lembaga terdiri dari ;
-       Iuran Wajib Anggota =Rp. 20.000,- /bulan/Anggota,
-       Iuran Konsumsi         =Rp.   5.000,- /bulan/Anggota,
-       Total Jumlah             Rp. 25.000,- /bulan/Anggota
                                 (Duapuluh Limaribu Rupiah)
-    Iuran Wajib Anggota merupakan dana kas/kekayaan lembaga yang dihimpun dan selanjutnya dimanfaatkan untuk kepentingan FORKOM KABALI, berdasarkan kesepakatan Anggota dan dilaporkan setiap 1 (satu) kali pertemuan setiap bulannya,
-   Iuran Konsumsi di manfaatkan untuk Konsumsi Anggota setiap kali pertemuan anggota di laksanakan.
-    FORKOM KABALI mengusahakan dan menerima Donatur yang sah dan halal dari siapapun, selama masih dianggap wajar dan tidak mengganggu citra luhur lembaga,
-   Sumber dana yang diusahakan dan di terima dari donatur merupakan kekayaan lembaga dan masuk ke rekening Kas lembaga yang dipergunakan sesuai peruntukannya.
-       Pengelola keuangan Lembaga adalah Bendahara, dan Pengelolaannya wajibi ketahui oleh Ketua Forkom KABALI, dan peruntukannya disepakati oleh Anggota.
G. Struktur Kelembagaan
Struktur lembaga FORKOM  KABALI terdiri dari:
1.  Dewan Pendiri:
-       Ir. LM. ALI HABIU AMts, M.Si
-       LA ODE MARSIDI. L
-       CHAERUDDIN S.
-       LA ODE BAHRUM SULAIMAN, SE
-       UMAR ODE HASANI, S.P, M.Si
-       SALAGU, SE
-       LA ODE ALI KALAO
-       LA ODE ALI AHMADI, SS
2.  Dewan Pelindung yakni;
-          Gubernur Sulawesi Tenggara;
-          Bupati WAKATOBI
-          KEKAR LIYA Kota Kendari
-          Tokoh Masyarakat Liya di Kendari
3.   Dewan Penasehat
4.   Ketua
5.   Sekretaris
6.   Wakil Sekretaris
7.   Bendahara
8.   Devisi HUMAS di tambah 5 (lima) orang merangkap anggota
9.   Devisi Pelestarian Seni-Budaya, Adat dan Tradisi di tambah 5 (lima)     orang merangkap anggota.      
      3. PENUTUP
        Demikian ABSTRAK dari FORKOM KABALI ini di buat, Semoga Allah SWT       meridhoi   niat dan langkah baik kita semua.
Amin ya Allah.      
Kendari, 06 Desember 2009    
DEWAN PENDIRI
FORKOM KABALI  
1
 

Senin, 07 Desember 2009

KINI TIBA SAATNYA ERA KEBANGKITAN MASYARAKAT LIYA DI PERANTAUAN


 OLEH : ALI HABIU


Pada hari Minggu tanggal 6 Desember 2009 tepat jam 11.00 telah didirikan suatu organisasi sosial yang bakal bercitra besar bernama FORUM KOMUNIKASI KELUARGA BESAR LIYA atau disingkat FORKOM-KABALI. Organisasi sosial ini dipimpin oleh kalangan muda asal putra liya yang cukup berpengalaman dan memiliki jam terbang diberbagai organisasi baik sosial maupun politik sehingga dengan kepengurusan ditangan mereka diharapkan dalam waktu dekat dapat dikembangkan organisasi tersebut ke berbagai tingkat lapisan masyarakat liya utamanya yang berada diperantauan.

Pantai Pulau Oroho Liya

Pantai Bira Liya

Keluarga besar liya berada tepatnya di Desa Liya sekitar 9 kilometer arah timur kota Wanci Ibu Kota Kabupaten Wakatobi yang merupakan Kabupaten Definitif berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003, tanggal 7 Januari 2004. Pulau Wakatobi atau didalam peta dunia lebih dikenal sebagai pulau Tukang Besi adalah gugusan pulau-pulau karang yang bersatu dan skronim dari nama pulau yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.
Kabupaten Wakatobi terletak di ujung tenggara pulau Sulawesi yang lebih tepatnya dibahagian tenggara pulau Buton, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan laut Banda
- Sebelan selatan berbatasan dengan laut Flores
- Sebelah timur berbatasan dengan laut Banda
- Sebelah barat berbatasan dengan pulau Buton
 Tari Lariangi Model Liya

Wilayah kabupaten Wakatobi memanjang dari utara ke selatan dan berada pada posisi lintang antara 5,15 sampai 06,10 derajat dan membentang dari barat ke timur pada posisi antara 123,30 sampai 124,15 derajat. Secara administrasi pulau Wangi-Wangi merupakan bagian dari kabupaten Wakatobi dengan memiliki 3 kecamatan dan 18 desa.
Wilayah Liya berada pada kecamatan wangi-wangi selatan. Karakter masyarakat liya yang tegas dan inovatif adalah merupakan dasar mengapa pandai berdiplomasi, mampu bertahan hidup dan berkeinginan untuk maju. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya masyarakat Liya yang bertahan hidup dan berkembang di perantauan yang saat ini telah tersebar diseluruh penjuru Nusantara meski dalam jumlah yang terbatas.
Dahulu, sudah menjadi karakter masyarakat Liya jika berada diperantauan untuk selelu membawa dan menerapkan adat dan tradisi Liya. Kebiasaan ini memerlukan syarat dan merasa berdosa jika tidak melaksanakannya. Batasan dari contoh kasus ini dapat dibuktikan pada pertemuan seremonial masyarakat Liya, pada pelaksanaan perkawinan, sunatan, membangun rumah, manasik haji, sunatan, pingitan dan lain sebagainya. Sedapat mungkin masyarakat Liya berusaha untuk menampilkan beragam atraksi seni dan budaya sebagai sebuah identitas lokal dan alat komunikasi untuk mempererat Tali Silaturahim dan berinteraksi, baik dikalangan komunitas Liya itu sendiri maupun masyarakat lain diperantauan. Kini kebiasaan positif tersebut sangat langka dijumpai saat ini.

Fenomena memperihatinkan di atas sangat menyentuh hati nurani para intelektual muda asal Liya yang berada di Kota Kendari, selanjutnya mereka bertekad untuk segera berbuat sesuatu guna membangkitkan kembali semangat kebersamaan, sepenanggungan, satu rasa, saling asih dan saling membantu sesamanya, yang terkait dalam lingkungan bingkai adat dan tradisi Liya yang mulai itu yang saat ini sudah mulai pudar ditelan oleh keganasan zaman khususnya yang terjadi di daerah perantauan.
Dengan berdasarkan peikiran inilah kini telah lahir lembaga yang diberi nama FORUM KOMUNIKASI KELUARGA BESAR LIYA disingkat FORKOM-KABALI yang kemudian diharapkan bahwa melalui wadah lembaga ini dapat menjadi wadah interaksi sosial kemasyarakatan dan pelestari nilai budaya dan tradisi adat istiadat masyarakat liya utamanya bagi mereka yang berada diperantauan... SELAMAT YAHHH"...****