KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Rabu, 08 Oktober 2014

PEMDA WAKATOBI BELUM MEMBERIKAN PEMBINAAN KEPADA LEMBAGA KABALI INDONESIA


OLEH  HUMAS KABALI INDONESIA



BENTENG LIYA LAPIS KE-3


Mencermati perkembangan pengelolaan kepariwisataan di Kabupaten Wakatobi semenjak dua tahun belakangan ini atau tepatnya sejak tahun 2012 sampai tahun 2014  kebijakan Bupati Wakatobi yang direalisasikan melalui program kerja dan kegiatan SKPD Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif yang dikomandoi oleh saudara Drs. Andi Tawakkal kebanyakan mengarah ke perkuatan kegiatan kepariwisataan berbasis budaya di pulau Tomia tepatnya di desa Waha dan desa Usuku. Sementara potensi wisata yang berbasis budaya yang dimiliki oleh desa Liya pulau Wangi-wangi sebagai desa Wisata sangat terbaikan oleh oleh kebijakan-kebijakan yang telah diturunkan, sehingga iven-iven gelar Wisata Budaya yang sudah dikumandangkan sejak tahun 2010 lalu kini mati suri akibat tidak ada sama sekali perhatian pemerintah daerah. Gelar Budaya yang dikemas dalam Festival Benteng Patuo di pulau Tomia yang telah berlangsung sejak tahun 2013 lalu merupakan praktik adopsi kegiatan Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia yang telah dilaksanakan sejk tahun 2010 lalu melalui pendanaan swadaya masyarakat dan bantuan-bantuan dari para donatur sponsorship peminat budaya. Lain halnya yang terjadi pada acara di gelar Festival Benteng Benteng Patuo pulau Tomia semua sistem promosi wisata dan pengelolaan kegiatan dibantu penuh oleh dana APBD Kabupaten Wakatobi. Dalam konteksi ini Pengurus Pusat Lembaga Forum Komunikasi Kabali Indonesia sangat menyesal atas adanya perlakuan ketidakadilan ini dan menmbeda-bedakan dalam promosi budaya berbasis masyarakat lokal, sehingga dalam waktu dekat setelah terlatiknya Presiden baru JOKOWI-JK kami akan layangkan nota protes dan sekaligus akan memberikan argumen-argumen seputar pengelolaan kepariwisataan di Kabupaten Wakatobi yang nota bene semua lini telah dikuasai oleh para pemilik modal yang tergabung dalam usaha "Hugus Cs".

Benteng Patua yang dibanggakan oleh Hugua tak lain adalah sebuah benteng pertahanan yang dibangun sejak akhir abad ke XVIII dalam menghadapi serangan gerombolan bajak laut Tobelo-Galela pada tahun 1835. Informasi data ini juga diperkuat oleh tata naskah kesultanan Buton sebagaimana telah disampaikan kepada pengurus Kabali Indonesia oleh Meantu'u Liya La Ode Haris beberapa waktu lalu ketika bertandang di rumah kediaman beliau. Sedangkan Benteng Liya menurut ahli Filologi Universitas Haluoleo Prof.DR. La Niampe,M.Hum mengatakan bahwa Benteng Liya di Bangun sejak akhir abad ke X. Berdasarkan data tersebut amat disayangkan jika kebijakan promosi dan pengelolaan wisata berbasis budaya tidak berdasarkan nilai-nilai sejarah dan peradabannya.

Bagi masyarakat liya khususnya yang tergabung dalam komunitas Kabali Indonesia diminta bersabar tetap tawakkal dalam menghadapi musibah sepak terjang ketidakadilan ini, semoga Tuhan YME menerima amalan-amalan kita semua sehingga pada masa kekuasaan Bupati sesudah Hugua, kita harapkan sudah bisa kerja sama yang baik dalam pengelolaan kepariwisataan berbasis budaya ini sehingga masyarakat Liya juga bisa maju dan sejahtera perekonomiannya setingkat dengan kemajuan desa-desa lain di Indonesia.
Kita semua sangat yakin bahwa kekuasaan itu ada batasnya, dan barang siapa yang berbuat aniaya maka tinggal kita menunggu azab apa saja yang kelak akan diberikan oleh Tuhan YME terhadap siapa saja yang perbuat aniaya di negeri Liya yang masih diselimuti oleh kekuatan spritual secara turun temurun itu. ****