OLEH : ALI HABIU
A.
PEMAHAMAN KONSEPTUAL
Postulat
secara hipotesis bahwa dengan telah diketemukannya situs LINGGA dan YONI dalam
lingkungan Benteng Keraton Liya Wangi-Wangi maka dapat dipremis bahwa Kerajaan
Liya Wangi-Wangi dahulu kala masih menganut ajaran Hindu, sekalipun
kemungkinannya manusianya sudah menganut faham islam tetapi belum islami atau
dengan kata lain belum menegakkan ajaran islam yang benar sesuai tuntunan Nabi
Muhammad SAW. Jika benar Mahisa Cempaka adalah Raja Liya Kelima mulai tahun
1252 Masehi maka hipotesis ini sementara dapat diterima walaupun tentu secara
ilmiah diperlukan pembuktian empiris dan konsepsional di lapangan. Oleh karena
itu premis boleh jadi LIYA-WangiWangi ada hubungan budaya dengan LIYA-Bali.
Menurut
pemahaman kebudayaan Bali; LIYA adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. LIYA berarti lina
aksara yakni memasukkan dan mengeluarkan
kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu. Kekuatan aksara ini
disebut panca geni aksara, siapapun manusia yang mempelajari kerohanian metode apapun apabila mencapai puncaknya dia pasti
akan mengeluarkan cahaya ( aura). Cahaya ini bisa keluar melalui lima pintu
indra tubuh , telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.
Pada
prinsipnya ilmu trickle tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang,
yang di pelajari adalah bagaimana dia mendapatkan sensasi ketika bermeditasi
dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu
bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo, kata
ngelekas artinya kontraksi batin agar badan planetary kita bisa keluar, ini
pula alasannya orang ngeleak apabila sedang mempersiapkan puja batinnya di
sebut "angeregep pengelekasan".
Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum di sebut "ndihan" bola cahaya melesat dengan cepat. Ndihan ini adalah bagian dari badan planetary manusia, badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum di sebut "ndihan" bola cahaya melesat dengan cepat. Ndihan ini adalah bagian dari badan planetary manusia, badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
Tradisi sebagian orang di India tidak
ada tempat yang tersuci selain di kuburan, kenapa demikian di tempat inilah
para roh berkumpul dalam pergolakan spirit, bagi penganut tantric bermeditasi
di kuburan di sebut meditasi "KAVALIKA". Di Bali kuburan dikatakan
keramat, karena sering muncul hal-hal yang meyeramkan, ini disebabkan karena
kita jarang membuka lontar "tatwaning ulun setra" sehingga
kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang dark baik untuk
bermeditasi dan memberikan berkat doa. Sang Buda kecapi, Mpu kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat
pencerahan di kuburan, di Jawa tradisi ini di sebut " TIRAKAT.
Di Bali ada beberapa daerah yang terkesan lucu mengganggap kuburan adalah tempat sebel, leteh, ketika ada orang meninggal, atau ngaben, tidak boleh sembahhyang ke pura karena sebel, padahal.. kalau ngaben kita juga mengahaturkan panca sembah kepada Hyang Widi di kuburan, lantas di mana letak beda sebel Pura dan sebel kuburan bagi TUHAN ? itu hanya awig-awig manusia.
Berhubungan denhan hal tersebut di atas, pada zaman dahulu kala telah diriwayatkan oleh para leluhur asal LIYA Wangi-Wangi bahwa manusia-manusia yang mendiami wilayah ini sering melakukan tapah brata baik di
dalam gua-gua, di dasar laut, di kuburan-kuburan keramat juga di dalam ruang
pertapaan khusus di ruang bubungan rumah sehingga zaman itu orang-orang LIYA
WangiWangi banyak yang sakti-sakti dan mumpuni ilmunya, misalnya : kalau meninggal dunia bisa langsung menghilang dipembaringan (kalau keluarga setuju), waktu meninggalnya telah diketahui hari/jam dan bulan/tahunnya, bisa dilihat dimana-mana dengan waktu yang bersamaan, memiliki ilmu bayangan dilihat banyak dalam keadaan tertentu, sekali mendayung sudah sampai di suatu tempat yang dituju dlsb.
Oleh karena itu ketika
Kerajaan Buton terbentuk awal abad XIII banyak orang-orang LIYA WangiWangi
dipakai oleh sang Raja di pulau Buton untuk dijadikan pengawal pribadi atau
perajurit perang. Kebiasaan – kebiasaan masyarakat LIYA WangiWangi untuk
melakukan pertapaan ala Hindu tersebut mulai berkurang semenjak masuknya Islam
di pulau Buton yang dibawah oleh Sjech Abdul Wahid dan ditenarkan oleh
pengikutnya Sjech DJILABU setelah diangunnya Mesid Al Mubaraq (Mesjid Agung
Keraton Liya) tahun 1547 Masehi. Walaupun demikian pada tahun 1238 Masehi Haji
A.Muhammad dan kawan-kawan telah membangun mesjid di Togo Lamaentanari yang
berjarak hanya sekitar 2000 meter dari Keraton Liya, namun Haji A.Muhammad dan
kawan-kawan yang berasal dari saudagar pedagang rempah-rempah asal Persia yang
mendarat di Lamaentanari karena kapalnya tertabrak oleh karang di selat Jawa
ketika itu tidak mengejarkan atau menyebarkan ajaran islam karena mereka merasa
takut oleh karakter orang-orang LIYA WangiWangi saat itu yang serba sakti
sementara mereka semua adalah pendatang tanpa sengaja. Keseluruhan kisah ini tertuang dalam naskah sejarah kuno
buton yang tersimpan di Leiden.
B. PEMAHAMAN
SINTESIS
Dalam Pupuh XIV Negarakretagama
oleh Mpuh Prapanca (1365) disebutkan bahwa wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit
meliputi :
Kadangdangan i Landa (Landak) len ri Samedang Tirem tan kasah ri Sedu (Sarawak) Buruneng (Brunei) ri Kalka Saludung ri Solot (Sulu) Pasir Bartitwsi Sawaku muwah ri Tabalung (Tabalong) ri Tnjung Kute (Kutai Kartanegara) Lawan ri Malano makapramuka ta(ng) ri Tanjungpuri
Ikang skahawan Pahang pramuka tang Hujungmedini (Malay peninsula) ri Lengkasuka len-ni Saimwang i Kalanten (Kelantan) i Tringgano (Trengganu) Nacor (Pattani) Pakamuwar Dungu (Dungun) ri Tumasik (Singapore) ri Sanghyang Hujung Kelang (Klang valley) Keda (Kedah) Jere ri Kanapiniran sanusapupul
Sawetan ikanang tanah Jawa murah ya - warnnanen ri Bali makamukyo tang Badahulu mwang Lwgajah Gurun mukamuke Sukun ri Taliwang ri Dompo Sapi ri Sanghyang Api Bhima Ceram i Hutan Kadala (Buru island) opupul
Muwah tang i Gurun sanusa mangaram ri Lombok Mirah (Lombok island) lawan tikang i Saksakadi nikalun kahaiyang kabeh muwah tikang i Batangan pramuka Bintayan len Luwuk (Luwu) tekeng Udamakatraya (Sangihe Talaud) dhi nikanang sanusapupul
Ingkang sakasanusa Makasar Butung (Buton) Banggawi Kuni Gra-LIYA-o mwang i(ng) (baca : wangi-wangi) Salaya (Selayar island) Sumba Solot Muar muwah tikang i Wandan (Bandaneira) Ambwan (Ambon) athawa Maloko (Maluku) Ewaning (Wanin/West Papua) ri Sran (Seram) in Timur (Timor) makadi ning angeka nusatutur sumber :http://www.asiafinest.com/forum/lofiversion/index.php/t204931.html)
Sebagai
anekdot dalam kaitan naskah ini perlu menjadi renungan bagi kita semua apakah
yang dimaksud dengan KUNI dalam kalimat KUNI GRA-LIYA-O adalah identik dengan
nama sebuah tempat yang menjadi Ibu Kota Jepang pertama tahun 740 s/d 744 Masehi
yang berada di provisi Yamashiro dan sejak tahun 2007 pemerintah Jepang
menjadikan sebagai "situs bersejarah Istana Kuni (kuil resmi Provinsi
Yamashiro)
Setelah
terjadinya Pemberontakan
Fujiwara no Hirotsugu, Kaisar Shōmu pada bulan 12
tahun 740
memerintahkan ibu kota dipindahkan dari Heijō-kyō
ke tempat bernama Kuni di distrik Sagara. Lokasinya dipilih karena merupakan
markas Daijō Daijin Tachibana no Moroe.
Di
dalam kompleks Istana Kuni (Kuni-kyū) terdapat tempat tinggal kaisar,
aula utama (daigokuden dan chōdō-in) tempat dilangsungkannya
upacara resmi dan kegiatan pemerintahan, dan kantor pejabat pemerintah (kan-ga).
Kompleks istana dari utara ke selatan panjangnya 750 m dan lebarnya dari timur
ke barat 560 m.
Bulan
September tahun 741,
kota dibagi menjadi dua distrik, Sakyō dan Ukyō. Istana kaisar mulai dibangun,
dan secara resmi kota ini disebut "Yamato no kuni no ōmiya" sejak
bulan November 741. Pada akhir tahun 743, semua pekerjaan dihentikan walaupun pembangunan ibu kota
belum selesai karena kaisar Shōmu memerintahkan agar ibu kota dipindahkan ke Shigarakinomiya.
Walaupun
hanya sempat menjadi ibu kota selama 3 tahun lebih, ibu kota berada di Kuni-kyō
ketika kaisar mengeluarkan perintah tentang "pendirian kuil resmi provinsi
(kokubunji) dan kuil biarawati provinsi", dan perintah pembangunan Daibutsu.
Setelah
tidak lagi menjadi ibu kota, bekas istana kaisar dimanfaatkan kembali sebagai
kuil resmi Provinsi Yamashiro. Aula utama (daigokuden) diubah menjadi
bangunan aula pemujaan (kondo).
Jika
anekdot ini benar adanya dimana KUNI sama seperti yang disebutkan dalam pupuh ke XIV Negarakretagama oleh Mpuh Prapanca (1365) maka berarti LIYA WangiWangi pada zamannya adalah daerah keresian tempat
berkumpulnya Raja-Raja di wilayah Nusantara pada zamannya setelah mereka
mendapat serangan wilayah kekuasaannya dari tentara Mongol yang mana LIYA
WangiWangi dijadikan tempat persembunyian, perlidungan sekaligus tempat tapah brata.
KUNI di LIYA kemungkinan besar dibawah oleh pasukan Mongol pada tahun 1292 dalam pencariannya ke wilayah pulau-pulau di kawasan timur nusantara setelah mereka tak sempat menaklukkan Jayakatwang sebagai Raja Singosari karena istananya telah dihancurkan sendiri oleh Jayakatwang. Dan ketika itu untuk mencari Jayakatwang maka Kubilai Khan sebagai Raja Mongol bekerja sama dengan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit untuk bersama-sama mencari Jayakatwang.
GRA dalam pengertian kamus jawa kuno sebagai tempat yang menunjukan permukiman, sedangkan BANGGAWI adalah berhubungan dengan pekerjaan (bisa diartikan perlindungan atau persembunyian). Walaupun demikian kita masih menunggu pengertian asli dalam kamus Jawa Kuno istilah KUNI itu sebetulnya apa pemaknaannya agar kita bisa mengungkap di balik pupuh XIV Mpuh Prapanca dalam catatannya Negarakretagama tentu mengandung pemahaman yang hakiki terutama dalam rangka mengungkap kebenaran lembaran sejarah yang hilang selama ini di nusantara khususnya Moksa Maha Patih Gajah Mada di wilayah Liya WangiWangi. Walaupun demikian KUNI dikenal dikalangan masyarakat Liya adalah suatu tempat uang terdapat di dalam wilayah Benteng Liya Lapis ke-3 dalam sebuah ruang gua terbatas dimana masyarakat Liya di pakai sebagai tempat memberi sembahan berupa sesajen dengan ritual tertentu dapat menurunkan hujan atau dapat mencerahakan mata hari di waktu mendung. Untuk ritual mencerahkan panas mata hari cukup membakar mata api sedikit dekat lubang yang selalu basah dan tak lama mata hari bersinar cerah dan untuk menurunkan hujan cukup dengan mentiram sedikit air di dalam lubang itu dan tak lama maka turunlah hujan. Keadaan ghaib ini adalah salah satu perwujudan kepercayaan hindu-budha yang dipakai pada raja-raja Liya yang berkuasa masa lalu dan secara turun temurun masih diyakini oleh masyarakat Liya. *****
GRA dalam pengertian kamus jawa kuno sebagai tempat yang menunjukan permukiman, sedangkan BANGGAWI adalah berhubungan dengan pekerjaan (bisa diartikan perlindungan atau persembunyian). Walaupun demikian kita masih menunggu pengertian asli dalam kamus Jawa Kuno istilah KUNI itu sebetulnya apa pemaknaannya agar kita bisa mengungkap di balik pupuh XIV Mpuh Prapanca dalam catatannya Negarakretagama tentu mengandung pemahaman yang hakiki terutama dalam rangka mengungkap kebenaran lembaran sejarah yang hilang selama ini di nusantara khususnya Moksa Maha Patih Gajah Mada di wilayah Liya WangiWangi. Walaupun demikian KUNI dikenal dikalangan masyarakat Liya adalah suatu tempat uang terdapat di dalam wilayah Benteng Liya Lapis ke-3 dalam sebuah ruang gua terbatas dimana masyarakat Liya di pakai sebagai tempat memberi sembahan berupa sesajen dengan ritual tertentu dapat menurunkan hujan atau dapat mencerahakan mata hari di waktu mendung. Untuk ritual mencerahkan panas mata hari cukup membakar mata api sedikit dekat lubang yang selalu basah dan tak lama mata hari bersinar cerah dan untuk menurunkan hujan cukup dengan mentiram sedikit air di dalam lubang itu dan tak lama maka turunlah hujan. Keadaan ghaib ini adalah salah satu perwujudan kepercayaan hindu-budha yang dipakai pada raja-raja Liya yang berkuasa masa lalu dan secara turun temurun masih diyakini oleh masyarakat Liya. *****