KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI BANDA PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

KabaLi

KabaLi
FOTO FASILITASI TARI NGIFI- LARIANGI LIYA, PADA ACARA FESTIVAL BUDAYA KERATON LIYA TAHUN 2011

Jumat, 03 Juni 2011

MASYARAKAT LIYA JANGAN MAU DIPROVOKASI DALAM REVITALISASI KAWASAN BENTENG KERATON LIYA

OLEH : ALI HABIU


Pekerjaan Revitalisasi Kawasan Benteng Keraton Liya dilaksanakan dalam rangka upaya peningkatan ekonomi masyarakat Liya yang kajiannnya didasarkan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yakni pada Pragraf 3 Revitalisasi, Pasal 80 Ayat (1).Revitalisasi potensi Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya memperhatikan tata ruang, tata letak, fungsi sosial dan/atau lanskap budaya asli berdasarkan kajian, (2). Revitalisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menata kembali fugsi ruang, nilai budaya dan penguatan informasi tentang Cagar Budaya.  

Pada Pasal 82 disebutkan bahwa Revitalisasi Cagar Budaya harus memberi manfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mempertahankan ciri budaya lokal dan Pasal 83 disebutkan pada Ayat (1). Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini tetap mempertahankan : a. ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya; dan/atau b. ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah situs Cagar Budaya atau kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi. Pada Ayat (2) disebutkan bahwa  Adaptasi dilakukan dengan  : a. mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya, b. menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan, c. mengubah susunan tata ruang secara terbatas. 

Baik Unsur Perencana, Unsur Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis Direktorat Penataan Bangunan da Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Unsur Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara, Unsur Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi dan Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia dalam penentuan final design semua melalui pertimbangan yang matang sesuai amanah Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 dan sesuai kebutuhan dan permintaan masyarakat lokal.


 
Timbunan Perataan Lapangan 
Belakang Mesjid Al Mubaraq
Keraton Liya
Material Timbunan dari Gamping Dolomit.


 Pondasi Pagar Tepi setinggi 80 Cm


 Freem Work Pagar tepi Lapangan


Khusus untuk Pekerjaan Revitalisasi Perataan Lapangan Alun-Alun belakang Mesjid Agung Al Mubaraq Benteng Keraton Liya   yang sementara berlangsung saat ini baru dalam tahap pelaksaan timbunan dasar yang terdiri dari material batu gamping dolomit (kapur lunak) belum diratakan dan dipadatkan. Dalam rangka perataan dan pemadatannya perlu menggunakan peralatan Bull Dozer D-40 yang akan di sewa di Mandati oleh pemilik lain kemudian dipadatkan dengan menggunakan peralatan Stamper. Timbunan dasar ini tidak boleh terlalu padat karena material akan massif namun dipadatkan sampai mencapai kepadatan tertentu. Setelah dipadatkan maka pada bagian lapis atas akan diberi tanah humus atau Top Soil sebagai lapisan akhir sebelum jenis rumput tertentu dibei di atasnya sebagai lapisan utama. 

Dalam kaitan dengan pekerjaan ini, Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia sejak hari Sabtu Tanggal   04 Juni 2011 telah mengadakan koordinasi dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata yakni Bapak Drs. Andi Tawakkal diminta untuk segera memerintahkan unsur staf Dinas yang dipimpinnya serta segera meminta unsur pengawas Revitalisasi Benteng Keraton Liya dari Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Kabupaten Wakatobi dalam hal ini yang ditunjuk adalah saudara Radiun,ST untuk segera turun ke lapangan dan memberikan pengawasan dan pengaturan pekerjaan agar pekerjaan senantiasa sesuai dengan spesifikasi kontrak. Demikian pula pada hari yang sama Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia mendatangi rumah kediaman Kepala Satuan Kerja PBL Revitalisasi Benteng Keraton Liya di Kendari dan meminta untuk segera turunkan pengawas teknik dari Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara dan ternyata tim pengawas sudah berangkat hari sabtu pagi tanggal 04 Juni 2011 lewat kapal K.M.Agil langsung ke Wanci.



 Pembangunan Akses Jalan Menuju Kohondao












Pekerjaan lain yang juga sementara berlangsung adalah pembuatan akses jalan (collector  road) menuju Wisata Alam Kohondao dengan konstruksi Pavement dari Floor Semen dilengkapi dengan Fasilitas Publik.   Kemudian pembangunan gedung Pusat Pelatihan Sanggar Seni Budaya KabaLi Indonesia lokasinya di tepi jalan akses jalan Wisata Alam Kohondao berjarak sekitar 100 meter dari simpangan jalan utama. Sedangkan untuk bangunan Baruga 1 buah dan 13 buah Pintu Lawa sementara baru ramuannya yang ada di lapangan, sedangkan pekerjaan fisik belum dilaksanakan mengingat bahwa Shoft Drawing  saat ini masih dikonsultasikan dengan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar. Diperkirakan mulai pertengahan Minggu ke dua Juni 2011 pekerjaan ini sudah dapat di mulai.  Kontrak paket ini akan berakhir akhir Agustus 2011 dan khusus untuk pekerjaan perataan lapangan Alun-Alun belakang mesjid Agung Keraton Liya akan dipercepat penyelesaiaannya mengingat pada tanggal 24 Agustus 2011 akan dipakai sebagai sarana pentas seni budaya dalam rangka agenda Sail Wakatobi 2011, disamping akan digunakan sebagai tempat peribadatan shalat Idul Fitri 1432 Hijriah yang jatuh tanggal 30/31 Agustus  2011.

Dalam kaitan itu, dihimbau kepada semua Masyarakat Liya untuk tidak mudah terprovokasi atau mau di hasut oleh oknum-oknum tertentu atau elemen-elemen Lembaga tertentu untuk secara bersama-sama dan/atau sendiri-sendiri melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum dengan sengaja menghalang-halangi semua kegiatan tersebut  di atas,  mengingat seluruh rangkaian kegiatan Penyedia Jasa memiliki kekuatan hukum tetap yang tertuang dalam dokumen kontrak Penataan Bangunan dan Lingkungan dalam kawasan Benteng Keraton Liya tahun Anggaran 2011 yang diketahui oleh Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia dibawah pengawasan Direktorat Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Parwisata Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar. Semoga negeriku Keraton Liya, jaya masa datang. ****.



Sabtu, 28 Mei 2011

PENGEMBANGAN OBYEK WISATA DALAM DESTINASI PARAWISATA DI WAKATOBI SEMAKIN DITINGKATKAN


OLEH : HYZY HA-RIS ONECHEE
\


Objek-objek wisata yang masuk dalam rancangan untuk pengembangan destinasi periwisata di Wakatobi, akan semakin ditingkatkan kualitasnya. Makanya, tahun 2011 ini, pengembang kepariwisataan Wakatobi, dititik beratkan pada revitalisasi destinasi wisata dan penerapan regulasi, sehingga para wisatawan merasakan kenyamanan saat berada di Wakatobi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi, Drs H Hasirun Ady M.Si, kepada Ozzonradio.com (24-5) mengatakan, selama empat tahun sebelumnya, Wakatobi menggunakan waktu itu sebagai waktu promosi. Alhasil, semua kalangan baik dalam maupun luar negeri sudah mengetahui adanya potensi pariwisata Wakatobi.

Jadi saat ini, yang diperbaiki tinggal regulasi dan pelayanan terhadap publik, sehingga ketika orang datang di Wakatobi, pencitraan daerah ini semakin lebih baik. “Tahun ini juga, kita akan melakukan perbaikan-perbaikan tempat-tempat wisata, agar semakin enak dipandang mata. Tempat-tempat itu, seperti gapura pemukiman lompok-kelompok masyarakat, benteng-benteng di Wakatobi yang diantaranya terletak di Tomia, seperti Benteng Patua, di Kaledupa ada Benteng Pajam, di Wangiwangi ada Benteng Liya dan sebagainya,” ungkapnya.

Upaya-upaya Wakatobi mengembangkan pariwisatanya, sudah membuahkan hasil, terbukti adanya penghargaan dari pemerintah pusat beberapa waktu lalu, karena Wakatobi mampu menyumbang peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. “Dari tujuh juta kunjungan wisatawan di Indonesia tahun 2010, sekitar lima ribuan berasal dari kunjungan wisatawan ke Wakatobi, sehingga Wakatobi kemudian ditetapkan sebagai pusat destinasi wisata bahari nasional,” jelasnya.

Tindak lanjut penetapan itu, Wakatobi mendapat dana perbantuan dari pusat, untuk pembangunan Dive Center dan pusat informasi pariwisata. “Hasil yang diraih itu, merupakan buah dari upaya maksimal yang selamaini dilakukan pemkab wakatobi. Sehingga, yang harus dimantapkan saat ini yakni tinggal regulasi dan pelayanan yang diberikan kepada tamu-tamu ketika berada di wakatobi,” tandasnya. (ian)***

Minggu, 22 Mei 2011

GAJAH MADA LAHIR DI BUTON DAN MOKSA DI LIYA WAKATOBI


 OLEH : MAHAJI NOESA

               (DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka)
               OPINI | 01 April 2011 | 09:15 330 15  


Kompasianer menilai menarik. Pulau Buton di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam catatan sejarah, pernah menjadi tempat pilihan perlindungan yang aman dari sejumlah bangsawan kerajaan ternama di Nusantara. Bahkan dalam penelusuran terakhir, ditemukan petunjuk dari sejumlah catatan dan bukti arkeolog, Pulau Wangiwangi yang dulunya masuk wilayah Buton dan kini menjadi Kabupaten Wakatobi justru tempat lahir dan moksanya Gajah Mada, Mahapatih Kerjaaan Majapahit yang terkenal dengan ‘Sumpah Palapa’ - Pemersatu Nusantara.




 GAJAH MADA/Ft:budaya-liya.blogspot.com Lembaga adat Forum Komunikasi (Forkom) Kabali yang dibentuk sejak 6 Desember 2009 di Kabupaten Kepulauan Wakatobi, kini begitu konsen mengumpulkan data dari berbagai sumber, bukti arkeolog, dan berupaya keras menjalin kerjasama dengan semua pihak terkait untuk membuka tabir emas adanya petunjuk perjalanan hidup Gajah Mada di Pulau Wangiwangi. Sejarah nasional mencatat bagaimana Mahapatih Kerajaan Majapahit yang diperkirakan lahir pada tahun 1290 (Encarta Encylopedia) itu memiliki kemampuan strategi di medan perang serta kecerdasan berpikir untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat yang luas di masanya. Tapi, dimana tempat wafat dan makamnya, hingga saat ini belum ada keterangan yang pasti. Dari sejumlah catatan yang telah dihimpun Forkom Kabali, sekitar bulan Sya’ban 634 Hijriyah atau akhir tahun 1236 Masehi sebuah kapal layar Popanguna menggunakan simbol bendera Buncaha strep-strep warna Kuning Hitam merapat di Kamaru, wilayah pesisir arah utara timur laut Pulau Buton. Kapal tersebut memuat bangsawan bernama Simalaui dan Sibaana (bersaudara) dikawal seorang sakti mandraguna bernama Sijawangkati bersama puluhan pengawalnya, yang diperkirakan berasal dari Bumbu, negeri melayu Pariaman. Kedatangan mereka ke Pulau Buton diperkirakan lantaran terjadi pergolakan yang memaksa untuk meninggalkan tempat asalnya. Terbukti, setelah mereka membuat pemukiman di Kamaru, juga membangun sebuah perlindungan yang hingga kini dikenal dengan sebutan Benteng Wonco. Sijawangkati pun kemudian memohon diri untuk membuat pemukiman tersendiri di Wasuembu serta membuat Benteng Koncu di Wabula.



Masjid Al-Mubaroq Keraton Liya/Ft:budaya-liya.blogspot.com Syahdan, beberapa waktu kemudian datang lagi dua buah kapal yang diburitannya ditandai dengan kibaran bendera Davialo berwarna Merah Putih di Teluk Kalumpa, tak jauh dari tempat pendaratan Simalaui, Sibaana, dan Sijawangkati dan rombongannya. Sijawangkati dan Sitamanajo menyambut kedatangan mereka. Ternyata, kedua kapal tersebut membawa Raden Sibahtera, Raden Jatubun dan Lailan Mangrani yang kesemuanya merupakan anak dari Raja Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Setiap kapal memuat sekitar 40 orang pengikut. Singkat cerita, kehadiran para pendatang tersebut, selain berupaya menjalin keakraban dengan warga di sekitar Pulau Buton, juga di antara pendatang saling menguatkan persahabatan. Raden Sibahtera yang diangkat menjadi Raja Buton mempermaisurikan Wa Kaa Kaa (Mussarafatul Izzati Al Fahriy). Sedangkan Sijawangkati menyunting Lailan Mangrani (Putri Raden Wijaya). Dari perkawinan Sijawangkati dengan Lailan Mangrani membuahkan keturunan 2 anak laki-laki dan 1 perempuan. Anak tertua lelaki itulah yang kemudian diberi nama Gajah Mada. Sejak kecil Gajah Mada telah memperlihatkan kecerdasan dan kesaktian. Ayahnya, Sijawangkati yang disebut-sebut keturunan wali di negeri Melayu terkenal memiliki ilmu-ilmu kesaktian sudah berupaya menurunkan ilmunya kepada Gajah Mada sejak berusia 7 tahun. Ketika berumur sekitar 15 tahun, Gajah Mada lalu dibawa oleh ibunya (Lailan Mangrani) menemui kakeknya Raden Wijaya di Pulau Jawa. Tatkala Kerajaan Majapahit dipimpin Jayanegara (1309 - 1328 M) — anak Raden Wijaya dari perkawinan dengan Dara Petak dari Jambi, Sumatera, Gajah Mada pun tampil berperan membantu melawan pemberontakan yang muncul dari lingkungan kerajaan sendiri. Dia memimpin pasukan Bhayangkara bertugas menjaga keamanan raja dan keluarganya. Dahsyatnya Pemberontakan Kuti (1319 M) yang dipelopori salah seorang pejabat Kerajaan Majapahit, sampai memaksa Raja Jayanagara, berikut istri Raden Wijaya dan putrinya Tribhuwanattunggadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita mengungsi ke Bedander. Akan tetapi berkat kecerdikan dan kepiawaian Gajah Mada, pemberontakan dapat diredam. Raja dan keluarganya pun aman untuk kembali bertahta ke istana. Tarian adat Liya di alun-alun masjid Keraton Liya/Ft:budaya-liya.blogspot.com Pascaperistiwa tersebut Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Menteri Wilayah (Patih) Majapahit, membawahi Daha dan Jenggala. Kepercayaan kepada Gajah Mada yang diberi gelar Pu Mada diperluas dengan kewenangan hingga Jenggala - Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Setelah Mahapatih Kerajaan Majapahit Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, kedudukannya digantikan oleh Gajah Mada. Dari catatan yang dihimpun Forkom Kabali (www.budaya-liya.blogspot.com), ada yang menyebut Gajah Mada wafat 1364 akibat penghianatan Hayam Wuruk. Namun data lain yang dihimpun dengan sejumlah fakta pendukung, setelah Gajah Mada membaca gelagat pihak berkuasa di Kerajaan Majapahit tak lagi memberikan kepercayaan kepadanya, ia bersama sejumlah pengikut setianya melakukan pelayaran kembali ke tempat kelahirannya di wilayah kepulauan Wangiwangi, Buton. Perjalanan pulang bersama rombongannya tersebut diperkirakan terjadi sekitar abad XIV, mendarat kembali di wilayah kepulauan Wangiwangi. Di pesisir pantai antara pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora terdapat Batu Parasasti yang dinamakan Batu Mada.

Mahapatih Gajah Mada yang terkenal sebagai manusia memiliki banyak kesaktian tersebut kemudian memilih sebuah goa di wilayah Togo Mo’ori sebagai tempat Tapa Brata. Di dalam gowa di daratan Pulau Karang Wangiwangi yang bersambung ke laut lepas inilah diperkirakan Gajah Mada yang mengenggam cakram senjata andalannya lantas moksa (menghilang) dalam semedi. Sedangkan puluhan pengikutnya memilih sebuah gua di Batauga, Pulau Buton sebagai tempat semedi. Goa itu sampai sekarang masih dinamai sebagai Goa Mada di Kampung Mada Desa Masiri, Batauga. Himpunan informasi berkaitan dengan perjalanan hidup Gajah Mada yang kini mendapat perhatian dari Forkom Kabali tersebut, tentu saja, perlu mendapatkan apresiasi dari pemerintah, dan terutama dari para sejarawan dan antropolog dalam rangka penyempurnaan catatan Sejarah Nasional kita. Selain mengenai perjalanan hidup Gajah Mada, kini Forkom Kabali yang memokuskan diri di bidang pelestarian nilai-nilai tradisi, sejarah dan budaya Keraton Liya di Kabupaten Wakatobi, juga telah menghimpun data jika Mahisa Cempaka (cucu dari pasangan Ken Arok dan Ken Dedes) merupakan Raja Liya (1259 - 1260). Gundukan batu yang ditinggikan (Ditondoi) yang ada di depan Masjid ‘Al Mubaraq’ Keraton Liya adalah makam Mahisa Cempaka yang pernah bersama Rangga Wuni memimipin pemerintahan di Kerajaan Singosari di Pulau Jawa. Di bawah gundukan batu Ditindoi yang di sekelilingnya ditumbuhi banyak Pohon Cempaka (Kemboja) yang telah berusia sekitar 800 tahun, diperkirakan terdapat sekitar 5 anggota dinasti Ken Arok, selain Mahisa Cempaka yang dimakamkan disitu. Model penguburan satu liang terdiri atas beberapa anggota keluarga, hingga saat ini masih terus terjadi di wilayah Liya, Wangiwangi. Fakta ini, tentu saja, kebenarannya akan memberikan nuansa baru terhadap gambaran hubungan dan dinamika pergerakan masyarakat kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lalu. Batapa masyarakat dari Pulau Jawa sejak masa silam dengan sarana transportasi tradisional sudah dapat menjalin hubungan dengan warga di Kepulauan Wakatobi yang terhampar di Laut Banda, di arah tenggara Pulau Sulawesi.



Dibandingkan saat ini, Presiden RI, SBY belum juga pernah berkunjung mememenuhi hasrat kerinduan banyak warga di kota atau kabupaten yang ada di sekitar Pulau Buton terhadap kehadiran Kepala Negara di wilayahnya. Selain itu, berdasarkan himpunan informasi dan sejumlah bukti arkeolog, jauh sebelum dibangun Masjid ‘Al-Mubaraq’ Keraton Liya (1546 M), sudah ada sebuah masjid di wilayah Liya Togo dikenal dengan nama Masjid Togo Lamantanari. Masjid itu diperkirakan dibangun tahun 1238 M oleh  18 orang Persia dipimpin Haji A.Muhammad yang terhempas gelombang ke Pulau Wangiwangi setelah kapalnya remuk melabrak karang dalam pelayaran menuju Filipina. Tentu saja, ini merupakan masjid tertua di Indonesia, sudah ada sebelum agama Islam masuk ke Aceh pada abad XIII. Walaupun masjid sudah tiada, sampai hari ini, pada saat waktu shalat dhuhur dan masuk waktu shalat ashar setiap hari masih selalu terdengar suara kumandang azan dari sekitar lokasi masjid tua ini. Kumandang azan yang sama sampai saat ini masih selalu terdengar dari sekitar makam H.Muhammad yang terletak di sekitar permandian Kohondao Liya Togo, Desa Woru, sekitar 800-an meter dari lokasi bekas masjid tua Togo Lamantanari. Ada lima desa yang disebut dengan istilah ‘Liya Besar’, yakni Desa Liya Togo, Liya Bahari, Liya Mawi, Woru, dan Mola di Pulau Wangiwangi yang kini menjadi bagian paling penting diperjuangkan oleh Lembaga Forkom Kabali untuk dijadikan sebagai Kawasan Desa Adat. Di dalamnya meliputi pelestarian Benteng Liya dengan perkampungan masyarakat adatnya yang meliputi luas hingga 20 km persegi. Terjalinnya hubungan antara raja-raja yang ada di Pulau Jawa dengan raja-raja khususnya yang ada di Liya dan sekitarnya pada masa lalu, salah satunya juga dapat dilihat dari sejumlah nama tempat yang banyak menggunakan bahasa sangsekerta (Sanskrit). http://sejarah.kompasiana.com/20****

Sumber : 

http://www.sejarah.kompasiana.com/2011/04/01/gajah-mada-lahir-dan-moksa-di-liya-wakatobi/

Senin, 09 Mei 2011

BENTENG LIYA DI WAKATOBI TERBENGKALAI



OLEH : Mohamad Final Daeng | I Made Asdhiana | 
              Kompas.com, Jumat, 1 April 2011 | 21:51 WIB 




 KENDARI, KOMPAS.com — Kondisi Benteng Liya di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terbengkalai dengan banyak bagian rusak dan termakan usia. Masyarakat sekitar mendesak pemerintah memugar benteng tersebut untuk melestarikan nilai sejarahnya.
"Selain itu, jika dipugar, Benteng Liya bisa menjadi alternatif obyek wisata yang menarik di Wakatobi," kata Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi Keluarga Besar Liya LM Ali Habiu, Jumat (1/4/2011) di Kendari.

Kondisi fisik benteng yang terbuat dari batu alam itu, ujar Ali, tinggal tersisa kurang dari 10 persen. Selain dimakan usia, benteng itu mengalami kehancuran parah pada masa penjajahan Jepang 1942-1945. "Jepang memerintahkan pembongkaran benteng dan materialnya digunakan untuk fondasi jalan dan dermaga," ujarnya.

Akibatnya, bangunan benteng yang tadinya setinggi 3 meter dengan keliling terluar 16 km kini tinggal menyisakan fondasi setinggi 1 meter. Gerbang-gerbang benteng juga banyak yang sudah rusak. Beberapa bangunan di dalam kompleks, seperti baruga (tempat pertemuan) dan meriam-meriam peninggalan kerajaan, juga sudah lapuk dan berkarat.
Benteng Liya merupakan salah satu dari kompleks benteng pertahanan yang dimiliki Kesultanan Buton, salah satu kerajaan maritim di Sulawesi Tenggara yang berjaya pada abad ke-16 dan 17. Benteng itu terletak di Pulau Wangi-wangi, kini masuk Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi.

Namun, berdasarkan keterangan Ali, ada versi yang meyakini Benteng Liya sudah ada jauh sebelum Kesultanan Buton berdiri. "Beberapa sejarawan Buton mengatakan, Benteng Liya dibangun sekitar abad ke-13 oleh raja pertama Liya yang merupakan keturunan wangsa Rajasa di Kediri," ujarnya.

Tahun ini, Ali menambahkan, ada rencana memugar sebagian Benteng Liya yang merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum. Dana Rp 2,3 miliar itu di antaranya akan dipakai untuk perbaikan 15 pintu benteng, baruga, pendirian gapura, dan pembangunan pusat kegiatan seni dan budaya. "Pemugaran itu sebagai bagian persiapan menjelang Sail Wakatobi bulan Agustus nanti," ujarnya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala BP3 Makassar Andi Muhammad Said, yang juga membawahi wilayah Sultra, mengatakan, bulan ini pihaknya akan menurunkan tim untuk melakukan studi teknis pemugaran Benteng Liya. "Studi itu menghitung apa saja yang harus dilakukan, model pemugarannya seperti apa, dan estimasi biayanya," ujarnya.

Berdasarkan penilaian BP3, Benteng Liya sangat layak untuk dipugar karena selain nilai sejarahnya yang tinggi juga potensi besarnya menjadi obyek wisata budaya dan sejarah di Wakatobi. "Namun, pemugaran tidak seluruhnya dilakukan oleh BP3, tetapi juga diharapkan ada kontribusi dari pemerintah daerah setempat," ujar Said.****


Sumber :
http://nasional.kompas.com/read/2011/04/01/21511459/

Selasa, 03 Mei 2011

BUDAYA WAKATOBI TERANCAM..!?

 OLEH : SUMIMAN UDU





KENDARINEWS - Kendari, Provinsi  Sultra memiliki keragaman budaya. Apabila tidak dikelola dengan baik,  akan berpotensi disintegrasi yang dapat mengganggu kesejukan dan kedamaian hidup masyarakat  masa mendatang.  Di Sultra terdapat beberapa etnis dan budaya yang besar, seperti Buton, Muna, Tolaki, Bugis dan Bajo

''Keragaman etnis ini harus ditangani dengan baik, sebagai  aset daerah yang menjadi sumber pendapatan daerah,''  kata Direktur Eksekutif Pusat Studi Wakatobi, Sumiman Udu, S.Pd., M.Hum, kepada koran ini

Menurut dia,  budaya yang berbeda-beda di Sultra terutama di Wakatobi akan menjadi potensi dalam pengembangan pariwisata daerah. Selain  pariwisata alam Sultra yang juga sangat eskotik, Wakatobi juga kaya dengan potensi budaya koreografi tarian, musik lariangi dan kostum lariangi.


 TARI LARIANGI DALAM PENELITIAN
BANGSA BARAT

"Kalau kita membaca buku berjudul Kearifan Lokal Suku Bangsa-Suku Bangsa di Sulawesi Tenggara, akan terlihat betapa besar potensi budaya, mulai potensi budaya masyarakat Landawe di Konawe Utara, sampai dengan masyarakat Cia-Cia di Selatan Pulau Binongko. Dari masyarakat Runduma di Timur sampai masyarakat Sagori di Barat, semua itu memiliki potensi budaya yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi  akan datang," ujarnya

Ditambahkan, kesuksesan Pemerintah Kabupaten Wakatobi dalam membangun tidak dapat dipungkiri, tetapi keterlibatan masyarakat dalam proyek pariwisata masih sangat minim. Rendahnya partisipasi masyarakat  karena pariwisata masih baru bagi mereka, tidak punya skill mengolah kebudayaan sebagai aset dalam industri pariwisata.
  
 Menurut pandangan penulis Buku "Perempuan Dalam Kabanti" katanya,  merupakan hal baru dalam masyarakat Wakatobi, tetapi pelan-pelan  akan menyesuaikan diri. Terbukti  sudah ada yang terlibat  dalam bisnis pariwisata. Bahkan  mulai tampak keterlibatan  dalam pariwisata budaya, walaupun belum maksimal

Mahasiswa S3 Ilmu Budaya UGM itu  merasa prihatin dengan keadaan budaya Sultra. Saat ini, semua negara mempersiapkan diri menata kebudayaan sendiri. Justru Indonesia  malahan membiarkan tercecer, sehingga  memberi kesempatan kepada bangsa lain untuk meneliti kekayaan budaya

Masalah itu  dikarenakan kontrol yang lemah. Lebih menyedihkan lagi karena kurangnya perhatian dari pemerintah, seperti kasus Korea yang menulis bahasa Cia-Cia dengan aksara Korea (aksara Hangeul), penelitian Lariangi di Kaledupa oleh Malaysia, serta beberapa penelitian naskah-naskah Buton yang dilakukan  perpustakaan Inggris. Semua itu akan berdampak pada masa depan kebudayaan Sultra
  
"Memang kita tidak boleh tertutup di saat keterbukaan media seperti ini, tetapi apakah kita sudah siap ketika ide-ide dalam tradisi kebudayaan kita diambil  orang luar dan dipatenkan? Jangan-jangan koreografi Lariangi, musik lariangi, kostum lariangi belum ada yang dipatenkan, sehingga bernasib  seperti reog ponorogo,'' katanya

Kemungkinan  ancaman bisa diatasi  dengan membangkitkan rasa  mencintai budaya daerah agar  identitas bisa  dipertahankan di era globalisasi.      Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unhalu, menilai  generasi muda di Bumi Anoa kurang mencintai budaya sendiri. Mereka lebih bangga mengenal budaya orang lain di banding mengenal budaya daerahnya
  
Di sisi  lain, memang kebijakan tentang kebudayaan belum menjanjikan untuk digeluti generasi muda. Butuh sentuhan yang dapat mengubah potensi budaya untuk dapat bernilai ekonomis, misalnya penelitian untuk menemukan pola ornament kebudayan Sultra.   (p2)****

SUMBER :
http"//www.pusatstudiwakatobi.blogspot.com



Minggu, 01 Mei 2011

REVITALISASI KAWASAN BENTENG KERATON LIYA AKHIR APRIL 2011 SUDAH MULAI DIKERJAKAN

OLEH : ALI HABIU


Ketua Umum Lembaga KabaLi Indonesia



Baru-baru ini tepatnya pada hari Rabu, tanggal 27 April 2011Tim dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum telah tiba di kepulauan Wangi-Wangi dengan menupangi pesawat jenis focker dari maskapai Express Air langsung dari Makassar setelah semalam sebelumnya mengingap di hotel sahid Makassar dari perjalanan Jakarta. Tim ini diketuai oleh IR. IFIANTARA SEPTRIMAN NASUTION,M.Eng.Sc SEBAGAI KEPALA SATUA KERJA PENGEMBANGAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN STRATEGIS DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM ditemani oleh 5 orang staf ahli dan 3 orang konsultan perencana, 1 orang konsultan supervisi dan 2 orang Kontraktor, 4 orang staf teknik Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara serta Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLi-Indonesia.

Seluruh Tim beserta rombongan langsung menuju Resort Patuno untuk mengingap dan mengatur bahan-bahan untuk presentase Seminar PBL dalam mendukung Sail Wakatobi 2011 ini.
Pada hari Kamis tanggal 28 April 2011 Tim mengadakan acara Seminar di Aula Rapat kantor Bupati kabupaten Wakatobi yang di hadiri oleh para kepala SKPD atau yang mewakili dan dipimpin oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Wakatobi. Pada hari Jumat tanggal 29 April 2011 mulai jam 11.00 WIT, Tim Konsultasn Supervisi bersama Tim Konsultan Pengawas dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan Revitalisasi kawasan benteng Keraton Liya mulai mengadakan investigasi dan pengukuran lapangan dimana letak lokasi pekerjaan yang akan dikerjakan seperti : 13 buah Pintu Lawa, 1 buah Baruga, 1 buah Lapangan belakang Mesjid Agung Keraton Liya, Jalan setapak Kolektor dari bahan paving blok sepanjang 600 meter melingkar mesjid Agung Keraton Liya, jalan penghubung pemandian Kohondao sepanjang 600 meter dari pahan paving blok dengan pariasi pablic  services, 1 buah Pasenggrahan Pusat Pelatihan Seni Budaya KabaLi Indonesia, dan Jalan setapak kolektor dari bahan paving blok desa Timi sepanjang 300 meter.

Jadual pelaksanaan kegiatan proyek ini hanya diberi waktu selama 90 hari kelender harus sudah selesai sekitar awal minggu pertama Agustus 2011 mendatang. Peralatan kontraktor pelaksanan di Liya sudah nampak seperti terdapat 2 buah Dump Truck, 2 buah Mesin Molen, 1 set Genset dan peralatan lain, sedangkan tenaga kerja sudah full di kontrakkan dalam sebuah rumah didusun Ewulaa Keraton Liya. Jadual ini sesuai dengan skedul Sail Wakatobi sebagaimana data ini : *)

Here is a list of some of the events and activities being planned for Sail Wakatobi 2011:

  • APKASI Seminar
  • Coral Triangle Initiative (CTI) Costal Mayors Roundtable Meeting
  • Aeromodelling Event
  • Youth Movement Beach & Sea Clean Up Events
  • Underwater Photography Competition
  • Naval Voluntary Social Event
  • 1000 Bikes Wakatobi Tour
  • Internatioanl Environmental Film Festival
  • Wakatobi Photo Exhibition
  • Sail Wakatobi-Belitong Opening Ceremony
  • Yacht Rally
  • Official Opening Ceremony for the ‘School for Marine Protected Area Management’
  • Local Arts and Cultural Festival
  • 17th August Independance Day underwater ceremony
  • Underwater Wedding
  • Watersports and Activities Competition

Beberapa pekerjaan yang akan direvitalisasi seperti gambar dibawah ini :

Baruga di Rehab Total dan Lapangan di Timbun+Pagar Batu

Lawa Dibangun 13 buah

Lingga di Pagar Besi

Yoni di Pagar Besi (model ini dirombak)


Pesan Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata kabupaten Wakatobi kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia bahwa minta di sampaikan kepada seluruh masyarakat Liya khususnya yang bermukim dalam kawasan Benteng Keraton Liya untuk bersama-sama bahu-membahu secara partisipatif untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan ini sehingga waktu pelaksanaan dapat tercapai sebagaimana yang ditetapkan. Jika pekerjaan Revitalisasi Benteng Keraton Liya ini mendapat resfonsibilitas  baik dari masyarakat maka tahun 2012 akan turun lagi kegiatan lebih besar berupa  :kegiatan : perbaikan seluruh inprastruktur obyek parawisata seperti Uwe Mo'ori, Uwe Kohondao, Uwe Tamba'a, Pembungan 1 buah Pusat Informasi Kebudayaan KabaLI Indonesia, 1 buah Pembangunan Kantor sanggar KabaLi, 1 buah Pembangunan Pusat penelitian dan Pengembangan Sejarah Budaya Liya, jalan setapak kolektor dari paving block sepanjang 2.000 meter, dan fasilitas public services dengan accesorisnya.

Melalui media web blog ini dihimbau kepada siapapun yang meng-update atau meng-brouwser supaya dapat menyebarluaskan informasi ini kepada seluruh masyarakat Liya dimanapun untuk dapat diketahui sebagaimana mestinya. Selamat buat masyarakat Liya.... kini negerimu sudah mulai di jamah oleh sentuhan pembangunan dari pemerintah berkat kerja keras segenap pengurus besar Lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia. Jangan lupa marilah kita sama berdoa panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas berkah dan hidayahnya, cita-cita kita semua dapat dipenuhi selangkah ini. amin. "Selamat buat kalian semua" !? Salam perjuangan*****

Sumber :  
http://www.patunoresortwakatobi.com/Sail-Wakatobi-2011.html

Sabtu, 30 April 2011

KUBURAN TALO-TALO ASLI MASIH DIRAHASIAKAN

Oleh : Ali Habiu



Kuburan Raja Talo-Talo yang ada saat ini dalam kompleks pekuburan Raja-Raja Liya yang berada dibelakang Mesjid Keraton Liya adalah Imitasi alias bukan asli. Kuburan yang ada saat ini yang dibatu nisan tertulis Raja Liya Talo-Talo dengan gambar seorang yang sedang pegang pedang terhunus adalah merupakan kuburan anak kandung Talo-Talo beserta pengasuhnya yang ditanam hidup-hidup. Anak kandung Talo-Talo tersebut diperkirakan baru berusia 2,5 tahun yang digendong oleh pengasuhnya ketika itu menaiki tangga rumah lantas tanpa disengaja ada sebuah Tombak yang dipasang atau disimpang disamping pintu tangga bagian atas terjatuh lalu terhempas kena batok kepala anak tersebut dan meninggal. Sangkin menyesalnya pengasuh anak seorang Raja yang sakti ini lalu diapun minta kepada Talo-Talo jika anak tersebut di kuburkan hendaknya diapun ditanam hidup-hidup sebagai pertanda kesetiannya kepada sang Raja yang penuh pengabdian karena telah lalai menjaga seorang anak bayi pewaris raja. Kisah ini diungkapkan secara medium supranatural melalui konsultasi metafisis Talo-Talo dengan penulis, ketika penulis sedang memakai topi kebesaran Talo-Talo pada tanggal 20 Maret 2010 lalu.
Adapun kuburan Talo-Talo yang asli sedang dalam perlindungan Rahasia dan sesuai dengan perintah Talo-Talo kepada penulis untuk membuktikan kebenaran informasi media metafisis ini, maka pada Hari Kamis tanggal 21 Maret 2010, penulis sengaja pada pagi hari sekitar jam 07.30 menuju ke kawasan Keraton Liya langsung mencari Kuburan Talo-Talo asli dan alhamdulillah mendapatkannya. Kuburan ini kelihatannya sudah ratusan tahun tidak dijamah oleh manusia sehingga nampak bagian kuburan sudah terbenam kedalam tanah dengan batu nisan yang terbuat dari batuan sakarlik juga sudah sangat tua tanpa ada sentuhan jemari manusia yang menjamahnya. Dalam dialog tersebut Talo-Talo  mengatakan bahwa sengaja dia sembunyikan kuburannya dan hanya orang-orang tertentu saja yang tau sebab dia amat sakti dan takut kuburannya jadi sesembahan atau tempat penyembahan masyarakat Liya  ketika itu sehingga membuat ketidaktenangan dia dialam sana. Dia amat ketahui struktur sosial masyarakat Liya yang masih sangat percaya dan hormat dengan rajanya.
Inilah pesan Talo-Talo dalam beberapa hasil dialog metafisis tersebut :

"HAI ANAK-ANAKKU PEWARIS NEGERI LIYA MULAI SEKARANG BANGKITLAH BANGUN DAN KEMBANGKAN KEBUDAYAAN LELUHURMU"... 
"KINI ZAMAN SUDAH TIBA SAATNYA UNTUK MEMBANGUN NEGERIMU...LIYA !."  
"BANGKITLAH MELALUI WADAH FORKOM KABALI SEBAB DISITU ADA SAYA MELINDUNGIMU, MEJAGAMU bagi SEMUA YANG MAU MEMBANGUN NEGERI LIYA UNTUK MENGENANG HASIL-HASIL PERJUANGAN KAMI DI MASA LALU ITU...." 
"JANGAN KAMU TAKUT UNTUK BANGKIT..., SEBAB AKU ADA BERSAMAMU...."


Namun demikian walaupun kebesaran Raja Talo-Talo pada zamannya sangat diagungkan., namun tidak ada satupun naskah sejarah Liya yang kita jumpai saat ini menkisahkan secara lengkap perjalanan Talo-Talo ini, termasuk di dalamnya kapan mulai dia berkuasa sebagai Raja LIya dan dari mana asal muasal sebenarnya Talo-Talo tersebut. Sebagian para ahli sejarah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Talo-Talo itu adalah Karta Negara sebagai Raja Majapahit yang mengtasingkan diri ke Liya. Masih diperlukan penelitian sejarah lebih lanjut untuk membuktikan hal ini semua. ****

Sabtu, 02 April 2011

PEMUGARAN BENTENG KERATON LIYA MULAI TAHUN 2012 MENDAPAT DUKUNGAN POTENSI SDM LIYA

Oleh : Ali Habiu



Komunitas masyarakat Togo Liya dimanapun berada saat ini perlu berbangga diri mengingat bahwa perjuangan para orang tua kita, para tokoh adat, sesepuh, sarah dan pemerintah Kabupaten Wakatobi telah menuai hasil yang cukup gemilang yakni mulai tahun anggaran 2010 ini pemerintah pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Parawisata akan menurunkan DPA (Daftar Pelaksanaan Anggaran) Desain Teknis Pmugaran Benteng Keraton Liya. Momen inilah yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pihak sejak tahun 1980-an lalu ketika Pemerintah Belanda menguyurkan sejumlah bantuan dana internasional untuk pelestarian nilai-nilai sejarah dan purbakala melalui Inter Governmental Group On Indonesia (IGGI) ternyata pengelolaan dana tersebut banyak dihabiskan di pulau Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara kemudian pulau Buton hanya sepenggal saja. 

Inilah bentuk ketidakadilan pemerintah pusat terhadap perimbangan penangangan pembangunan di tanah air yang kebanyakan dana-dana bantuan Loan maupun Green Internasional untuk pemugaran situs-situs sejarah dan purbakala hanya dinikmati pada umumnya di pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara (Bali ) saja padahal semua daerah memiliki hak da kepentingan yang sama dalam pelestaran nilai-nilai budayanya peninggalan leluhur dan nenek moyang bangsa Indonesia. Oleh karena itu isolasi komunikasi dan isolasi distribusi kue pembangunan ini mulai saat ini sudah harus dihentikan tanpa reserve agar daerah-daerah eks kesultanan dan kerajaan yang berada di luar pulau Jawa, Sumatera dan Nusa tenggara (Bali) dapat juga mengalami kemajuan seiring dengan kemajuan zaman dan kemajuan pembangunan di Indonesia. 

Masalahnya kemudian yang menjadi berat kita dalam memperjuangan kue pembangunan ini adalah belum adanya orang Togo Liya yang menduduki jabatan setingkat Direktur Jenderal di suatu Kementerian di Indonesia bahwa juga hingga saat ini orang Togo Liya belum ada juga yang menduduki jabatan Menteri selama pelaksanaan pembanguan sejak tahun 1970-an hingga saat ini padahal potensi  sumber daya manusia orang Togo Liya khususnya pada dekade mulai tahun 2004-an lalu secara nasional sudah terbilang cukup baik dimana hingga tahun 2010 ini berdasarkan data sementara yang dapat KabaLi himpun mulai dari perkumpulan Komunitas Warga Togo Liya yang ada di Marauke, Seram, Ambon, Kendari, Buton, Makassar, Samarinda dan Jakarta memiliki : Sarjana lebih kurang 300 orang, Magister sekitar 64 orang dan Doktor 3 orang. 

Potensi ini merupakan suatu kekuatan sosial yang perlu dihimpun dan disatukan dalam suatu wadah komunitas guna dapat setidaknya memberikan promosi identitas mereka kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Selain hal itu juga dipandang sudah saatnya kina berbenah kiri kepada semua komunitas Keluarga Besar Liya di Seluruh Indonesia agar mulai tahun 2010 ini mempersiapkan diri secara mantap terjung ke bidang politik dengan memasuki partai-partai politik apa saja yang dapat menampung dan menyalurkan aspirasi politiknya sehingga dengan demikian kedepan akan banyak lagi saudara-saudara kita yang insya Allah bakal duduk di parlemen baik di DPRD, DPR RI maupun di DPD masing-masing daerah yang ada komunitas orang Togo Liyanya di Indonesia. Dan kini sudah mulai setapak harapan itu ada..., yakni saudara kita, adinda kita putri asal Keraton Liya telah masuk dalam akumulasi perpolitikan nasional dan melalui wadah Partai Amanah Nasional, kini Wa Ode Nurhayati,S.Sos telah mewakili kita menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. 

Selain itu juga saudara kita bernama Syachrudin Buton,SH atau sering dikenal dengan nama Udin Nova seorang pengacara kawakan asal Ambon yang tak lain juga merupakan putra asli asal Keraton Liya kini duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara dari Partai Demokrat priode 2009-2014. 

Ada beberapa anggota Keluarga Besar Liya yang juga pernah menjadi anggota DPRD antara lain : H.La Ode Muhu pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Berau Kalimantan Timur dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) priode 1999-2004, juga La Ode Moane Obi,SP,M.Si pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara asal Partai Persatuan Pembangunan (P-3) priode 2004-2009. Namun sayang seribu sayang kedua anggota warga Liya ini yang telah diberi kesempatan oleh rakyat untuk menduduki jabatan strategis itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk membangun komunitas sosial budaya Liya secara mengakar di daerahnya masing-masing dan tidak membekas tajam dihati nurani rakyat kita, sehingga akibatnya kini mereka dalam konteks sosial komunitas budaya Liya saat ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat.

Hal ini kedepan akan menjadi pelajaran berharga bagi semua komunitas  warga Liya dimanapun mereka berada agar ketika rakyat memilihmu dan ketika kamu punya kesempatan emas menduduki jabatan-jabatan strategis itu maka peliharalah sikapmu, janganlah sombong dan tinggi hati dan dalam kesempatan menjalankan tugas-tugasmu sebagai anggota dewan maka  manfaatkanlah tugas itu untuk berperan secara baik ditengah-tengah masyarakatmu  secara adil dan bijak, dengan prioritas utama tugasmu adalah perhatikanlah masyarakat Liya dimana kamu berada, angkatlah harkat dan martabat mereka, beri mereka sentuhan hati nurani dan kedamaian, beri mereka wadah untuk bisa maju, beri mereka sentuhan modal sosial ekonomi sehingga diharapkan pada akhirnya masyarakat kita sedikit demi sedikit dapat kita majukan peradabannya, kualitasnya dan sosial ekonominya yang merupakan embrio perjuangan KabaLi.

 Inilah salah satu propotipe Benteng Keraton Liya Yang Sudah
Mulai Ambruk Dan Sudah Tidak Terawat Lagi
Termasuk Lawa atau Bangunan Pintu Masuk Keraton Ini.

Informasi yang KabaLi dapatkan secara jelas dan bisa dipertanggungjawabkan akan adanya Desain Teknis Pemugaran Benteng Keraton Liya mulai tahun ini (2011) adalah dari salah seorang ahli arkiologis asal Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar yakni saudara  Rustam,SS yang tak lain dia merupakan satu angkatan pada jurusan Arkiologi Fakultas Sastra Universitas Hanasuddin dengan wakil Sekretaris Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang pada beberapa hari lalu bertandan di rumah Ketua Umum Forkom-KabaLI  di Kompleks BTN Kendari Indah Jalan Wulele, Kendari.

 
Rustam,SS seorang Ahli Arkiologis yang Bekerja Pada
Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3) Makassar

Berdasarkan surat Kepala BPPP makassar yang dikirim via facsi mile ke Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasananya antara lain ke Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang diterima pada hari Jumat tanggal 1 April 2011, menyampaikan bahwa pada hari senin tanggal 4 April 2011 akan berangkat 7 orang ahli arkiologi dan perbentengan dari balai Arkiologi Makassar menuju ke Wang-wangi dalam rangka tugas pemetaan zoning Benteng Keraton Liya Lapis ke-3. Lamanya pemetaan dan studi teknis sampai dengan tanggal 15 April 2011. Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa dipanjatkan doa ke hadirat Tuhan YME, karena berkah dan hidayahnya semua program kerja Lembaga KabaLI Indonesia berjalan sesuai rencana. amin ****

TIM BALAI ARKIOLOGI MAKASSAR AKAN TURUN PEMETAAN ZONING BENTENG KERATON LIYA LAPIS TIGA AWAL APRIL 2011

SAMPING BALUARA  TALO-TALO


 DEPAN BALUARA TALU-TALU


OLEH : ALI HABIU


Sesuai dengan Surat BPPP makassar yang dikirim via facsimile kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sulawesi Tenggara dan tindasannya kepada Ketua Umum Lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia yang baru kami terima pada hari jumat tanggal 1 April 2011, dikemukakan bahwa mulai tanggal 4 April 2011 s/d 15 April 2011 Tim Balai Arkiologi (Tim Balar) dari BPPP Makassar akan turun sebanya 7 orang tenaga ahli perbentengan ke Keraton Liya  untuk mengadakan survei dan pendataan teknis dan pemetaan zoning benteng lapisan tiga yang diperkirakan memiliki lngkaran sepanjang 16 Km. Benteng lapis tiga dari keraton Liya dahulu kala dinamakan benteng Patua yang sudah ada sejak Abad VIII masehi yang dibangun oleh orang orang sakti asal Melayu dan orang-orang tua Liya menamakan benteng Pa'tua. Benteng ini keberadaan di lapangan masih di jumpai utamanya pada sisi sebelah utara umumnya masih utuh dengan ketinggian rata-rata 3 meter. Namun demikian untuk sisi barat, timur dan selatan saat ini tinggal dijumpai bekas-bekas bangunannya dari kepunahan.

 Lapis ketiga benteng Keraton Liya diperkirakan sudah mulai punah sejak masuknya Belabda di Indonesia dimana sebagian batunya di pakai untuk pembuatan Break Water dan Dermaga di Laut juga sebagian untuk pondasi bantgunan-bangunan Belanda yang ada di wilayah Wakatobi dan sekitarnya. Dan kehancuran penuh terjadi setelah masuknya Jepang ke Indonesia dengan melalui kerja paksa tentara romusa memerintahkan semua rakyat Liya untuk mengambil batu lapisbenteng ke tiga ini untuk bahan pondasi jalan seluruh wilayah wangi-wangi.





 Harapan seluruh masyarakat Liya agar survei pendataan teknis dan pemetaan zoning Benteng Keraton Liya lapis ke-3 ini bisa berjalan lancar dan sukses dan juga hasil pelaporannya benar-benar di dukung oleh data yang valid dari berbagai sumber sehingga pada laporan hasil penelitian dapat menghasilkan kejutan-kejutan baru dibidang justifikasi perbentengan yang di duga benteng Keraton Liya menjadi Benteng Terbesar di Dunia bukan benteng Wolio (.melayuonline.com )

Lembaga Forum Komunikasi KabalI Indonesia akan berada di garda terdepan dalam mengamankan seluruh aset dan potensi sejarah dan budaya milik keraton Liya untuk secxara bersama-sama dengan pemerintah membangun dan mengembangkan Benteng Keraton Liya yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang tinggi pada zamannya ****


Jumat, 25 Maret 2011

LOKASI PONTA AKAN MENJADI KAWASAN WISATA "FISHING"

 Kawasan Pantai Ponta



OLEH : ALI HABIU



Kawasan Lokasi tepian pantai Ponta yang terletak diperbatasan tanah ulayat Sdat Sara Liya dengan Sara Mandati di atas wilayah Lagiampa adalah sangat potensil dapat dijadikan satu-satunya sebagai sarana Wisata Fishing di Kabupaten Wakatobi. Luas kolam alam (storage natural sea) diperkirakan total 3,5 Ha dengan kedalaman rata-rata ketika air laut surut sedalam 3,00 meter. Kolam ini secara alamiah disepanjang habitatnya disepanjang tepinya ditumbuhi oleh tanaman hutan bakau. Kolam ini dari bagian luar laut kedalaman di batasi oleh sebuah pintu masuk dengan lebar kira-kira sepanjang 200 meter dengan kedalaman rata-rata waktu air surut sedalam 2.00 meter. 

Kolam ini bila sudah dekembangkan menjadi sarana wisata fishing, maka mulut atau pintu masuk tersebut harus dapat ditutup dengan memberikan tanggul dari pasangan batu kosong ukuran lebar atas 1,50 meter dan lebar bawa 3,00 meter dengan tinggi rata-rata 4,50 meter dan panjang 200 meter. Pada bagian pesisir pantai sepanjang kolam ini dapat didirikan cottega dan resort untuk tempat peristirahatan para turis sekaligus tempat membakar ikan hasil tangkapan di kolam itu.

 Mudah-mudahan usulan lembaga Forum Komunikasi KabaLI Indonesia dapat dipenuhi oleh bapak Menteri Pekerjaan Umum, sehingga mulai tahun anggaran 2012 kegiatan pembangunannya akan di tangani oleh Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan total biaya awal sebesar Rp.700 juta. 
Pengelolaan lokasi Kawasan Wisata Fishing ini akan ditangani bersama antara lembaga Forum Komunikasi KabaLi Indonesia, Masyarakat Adat pemilik Lahan bersama Lembaga Adat Liya. ****