KabaLi

KabaLi
FOTO ACARA PERKENALAN DENGAN INVESTOR ASAL SINGAPURA LIYA

KabaLi

KabaLi
FOTO SALAH SATU ACARA PERKENALAN DENGAN INVESTOR ASAL SINGAPURA

Rabu, 23 Januari 2013

KABALI TEMUKAN MAKAM MAHA PATIH GAJAH MADA DI PULAU WANGI-WANGI, WAKATOBI

 OLEH : ALI HABIU


Beberapa referensi menyebutkan bahwa Gajah Mada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa BUBAT dimana Gajah Mada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajah Mada di wilayah itu asketis (setabasri01.blogspot.com) Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk bernama Rajasanagara sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajah Mada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini.  Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau "luar" seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan.

Dalam pandangan spiritual penulis Gajah Mada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton. Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajah Mada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan tukang besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi.

Perlu diketahui bahwa Gajah Mada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalannya pulau ke pulau Buton dia dituntun secara ghaib dan mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajah Mada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi yakni pulau Oroho (dalam cerita pewayangan dikenal dengan nama ken rohan atau pulau roh) dengan memasang simbol-simbol disana.

Pada saat rombongan Gajah Mada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini diperkirakan mereka mulai bermukim Tahun 538 (baca : Sejarah Liya, oleh La Ode Bumbu)  yang tak lain adalah merupakan para pendatang campuran dari berbagai bangsa seperti Persia, Mongolia, Tunisia, Melayu. Kemudian menyusul para bajak laut  terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru -Buton pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajah Mada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya Gajah Mada memutuskan untuk beristirahat menenangkan diri di pulau ini.  Sementara ke 40 prajurit setianya diperintahkan untuk menyingkir sementara di pulau Sumanga yang letaknya tak jauh dari pulau Oroho  untuk membuat  hunian sementara dan beristirahat disana sebelum melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton tepatnya di Takimpo dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajah Mada yang amat sakti ini tetap terjaga.

Setelah Gajah Mada memilih beristirahat menenangkan diri (tapa brata) di pulau Oroho, dia sempat untuk beberapa saat berkunjung ke pulau Wangi-Wangi sebab disana sudah ada kerajaan kecil yang dibangun oleh Si Panjoga (baca : Naskah Hikayat Negeri Buton) yakni tepatnya di Liya. Gajah Mada sering berkunjung ke wilayah ini dan pada suatu hari tanpa sengaja bertemu dengan orang sakti bernama Wakunduru tepatnya di wilayah Mandati Tonga. Wakunduru ini adalah seorang sakti yang amat ditakuti di wilayah Wangi-wangi ketika itu dan merupakan penduduk asli. Maka tak lama kemudian terjadilah pergulatan antara Gajah Mada sebagai orang pendatang dengan Wakunduru. Dalam perhelatan yang diperkirakan terjadi tahun 1362 tersebut Gajah Mada akhirnya tewas ditangan Wakunduru  dengan menyembelih Lehernya. Setelah itu Wakunduru mengubur Gajah Mada di tempat bekas lokasi pergulatan tersebut yang letaknya dalam kawasan Benteng Liya lapis ke-3 dan sebagai kenangan atas keberanian Wakunduru ini konon dikisahkan oleh masyarakat  lokal bahwa Wakunduru menanam Kepala Gajah Mada beserta alat-alat perangnya sebagai penghormatan terakhirnya. Adapun ukuran kuburan tua yang diperkirakan usianya sudah ratusan tahun lamanya yang dinamakan makam Gajah Mada dengan ukuran  3,00 m x 8,00 m dan berada pada ketinggian 17 meter di atas permukaan laut. Untuk membuktikan kisah ini dipelukan metodologi eskapasi dan forensik guna mengetahui persis usia dan DNA tulang belulang yang terdapat dalam makam ini.


Inilah Makam Gajah Mada

 Pada saat prajurit setianya telah meninggalkan pulau Sumanga menuju pulau Buton sebanyak 40 orang, mereka pamitan dengan Gajah Mada dan diperintahkan untuk memasuki pulau Buton di wilayah terdekat dari pulau Wangi-Wangi yakni tepatnya mereka masuk di teluk Pasar Wajo. Setelah rombongan 40 orang prajurit setia Gajah Mada ini masuk ke daratan langsung menuju pembukitan bernama Takimpo. Di Takimpo inilah menurut tutur rakyat setempat terdapat kuburan 40 orang prajurit Gajah Mada di desa ini termasuk kuburan Gajah Mada  dengan menunjuk gundukan pemakaman di daerah tersebut.  Namun demikian taktis prajurit setia Gajah Mada ini luar biasa dengan tujuan hanya sekedar untuk menghilangkan jejak-jekap perjalanan mereka mengingat baik Gajah Mada maupun para prajuritnya sedang di cari oleh penguasa Majapahit yakni Raja Hayam Wuruk. Tak lama prajurit Gajah Mada bermukim di Takimpo, lalu mereka mencari tempat lebih aman yakni dengan berjalan menelusuri pembukitan ke arah utara dan akhirnya mereka memilih desa Masiri Batauga sebagai tempat peristirahatan terakhir mereke. Selama para prajurit setia Gajah Mada bermukim di Takimpo, hubungan teliksandi antara Gajah Mada dengan para prajurit setianya tetap berlansung. Oleh karena itu di bentuklah prajurit teliksandi bernama : La Buri, La Paleiku dan La Kangka. Setiap ada keperluan baik Gajah Mada maupun para prajuritnya di utuslah ketiga orang tersebut dan setelah tiba di pulau Wangi-Wangi mereka langsung menuju jalan rahasia bernama Oa Buea. Tak jauh dari jalan rahasia Oa Buea tersebut terdapat Gua Mabasa tempat Gajah Mada melakukan tapah brata. Oa Buea ini terletak di tepi pulau Simpora dengan S=5.23'.18" dan E=123.36'06".

  Oa Buea merupakan pintu Rahasia Teliksandi 
Gajah Mada dalam Hubungan Prajuritnya

Sebagai tanda alam tak jauh dari pintu rahasia teliksandi Gajah Mada ini terdapat Batu Mada (watu mada) yang kemungkinan sengaja dibuat batu ini sebagai lambang perjalanan jejak-jejak Majapahit di kepulauan Wangi-Wangi. Batu Mada ini sayang kondisi saat ini telah bergeser dari keadaan aslinya berdiri dengan jarak sekitar 14 meter arah laut dari keadaan saat ini. masyarakat yang merusak situs ini mungkin tidak mengetahui betapa besarnya nilainya jejak batuan ini dan untung saja masih diketemukan dijadikan tempat pijakan naik ke permukaan kebun pulau Simpora. Batu Mada terletak  ditepi pantai pulau Simpora. Batu Mada ini diperkirakan terdapat  prasasti tulisan jawa kuno pada bagian bawahnya, namun sayang sudah tidak bisa di deteksi mengingat Batu Mada ini telah mengalami proses abrasi pasang surut air laut. Ada kemungkinan dibawah Batu Mada ini ada benda-benda bersejarah yang sengaja ditanam dalam sebuah petih mengingat bahwa keberadaan Batu Mada ini adalah batuan yang sengaja ditanam bukan batuan alam, namun sayang karena telah bergeser tempatnya pencarian situs dalam menggalinya memerlukan waktu dan lokasi yang tepat.

 Situs Batu Mada yang telah di rusak

Gajah Mada setibanya di pulau Roh (Oroho) memutuskan untuk melakukan tapah brata didalam sebuah gua di wilayah Togo Mo'ori yang mana situasi gua tersebut didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gaja Mada bermukim sebelum menemui Wakunduru.
 
Dalam catatan Mpu Prapanca (Negarakertagama) jelas ada disebut Butun (buton), wangiwangi, Selayar,dan Bontain, sebagai wilayah Kerajaan Majapahit.
“…..muwah tanah i bantayan pramuka bantayan len luwuk tentang udamakatrayadhi nikanang sunusaspupul ikangsakasanusanusa makassar butun banggawi kuni gra-liya-o wangi (ng) salaya sumba solo muar,….”( Mattulada mengutip buku ‘Gajah Mada’ karangan Muhammad Yamin, terbitan Balai Pustaka Jakarta tahun 1945).

Bukti-bukti ontologisme dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajah Mada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga tertentu di pulau wangi-wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut. Selain itu bukti-bukti secara artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan metafisis penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau wangi-wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai batu Mada. Pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis, menunjukkan bahwa keberadaan batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajah Mada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti.

Sedangkan ke 40 orang prajurit setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan wangi-wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua terbuka yang lebar dan luas. Dan di dalam gua terbuka inilah ke 40 orang prajurit setia Maha Patih Gajah Mada melakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan dan terkubur secara alamiah di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri, kampung Mada di Batauga pulau Buton. Berdasarkan kisah konseptual, spiritual dan ontologisme riwayat Maha Patih Gajah Mada, maka postulat dapat disimpulkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari Si Jawangkati dengan ibu bernama Lailan Mangrani yang tak lain adalah anak perempuan dari Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit. Si Jawangkati adalah salah seorang mia patamiana wolio yang pada zamannya dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan disegani dikalangan penguasa pada saat itu.

Masih diperlukan penelitian secara aksiologis dengan menggunakan metodologi eskapasi dan forensik untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkiologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar dalam  rangka merubah perjalanan sejarah Indonesia sesuai  zamannya. Tinggal pemerintah pusat beranikah mengeluarkan dana untuk keperluan ini dan mampukah merubah image kebesaran Gajah Mada berada di luar pulau Jawa ?!**** 

6 komentar:

R A F I N I S A. mengatakan...

Alhamdulillah....ada tambahan ilmu sejarah...

Anonim mengatakan...

Banyak hal yang memperlihatkan bahwa Sang Mahapatih adalah perantau dari luar Jawa.
Semoga semakin banyak tulisan yang semakin menjelaskan tentang riwayat Beliau
Wassalam,
Hasyim

duta fahrizal mengatakan...

Sangat membutuhkan dana besar untuk membuktikan.

Supiani Inderapura mengatakan...

Hayaaaa....... dari berbagai tulisan yang saya baca mengenai asal usul Gajahmada sudah barang tentu cukup membingungkan ....... mungkin siapa pun yang ingin tahu juga akan kebingungan ....... entah yang mana yang benar ya ???

Agus Salim Arba'i mengatakan...

Dimana makam Gajah Mada tidak penting tapi ada yang perlu diketahui beliau mempunyai nama Islami :"Syekh Jamalul Qubra". Memang beliau adik dari Syekh Jumadil Qubra. Saat melawan pasukan Hang Tuah dari Madagaskar ternyata orang Islam akhirnya melarikan diri. Sampai saat ini ini keturunannya masih ada.

Anonim mengatakan...

nuffiDimana makam Gajah Mada tidak penting tapi ada yang perlu diketahui beliau mempunyai nama Islami :"Syekh Jamalul Qubra". Memang beliau adik dari Syekh Jumadil Qubra. Saat melawan pasukan Hang Tuah dari Madagaskar ternyata orang Islam akhirnya melarikan diri. Sampai saat ini ini keturunannya masih ada.