KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Sabtu, 14 Februari 2015

MOHON BANTUN UNTUK MENGUNGKAP MAKAM GAJAHMADA ! "HIPOTESIS KEBERADAAN LOKASI WAFATNYA MAHA PATIH GAJAH MADA DI WANGI-WANGI LIYA TAK PERLU LAGI DIRAGUKAN"

OLEH : ALI HABIU



Hipotesis tentang keberadaan Maha Patih Gajah Mada di kepulauan Wangi-Wangi khususnya di Kerajaan Liya pada masa lalu tidak lagi perlu  diragukan atau disangsikan sebagaimana pretensi keraguan yang dimunculkan oleh  para sejarawan Indonesia saat ini. Kalau pengertian dalam bahasa Jawa kuno "BANGGAWAI" sebagai berkaitan dengan upaya-upaya seseorang  untuk melindungi dirinya atau meminta perlindungan atas keselamatannya dan "KUNI" sebagai daerah keresian atau daerah yang penuh keheningan dari hirup pikuk pemerintahan dan "CRA" sebagai penunjukan tempat bermukin maka sudah dapat dipastikan bahwa LIYA inilah merupakan daerah yang dicari oleh kebanyakan para sejarahwan dan budayawan selama ini sebab dia muncul dari berbagai naskah pewayangan Jawa kuno. Postulat sebagai data sementara  membuktikan hipotesis tersebut dapat di sintesis dari beberapa data dukung sejarah yang pernah terjadi masa itu, antara lain :
  1. Berdasarkan dari silsilah kerajaan Singosari pernah Mahisa Cepaka memerintah di Keraton Liya pada pertengahan Abad ke XII. Rangga Wuni adalah  anak dari Anusapati cucu Ken Dedes dengan Tunggal Ametung sedangkan Mahisa Cempaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng, cucu Ken Dedes dari ken Arok. Kedua-duanya pernah menjadi Raja Singosari ke-3 yang bergelar Wisnuwardhana.   Untuk menghindari pertikaian dalam keluarga antara Rangga Wuni karena adanya peristiwa  keluarga yang tidak mengenakkan sebelumnya maka Mahisa Cempaka sengaja dia mengasingkan dan menenangkan diri  di daerah keresian Liya membuat bandar dan kerajaan disana.  
  2. Berdasarkan naskah sejarah kuno buton disebutkan bahwa Si Panjonga sebagai salah satu dari mia patamiana wolio pernah berkuasa (baca : menjadi  Raja) di Keraton Liya pada akhir abad ke XII.  Sipanjonga adalah seorang satria berasal dari kerajaan pariaman melayu-pasai. Dia meninggalkan daerahnya pada tahun 1213 Masehi bersama pengawal utamanya bernama Si Jatubun. Dalam perjalanan Si panjongan menuju Liya Wangi-Wangi sempat menyinggahi beberapa kerabatnya di Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singosari. Postulate, Si Panjonga dan rombongannya sebelum masuk ke tanah Buton terlebih dahulu singgah di pulau wangi-wangi untuk membuat Benteng Liya lapis ke-2 pada awal abad ke XII. Dan untuk Benteng Liya lapis ke-1 dibuat oleh Si Malui, Si Jawangkati serta dilanjutkan oleh Bau Besi (Raden Jutubun) sebelum mereka memasuki tanah Buton yang diperkirakan juga pada awal abad ke XII. Benteng-benteng tersebut sengaja dibuat untuk sebuah pertahanan dalam mengamankan para resi yang bermukim di Liya dari serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Khubilaikhan. Sebagian tentara mongol yang berhasil ditawan di himpun dalam sebuah permukiman tua di Mandati Tongah yang berbatasan dengan Liya pada masa silam dan kini sisa-sisa keturunan bangsa ini masih bisa diketemukan di Wangi-Wangi tepatnya saat ini bermukim di wungka tonga dan pada kuru.
  3. Mahaji Noesa (Kompasiana.com) memberikan penjelasan bahwa dalam buku Nagarakertagama karangan Empuh Prapanca disebutkan bahwa : wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit meliputi : Muwah Tanah I Bantayan Len Luwut tentang Udamakatrayadhi Nikanangsunusaspupul Ikang Sakasa Nusanusa : Makassar, Butun, Banggawai Kuni Cra-liya-o Wangi (ng), Salayar sumba solo muar......"  (Mattulada mengutif buku "Gajah  Mada" karangan Muhammad Yamin, Terbitan Balai Pustaka, Jakarta Tahun 1945)
  4.  Slamet Muliana (1979) dalam bukunya "Negara Kartagama dan Tafsir Sejarahnya pada halaman 167 disebutkan bahwa desa keresian seperti berikut: Sampud, Rupit, Pilan, Pucangan, Jagadita dan Pawitri dan Butun (baca : Buton).  Disitu terbentang taman, didirikan Lingga dan saluran air  yang mulia mahaguru. Butun masa lalu meliputi kepulauan Wangi-Wangi sebagai daerah keresian menjadi tempat pilihan terakhir untuk menenangkan hidupnya dan kariernya akibat konflik intenal dengan Hayam Wuruk.
  5. Prof.DR.Hasan Muarif Ambary (1999) dalam bukunya  "Menemukan Peradaban : Jejak Arkiologis dan Historis Islam di Indonesia" , mengatakan bahwa Gajah Mada mengakhiri pengasingannya di Buton di jumpai di kampung Majapahit di desa Masiri Batauga. Kemudian Makam Gajah Mada juga terdapat di Takimpo Pasar Wajo.  Hal ini ditandai adanya makam berisi 40 orang hulubalang pendamping setia Gajah Mada. Nisan yang ada tipe kala-makara merupakan gejala umum dalam kelompok nisan tipe demak troloyo. Selain makam tsb juga terdapat menhir di puncak gunung Wagumbangga da sebuah makam yang dilelilingi oleh pohon cempaka berbunga bir. Keberadaan makam-makam tersebut postulat diperkirakan sebagai taktis para prajurit setia Gajah Mada yang sengaja di ciptakan untuk mengecoh serangan para perajurit teliksandi Raja Majapahit Hayam Wuruk setelah mereka mengasingkan diri dari Sumatera sehingga keberadaan Gajah Mada sesungguhnya yang  sedang menenangkan diri di Liya-Wangiwangi tidak bisa dilacak keberadaannya.
  6. Dalam Pupuh ke XIV Negarakertagama oleh Mpuh Prapanca (1365) disebutkan bahwa LIYA Wangi-Wangi adalah daerah KUNI termasuk wilayah Kerajaan Majapahit, ...."Ingkang sakasanusa Makasar Butung (Buton) Banggawai, Kuni Gga-LIYA-o mwang i(ng) Salaya (Selayar island) Sumba Solot Muar muwah tikang i Wandan (Bandaneira) Ambwan (Ambon) athawa Maloko (Maluku) Ewaning (Wanin/West Papua) ri Sran (Seram) in Timur (Timor) makadi ning angeka nusatutur
  7. Di dalam Benteng Keraton Liya terdapat Lingga dan Yoni yang saat ini masih diabadikan sebagai benda situs cagar budaya. 
  8. Dalam kawasan Benteng Keraton Liya terdapat Watu Mada (Batu Mada) yang diyakini oleh masyarakat tertentu setempat sebagai tanda akan keberadaan Maha Patih Gajah Mada di Liya-Wangiwangi ****
  9. Di pulau Wangi-Wangi terdapat Makam Wakunduru sebagai makam tua yang dikeramatkan oleh rakyat secara turun-temurun yang diyakini sebagai makam kepala Gajah Mada yang ditanam ketika kala adu tanding dengan seorang pria sakti asli kepulauan wangi-wangi dengan kulit bentol-bentol (kunduru).
  10. Di pulau Oroho wilayah Liya Togo terdapat Gua Miabasa (gua orang besar) yang pintunya tertata baik dan di dalamnya terdapat sekat-sekat kamar tamu dan kamar khusus serta dibagian dalam terdapat ruangan peristirahatan/hunian umum yang diyakini oleh masyarakat Liya di salah satu altar  di dalamnya terdapat lokasi pertapaan Maha patih Gajah Mada (Moksa Gajah Mada). 
  11. Sindiko pajenengan Raden Wijaya sunuhun Kartanegara. Patih Gajah Mada meniko sang hiang wisnu monoreh akeng paparan pendopo kahiyangan ning gedoan hutan ka Roho-an  saiki ngeno aken pulau Oroho wilayah Liya kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara.