KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Minggu, 19 Juni 2011

GEDUNG PADEPOKAN PUSAT PELATIHAN SANGGAR SENI BUDAYA KABALI INDONESIA DALAM TAHAP PERAMPUNGAN

OLEH : ALI HABIU


Akhirnya berkat kerja keras semua pihak baik Kontraktor, Konsultan maupun Masyarakat dalam lingkup Benteng Keraton Liya, maka membuahkan hasil gemilang yakni Gedung Padepokan Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia sudah dalam tahap perampunga. Gedung Padepokan ini dibangun diatas lahan seluas 20 x 30 m2 diatas sebuah perbukitan sebelah kanan arah wisata pemandian Kohondao dengan luas bangunan 8 x 14 m2 yang diharapkan setelah selesai dengan baik akan digunakan secara full time sebagai sarana pusat pelatihan Seni Budaya Tradisional Liya dalam rangka memperkuat pelestarian dan pengembangan kebudayaan Liya menyongsong akan ditetapkannya Desa Liya dalam Kawasan benteng keraton Liya sebagai Desa Wisata Budaya Nasional. 



Salah satu potensi Benteng Keraton Liya untuk menjadi lokus Wisata Budaya adalah terdapatnya ragam Seni Tari Tradisional asli yang berasal dari peninggalan para penguasa pada zamannya yang diperkirakan mulai terjadi di pertengahan Abad ke XII. Postulat pada pertengahan Abad ke XII ini yang berkuasa sebagai Raja Liya Pertama adalah dari keturunan Wangsa Rajasa Singosari yakni Mahisa Cempaka yang sengaja meninggalkan Singosari untuk menghindari komflik dengan saudara tirinya dan membuat bandar atau kerajaan di Liya. Kata-kata Liya dalam bahasa sangkrit yang tertuang dalam naskah-naskah kuno pewayangan Jawa dimaknai sebagai "Damai, Sejuk, Indah dan Menyenangkan".
Segenap pengurus Besar Lembaga Forum Komuniasi KabaLi Indonesia mengharapkan agar pemerintah dapat secara aktif mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Sejarah, Adat Istiadat, Budaya dan Kebudayaan Keraton Liya sehingga disuatu saat yang tepat dapat menjadi potensi Wisata Budaya Nasional, yakni menjadi daya dukung dalam kunjungan akhir para wisatawan manca negara yang menjadi aset devisa bagi bangsa dan negara.  



Oleh karena itu masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami rampungkan yakni bagaimana mengemas sebuah tindak konsepsionalitas dalam rangka melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut yang sudah barang tentu harus disikapi dalam bentuk penelitian ilmiah. 

Kedepan perlu disikapi secara intergral perlunya penelitian-penelitian ilmiah menyoal kapan dibangun  benteng keraton Liya yang terdiri dari 3 lapis benteng itu, dan struktur raja-raja di Liya, Lingga dan Youni serta Makam Gajah Mada yang terdapat di wilayah ini. 


SEMOGA Pemerintah pusat melalui Direktorat Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Parawisata Republik Indonesia mau peduli dan serius mendukung kegiatan pelestarian kebudayaan Liya ini sehingga wilayah-wilayah di luar pulau Jawa yang selama ini termarginalkan dari kebijakan pemerintah pusat dapat segera terobati, demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. ****