KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Selasa, 26 Juni 2012

KONSEP SURAT LEMBAGA KABALI DITUJUKAN KE DEPUTI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT KEMENTERIAN SEKRETARIS NEGARA, TINDAKLANJUT PENELITIAN MAKAM GAJAH MADA

OLEH : HUMAS KABALI 


 Dengan ini disampaikan kepada Bapak bahwa menindaklanjuti Surat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia yang ditujukan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia dengan Surat Nomor : 71/B/P.KABALI/I/201., tanggal 20 Januari 2012,  Perihal Mohon Bantuan Bapak Presiden Memberikan Arahan dan/atau Kebijakan Untuk Mendapatkan Dana Untuk Keperluan Penelitian Penelusuran Jejak Makam Maha Patih Gajah Mada di Buton Sulawesi Tenggara. Dan kemudian dijawab dan dikembangkan oleh Kementerian Sekretaris Negara cq. Asisten Deputi Hubungan Organisasi Kemasyarakatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat sebagaimana Nomor Surat tertera pada prihal di atas yang ditujukan kepada Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Deputi Bidang Ilmu Pengetahauan Sosial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, hingga saat ini eksistensi maksud surat tersebut semakin tidak jelas arah dan kebijakan yang dapat kami terima. 

Pada dasarnya isi materi surat kami yang ditujukan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia adalah sangat jelas dan transfaran yakni memohon kepada beliau untuk memberikan disposisi dan/atau arahan ke Donatur (Leander) mana kita bisa mendapatkan pendanaan atas adanya rencana Lembaga kami kerja sama dengan para pakar Arkiologis, Sejarah Budaya, Antropologi dan Geologis masing-masing berasal dari Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada untuk mengadakan Penelitian Penelusuran Jejak Makam Maha Patih Gajah Mada di Wilayah Buton Sulawesi Tenggara. Penelitian ini sudah didukung oleh data-data situs lapangan yang cukup signifikan dan jelas serta tutur dari masyarakat Buton meyakini bahwa Makam Gajah Mada terdapat di eks wilayah Buton (Kerajaan Liya Kepulauan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi). Sedangkan  Makam Prajurit Setia Gajah Mada sejumlah 40 orang situsnya terdapat di Desa Masiri Kampung Mada Kecamatan Batauga Kabaupaten Buton dan 2 orang teliksandinya yang mana Situs Makamnya oleh masyarakat Cia-Cia terdapat di Benteng Takimpo Banabungi, Kecamatan Pasar Wajo Kabupaten Buton.

 Patih Gajah Mada

Demikian pula tutur yang disampaikan oleh salah seorang asal masyarakat Benteng Liya bernama Hasan Ndou mendapat kisah dari leluhurnya mengatakan bahwa dahulu kala ketika Gajah Mada singgah di Liya (setelah pelariannya dari Sumatera) ditantang adu kekuatan dengan seorang sakti asal pulau wangi-wangi bernama Wakunduru, perkelahianpun berlangsung lama dan menjelang sore harinya Gajah Mada sempat ditebas lehernya dan sebagai pertanda kemenangan Wakunduru ditanamlah kepala Gajah Mada disebuah dataran tinggi terletak antara Mandati Tonga dan Wungka tak jauh dari Benteng  Keraton Liya.  Makam kepala Gajah Mada ini sangat disakralkan oleh orang-orang Liya dan Mandati dan pada masa lalu pada setiap orang yang melewatinya terlebih dahulu menyinggahinya dan meminta bantuan apa saja yang dikehendakinya, atas izin Allah SWT setiap permintaan dikabulkan. Telah diadakan observasi metafisis dan ternyata dikuburan (makam) itu tersimpan pakaian dan peralatan perang Gajah Mada, bukan kepala Gajah Mada seperti yang dituturkan tersebut. Ilmu bayangan milik Patih Gajah Mada sampai hari ini masih banyak masyarakat Liya menguasainya dengan apa saja yang diniatkan sambil disertai bacaan-bacaan tertentu maka dia (benda yang disimpan) akan berwujud menyerupai seperti diri kita, lawanpun mengira diri kita yang sebenarnya, padahal diri kita yang sebenarnya telah pergi kelain tempat.

Patih Gajah Mada diyakini oleh masyarakat Liya makamnya ada dalam sebuah gua di pulau Roh (dalam bahasa Liya disebut pulau Oroho) letaknya sebelah selatan Benteng Keraton Liya. Keberadaan gua ini mirip gua buatan masa lalu ada kamar-kamar tamu dan tempat peristirahatan dan didalamnya ada bidang datar yang amat luas. Belum ada pendataan lebih lanjut keberadaan gua ini oleh Lembaga kami, namun berdasarkan tutur masyarakat yang berkebun sekitar kawasan Gua tersebut mengatakan bahwa ada sesuatu makam yang aneh di dalam Gua tersebut dan pandangan metafisis membenarkan keadaan itu. Sebelah pulau Roh terdapat pulau Simpora dimana disana ada terdapat Oa Buea yang diyakini oleh masyarakat Liya sebagai pintu masuknya teliksandi Gajah Mada untuk menemui Gajah Mada dipengasingannya di pulau Roh. Teliksandi ini merupakan penghubung antara prajurit setia Gajah Mada yang ada di Batauga pulau Buton dengan Gajah Mada untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap penting sehubungan dengan pencarian bala tentara Majapahit (hayam Wuruk) terhadap pelarian mereka. 

Tak jauh dari benteng Liya ada situs Kuni (dalam bahasa Liya disebut Wa Kuni) terdapat dalam sebuah lekukan gua dangkal digunakan masyarakat untuk  tempat pemujaan dalam ritual meminta hujan atau kemarau. Kemudian tak jauh dari Benteng Liya ada terdapat Gua Winte yang diyakini oleh masyarakat Liya sebagai tempat penyimpaan harta-harta dan benda-benda pusaka milik Patih Gajah Mada. Namun tak ada satupun masyarakat Liya yang berani dekat dengan Gua ini (kecuali keturunannya) sebab gua ini dijaga oleh satu mahluk jadi-jadian bernama Winte bentuknya seperti kambing bertanduk satu, kedua matanya bulat besar mengeluarkan cahaya dengan pancarann jauh kuning kemerah-merahan. Barang siapa yang temui binatang ini maka badannya akan dihisap dan menjadi warna hitam tak lama hanya berselang beberapa jam orang tersebut meninggal dunia. Keberadaan binatang Winte hingga saat ini masih ada dan sering dijumpai oleh masyarakat Liya yang sedang mendapat sial hari itu.
Berbagai Konteksi sejarah yang memuat tentang Kisah Maha Patih Gajah Mada di Indonesia barulah penekannya pada masa perjuangan, peperangan dann pelariannya dari   Kerajaan Majapahit, namum sampai
sekarang belum jelas disebutkan siapa orang tuanya, dimana di lahirkan dan mengapa dia tiba-tiba berada di pulau Jawa (Jawa Timur) dan masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit ?. Kisah tutur masyarakat Buton dan silsilah yang ada dimiliki oleh sebagian masyarakatnya amat jelas bahwa Gajah Mada memiliki orang tua yakni bapaknya bernama Si Jawangkati asal Johor – Melayu yang tak lain pengawal pribadi Si Malui juga asal Johor-Melayu dan ibunya bernama Lailan Manggraini atau sering dikenal dengan sebutan Putri Lasem yang tak lain anak dari Raden Wijaya yang ketika itu akhir abad ke XII khusus diutus oleh ayahandanya untuk membuat Bandar di pulau Buton.

Berdasarkan Naskah Hikayat Negeri Buton yang ditulis oleh saudagar asal banjar tahun 1267 masehi disebutkan bahwa Si Malui (dan rombongannya) pernah singgah di Liya (wangi-wangi). Sebagian tokoh sejarah Liya menyatakan bahwa Si Malui (dan rombongannya) inilah yang pertama kali membuat Benteng Liya sekitar akhir abad ke XI dan berkuasa disana sebelum menuju ke pulau Buton tahun 1236 masehi. Sedangkan berdasarkan Buku Tembaga Buton yang berjudul Assajarul Haliqa Darul Bathniy Wa Darul Munajat yang ditulis dalam bahasa Arab gundul oleh Mia Patamiana Buton sekitar akhir abad ke XII dan diterjemahkan di Gresik Tahun 1863 oleh Uztaz Akbar Maulana Sayid Abdul Rahman Hadad mengatakan bahwa Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan saudara perempuannya bernama Lailan Manggraini atau sering disebut Putri Lasem adalah semuanya kakak berdadik datang dari pulau Jawa dari kerajaan Mataram sebelum bergabung dengan Kerajaan Majapahit, mereka adalah putra-putri Raden Wijaya Raja Mataram. Kedatangan putra-putri Raden Wijaya tersebut atas perintah Raden Wijaya untuk membuat Bandar di pulau Buton dengan menumpangi dua buah armada yakni satu armada dipimpin oleh Raden Sibahtera dan Lailan Manggraini beserta 40 orang pengikut setianya dan satu armada dipimpin oleh Raden Jutubun atau Bau Besi dengan 40 orang pengikut setianya. Kedua armada itu membawa bendera kebesaran kerajaannya (kerajaan Mataram) yakni bendera merah putih yang dinamakan “DAYIALO” dan masing-masing dipasang didepan buritan kapal.

Jauh hari sebelum kedatangan rombongan anak-anak Raden Wijaya tersebut di pulau Buton, telah bermukim manusia-manusia sakti antara lain Si Malui dan Si Jawangkati, Si Panjonga dan Si Jutubun adalah orang-orang sakti keturunan  para wali masing-masing asli asal Johor – Melayu. Tak lama setelah tiba di tanah buton (1236 masehi) Si Jawangkati bapak Gajah Mada membuat benteng di Koncu Wabula (Wasuemba) hingga kini situs benteng tersebut masih ada.
Pemahaman dapat disederhanakan dengan sebuah pertanyaan : “Mengapa Lailan Manggraini dengan sengaja secara diam-diam membawa anaknya yang sakti (ikut darah kesaktian bapaknya) yakni Gajah Mada ketika itu diperkirakan baru berusia 15 tahun ke Jawa Timur “? Jawabnya adalah karena ayahandanya bernama Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit mengalami banyak kesulitan dalam pemerintahannya yakni  banyaknya para abdi/para pengawal dalam istana melakukan perlawanan (pemberontakan) terhadapnya…, dan Si Gajah Mada inilah diyakini akan mampu menumpas semua musuh-musuh yang melawan kakeknya, karena dia sangat sakti…!
Buton dan Liya adalah wilayah-wilayah bekas kerajaan Majapahit sebagaimana disebutkan dalam Pupuh XIV Negarakretagama :  “…..Muwah Tanah I Bantayan Pramuka  Bantayan  Len  Luwuk  Tentang  Udamakatrayadhi  Nikanang  Sunusaspupul   Ikangsakasanusanusa  Makassar Butun   Banggawi KuniGra-Liya-O Wangi  (Ng)  Salaya Sumba Solo Muar,….”(Prof.DR. Mattulada mengutip buku ‘Gajah Mada’ karangan Muhammad Yamin, terbitan Balai Pustaka Jakarta tahun 1945).

Berkenan dengan hal tersebut di atas, Badan Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia yang kini secara intensif ingin melakukan penelitian ilmiah Menelusuri Jejak Makam Maha Patih Gajah Mada di Wilayah Buton Sulawesi Tenggara, menghadap kepada Bapak, kiranya dapat segera dibantu dan diberikan solusi bagaimana bisa kami mendapatkan bantuan dana dari para donator internasional dan/atau lander yang secara intensif telah menjalin kerja sama dengan pemerintah republik Indonesia untuk segera kami gunakan pembiayaan operasiona; turun ke lapangan mengadakan aksi penelitian bersama-sama konsultan ahli.  Sekiranya Bapak ingin terlibat langsung dalam penelitian ini, kami tentu sangat senang hati dan menerima bergabung bersama para pakar yang telah kami tunjuk dan tentu akan lebih konpehensif dalam melakukan analisis dan pelaporannya. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengajak Bapak sekalian untuk mari kita memulai penelusuran berbagai lokasi disana (eks Kerajaan Buton) diserta pembuktian secara ilmiah dengan menggunakan alat-alat ukur tertentu untuk menguak babak sejarah baru tentang Patih Gajah Mada yang keberadaannya selama ini di Indonesia masih misterius.

Mohon tanggapan positif dan responsible atas niatan baik ini dan kami menunggu balasan dalam waktu yang tidak terlalu lama.  Demikian kami sampaikan atas perhatian dan kerja sama diucapkan terima kasih. 
Salam perjuangan… “Merdeka …, Merdeka,… Merdeka”…!!!

WAKATOBI SIAPKAN LIYA TOGO SEBAGAI DESA WISATA


OLEH : HUMAS KABALI


Berdasarkan berita yang dikutif beberapa waktu lalu dari media on line http://sultra.antaranews.com/berita/264153/wakatobi-siapkan-liya-togo-sebagai-desa-wisata, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Wakatobi menyiapkan kawasan Liya Togo di Kecamatan Wangi-angi Selatan sebagai desa Wisata di daerah tersebut.

Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Parawisata Kementerian Parawisata dan Ekonomi Kreatif sudah meninjau kawasan Liya Togo untuk dikembangkan menjadi "Desa Wisata", kata Kepala Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif Kabaupaten Wakatobi, Andi Tawakkal di Wangi-Wangi hari Kamis tanggal 24 Mei 2012 lalu.

Menurut tawakkal, Bapak Dirjen bersama Bupati Wakatobi, Hugua beberapa waktu lalu juga telah menandatangani nota kesepahaman menjual parawisata wakatobi kebeberapa negara, teruma anegara-negara eropah. Selanjutnya dikatakan bahwa wilayah Liya Togo merupakan pusat penyebaran agama islam pertama di wilayah kepulauan tukang besi itu, dengan fakta sejarah terdapat Benteng Tua yang disebut benteng Liya Togo seluas 30 Ha dan dalam kawasan itu terdapat mesjid tua bernama Mesjid Al-Mubaraq atau Mesjid Liya Togo.


Kadis Parawisata dan Ekonomi Kreatif
Kabupaten Wakatobi

Diharapkan para wisatawan yang berkunjung di Liya Togo,
dapat menggunakan rumah warga sebagai "tempat menginap"




Bangunan mesjid Liya Togo ini mirip dengan konstruksi bangunan mesjid agung Keraton Buton yang ada di kota Bau-Bau, yakni dinding mesjid tersusun dari batu gunung (batu karang) dengan mengggunakan perekat dari adonan kapur campur putih telur ayam, katanya.

Dalam penyiapan desa Liya Togo sebagai kawasan "Desa Wisata", kata Tawakkal, pemkab Wakatobi membantu masyarakat menyiapkan 1 atau sampai 2 kamar di rumah mereka yang dibuat mirip seperti ruang penginapan atau losmen.  Diharapkan para wisatawan yang berkunjung di Liya Togo dapat menggunakan rumah warga sebagai tempat menginap, katanya.

Tawakkal mengatakan bahwa di masa lampau wilayah tukang besi menjadi wilayah administrasi kesultanan Buton (baca : setelah Raja ke V Buton berkuasa tahun 1498 s/d 1538, yakni Raja Mulae, wilayah kepulauan telah masuk ke wilayah toritorial kerajaan Buton), kini berubah nama menjadi Wakatobi setelah wilayah yang terdiri dari 4 pulau besar di sebelah timur pulau Buton itu mekar menjadi daerah otonom baru di sulawesi tenggara tahun 204 lalu, nama Wakatobi berasal dari akronim nama pulau besar itu yakni Wangi-wangi, kaledupa, Tomia dan Binongko.

Berkenaan dengan informasi ini dihimbau kepada semua warga Liya dimanapun berada di seluruh Indonesia agar sempatkan diri pulang ke kampung halaman..., yuk mari bangun kampung halaman kita, investasikan sebagian keuntungan atau modal disana, buatlah rumah-rumah model tradisional asli Liya dan didalamnya disiapkan minimal 2 buah ruang kamar tidur standar minimal turisme (klas losmen atau penginapan) yakni kamar ukuran 3 x 4 m2, terdapat ranjang 1 pasang atau 2 pasang, ada meja hias, ada westafel, ada lemari pakaian, ada jemuran handuk, ada kerset dan ada cermin. Bangunlah kembali rumah-rumah tradisional di lokasi kampung tua yang saat ini sedang kosong penghuninya akibat realokasi permukiman ke pantai Bira dan Lagundi sejak tahun 1964 lalu, yakni kampung kareka, kampung rea dan kampung woru sehingga tata ruang permukiman benteng Liya kembali seperti dahulu kala. Pemerintah daerah akan melengkapi semua fasilitas lingkungan seperti jalan penghubung lingkungan, jalan lingkungan, instalasi air minum dan instalasi listrik, juga melengkapi sarana dan prasarana serta fasilitas publik .
Jangan lupa bahwa kini sudah dilantik kembali Raja Liya atau meantu'u Liya dijabat oleh La Ode Muhammad Haris, dilengkapi dengan susunan 12 bobato Liya. Kedepan pemerintahan tradisional Keraton Liya kembali sebagaimana adanya masa lalu dalam rangka menunjang kawasan Benteng Liya yakni desa Liya Togo menjadi "Desa Wisata Budaya", tempat kunjungan Turis internasional mulai tahun 2013 mendatang. Semoga mendapat ridho Allah SWT. amin.., yaa rabbal alamin.  *****